
Aleysia membuka matanya dengan malas, lalu menarik selimut yang berada sebatas pinggangnya. Gadis itu ingin kembali memejamkan matanya yang masih di selimuti rasa kantuk. Ia ingin membenamkan lagi tubuhnya dalam hangatnya selimut dan kembali ke alam mimpi.
Aku tidur dimana?
Dengan cepat Aleysia menegakan tubuhnya, memandangi dirinya yang ternyata telah tertidur di atas kasurnya sendiri.
Bagaimana bisa? Bukankah tadi malam ia duduk di kursi untuk mengompres perut Bryan? Mungkinkah Pria itu yang memindahkan tubuhnya di sini?
****
Bryan sudah berada di ruang makan dengan hidangan yang tersaji diatas meja. Hari ini ia mendatangkan koki terbaiknya untuk membuat sarapaan untuknya.
Hampir saja pria itu ingin memasukan potongan pertama omeletnya, ketika Aleysia tiba-tiba saja mendekat ke arahnya. Gadis itu sudah rapi dengan rambutnya yang tergerai dan dress selutut berwarna hijau muda.
“Duduklah!kita sarapan bersama” Kalimat ajakan yang hampir seperti perintah itu membuat Aleysia mendaratkan tubuhnya berhadapan dengan Bryan. Gadis itu diam tanpa membuka suaranya untuk berbicara. Hingga memancing Bryan untuk mendongak pada gadis itu.
“Ada apa? Kau tidak suka menu makanannya?” menyadari sarapan yang di makan Aleysia tidak berkurang, gadis itu hanya duduk diam tanpa melakukan apapun membuat Bryan tak kuasa menahan tanya.
“Ti..tidak. Aku suka ” Aleysia berseru dengan cepat menyadari Bryan yang semenjak tadi memperhatikannya
“Lalu? Kenapa kenapa kau tidak memakannya?”
Bryan menhentikan sarapannya sejenak, memfokuskan tatapannya pada gadis itu.
Apa ada yang salah dengan gadis itu pagi ini?
“A..ku bingung cara menggunakan garpu dan pisau”
Bryan melebarkan matanya, lalu tersenyum menggejek pada gadis itu.
“Aku akan mengajarkanmu” Bryan menyentuh jemari Aleysia, menggerakan garpu dan pisau itu untuk memotong omelet yang akna gadis itu makan.
Aleysia tidak dapat memfokuskan dirinya pada peralatan makan yang sedang ia gunakan. Jarak tubuhnya yang begitu dekat dengan Bryan membuat gadis itu meremang. Hembusan nafas hangat yang berhembus di sekitar tengkuk Aleysia membuat gadis itu semakin tak karuan rasa.
“hei perhatikan pisaumu! Kau bisa memotong jarimu jika tidak hati-hati!” Suara Bryan yang terdengar begitu dekat membuyarkan lamunan Aleysia. Gadis itu memusatkan perhatiannya pada peralatan makan yang berada di tangannya.
Sungguh posisi tubuh Bryan yang seperti ingin memeluknya dari belakang itu membuatnya tidak nyaman, namun gadis itu juga urung menjauh.
***
Setelah acara sarapan yang membuat gadis itu tak karuan rasa hingga sekarang, Bryan dan Aleysia memilih untuk menghabiskan waktu pagi mereka di ruang keluarga dengan menghabiskan menonton televisi. Mereka duduk canggung dengan Aleysia yang berada di sisi sofa dan begitu pun sebaliknya dengan Bryan. Pria itu juga memilih duduk di posisi yang berlawanan. Entah apa yang sedang berada di pikiran mereka masing-masing. Acara televisi yang menampilkan acarara kartun kucing dan tikus yang saling berkejaran itu tak urung membuat salah satu mereka untuk tertawa atau melayangkan protes dengan mengganti channel itu. Hanya keheningan yang membentang. Tak ada satupun dari mereka yang berniat memulai percakapan.
“Terima kasih” Aleysia menoleh menatap Bryan yang ternyata juga sedang menatapnya. Aleysia merenung sejenak, menimbang ucapan terima kasih yang pria itu katakan.
“berterima kasih untuk apa?”
“Perutku sudah membaik karena kompresan air hangat yang kau lakukan tadi malam”
“Oh syukurlah jika perutmu sudah membaik” Aleysia tersenyum lega
“dari mana kau mendapat ide menghilangkan nyeri perut dengan kompresan air hangat?”
“Ibu panti yang dulu mengajarkan itu padaku!”
“Dulu kami mengalami kekurangan biaya untuk membeli obat-obatan di panti asuhan. Ibu Panti yang paling tua sering mengompres perut kami yang sakit dengan air hangat. Beliau bilang, itu akan mengurangi sakitnya. Awalnya aku memang tidak percaya, tapi kedaan yang sulit membuatku berpikir untuk mempercayainya. Entah itu memang mujarab atau mungkin hanya kebetulan, tapi nyatanya aku selalu berhasil meredakan nyeri perut dengan metode itu” raut wajah Aleysia berubah sendu ketika gadis itu menceritakan masa lalunya.
“Ya, dan kau nyatanya juga berhasil melakukan itu untuk mengatasi sakit di perutku” Bryan mengulas senyum dan nyatanya membuat Aleysia membuang wajahnya malu-malu.
“Apa hari ini aku boleh pergi?” Aleysia berbicara dengan pelan. Takut memancing reaksi pria itu untuk marah lagi. Sebenarnya ia sudah terbiasa dengan beradu mulut dengan pria di sampingnya itu. Hanya saja, keadaan diam ini begitu membuatnya canggung. Ia harus terbebas dari pria ini, jika tidak mau saling bertatap sepanjang hari. Apalagi ini adalah hari Minggu. Artinya Bryan kemungkinan besar akan berada di rumah seharian.
“Tidak boleh!” kalimat singkat bernada penolakan itu membuat Aleysia menoleh seketika. Namun bukan untuk memberi protes, gadis itu lebih memilih menundukan wajahnya dalam-dalam.
Sadar dengan raut sedih Aleysia, Bryan kembali menyambung kalimatnya” Tidak boleh! Jika kau pergi tanpa bersamaku”
Aleysia menyipitkan mata, merasa ragu dengan pria di sampingnya itu.
***
“Kita akan pergi kemana?” Aleysia menolehkan kepalanya menatap Bryan yang sedang sibuk menyetir. Setelah hampir tiga jam lamanya perjalanan mereka dan nyatanya mereka juga belum sampai pada tujuan . Entah kemana Bryan akan membawanya, tempat yang mereka lalui sungguh begitu asing bagi gadis itu.
“Sabarlah! Sebentar lagi kita sampai” Bryan menoleh sekilas lalu kembali lagi pada stir mobilnya. Jalan yang mereka lalui berkelok-kelok dengan tikungan yang tajam. Oleh sebab itu Aleysia tidak ingin membebani Bryan dengan berbagai pertanyaan yang di coba di tahannya untuk di ucapkan.
“Kita sudah sampai” Aleysia terhenyak dari lamunannya hingga tidak menyadari jika Bryan sudah menghentikan mobil sportnya. Bahkan pria itu sudah lebih dulu keluar dari mobil tanpa menunggu dirinya.
Aleysia menatap dengan senyum sumringah di sertai ekspresi bahagia yang tak dapat di tahannya. Hampir saja ia melonjak kegirangan dengan pemandangan di depannya. Laut biru dengan desiran ombak yang bergumpal itu sangatlah indah. Semilir angin yang berhembus itu menyapu penciumannya. Hingga aroma laut yang khas itu berhasil membuat Aleysia berlari kecil ke pinggir pantai.
Pantai yang berada di hadapannya sekarang terpencil dari kota dengan bebatuan besar yang berada di pinggir pantai. Tidak ada pengunjung pantai selain mereka. Hanya beberapa nelayan yang tengah menangkap ikan dari tengah laut yang tertangkap indera penglihatannya.
“Lepaskan sepatumu. Kau akan kesulitan berjalan nantinya” Aleysia melirik sepatunya yang hampir basah setengahnya oleh ombak. Berbeda dengan Bryan yang ternyata sudah menanggalkan sepatunya dan tanpa ber alas kaki menyentuh butiran pasir yang basah oleh air laut. Bahkan pria itu juga menggulung celana jeansnya agar tidak basah oleh ombak.
Aleysia membalikan tubuhnya berjalan cukup jauh dari bibir pantai. Gadis itu melepas sepatunya dan menaruhnya ditempat yang cukup aman dari sapuan ombak. Seandainya saja ia tahu jika pria itu akan membawanya ke pantai, pasti ia akan berpakaian yang lebih santai dari ini. Bukannya dress yang hampir menyerupai gaun itu.
“Kemari” Bryan melambaikan tangannya. Pria itu melangkah lebih jauh hingga celananya yang tadi tergulung mulai basah oleh ombak.
“Apa yang kau lakukan ketika berada di pantai?”
Aleysia menghentikan langkah. Berdiri menghadap Bryan yang sekarang menatapnya lekat. Hembusan angin yang kencang, membuat rambut pria itu tertiup dan acak-acakan. Jantung Aleysia berdesir, Bryan terlihat lebih tampan dari biasanya.
“tentu saja berenang” Aleysia menyahut dengan semangat
“hah yang berenang. Yang benar saja?” Bryan tersenyum mengejek. Ia sudah dapat menebak apa yang akan gadis itu katakan
“Bukankah tujuan utama orang pergi ke pantai adalah berenang? Meskipun sebagian hanya untuk menikmati pemandangan laut saja.” Aleysia mengerucutkan bibirnya menatap jengkel pada Bryan
“lagi pula aku sanagt jarang pergi ke pantai. Dan setiap memiliki kesempatan pergi aku pasti akan menghabiskannya untuk berenang. Karena itu yang paling membuatku senang. Namun berbeda halnya denganmu yang bisa setiap saat pergi kemanapun yang kau sukai dengan uangmu yang melimpah itu. Kau mungkin tidak akan tahu rasanya seperti diriku” Bryan melirik Aleysia yang nampak muram di sertai kesal.
Bryan nampak memikirkan sesuatu lalu dengan cepat menarik pergelangan tangan gadis itu.
“Ayo berenang bersama! Agar aku bisa tahu seperti apa rasa senang yang kau katakan”
Bryan menarik Aleysia semakin ke tengah tanpa gadis itu sempat membantah. Dan alam menjadi saksi bagaimana dua anak manusia itu basah oleh sapuan ombak.