My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
Chapter 22



“Bodoh... apa yang kau lakukan!”


Bryan bergerak cepat menekan tombol perawat agar gadis itu segera di tangani.


Aleysia meringis menahan sakit, pandangannya mulai berkunang-kunang hingga kesadarannya hilang seiring dengan matanya yang terpejam.


***


Bryan mengusap wajahnya kasar, pria itu menendang barang-barang yang berada di sekitarnya, kursi, meja bahkan buku-buku berhamburan di lantai terkena sasaran amarahnya.


“Apa kau juga akan menendang kursiku ini?”


Max bertanya dengan kening bertaut, pria itu menunjukan protes ketidak sukaannya atas prilaku Bryan.


“Bukan hanya kursimu, aku akan akan sangat senang jika dapat menendangmu sekalian!”


“Hei sabar lah. Cobalah untuk tenang! Semua tidak akan selesai jika di lakukan dengan emosi”


Max melirik kursi disebelah tempat duduknya, memberi isyarat pada pria itu untuk duduk di sampingnya.


Bryan mendengus, tapi pria itu tetap menuru jugat untuk duduk.


“Sebaiknya kau harus mengubah sikapmu pada gadis itu”


“Apa maksudmu?” Bryan melirik Max dengan tatapan mencela.


“ku pikir selama ini kau dan Aleysia selalu bertengkar. Padahal kalian menikah untuk saling menguntungkan. Meskipun ya, kau memonopoli keuntunganmu atas gadis itu.”


“Maksudmu? Aku harus bersikap baik padanya? Apa kau bercanda?” Bryan melayangkan protes dengan melempar seringaian pada Max.


“Hei cobalah pikir, kau memaksa menikahinya, merendahkannya, memperkosanya dan kau juga memaksakan kehendakmu padanya. Apa kau pikir itu tidak keterlaluan? Kau masih sangat membutuhkannnya untuk mendapatkan warisan kakekmu, kalau sikapmu buruk apa dia tidak akan meninggalkanmu? Mungkin saja ia akan meminta cerai. Ku pikir itu akan sangat merugikanmu!”


Max mengedarkan pandangannya kepada Bryan yang masih memasang ekspresi yang sama. Pria itu masih mempertahankan keangkuhannya.


“Gadis itu berbeda dari yang lainnya. Kau tahu, tidak ada yang berani membentak atau melawanku!. Tapi gadis itu sangat menyebalkan, ia selalu membuatku jengkel. Ia pasti akan semakin merepotkan dan berbesar kepala jika aku merubah sikapku padanya”.


Max menggeleng lalu menyesap capuccino yang berada di meja. Asap minuman berkafein itu terlihat mengepul.


“Ku pikir pengalamanmu yang sering berkencan dengan para wanita membuatmu belajar banyak bagaimana cara menarik perhatian dan membuat wanita luluh. Ternyata aku salah menilaimu”


Max meletakan kembali capuccino yang telah tinggal setengah. Pria itu menatap Bryan dengan sorot mata tenang.


“Dengar! Sejak awal aku hanya menikahinya untuk sebuah keuntungan. Jadi untuk apa aku harus bersikap baik pada gadis itu”


Bryan menaruh kedua tangannya yang bersidekap di depan dada. Pria masih saja mempertahankan argumennya, tidak peduli pada temannya Max yang mulai kebingungan bagaimana cara menyentuh hati nurani pria itu agar mendengarkan ucapannya.


“Apapun alasanmu, tetap saja ia adalah istrimu. Lagi pula gadis itu sudah merugi cukup banyak. Belum lagi yang terjadi sekarang. Gadis itu bahkan mengalami pendarahan karena nafsu sexmu yang brutal. Apa salahnya jika kau sedikit merubah sikapmu menjadi lebih lembut padanya. Itu tidak akan merugikanmu, justru itu akan sangat menguntungkanmu”


Bryan sedari membuang wajahnya kini menatap Max dengan lekat. Dengan kening bertaut pria itu ingin minta kejelasan lebih lewat tatapan matanya


“Apa maksudmu dengan menguntungkan?” Bryan menuai reaksi dengan meluncurkan tanya


“Kau mungkin sudah mengerti karakter Aleysia, gadis itu polos tetapi memiliki jiwa pemberani dan keras kepala. Kalian sangat mirip. Meski kau bukan pria polos tentunya.”


“Intinya saja! Jelaskan apa maksudmu!”


Bryan menuding Max dengan tidak sabaran. Bahkan ekor mata pria itu seperti ingin menelan Max bulat-bulat.


Bryan mematung. Pria itu berusaha menjernihkan ucapan Max.


“Kau tidak berpikir jika aku harus mencintai gadis itu bukan?”


“ Aku tidak berpikir jauh kesana. Aku hanya menyarankan agar kau sedikit melembutkan sikapmu. Tapi jika kau memang ingin belajar mencintainya itu akan lebih baik. Aleysia adalah gadis yang baik. “


“Aku sama sekali tidak tertarik pada hubungan asmara apalagi menjalani kehidupan rumah tangga. Aku hanya perlu wanita untuk menemaniku di ranjang. Tidak lebih dari itu. Aleysia terlalu polos, aku takut sikapku yang melembut akan membuatnya berharap pada perasaan yang lebih”


Max mengangguk, membenarkan perkataan Bryan yang menurutnya benar.


“Kau bisa memberikan kompensasi yang besar untuk gadis itu, uang, rumah dan sebagainya hingga ia mungkin akan melupakan perasaannya padamu.”


Bryan menunduk sesaat, memikirkankan kembali usul sahabatnya yang cukup masuk akal itu.


Selama ini setiap wanita yang ia kencani selalu mendapatkan hadiah yang besar dari Bryan. Karena pria itu tidak ingin repot-repot dengan rengekan para wanita itu yang menginginkan dirinya lebih. Bryan hanya menganggap setiap wanita yang ia kencani sebagai selingan dan teman tidurnya. Tidak akan ada perasaan lebih dari itu.


Tapi Aleysia, gadis itu berstatus istrinya. Ia bukan gadis yang bisa ditinggalkannya dengan hanya memberikan uang dan harta yang berlimpah saja. Gadis itu pemberontak, bahkan bukan termasuk kategori wanita yang menginginkan dirinya. Meski mungkin sulit di taklukan, mungkin tidak mungkin gadis itu akan memiliki perasaan lebih pada suatu hari nanti, mengingat akan ada banyak interaksi yang akan mereka lakukan kelak.


***


Aleysia membuka matanya perlahan, menatap waspada dengan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


Ekor matanya berhenti bergerak ketika mendapati Bryan duduk di sebelah kiri tubuhnya.


Aleysia melonjak hampir bangun, sikap waspada menyelimuti tubuhnya, ketika pria itu menatapnya dengan dingin.


“ Jangan banyak bergerak, kau akan mengalami pendarahan lagi nanti” Bryan berbicara dengan tenang, namun tatapan menusuk pria itu sudah seperti pisau yang tajam bagi Aleysia.


“Ini salahmu! Kau yang melakukan ini padaku” Aleysia membuang wajahnya ke samping, membelakangi tubuh Bryan yang masih mengawasinya dengan lekat.


“Kau sendiri yang memancing reaksiku, hingga terjadi seperti ini. Kau sudah membangunkan singa yang lapar hingga aku menerkamu menjadi seperti ini”


Bryan duduk dengan angkuh, mendengarkan isakan tangis yang samar-samar terdengar dari kupingnya.


Gadis itu menangis?


“Aku? Apa salahku? Kau menyalahkan ini salahku? Padahal dengan jelas kau tahu ini semua 100% karena ulahmu. Kau memperkosaku, merenggut hal yang paling berharga bagiku”


“Apa aku harus membayar karena sudah menidurimu? Kau ingin rumah, uang atau mobil? Atau ada hal lain yang kau inginkan??”


Bryan menyahut dengan nada mengejek. Selalu saja, jika sedang dengan gadis ini emosinya akan merambat naik. Selalu akan ada pertentangan diantara mereka, dan bodohnya Max menyarankannya untuk berdamai dan melembutkan hatinya pada gadis itu. Tidak masuk akal, hanya dalam hitungan menit saja ia sudah beradu mulut lagi.


“Kau pikir aku wanita murahan yang biasa kau tiduri diranjang dan setelahnya kau hadiahkan imbalan besar setelah nafsumu terpuaskan?”


Aleysia memutar wajahnya, menatap Bryan dengan garang. Sungguh setiap ucapan yang keluar dari mulut pria itu selalu berhasil menyakiti hatinya, merendahkannya hingga begitu perih di ulu hati.


Apa mulut pria itu terbuat dari pisau belati?


“Tapi kenyataanya kau memang sudah tidur denganku. Bahkan aku yang pertama untukmu”


Bryan merasa puas dengan ucapannya. Ia merasa di atas angin atas Aleysia yang tersudut. Sedangkan Aleysia, gadis itu menutup wajah dengan telapak tangan, menyembunyikan isak tangisnya yang tak dapat ia tahan. Ia tak dapat membela diri, bahkan dalam keadaannya yang begitu dirugikan. Ia merasa di curangi oleh pria itu.


“ Ceraikan aku sekarang!”


Kalimat pendek bermakna dalam itu berhasil membuat Bryan menoleh tanpa berkedip.