
Ada yang nunggu novel ini...???
Angkat tangannya??
Bryan membanting Aleysia dengan kasar ke atas kasur besar yang berada dikamarnya. Tidak peduli dengan suara jeritan serak gadis itu. Tubuh Aleysia yang basah kuyup meninggalkan jejak basah di atas kasur.
Aleysia mencoba bangkit ketika melihat peluang saat Bryan sedikit menjauh dari tubuhnya. Pria itu memindai seluruh tubuh Aleysia dengan tatapan menggoda. Bryan Melepaskan pakaiannya, membuang pakaian itu sembarangan ke lantai kamar.
Aleysia menurunkan kaki kanannya dilantai, disusul kaki kirinya yang hampir menginjak lantai.
Breakkk...
Gadis itu melonjak kaget hampir terjatuh. Bryan menarik dress Aleysia dengan kuat hingga terdengar bunyi robek yang jelas. Tubuh Aleysia beringsut mendekat ke arah Bryan dengan kakinya yang menendang bergantian, terus berusaha menyelamatkan dirinya hingga kekuatan terakhir yang gadis itu miliki.
“Kau harus membayar mahal atas apa yang telah kau lakukan padaku hari ini. Kau akan jadi milikku seutuhnya Aleysia”
“Bryan... tolong... ku mohon jangan!. Ampuni aku!!” Aleysia menangis memelas. Berusaha melunakan hati Bryan yang sudah dliputi napsu.
Bryan terkekeh mengejek, bukannya melepaskan, pria itu malah merobek paksa dress yang Aleysia gunakan. Lalu mengambil sebagian robekan itu untuk mengikat kedua tangan Aleysia yang terus meronta.
Dengan gerakan tak sabar, Bryan melabuhkan ciumannya dibibir Aleysia. Mengecup bibir itu, merasakan manisnya bibir ranum gadis itu hingga melumatnya dengan kasar. Aleysia menggerakan kepalanya agar Bryan menghentikan ciumannya saat Aleysia mulai kehabisan nafas.
Ini ciuman pertamanya...dan Bryan telah merenggutnya dengan paksa.
Aleysia berteriak, menendang dan menjerit meminta belas kasih. Tapi Bryan seperti telah tuli. Teriakan yang begitu terdengar menyayat hati itu seperti hanya hembusan angin yang lalu.
Bryan melucuti pakaian Aleysia hingga tak ada satupun benang yang menempel di tubuh gadis itu.
Bryan memaksakan hawa napsu yang telah mencapai puncaknya. Membiarkan gadis itu merintih menahan sakit.
Bryan menghentikan penyatuan tubuhnya sesaat, memandang ke kasur dengan noda bercak darah.
Senyum puas sekaligus kaget menjelma di hati Bryan. Kenyataan bahwa Aleysia masih perawan membuatnya begitu senang. Ia adalah pria pertama bagi gadis itu. Namun hatinya juga diliputi kaget yang terkira, pemikiran mengenai Aleysia yang dibawa oleh Isabelle, Ibu tirinya membuat pikiran Bryan mencap buruk Aleysia. Memandang gadis itu rendah dan pasti hanya wanita murahan yang menggunakan seluruh cara termasuk menjual tubuhnya untuk menarik pria kaya.
Tapi setelah mengetahui kenyataan ketika gadis itu masih perawan, dan ia adalah pria pertama membuat Bryan sedikit merasa bersalah. Memaksa kehendaknya dengan membabi buta.
Tapi nasi telah menjadi bubur, kenyataannya semua telah terjadi. Apapun penyesalan yang sekarang di rasakannya tidak akan berpengaruh atau membalikan waktu.
Bryan mempercepat gerakan tubuhnya, merasakan sensasi berbeda yang sungguh memuaskan nafsunya.
Aleysia terengah-engah dengan nafas naik turun yang tak beraturan tubuhnya lunglai, seperti remuk. Begitu sakit begitu juga dengan perasaannya. Pria itu merenggut keperawanannya dengan paksa. Namun Aleysia lebih memilih bungkam. Berusaha mengunci rapat mulutnya agar tidak mendesah, dan semakin membuat Bryan menghantamkan tubuhnya semakin kuat.
Aleysia hampir memejamkan matanya saat pandangannya mulai berkunang seiring bagian tubuhnya yang terasa begitu perih.
Bryan mengerang nikmat saat pria itu telah mencapai klimaks entah yang sudah berapa kali. Bryan tidak dapat menahan nafsunya untuk terus mengecap nikmat di sekujur tubuh Aleysia.
Bryan bangun dari tubuh Aleysia, pria itu berniat ingin mengambil minum untuk mengisi kerongkongannya yang begitu dahaga. Tanpa sengaja kornea matanya menatap tubuh kaku Aleysia yang terpejam.
Gadis itu pingsan karena ulahnya...
“Aleysia, ...!” Bryan meninggikan suaranya ketika rasa cemas mulai menyeruak dari jiwanya. Gadis itu terpejam dengan tubuh tak berdaya. Bryan mengguncang tubuh Aleysia lalu berusaha membuat gadis itu bangun dengan menarik tubuhnya seperti bersandar. Namun pemandangan hebat di depan matanya membuat Bryan terkejut bukan kepalang. Aleysia mengeluarkan darah yang begitu banyak di bagian bawah tubuhnya. Darah itu merembes keluar. Membanjiri sprey hingga membuat memerah. Bukan hanya itu saja wajah Aleysia juga memucat dengan bibir yang membiru.
Bryan panik, wajah pria itu mulai menegang. Bingung harus berbuat apa. Hingga Pria itu memutuskan dengan cepat untuk memakai pakaiannya. Membalut tubuh telanjang Aleysia dengan selimut dan menggendongnya keluar kamar.
“Belinda... panggil supir dan katakan cepat siapkan mobil!”
Teriak Bryan ketika berada diambang pintu. Belinda yang memang berada tak jauh dari Kamar Bryan langsung menyadari situasi darurat. Gadis itu langsung keluar dan mencari supir.
Aleysia masih berada dalam gendongan Bryan ketika berada di dalam mobil. Dengan berbalut selimut ditubuhnya. Gadis itu masih tak merespon. Pucat pasi seperti mayat.
Penyesalan meresapi hati Bryan. Iia benar-benar keterlaluan dengan gadis itu. Berencana hanya menakuti-nakuti dan malah berakhir dengan perkosaan yang dilakukannya pada Aleysia.
Beruntunglah, jalanan yang cukup lengang memudahkan mobil yang dikemudikan supir itu dapat menjangkau rumah sakit terdekat yang memang berada di sekitar komplek perumahan elit tempat Bryan tinggal.
Petugas rumah sakit sudah menunggu kedatangan Bryan. Dengan sigap para petugas itu membantu mengangkat tubuh Aleysia. Gadis itu dibaringkan di atas kasur dorong dan kemudian para petugas itu dengan cepat melakukan tindakan.
Sebelum mobil Bryan meninggalkan rumah. Ia sudah menelpon Sam untuk mengkonformasi kepada pihak rumah sakit untuk menyediakan segala sesuatu yang berhubungan dengan penanganan Aleysia. Untunglah para petugas itu sigap dan dapat segera melakukan pertolongan.
“Aleysia sudah dipindahkan diruangan emergency. Dokter spesialis akan segera melakukan tindakan operasi untuk menghentikan pendarahannya”
Sam menghampiri Bryan yang sedang berada di kamar mandi. Pria itu membersihkan dirinya karena pakaiannya yang berubah memerah oleh darah Aleysia.
Bryan mengangguk tipis. Pria itu sedang tidak ingin berbicara. Pikirannya panik. Diliputi rasa bersalah yang telah dilakukannya pada Aleysia. Sungguh meskipun pernikahan mereka telah sah dimata Tuhan dan hukum, tapi mereka menikah bukan dilandaskan oleh cinta. Dan perbuatannya yang telah memaksakan nafsunya itu tak ubahnya seperti pemerkosa.
Bryan sudah sering meniduri wanita, dari yang perawan hingga perempuan ****** yang sengaja menjual tubuhnya demi uang. Tapi dari semua itu tak pernah sekalipun ada hubungan seksual yang dipaksakan. Bukan atas dasar cinta, tapi Semunya atas dasar sama-sama membutuhkan. Bryan membutuhkan pelepasan, dari mereka membutuhkan uang. Meski juga sebagian besar bukan untuk uang, tapi untuk kepuasan pribadi dan sosok Bryan yang kayaraya dan berkharisma tentu menjadi sesuatu yang mendatangkan kepopularitasan mereka. Mengingat para wanita yang biasa ditiduri Bryan adalah para model dan bintang terkenal.
Sam yang menyadari ekspresi kacau Bryan langsung menghela nafasnya keras. Hingga Bryan menoleh dan menunjukan ekspresi bingung. Pria itu tahu Bryan perlu menenangkan dirinya sejenak. Tapi ada hal yang begitu penting yang harus ia sampaikan dengan pria itu segera.
“Apa terjadi sesuatu lain yang belum kau sampaikan padaku?”
Bryan memandang Sam dengan dahi bertaut.
“sebenarnya...” sam menelan ludahnya, berusaha mencari kata yang paling efektif untuk disampaikan kepada Bryan agar tidak terkejut.
“Pengecara kakekmu menelponku dua jam yang lalu. Mereka ingin segera melakukan pertemuan dengan seluruh pewaris keluarga Dickinsson. Mereka akan segera melakukan menyerahkan harta warisan kakekmu”
“Benarkah?” tanya Bryan mayakinkan karena melihat ekspresi Sam yang nampak resah
“ Ya, dan mereka ingin Aleysia ada dan menyaksikan langsung saat penyerahan harta warisaan itu. “
“Apa!!!”
Bryan mendadak panik dengan kening yang bertaut.
Mohon like, comment dan vote. Terimakasih.🤗