My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
chapter 6



“Lepaskan... “Bryan memberontak dan balas menghajar para pria yang menariknya paksa. Ia mengepalkan tangan dan dengan membabi buta menghajar setiap orang yang menariknya. Mereka semua terkulai dilantai dengan darah dan tubuh yang memar akibat pukulan. Percuma ia mendapat sabuk hitam karate, jika tidak bisa mengalahkan pria-pria berbadan besar yang dilawannya sekarang.


Darahnya mendesir, tangannya mengepal dan bergetar.


Susah payah ia menahan emosinya untuk tidak mematahkan leher semua pengawal ayahnya itu. jika saja Sam dan Max tak datang untuk menenangkan Bryan yang sudah kalap mereka pasti sudah kehilangan nyawanya.


“cih.... begini kelakuanmu? Kau tak ubahnya seperti preman.”


“ Kau bahkan mengencani wanita-wanita ****** yang berbeda setiap malam. Tidak bermoral. Kau benar-benar tak pantas menjadi pewaris keluarga Dickinson.”


“kau lihat, koran itu! Hampir tiap hari wajahmu ada disetiap media dengan berita miring. Aku malu, sangat malu!” Lelaki tua itu melempar koran yang ada ditangannya ke wajah Bryan.


“tak bermoral? Kau bilang aku tak bermoral? Memalukan? Lalu bagaimana denganmu? Kau meninggalkan Ibu dan menikahi ****** sepertinya.“


Bryan menunjuk jarinya ke arah Isabelle yang hanya berdiri diam disebelah ayahnya. Wanita itu tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi. Apa ia merasa ketakutan melihat bagaimana Bryan menghajar para pengawal ayahnya itu sampai babak belur dengan hanya tangan kosong.


“ Semua yang ku lakukan. Berkelahi, mengencani wanita dan bahkan prilaku tak bermoral itu semuanya diturunkan darimu. Bukankah kau juga melakukan yang sama? Aku hanya meniru apa yang kau lakukan” Bryan tertawa mengejek dan wajah pria tua itu berubah menggeram.


“sifat burukmu itu turunan Ibumu. Wanita kampung yang tak tahu sopan dan santun. Kau dan Ibumu sama-sama hanya merepotkan dan membuat malu saja” Tuan Dickinson sedikit menyeringai, ia balas mengejek putranya itu.


“Jangan bawa-bawa ibuku. Ia memang bukan terlahir dari keluarga kaya sepertimu. Tapi ia jauh lebih beradab darimu!” pertikaian antara Ayah dan anak itu semakin sengit. Mereka saling beradu mulut. Tidak ada satupun yang mengalah.


“Dasar anak kurang ajar. Menyesal aku memiliki anak sepertimu! “


“Cukup Bryan. Semua tidak akan selesai jika kau balas beradu mulut dengannya”


Sam dan Max menarik paksa Bryan menjauh dari ayahnya ketika Pria itu hampir melayangkan tinju kearah Ayahnya. Mereka takut jika Bryan berbuat lebih kalap dan menghajar pria yang berstatus ayahnya itu.


“Mulai hari ini kau harus kembali kerumah. Aku tidak mau menerima laporan jika kau masih mengencani wanita-wanita ****** itu”.


“jangan coba untuk kabur atau pemberontak. Kau tahu akibatnya jika melawanku” Tuan Dickinson pergi meninggalkan kediaman Bryan dengan Isabelle yang sedang menahan tawanya. Ia berhasil membuat hubungan ayah dan anak itu semakin buruk.


***


“Jangan keluarkan nenekku. Tolong... ia sangat memerlukan perawatan. Tolong kasihanilah dia. Aku akan segera membayar biaya rumah sakit dan pengobatannya. Tapi tolong jangan keluarkan ia dari sini” Aleysia menangis memelas. Ia memohon bahkan menarik kaki para perawat yang sedang bersiap mengeluarkan neneknya dari ruangan. Gadis itu hampir bersujud untuk meminta belas kasih dari para perawat tersebut.


“Maaf nona. Ini sudah peraturan rumah sakit!” seorang perawat wanita dengan tubuh gemuk itu terlihat iba. Tapi apa dayanya. Ini sebuah peraturan dan ia hanya bekerja disana.


“Tuhan tolong aku” jerit Aleysia dalam tangisnya. Tubuhnya meringsut kelantai.


“beri aku waktu 30 menit. Tolong... sekali saja. Aku akan segera melunasinya.”


Perawat dengan tubuh gendut itu saling menatap pada dua temannya. Hingga salah seorang dari mereka berkata mengiyakan.


***


Aleysia menundukan wajahnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia tidak tahu seperti apa penampilannya sekarang. Rambut dan wajahnya pasti terlihat berantakan. Ia tak peduli. Itu tak penting sekarang.


“sudah ku duga kau pasti akan kembali nona” sebuah suara wanita memakasa Aleysia untuk mendongakan kepalanya.


Isabelle, wanita itu sudah duduk dihadapannya dengan anggun sambil menyilangkan kakinya.


“Apakah tawaranmu kemaren masih berlaku? Aku sangat memerlukan uang sekarang”


Aleysia tertunduk malu. Ia menelan ludahnya sendiri atas ucapannya kemaren pada wanita itu.


“ Ah bagaimana ya.. aku mulai tidak tertarik denganmu”


“tolong... aku mohon. Aku akan menerima perjanjian itu. Aku akan lakukan semua yang kau minta. “ Aleysia memelas. Ia benar-benar hampir hilang harapan sekarang.


“menuruti semua yang ku minta? Kau mau berjanji? Apa akibatnya jika kau melanggar?” Isabelle mengernyitkan dahinya menatap Aleysia. Ia ingin meyakinkan ucapan gadis itu.


“Apapun... aku siap menerima akibatnya” ucapnya pasrah dan membuat Isabelle tertawa puas.


***


Mobil sport itu berhenti di depan rumah besar keluarga Dickinson. Para pelayan sudah berbaris rapi di depan pintu untuk menyambut tuan muda rumah itu. Bryan keluar dari mobil dengan tergesak-gesak. Ia berjalan cepat memasuki rumah dengan diikuti beberapa pengawal ayahnya.


“oh tuan mudaku sudah datang rupanya!” suara Isabelle menghentikan langkah kakinya. Pria itu membalikan tubuhnya malas.


“ Berhenti berlagak mengenalku. Aku sangat benci melihat wajah dan mendengar suaramu itu.”


“Aku tidak tahu apa yang dilihat ayahku hingga menikahi ****** sepertimu” Bryan menatap Isabelle dengan jijik


“Jaga ucapanmu. Dia Ibumu!” Tuan Dickinson manatap Bryan tajam dan hanya dibalas tatapan dingin oleh Pria itu. Ibu tiri? Wanita itu hanya terpaut beberapa tahun darinya. Pantaskah ia menyebut wanita itu ibu tirinya. Pria tua yang bersatus ayahnya itu hanya terbuai oleh rayuan dan nafsu. Hingga tak dapat membedakan mana wanita baik dan tidak.


“aku hanya memiliki seorang Ibu dan tak ada Ibu lainnya.”


Bryan membalikan tubuhnya untuk meninggalkan pasangan yang membuatnya muak itu.


Bryan menghentikan langkahnya, ia membalikan tubuhnya menatap Ayahnya yang kini sudah duduk di ruang tengah.


“Bukan karena aku menuruti perintahmu untuk pulang kerumah lalu kau bisa seenaknya mengaturku” Bryan meninggikan suaranya, lalu pergi tanpa menoleh meninggalkan ayahnya.


Bryan ingat betul hampir sepuluh tahun lamanya ia tak pernah lagi berbicara dengan Pria yang berstatus Ayahnya itu. Ketika mereka berpapasan atau bertemu sekalipun pada sebuah pertemuan mereka seperti tidak pernah saling mengenal sama lain. Bahkan sebulan yang lalu ketika Kakek Bryan, Thomas Dickinsson meninggal, dua orang itu seperti orang asing yang tak pernah bertemu.


Permusuhan mereka dimulai sudah sejak lama. Bahkan mungkin sebelum lahir kedunia Bryan bahkan tak pernah diharapkan kehadirannya oleh Pria itu. Dan semuanya semakin memanas ketika sepuluh tahun lalu Pria itu mencampakan ibunya dan memilih wanita ****** bernama Issabel itu.


Sekarang, setelah sepuluh tahun dengan kebencian satu sama lain hingga tanpa saling menyapa. Pria tua itu memaksanya pulang kerumah dengan ancaman.


Pasti sesuatu telah terjadi. Ayahnya tak akan memaksanya pulang jika tidak untuk sesuatu yang akan menguntungkan pria itu. Mungkin kepulangannya untuk sebuah rencana buruk.


Pria tua itu licik dan serakah. Ia akan melakukan apapun untuk menguntungkan dirinya sendiri.


***


Dinding kamar berwarna putih itu terlihat kusam dan kotor. Debu tebal memenuhi ruangan. Beberapa sarang laba-laba terlihat menggantung disudut kamar. Pecahan beling vas bunga berserakan dilantai.


Bryan melangkah dengan hati-hati menuju ranjang tua besar yang berada di depannya. Beberapa tikus berlari cepat ketika kakinya berhasil mencapai bibir ranjang bergaya eropa itu


Ia mendaratkan tubuhnya disisi ranjang disusul dengan bunyi decitan besi ranjang yang sedikit bergoyang. Ia menatap seisi ruangan dengan lampu redup itu, Pikirannya menerawang mengingat masa lalu yang terjadi dikamar ini.


Dulu, tak pernah sekalipun dalam setiap harinya ia tak memasuki kamar ini. Kamar ini milik Ibunya. Ada banyak kenangan dikamar ini. Ada banyak kebahagian tercipta disini.


Sewaktu kecil ia sering bermain dikamar ini, bahkan ketika ia tidak dapat tidur karena mimpi buruknya Ibunya akan membawanya kekamar ini. Mengusap lembut kepalanya, lalu menceritakan dongeng sebelum tidur yang ia suka. Ia juga tak pernah lupa seberapa seringnya ibunya menangis dikamar ini. Menyembunyikan isak tangisnya lalu tersenyum hangat padanya dan mengatakan semua baik-baik saja.


Tapi lihatlah sekarang, sepuluh tahun lamanya ia tak kembali kerumah ini, dan Ayahnya menjadikan tempat ini sebagai gudang. Sebenci itukah ayahnya pada wanita yang pernah dinikahinya itu hingga lupa jika banyak ruangan kosong tak terpakai di rumah besar ini yang bisa dijadikan gudang selain kamar milik Ibunya.


***


Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu. Bryan mengerjapkan matanya. Ia memandang sekelilingnya. Ia tertidur dikamar Ibunya tadi malam.


Akkh... pria itu sedikit meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Efek berkelahi kemaren baru terasa pada tubuhnya sekarang.


“Maaf tuan, tuan besar memanggil anda keruang keluarga sekarang.” Ucap seorang pelayan ketika Bryan sudah berada di depan pintu


“Katakan padanya. Aku tidak berniat menemuinya”


“Tapi ada beberapa pengecara juga disana yang sedang menunggu anda. Tuan, anda harus segera kesana... jika tidak...” Pelayan itu berhenti berbicara ketika Bryan menampar daun pintu dengan cukup keras dengan Kepalan tangannya. Ia marah, benar-benar marah. Pria tua itu semakin mengatur hidupnya.


Bryan berjalan dengan gontai dari kamarnya menuju ruang keluarga. Beberapa pengawal berbadan besar mengiringi langkahnya. Setelah masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri pria itu menolak panggilan ayahnya. Bahkan ia mengacuhkan beberapa pelayan yang berulang kali memanggilnya.


“Apa lagi sekarang ?” semua orang memandang Bryan sekarang. Pria itu melipat tangannya di depan dada dengan wajah dinginnya.


“ dan siapa mereka?” dua orang pria dengan setelan jas formal itu berdiri untuk mengenalkan diri.


“Saya adalah Alex. Pengecara Kakek Anda Thomas Dickinsson.dan ini rekan saya Steven. Kedatangan kami kemari untuk membacakan surat wasiat kakek anda. “


“wasiat? Sepuluh tahun yang lalu sebelum kakek mulai sakit dan lumpuh ia sudah membuat wasiat dan aku sudah mendengar langsung apa isi wasiat itu. Semua harta kekayaan keluarga dickinsson akan diberikan kepada ibuku. Tapi Ibuku meninggal. Bukankah sekarang warisan itu menjadi hakku seluruhnya. “


“Apa wasiat itu perlu diulang lagi?” cecar Bryan kesal


“sayangnya ia sudah mengubah isi wasiat itu sebulan yang lalu sebelum ia meninggal” giliran tuan Dickinsson sekarang yang berbicara.


“apa sebaiknya saya bacakan dulu surat wasiat nya?” pengecara bernama Alex menengahi pembicaraan antara Bryan dan ayahnya ketika mulai ada tanda-tanda pertikaian lagi antara keduanya.


“Berdasarkan wasiat Tuan Thomas, 70% harta dan asetnya akan diberikan kepada cucunya Tuan Bryan Dickinsson. Sedangkan 30% sisanya akan diberikan kepada Anaknya Robert Dickinsson. Dengan catatan Bryan Dickinsson harus menikah sebelum usianya 33 tahun. Jika Bryan menolak untuk menikah maka tuan Bryan ataupun tuan Robert tidak akan mendapat sepeserpun harta warisan. semuanya akan disumbangkan ke badan amal. dan jika tuan Bryan menceraikan istrinya maka 70 % harta yang diwariskan kepada tuan Bryan Termasuk perusahaan dan aset berharga akan di berikan kepada Tuan Robert."


“kenapa? Bagaimana bisa? Ini pasti ulahmu dan wanita itukan? Kalian bekerjasama untuk merampas semua harta kakek dengan merubah surat wasiatnya” tuduh Bryan tak terima


“Tidak, aku tidak melakukan apapun pada surat wasiat kakekmu. Ini murni wasiat kakekmu”


“aku hanya mendapat 30%dari seluruh harta kakekmu. Bagaimana mungkin aku merubah wasiat yang akan merugikan diriku” tuan Dickinsson mendengus marah. Ia tidak terima jika harus dituduh.


“tapi ini tidak mungkin.” Bryan menarik rambutnya kebelakang. Wasiat ini membuatnya gila.


“maaf jika saya boleh menyarankan, sebaiknya sebelum usia anda memasuki 33 tahun. Anda harus segera menikah. Jika tidak, tak ada satupun dari kalian yang mendapat warisan.


“Kau harus segera menikah Bryan”


“apa? menikah??


tolong like dan commentnya ya teman-teman...


terimakasih sudah membaca