
Aleysia masih menutup matanya begitu rapat, dan mulutnya yang sengaja dibungkam karena keterkejutannya. Pemandangan pertama yang dilihatnya ketika memasuki ruangan kerja Bryan terus membayangi ingatannya.
Seperti sedang tersihir Aleysia tetap berdiri di tempatnya. Kakinya jenjangnya yang sedari tadi melangkah ringan menyusuri setiap sudut ruangan kantor Bryan kini terasa sulit digerakan.
Bagaimana bisa Bryan tidur bersama wanita itu di dalam ruangan kerjanya. Apa mereka sudah tidak bisa menahan nafsu hingga berbuat tidak tahu malu ditempat yang tidak seharusnya.
Aleysia tersenyum lirih, sungguh sial hidupnya. Menikah dengan pria seperti Bryan yang senang mencari pelepasan seksual dengan para wanita penggoda. Dengan kekayaan yang melimpah tentu saja bukan hal yang sulit bagi pria itu untuk menarik setiap perhatian wanita yang silau dengan kilauan hartanya.
Tentu,ia harus mempertimbanhkan lagi untuk menikah dengan Bryan setelah ini. Hidupnya terlalu berati jika harus dihabiskan dengan pria seperti itu sepanjang hidupnya nanti.
Bryan memunguti pakaiannya yang berhamburan dilantai lalu memakainya dengan segera. Wajah pria itu mengeras menahan marah. Tangannya mengepal begitu kuat. Tatapannya hanya tertuju pada satu orang, Aleysia. Gadis yang menutup mata dengan gerakan salah tingkah itu masih berdiri layaknya patung batu yang berdiri kokoh dan siap terkena amukan badai. Bisa-bisanya gadis itu datang di saat yang tidak tepat, hampir saja ia akan menyatukan tubuhnya dengan Renata. Gadis Cantik yang menggoda itu sudah hampir membuatnya melepas gairah. Namun semuanya berakhir gagal dan hanya menyisakan nyeri di bagian bawah kemaluannya.
Berbeda dengan Bryan yang telah selesai memakai pakaiannya. Renata malah menggerutu tidak jelas sambil terus berusaha memakai kembali gaunnya.
Wanita itu sudah terlihat acak-acakan dengan rambut kusut serta lipstik yang belepotan. Beberapa kali ia menggeram dengan gigi bergelatuk menandakan ketidak senangan saat menatap Aleysia. Sumpah ia akan mencakar muka gadis itu jika sudah selesai dengan gaunnya.
“Apa yang kau lakukan disini?” Bryan melemparkan kalimat tanya dengan seringaian marah di wajahnya. Pria itu menarik Paksa tengkuk Aleysia. Mencengkram tengkuk gadis itu hingga memerah. Aleysia meringis dengan bibir bergetar. Ketakutan kini melingkupi perasaan gadis itu. Pria itu selalu mengandalkan kekerasan ketika mulai kesal padanya.
“A-ku ha-nya ingin menemui-mu”
Aleysia menjawab terbata dengan bibir bergetar. Nyali gadis itu menciut seiring tubuhnya yang lemas. Sial, datang untuk mengucapkan terima kasih malah berakhir dengan melihat pemandangan yang kurang pantas. Untung saja ia bukan gadis di bawah umur yang saat ini. Usianya sudah menginjak 19 tahun. Sebenarnya pemandangan seperti ini harusnya bukan menjadi hal tabu bagi gadis seperti Aleysia. Mungkin gadis sepertinya sudah sering melihat atau mungkin melakukan hal-hal berbau seksualitas. Tapi bagi gadis seperti Aleysia yang lugu dan begitu menggantungkan hidupnya dengan pekerjaan, hal seperti ini adalah pemandangan asing dan mungkin pengalaman pertama yang pernah dilihatnya.
“Menemuiku?” Bryan mendesis dengan mata menyipit. Pria itu tersenyum dengan aura gelap menyelimuti.
“Sepenting apa kau beraninya menemuiku disini. Diruanganku! Apakau tak pernah di ajarkan tatak rama untuk membiasakan diri mengentuk pintu ketika masuk ke sebuah ruangan?” Bryan mencengkram tengkuk Aleysia lebih kuat hingga gadis itu meringis merasakan sakit.
“Maafkan a-ku. A-ku sudah mengetuk beberapa kali, ta-...” Aleysia merintih marasakan sakit di perggelangan tangannya ketika Bryan mencengkram kuat lengan Aleysia yang berusaha menjauhi tubuh Bryan.
“Ya, aku lupa. Kau adalah gadis rendahan yang dipungut Isabelle entah dari mana. Tentu saja kau tidak punya etika yang baik. Kau bahkan tidak memiliki orang tua, yang merawat atau mendidikmu sebagai gadis yang memiliki etika. Mungkin saja kau juga berasal dari hubungan gelap orang tuamu yang membuatmu akhirnya berakhir di sebuah panti asuhan kumuh di pinggir kota ”
Aleysia menatap Bryan lirih. Berusaha keras agar air matanya tidak tumpah saat itu juga. Bryan, pria itu menghinanya. Merendahkan dirinya hingga ke paling dasar seorang manusia.
Bryan melepas cengkramannya ketika kulit Aleysia berubah memucat. Namun sungguh tidak disangka Aleysia mengepalkan tangannya bersiap membalas perbuatan pria itu yang begitu menghinanya.
Plakkkk
Aleysia mengayunkan tangannya dengan penuh kekuatan, mendaratkan Sebuah tamparan keras di pipi sebelah kiri pria itu. Suara tamparan yang keras itu menggema di ruangan.
Bryan memegangi wajahnya yang memerah, sudut bibirnya berdarah. Sungguh ia tidak menyangka, tangan Aleysia yang terlihat rapuh itu ternyata menyimpan kekuatan besar yang mampu membuat panas seluruh wajahnya.
Ucapan Aleysia yang menohok ternyata semakin menyulut kemarahan Bryan. Pria itu diliputi amarah yang telah memuncak bagaikan sebuah petasan yang tersulut api. Siap meledak.
“Siapa gadis itu? Lancang sekali ia masuk ke ruanganmu dan mengganggu kegiatan kita” giliran Renata yang sekarang berdiri mendekat. Dengan wajah marah bercampur rasa ingin tahu gadis itu meminta Bryan untuk meminta penjelasan.
“Siapa dia? Dia mantan pacarmu?” Renata menunjuk wajah Aleysia dengan jarinya lalu memfokuskan kembali pandangannya pada Bryan yang masih terpaku dengan wajah merah padamnya.
“Dia istriku!” jawab Bryan ragu ketika harus mengakui Aleysia sebagai istrinya. Pria itu bersidekap dengan tangannya berada di dada. Memperhatikan wajah Aleysia yang hampir tak memiliki setetes darah lagi karena pucat pasi.
“Istrimu?” Renata tersenyum mengejek, memperhatikan Aleysia dari kepala hingga kaki. Bagaimana mungkin gadis yang tidak menarik ini adalah istri Bryan. Gadis kurus dan terlihat dekil ini benar-benar tidak menarik. Apa Bryan sudah menurunkan seleranya pada perempuan hingga menikahi gadis yang berada di bawah standart?
Bryan melirik Renata dari ekor matanya yang merendahkan penampilan Aleysia yang serampangan. Padahal gadis itu sudah memakai gaun bermerek keluaran terbaru dengan harga yang mahal. Tapi Aleysia benar-benar mengahcurkan selera fashionnya ketika memadu padankan pakaian itu dengan asal-asalan.
“Kau ...! berani-beraninya datang kemari dan menggagu kesenanganku dengan Bryan” tanpa bisa di cegah, Renata menarik rambut Aleysia. Membiarkan gadis itu meringis menahan sakit sambil berusaha melepas cengkraman di rambutnya.
“Lepaskan dia Renata!”Renata terdiam dengan pandangan penuh tanda tanya. Nada perintah bak ultimatum itu seketika membuatnya menatap Bryan berusaha meminta penjelasan kenapa pria itu harus menghentikannya. Bukankah sepantasnya gadis itu menerima akibat yang ia timbulkan karena menggangu kesenangannya?
“Lepaskan “
Cengkraman kuat di rambut Aleysia kini melonggar seiring dengan tatapan kejam pria itu yang kini mengarah pada Renata. Dengan wajah menahan marah Bryan memberikan kode lewat matanya agar Renata berhenti. Pria itu beralih menatap Aleysia yang meringis dengan tangisan dan bahunya yang bergetar.
“Bryan... kau menghentikanku? Kenapa? Apa kau membela gadis ini. Gadis yang berstatus istrimu itu? Cih... dia bahkan tidak lebih baik dari para pelayanku.” Renata merendahkan suaranya, memancing simpati Bryan dengan tangisannya, namun tetap mempertahankan kesombongannya. Ia di terima jika Bryan menghentikannya untuk melampiaskan kekesalannya kepada Aleysia yang telah mengganggu waktu berharganya dengan Bryan.
“Ikut aku!” Bryan menarik Aleysia yang meringis memegangi lengannya. Pria itu manarik lengan Aleysia dengan cukup kuat. Menambah sakit bagian tubuhnya yang pasti akan meninggalkan tanda biru nantinya.
“Lepaskan aku”Aleysia meronta sekuat tenaga. Berusaha dengan susah payah melepaskan cengkraman Bryan dilengannya. Gadis itu berjalan terseret karena langkah Bryan yang cepat.
“A...apa yang terjadi?” tanya Sam dengan cemas. Pria itu keluar dari toilet dengan terburu-buru setelah mendengar bunyi keributan
“Aku akan berurusan denganmu setelah ini!”
Bryan melirik Sam sekilas dengan ancaman yang tersirat sebelum akhirnya meninggalkan pria itu yang mulai merasa merinding.
“Bryan... kau akan pergi kemana?. Tunggu...”
Renata berlari mengejar Bryan. Berusaha mengejar pria itu yang semakin jauh meninggalkannya.
please like, comment dan vote😀