
“Kerumahku. Aku ingin memastikan kau tidak akan berniat kabur lagi dariku”
“Apa?” Aleysia menahan keterkejutannya dengan merendahkan suaranya. Ia menoleh sesaat hingga akhirnya kembali menunduk ragu. Sungguh tidak ingin melihat pria itu marah lagi.
“Tapi kita belum menikah, aku masih ingin menikmati waktuku sebelum akhirnya tinggal dirumahmu”
“Ada begitu banyak kenangan disana..dan aku..”
“Aku sudah memindahkan barang-barangmu ke rumahku. Aku juga sudah memerintahkan perkerja untuk merubuhkan rumah itu hari ini. Rumah itu tidak layak huni”
“Kau...!” Aleysia mengepalkan tangannya ke udara bersiap meninju wajah Bryan. Hampir saja tangannya mengenai wajah mulus pria itu jika saja Bryan tak kalah cepat menangkap tangan Aleysia. Pria itu sedikit memplintir tangan Aleysia, membuat gadis itu meringis menahan sakit.”
“Aku akan melemparmu dari dalam mobil jika kau berani macam-macam lagi”
Ucapan Bryan membuat wajah Aleysia memucat. Gadis meruntuki emosinya yang meluap-luap hanya karena perkataan Bryan yang membuatnya kesal. Pria itu seperti selalu memancing emosi.
Bryan mengemudikan mobilnya jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ia ingin melihat tingkah ketakutan dari gadis muda yang sekarang bersamanya itu. Benar saja sekarang Aleysia merasa cukup takut. Ia memegang erat seat bell yang terpasang erat ditubuhnya. Jantungnya hampir melompat karena laju mobil yang kencang.
Krukkkk...
Aleysia memegangi perutnya yang berbunyi. Antara malu, takut dan lapar menyelimuti perasaan gadis itu. Sial karena sibuk beradu mulut dengan Bryan ia bahkan lupa menyantap makan malamnya. Padahal menu hidangan yang tadi ada direstoran itu benar-benar hampir menitikan air liurnya. Harusnya ia makan dulu tadi, sebelum berniat kabur dan berakhir di mobil ini.
Krukkk.... sial perutnya perutnya berbunyi lagi. Aleysia memberanikan diri menoleh ke sampingnya. Bryan masih fokus menyetir dengan kecepatan tinggi. Raut wajah datarnya itu tanpak tenang. Padahal baru beberapa menit yang lalu pria membentak dan menyeretnya dengan kasar menuju mobil.
Dengan suara mobil yang halus seperti ini, mustahil jika pria itu tuli dengan suara jeritan perut Aleysia yang berbunyi sejak tadi.
“Bryan...” panggil Aleysia dengan suara tertahan. Gadis itu sedikit menggigit bibir bawahnya karena gugup.
“Aku lapar” sambung Aleysia lagi. Ia buru-buru menunduk. Malu rasanya jika pria itu mendapati wajahnya yang memerah karena malu. Malu mengaku lapar, padahal tadi berniat kabur dari Pria itu.
Hening... tidak ada sahutan setelah Aleysia menyelesaikan ucapannya. Padahal gadis itu sudah susah payah menahan malu tapi nyatanya Bryan tak bergeming. pandangannya masih berfokus pada jalan raya.
Bryan menatap arlojinya yang sudah menunjukan pukul 21.09 sesaat sebelum ia menepikan mobilnya tepat di depan mansion miliknya. Aleysia mengerutkan keningnya. Mansion besar bergaya modern itu nampak membuatnya takjub. Cahaya lampu yang menerangi mansion itu nampak begitu indah. Meskipun malam, namun ia dapat melihat dengan jelas tanaman-tanaman tertata rapi di sekitar rumah. Bahkan ada juga taman dengan air mancur buatan yang di sekelilingnya di tanami bunga warna warni. Sungguh pemandangan yang berbanding terbalik dengan sifat pria itu.
Aleysia mengalihkan pandangannya ke depan. Gadis itu tak henti mengucap kata “wow” dengan mulut setengah terbuka. Beberapa meter dari jaraknya sekarang beberapa maid sudah berdiri rapi di sepanjang jalan menuju pintu utama.
“Keluar!” bentakan bernada perintah mengentikan ketakjuban Aleysia. Bryan sudah berdiri dan membuka pintu di sebelah tempat duduknya.
Aleysia menyembunyikan ke dua tangannya di belakang tubuhnya. Tangannya sudah cukup memerah karena tarikan kencang pria itu.
Bryan menarik panjang nafasnya, menahannya sesaat hingga menghembuskannya dengan kasar.
“Aku bisa keluar sendiri!” Aleysia keluar dari dalam mobil lalu berjalan mengekor Bryan yang sudah lebih dulu mendahuluinya. Gadis itu berjalan setengah berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Bryan.
“Selamat datang tuan dan nona” para maid menyapa mereka dengan senyum dan tubuh yang setengah menunduk.
Seorang wanita yang lebih tua dari maid lainnya berdiri di depan pintu dengan seragam yang sedikit berbeda dengan para maid lainnya. Ia tersenyum sumringah ketika Bryan berjalan melewatinya. Ia adalah Lena. Kepala para maid dirumah itu.
Aleysia melewati pintu besar dengan ukiran bertabur swarovski. Hingga membawa gadis itu ketengah ruangan. Ia memandang ke sekeliling ruangan. Benda-benda di rumah itu tampak begitu mahal. Beberapa lukisan dengan pemandangan alam tergantung rapi menghiasi setiap sisi rumah.
Gadis itu begitu takjub dengan segala interior yang berada dirumah itu. Aleysia tersenyum manis saat matanya tertuju pada kolam renang besar yang berada diujung kiri rumah itu.
“Nona” suara lembut seorang maid membuatnya membalikkan tubuh. Gadis muda yang mungkin seusia dengannya itu berbicara sopan sambil menuduk.
“maaf, saya diminta untuk mengantarkan anda ke kamar tuan muda sekarang”
Bryan. Ia baru menyadari melupakan pria itu. Interior rumah ini membuatnya sedikit terhipnotis.
Maid muda itu membawa Aleysia menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di bagian tembok yang bersebelahan dengan tangga ia dapat melihat beberapa foto besar tergantung disana. Sepertinya itu foto kakek dan Ibu Bryan tapi tidak ada satupun foto Bryan disana.
“ silakan nona, tuan muda sudah menunggu anda didalam” Maid muda itu tersenyum lembut lalu beranjak pergi meninggalkan Aleysia yang berdiri mematung dihadapan pintu besar kamar Bryan.
Aleysia menghela nafasnya, pintu besar di depannya itu seperti memancarkan aura mencekam. Ia bingung apakah harus mengetuk atau langsung membuka pintu itu. Bukankah terlalu lancang jika ia segera masuk tanpa mengetuk pintu. Aleysia menggigit bibir bawahnya, gadis itu mondar-mandir seperti setrika.
Aleysia mengangkat tangannya siap mengetuk pintu.
Krek... pintu itu terbuka sendiri sebelum tangan Aleysia menyentuk daun pintu.
Bryan, pria itu berdiri menghadap jendela kaca. Kedua tangannya ia masukan di saku celana jeans. Dan Kaos putih yang sekarang ia gunakan membuat pria itu terlihat santai.
“Duduk!” Aleysia menjerit kecil saat ucapan bernada perintah itu membuat tubuhnya merespon cepat untul mendarat pada sofa. Ia menatap ragu pada Bryan yang masih berdiri membelakanginya. Pria itu berbicara tanpa membalikan tubuhnya. Bagaimana pria itu tahu jika ia sudah berdiri didekat pria itu. Padahal semenjak tadi ia sudah melangkah dengan hati-hati dengan suara sepatu flatnya yang dibuat sehalus mungkin.
Aleysia mendelikan matanya, korneanya jatuh mengikuti arah pandang kepala Bryan yang sedikit menunduk. Pria itu memandang taman kecil yang tepat berada di bawah sana. Sungguh itu pemandangan yang indah. Bunga-bunga yang bermekaran di musim semi dengan cahaya rembulan yang masih malu-malu memancarkan cahayanya. Aleysia sedikit terhipnotis hingga tak menyadari jika Bryan sudah duduk menyilangakan kaki dengan sombong dihadapannya.
“Tandatangani itu” pria itu melempar kertas bermatrai yang sedikit kumal dibagian ujungnya.
Aleysia menelan ludahnya, diiringi tangan kanannya yang meraih kertas. Sial, umpatnya dalam hati. Seingatnya ia meninggalkan kertas itu direstoran. Kenapa kertas itu bisa ada disini sekarang.
Aleysia memutar bola matanya malas untuk menjelajahi setiap kata yang tertulis di kertas bermatrai itu.
Peraturan:
Menikah seumur hidup tanpa ada perceraian
Larangan:
Dilarang mencampuri
urusan pasangan.
Tidak boleh ada cinta
Tidak boleh ada
hubungan badan
Hal yang boleh dilakukan:
Apapun itu, asalkan tidak merugikan masing-masing pihak.
Sanksi jika melanggar:
Jika melanggar, pihak yang merasa dirugikan berhak memberikan sanksi dalam bentuk apapun.
Aleysia melongo... perjanjian apa ini? Tidak boleh bercerai dan bebas melakan apapun selama itu tidak merugikan. Dan sanksi.. apa lagi ini.
“Aku boleh melakukan apapun? Apa saja. Itu juga artinya berlaku hal yang sama denganmu?”
“Bagaimana jika aku memutuskan menjalin hubungan dengan seorang pria? Apa kau mengijinkan?”
Bryan mengerutkan dahi, ia berpikir beberapa saat sebelum mengangguk.
“lalu... bagaimana jika aku ingin menikahinya? Apa itu dilarang?” tanya Aleysia lagi
“Itu dilarang”
“Mana bisa begitu? Bagaimana dengan masa depanku. Hidup seumur hidup denganmu...aku juga perlu memikirkan masa depanku. Hidup dengan pria yang ku cintai. Memiliki keturunan dan membina rumah tangga yang bahagia. Bagaimana? Apa aku tidak berhak mendapatkan itu. Padahal kau mendapatkan keuntungan dengan memiliki semua harta yang kau miliki dari warisan kakekmu. Mungkin kau tidak berpikir tentang membina hubungan keluarga seperti yang aku impikan. Tapi aku wanita, dan setiap wanita pasti memiliki pengharapan yang sama denganku. “ Aleysia berujar panjang lebar. Nafasnya memburu tak beraturan.
“Aku akan menjamin semua yang kau inginkan. Aku bahkan akan memberimu rumah yang jauh lebih dari kata layak. Perhiasan, mobil dan aku juga akan mentransfer uang secara rutin di rekeningmu setiap bulan. Apa itu cukup?. Kau bahkan bisa menggunkaan uang dan berdandan lebih baik untuk mengencani para lelaki. Aku akan mengijinkan itu. Kau puas?”
Aleysia menggeleng. Ia sungguh tak mengerti dengan pemikiran pria sombong di depannya itu.
“Dengar Tuan Bryan Dickinsson yang terhormat. Tidak semua hal bisa kau bayar dengan hartamu. Aku tidak mau menandatangani ini! “
Aleysia bangkit, lalu pergi meninggalkan Bryan yang mematung di tempat duduknya.
“Kembali kemari dan tandatangani kesepakatan kita. Atau aku akan melenyapkan nenekmu sekarang juga!”
Terimakasih untuk kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca. Tolong like dan beri komentar yang membangun.
Maaf tidak bisa sering-sering “UP” ya para Riders. Saya sayang kalian semua❤