My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
chapter 8



Bryan memandang serius beberapa lembar foto yang berada di tangannya. Sudah hampir satu jam dan pria itu masih sibuk mengamati puluhan foto yang juga berhamburan di atas meja kerja yang berada dikamarnya.


Ia buru-buru meletakan foto ditangannya dan beralih memilih memijit pelipisnya yang berdenyut semenjak tadi.


Semenjak Max mengirimkan data dan foto tentang Aleysia tadi pagi, pria itu terus saja mengoceh dan mengumpat dalam hati.


Bagaimana bisa Ayah dan Ibu tirinya menemukan gadis seperti Aleysia, gadis yatim piatu yang malang, bahkan kesulitan dalam ekonomi. Gadis itu juga yang akan ia nikahi.


Terbesit rasa Iba dalam hatinya, gadis itu pasti berada dalam tekanan dan kesulitan hingga harus menerima tawaran Ayahnya atau Isabelle untuk menikah dengannya. Mereka pasti mencari keuntungan dengan memanfaatkan gadis itu. Sungguh Ironis, uang mampu merubah segalanya.


“Ah... tidaak”... Bryan menarik rasa iba untuk Aleysia. Gadis yang baru sekali bertemu dengannya itu tak patut ia kasihani menurutnya. Entah apapun yang mendasari keputusan Aleysia menerima perjodohan itu, yang jelas ada campur tangan Isabelle didalamnya. Wanita ****** yang siap melakukan apapun demi harta. Dan cepat atau lambat bahkan Aleysia juga akan melakukan hal yang sama. Hanya menunggu waktu, hingga keluguan gadis itu terkikis dengan kilauan dolar.


***


Restoran dengan gaya klasik itu nampak begitu sunyi. beberapa pelayan terlihat melintas dengan makanan yang tertata rapi di tangan mereka. Setelah semuanya terhidang diatas meja, merekapun pergi dan hanya meninggalkan Aleysia yang duduk termenung menatap heran semua hidangan yang berada didepannya.


Aleysia mengedarkan matanya keseluruh ruangan restoran. Hanya ada beberapa pelayan dan satpam yang berjaga di luar. tak ada satupun pengunjung yang datang. apa retoran ini sudah di booking?


Tadi sore ponselnya berdering, sebuah panggilan tak dikenal menghubunginya dengan mengatas namakan Bryan. Ia diminta untuk datang ke restoran ini tepat jam tujuh malam. Aleysia merasa sangsi dengan suara telepon itu, ia memang hanya baru bertemu Bryan sekali, tapi ia jelas ingat bagaimana suara pria itu. Bahkan ia tak akan lupa kepribadian dingin serta arogannya pria itu. Mungkinkah pria itu akan menghubunginya. Entahlah...


Apa yang ingin dilakukan pria itu hingga berniat menemuinya di restoran ini, apa ia bermaksud untuk membatalkan perjodohan ini. Bryan jelas menentang perjodohan yang dilakukan oleh Ayah dan Ibu tirinya. Sedangkan ia sudah menerima uang dari isabelle untuk biaya pengobatan neneknya. Jika perjodohan ini batal, apakah mungkin ia juga akan mengembalikan sejumlah uang pada Isabelle. Oh tidak... Aleysia menggelengkan kepalanya.


Jam dinding baru saja menunjukan pukul tujuh malam. Artinya sudah lima belas menit ia berada di restoran ini. Gadis itu memang datang lebih awal, jaga-jaga saja kalau ia terlambat mungkin ia akan mendapati makian oleh Bryan dan rasanya tidak akan lucu bukan. Tapi begitu memalukan.


****


“Perkenalkan dirimu lagi. Aku belum puas dengan perkenalanmu kemaren. Itu terlalu singkat”


Aleysia sedikit terperanjat, siku tangannya mengenai gelas kaca, hampir saja gelas didepannya itu terjatuh dan tumpah jika ia tidak dengan sigap mengambil gelas itu dan meletakannya pada posisi semula. Bola mata milik Aleysia kini tertuju pada Bryan yang entah sejak kapan sudah duduk berseberangan dengannya. Lelaki itu seperti “Hantu” saja, tiba-tiba muncul didepannya. Mata Aleysia sedikit menyipit, ia ingin memastikan apakah benar pria yang duduk berseberangan dengannya Itu Bryan. Pria yang akan menjadi suaminya kelak? Dan Ya, pria itu 100% adalah Bryan.


Celana hitam dengan setelan jas berwarna senada membuat terlihat benar-benar pas ditubuh Bryan. Dasi biru muda yang dipasang longgar dikerah kemejanya membuat tampilan Pria itu terlihat sempurna. Bahkan aroma segar dari parfum Bryan menguar segar ke seluruh sisi ruangan restoran.


Aleysia menatap tubuhnya yang hanya menggunakan jeans dan sweater berwarna coklat yang longgar. Sungguh berbanding terbalik dengan setelan rapi yang Bryan kenakan. Bukankah ia hanya diundang untuk menghadiri acara makan malam, bukan untuk memamerkan pakaian. Aleysia berusaha membuat pikirannya sesantai mungkin.


“A-p-a? Perkenalan lagi?” Aleysia balik bertanya, ia sedikit gugup. Bryan menatapnya telak. Dengan meja panjang yang memisahkan jarak mereka cukup jauh, ia masih dapat melihat Bryan menatapnya tanpa berkedip


“Namaku Aleysia. Umurku 18 tahun.” Aleysia buru-buru menyelesaikan ucapannya. Tatapan tajam Bryan membuat nyalinya menciut.


“Aku sudah mendengar itu kemaren. Aku ingin yang lebih detail” Bryan menyandarkan tubuhnya pada kursi, tangannya berlipat didada. Tatapannya masih menghunus langsung pada Aleysia. Ia membuat posisi tubuhnya senyaman mungkin sembari menunggu jawaban dari setiap pertanyaan yang ia lontarkan pada gadis itu


“Apa kau pernah pacaran?”


Aleysia mengangguk. Ia kini memilih menundukkan kepalanya tanpa mau bertatapan langsung dengan Bryan. Tatapan Pria itu seperti ini memakannya.


“kau sudah putus dengannya?” selidik Bryan lagi


Aleysia kembali menjawab dengan anggukan kepala


“Ia selingkuh” jawab Aleysia singkat


“Kenapa kau mau menikah denganku? Dimana kau mengenal Isabelle?” pertanyan beruntun dari Bryan membuat Aleysia kewalahan menjawab. Kerongkongannya terasa kering dan terasa dahaga.


Sruppp...


Aleysia menyesap habis segelas penuh air putih dihadapannya. Ia tak peduli dengan pandangan Bryan yang mungkin terlihat jijik melihat cara minumnya yang tak sopan.


“Apa pertanyaan itu perlu dijawab juga? Kenapa kau tidak tanyakan saja pada Ibu tirimu??” Aleysia mendongak menatap Bryan dengan tatapan yang cukup menantang, membuat pria itu menautkan alisnya geram. Cukup lama mereka saling tatap tanpa ada yang bersuara. hingga akhirnya Aleysia menyerah dan menundukan wajahnya yang memerah.


“Aku mendapati pacarku selingkuh dirumahnya. Aku pingsan dan Isabelle yang menolongku.”


“Aku sudah tahu!” Bryan menjawab tanpa memperdulikan Aleysia. Matanya beralih fokus pada ponsel miliknya


“Sudah tahu?” tanya Alyesia dengan mengernyitkan dahi


“Sebelum kemari, aku sudah mendapatkan informasi detail tentangmu. Aku hanya memastikan apa yang kau katakan sama persis dengan informasi yang kuterima tentangmu”


“Aleysia Aldertina umur 18 tahun. Tidak tamat SMA. Yatim piatu, tinggal di panti asuhan sebelum diadopsi. Dan... aku tahu semua tentangmu!”


Bryan berucap santai lalu mulai memotong steak yang berada diatas piringnya.


Berbeda dengan Aleysia, gadis itu mengumpat kecil dari bibirnya. Matanya melotot memperhatikan Bryan yang sedang menikmati makan malamnya dengan santai. Ia merasa dipermainkan oleh sifat pria itu. Kemaren saat pertama bertemu, pria dingin itu meledak-ledak dengan emosinya. Sekarang pria itu terlihat lebih dingin dengan sifat menyebalkannya.


Aleysia tak habis pikir, pria itu bertanya cukup banyak, tanpa satupun pertanyaan yang boleh dilewatkannya untuk dijawab. Dan sekarang, ia mengaku jika itu hanya memastikan. Bahkan pria itu juga tahu semua tentangnya.


“Kalau sudah tahu, untuk apa pertanyaan tadi? Aku hanya buang-buang waktu untuk menjawabnya. “ jawab Aleysia ketus


“Bukankah sudah kutakan, aku hanya memastikan ucapan dan informasi yang kudapatkan itu benar. Lagi pula... kurang dari 48 jam dari sekarang kau akan menjadi istriku. Aku harus memastikan wanita yang akan hidup denganku dapat dipercaya”


Bryan meletakan pisau dan garpunya. Ia sudah menyelesaikan makan malamnya. Bryan membenarkan posisi tubuhnya agar lebih tegap hingga kini pandangan mereka bertemu lagi.


Aleysia membalas tatapan Bryan, pria itu setuju menikah dengannya? Bukankah kemaren ia menolaknya. Kenapa pria itu bisa merubah sikapnya dalam hitungan jam.


“Kau bersedia menikah denganku? Bukankah kemaren kau menolaknya mentah-mentah”


“setelah ku pikir lagi, aku tidak mau kehilangan harta warisan kakekku. Aku tidak siap untuk miskin dan menggelandang sepertimu”


Aleysia menormalkan nafasnya yang memburu, emosi hampir saja merasukinya. Jika bukan karena terpaksa, ia tidak akan menikah dengan pria dingin, sombong dan kasar seperti Bryan.


“bacalah!” sebuah kertas dengan matrai berada dihadapan Aleysia.


“Apa ini?” tanya Aleysia dengan dahi bertaut


“surat perjanjian pra nikah”