
Untung saja kolong meja tempat mereka bersembunyi itu cukup gelap karena taplak meja yang berdahan dasar kain itu menutupi bagian sisi kiri dan kanan meja. Dan pengunjung perpustakaan yang cukup ramai membuat para bodyguard itu cukup kesulitan mencari Aleysia.
Hanya saja, kolong meja yang sempit itu membuat Brave yang bertubuh tinggi harus menekuk kakinya dan menundukan tubuhnya agar kepalanya tak menyentuh atas meja. Berbeda dengan Aleysia yang tak mengalami kesulitan berarti karena tubuhnya yang jauh lebih kecil dari pria itu. Namun kolong meja yang remang dan sempit itu membuat mereka harus berbagi oksigen yang sama dan jarak tubuh yang sangat dekat membuat rasa canggung diantara mereka.
“Siapa sebenarnya mereka? Kenapa mereka mencarimu?”
Brave bertanya dengan suara berbisik, hampir-hampir tak terdengan oleh Aleysia
“Mereka bodyguard yang menjagaku”
“Benarkah? Kau pasti berasal dari keluarga kaya hingga harus dijaga dengan para bodyguard !” Nada kelam kalimat yang yang keluar dari lidah Brave membuat Aleysia merasa sedikit tidak nyaman. Entah bagaimana ia harus menjelaskan jika apa yang ia lihat tidak seperti pikirannya. Ia hanya harus menjadi gadis kaya raya dadakan dengan embel-embel uang sebagai tawarannya. Tapi apa pria itu akan mengerti jika ia berusaha menjelaskannya. Dan bagaimana pria itu akan menilai dirinya yang ternyata telah menikah. Ah… Aleysia menggeleng, ia terlalu berbesar kepala. Lagi pula ia baru mengenal Brave.
“Tidak. Aku bukan gadis yang berasal dari keluarga kaya seperti yang kau pikirkan.”
“Mungkin lain kali aku akan bercerita denganmu!” Aleysia mengulas senyum dan dibalas senyum tipis oleh Brave
Setelah merasa keadaan cukup aman, Aleysia dan Brave keluar dari tempat persembunyian ketika para bodyguard itu sudah tak terlihat batang hidungnya lagi.
“Sebaiknya aku segera pulang” Aleysia mengutarakan niatnya untuk pulang untuk mengurangi rasa canggung di antara mereka.
Para bodyguard yang mencarinya itu sudah pasti di kerahkan oleh Bryan. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana marahnya pria itu sekarang . Ia pasti sedang membentak kasar para bodyguard yang malang itu dengan penuh ancaman. Malang sekali mereka.
“Aku akan mengantarmu sampai di rumah” usul Brave yang dibalasi oleh gelengan kepala oleh Aleysia
“Kenapa?” Brave bertanya penuh ingin tahu.
“Aku memiliki sebuah mobil tua. Tidak terlalu bagus, tapi masih bisa di andalkan jika mengantarkanmu pulang” tawar Brave lagi dengan antusias ketika Aleysia belum juga merespon tawarannya.
“ Kau pasti takut orang tuamu yang kaya raya akan menendangku sebelum menyentuh pagar rumahnya.” Brave menyimpulkan pemikirannya sendiri. Sepertinya gadis itu menolak tawarannya .
“Ti..tidak. Bukan begitu” Aleysia nampak ragu bagaimana ia harus menjelaskan pada Brave tentang situsinya saat ini. Ia tidak mungkin membawa Brave mengantarnya pulang dan membiarkan pria itu mungkin akan babak belur oleh paar bodyguard Bryan yang sangar itu.
“Sebenarnya bukan hanya galak, tapi bahkan bisa membuat bulu kudukmu merinding jika kau sampai mengantarku pulang. Kau akan menyesal nanti” Aleysia tertawa renyah, membayangkan wajah galak Bryan yang serasa menguliti tubuhnya hanya dengan tatapan tajam pria itu.
“benarkah?” Brave tertegun dengan dahi mengernyit, tapi tidak lama pria itu berhasil menguasai dirinya lagi
“Aku tidak menyangka gadis cantik sepertimu bisa memiliki orang tua seperti itu. Pasti kau tertekan tinggal di rumahmu”sesalnya penuh perhatian.
“Ah tentu saja aku sangat tertekan. Rasanya aku ingin kabur saja denganmu” Aleysia berbicara dengan gamblang di sertai candaan. Memang benar bukan jika ia tertekan tinggal di rumah Bryan dengan pria itu.
“Aku siap membawamu pergi kapan saja” Brave tersenyum penuh percaya diri.
***
“ Hanya mencari satu orang gadis saja kalian tidak becus!!” Bryan berteriak dengan luapan emosi pada belasan bodyguard yang berjejer di hadapannnya.. Nafas pria itu naik turun menahan marah. Belum lagi sakit dibagian perutnya yang belum sembuh itu terasa nyeri jika ia bersuara lantang. Tapi, ia sudah habis kesabaran. Sudah berjam-jam lamanya namun jejak gadis itu belum juga terendus oleh anak buahnya.
“Tuan… Nona sudah pulang!! Seorang bodyguard berlari memasuki rumah dengan tak sabaran. Ada rasa senang yang membuncah dari raut wajahnya yang nampak sangar. Jika istri majikannya itu sudah pulang, mungkin ia dan para rekannya akan memiliki harapan besar untuk tetap memiliki pekerjaan.
Aleysia mengendap-endap memasuki rumah. Gadis itu bahkan melepas sepatunya agar tidak menimbulkan bunyi yang akan mempengaruhi langkah kakinya.
Tadi, setibanya di depan pagar. Para bodyguard di sana hampir saja memergoki dirinya yang berjalan mengendap, tapi beruntung para pria berwajah sangar itu nampak sibuk berbincang. Dan dengan postur tubuhnya yang kecil itu ia berhasil lolos dari gerbang utama. Tapi, masih ada beberapa penjaga yang berada di depan pintu rumah. Mungkin ia akan dapat mengalihkan perhatian mereka nantinya menurut gadis itu penuh percaya diri. Ia sudah sering menonton fim bertema action dengan situasi seperti ini.
Hanya hitungan detik saja, para bodyguard itu berhamburan mengelilinginya. Ia terjebak. Sungguh sial rencana penuh perjuangan yang di lakukannya secara diam-diam yang bahkan menguras tenaga dan penuh ketegangan itu ternyata gagal total. Bahkan sekarang ia di kawal seperti tawanan kelas kakap yang baru saja berhasil malarikan diri dari bui.
“dari mana saja kau? Mencoba melarikan diri ?” Pertanyaan itu langsung mengenai Aleysia ketika gadis itu sudah berdiri dengan jarak beberapa meter dari Bryan. Pria itu berdiri dengan tangan yang bersidekap dan kaki yang sedikit terbuka. Rasa tegang yang membuncah di sertai takut itu membuat Aleysia memilih menunduk dengan jemarinya yang saling meremas gugup.
“Hanya berjalan-jalan saja” Aleysia memberanikan diri menjawab sebelum pria itu menyimpulkan pemikirannya yang keliru. Ia tidak kabur. Hanya sedang berniat kabur saja pikirnya.
“Kau anggap berjalan-jalan saja. Anak buahku bahkan begitu kesulitan mencarimu. Jika kau tidak sedang kabur atau bersembunyi pasti mereka sudah lama menemukanmu”
“dan ponselmu bahkan sengaja kau matikan. Apa itu yang kau anggap ‘berjalan-jalan saja’” Bryan mengucapkan kalimatnya penuh penekanan. Rahangnya yang mengeras dan ledakan emosi itu semakin membuat Aleysia menunduk dalam-dalam.
“Maa…maafkan aku” Aleysia menyesali perbuatannya. Tidak ada gunanya juga ia melawan atau menyanggah ucapan Bryan. Pria itu sedang dalam mood yang sangat buruk. bisa-bisa ia akan kena masalah lagi jika berusaha melawan. Hal paling bijak yang dapat di lakukannya saat ini hanya meminta maaf dan menunjukan rasa bersalah.
“maaf…. Maafkan aku” Aleysia mengulang kalimatnya saat di rasa Bryan tidak merespon permintaan maafnya. Gadis itu mendongakkan wajah hati-hati. Ia belum sanggup menatap berhadapan pria itu.
“Bryan… kau kenapa” Aleysia buru-buru menghampiri Bryan yang hampir tersungkur di lantai dengan tangan yang memegang perutnya. Pria itu nyaris terpejam dengan ekspresi wajah yang menaha sakit.
“Pelayan… tolong…” Aleysia menjerit meminta pertolongan
***
Aleysia duduk dengan cemas di samping tempat tidur Bryan. Setelah tadi dokter pamit untuk pulang setelah memeriksa Bryan, kini giliran Aleysia hanya berada berdua dengan pria itu. Bryan nampak tertidur dengan wajahnya yang tenang setelah dokter menyuntikan obat tidur sebelum pulang.
Setelah mengetahui apa yang terjadi dengan pria itu, Aleyia benar-benar di liputi rasa bersalah . Ia tidak menyangka sandwich yang ia buat sebagai sarapan pria itu tadi pagi adalah penyebabnya. Bryan ternyata alergi dengan cabai dan bermasalah dengan lambungnya jika mengonsumsi makanan pedas itu.
“akh… tolong… tolong” Aleysia menegakan tubuhnya, pandangannya tertuju pada Bryan. Pria itu seperti terganggu tidurnya. Keringat dingin membanjiri wajah Bryan yang di liputi ketakutan. Apa pria itu sedang bermimpi buruk?
“Bryan… Bryan… Bryan…” Aleysia memanggil pria itu berusahanya membangunkannya dari mimpi buruk.
Bryan tibatiba saja tersentak dengan tangan Aleysia yang menyentuh bahunya. Pria itu Nampak kusut dengan tubuh banjir keringat.
“Ada apa? Kau bermimpi buruk?”
“Kenapa kau di sini? Pergilah ke kamarmu?” bukannnya menjawab pertanyaan Aleysia, Bryan malah memberikan pengusiran pada gadis itu dengan tatapan menohok. Bahkan Pria itu sengaja membalikan tubuhnya membelakangi Aleysia.
“maafkan aku… “ Aleysia menyuarakan kata maafnya lagi. Namun kali ini permintaan maafnya itu untuk masalah yang berbeda.
“Bryan tidak menjawab. Perutnya masih terasa sakit dan lagi pula rasa kantuknya karena pengaruh obat tidur yang di suntikan oleh dokter membuat pria itu enggan menjawab dan memilih memejamkan matanya lagi. Ia malas berdebat dengan gadis itu. Ia akan menyimpan kemarahannya itu lain kali saja saat keadaannya membaik nanti.
Aleysia ke luar dari kamar Bryan dengan cepat lalu masuk lagi dengan terburu-buru dengan membawa wadah berisi air hangat.
“Bryan bangunlah” Aleysia menggoyangkan tubuh Bryan membuat pria itu membalik tubuhnya ragu dengan ekspresi tidak bersahabat.
“Aku akan mengompres perutmu dengan air hangat” Bryan tersentak, rasa kantuknya nyaris lenyap ketika gadis itu dengan gerakan cepat menyibak selimutnya dan berusaha membuka kaos yang pria itu gunakan.
“hei apa yang kau lakukan!!” Bryan menyanggah tangan Aleysia dengan refleks. Aleysia yang masih berdiri dengan wadah berisi air hangat itu hilang keseimbangan hingga melayang dan jatuh tepat di tubuh Bryan dengan air hangat yang tumpah ruah di wajah pria itu.
“Aleysia…” Teriakan Bryan menggema di rumah besar itu.
Plese like👍, comment, dan juga klik favorit❤. Jadilah pembaca yang baik ya..