My Husband is Billionaire

My Husband is Billionaire
Chapter 15



Bryan menarik tubuh Aleysia yang lemas ke sisi kolam renang. Gadis itu sudah mulai kehilangan kesadarannya. Dengan terburu-buru pria itu mengangakat tubuh Aleysia dan menekan dada gadis itu. Tidak mendapatkan hasil dan Aleysia sudah memejamkan mata dengan kesadaran yang diyakini hampir nihil membuat Bryan menjadi panik.


Bryan menempelkan mulutnya di bibir Aleysia, menghembuskan nafasnya beberapa detik sampai akhirnya gadis itu tersedak dan menyemburkan air.


Helaan Nafas berat dan panjang keluar dari mulut Bryan setelah Aleysia mulai mengerjap dan menatapnya dengan mata yang mengisyaratkan kelemahan. Sepercik kelegaan muncul di jiwa Bryan, ketika melihat dada Aleysia yang turun naik karena masih bernafas.


Dia tidak mati!


Pria itu lantas berdiri, memposisikan tubuhnya dengan tegap. Lalu mengusap wajahnya yang basah oleh tetesan air dari rambutnya. Pria itu mengambil pakaian Aleysia diatas sun lounge dan melemparkannya dengan kasar diatas tubuh Aleysia yang terbuka. Pria itu seperti tanpa hati melemparkan pakaian pada gadis yang bahkan hampir saja mati. Tidak bisakah ia lebih lembut, setidaknya hanya pada gadis yang merupakan istrinya itu.


“Kau ingin bunuh diri?” Bryan menaruh ke dua tangannya di pinggang dengan gigi yang bergemelatuk. Rahang pria itu mengeras dan tatapan yang mengintimidasi.


Aleysia perlahan bangun. Lalu menutupi dengan asal tubuhnya hanya dengan piyama yang ditutup sampai dada.


“Ti..dak” Aleysia menggeleng lemah. Nafasnya terasa masih tercekat karena tertelan air kolam yang cukup banyak


“Kau tidak sedang berenang pagi-pagi buta beginikan?” Selidik Bryan dan Aleysia menunduk penuh penyesalan. Niat awalnya hanya ingin merelakskan tubuhnya dan berenang sebentar saja, tetapi kondisi tubuhnya ternyata berlawanan. Kakinya kram dan membuat ia tenggelam.


“Orang bodoh mana yang berenang sepagi ini. Huh?”


"Kau tahu beberapa detik saja aku terlambat menyelamatkanmu. kau pasti akan berakhir di pemakaman."


Aleysia menunduk dengan perasaan bersalah. Ternyata Bryan tidak seburuk dugaanya, pria arogan dan kaku itu ternyata memiliki sikap baik juga. Meskipun itu tidak dapat diartikan baik karena dalam keadaan darurat seperti tadi jiwa kemanusiaan siapapun akan tercetus untuk menolong.


"Kau tahu, jika kau mati aku akan kehilangan seluruh warisanku. Dan itu tidak sebanding dengan nyawamu yang tak berharga"


sial, Aleysia mengumpat dalam hati, menarik kembali pujian dan penghargaan baik kepada pria itu. Ternyata sifat asli pria itu tidak dapat diubah. Selalu ada alasan untuk setiap hal baik yang ia lakukan, seperti menyelamatkan nyawa Aleysia bukan atas dasar kemanusiaan. Tetapi karena materi semata.


“Pakai pakaianmu dan segera masuk ke kamar. Bersihkan dirimu dan segeralah tidur!” Bryan berucap lantang dengan nada memerintah dan penuh penekanan.


Aleysia memeluk erat piama tidurnya yang masih menutupi dadanya. Ia masih menunduk tanpa berani menatap Bryan meski dalan hati ia menyumpah serapah dan mengutuk pria itu dalam-dalam. Ia masih terlalu malu untuk menatap mata garang pria itu yang seperti ingin membunuhnya hanya lewat tatapan mata. Apalagi sakarang ia hanya memiliki piyama tidur yang dikenakan untuk menutup sebagian tubuhnya saja.


Bryan mendengus lalu pergi meninggalkan Aleysia dengan pakaiannya yang basah berceceran air.


****


Matahari sudah bersinar begitu terang, cahaya merah kekuningan itu menyusup masuk lewat jendela kaca besar yang memang tidak tertup oleh tirai. Aleysia mengerjap merasakan hangat di wajahnya. Gadis itu perlahan membuka mata, mengumpulkan jiwanya yang masih tertinggal di alam bawah sadar.


Ia mulai duduk dan bersandar pada sandaran kasur dan memperhatikan piyama tidurnya yang berubah warna menjadi merah muda. Terbesit ingatannya jika tadi malam ia hampir saja mati tenggelam di kolam renang. Beruntung Tuhan masih memberi kesempatan untuknya hidup lewat Bryan yang datang menolongnya.


Bryan...ia belum sempat berterima kasih pada pria itu tadi malam.


Aleysia keluar kamar dengan tergesak-gesak. Gadis itu memijakan kakinya menuju ke kamar Bryan. Ia harus menemui pria itu. Ia harus mengucapkan terimakasih.


Aleysia masih termenung di depan pintu. Tangannya terasa kaku hanya untuk mengetuk pintu kamar pria itu. Apa Bryan akan membuka pintu kamar dengan wajah dingin dan masamnya?. Apa pria itu akan mengomel lagi seperti biasa jika bertemu dengannya?. Aleysia meneguk ludah membayangkan kenyataan yang akan ia terima jika pria itu membuka pintu kamar dan menemuinya. Tapi nalurinya berkata lain. Ia harus mengucapkan terima kasih karena pria itu telah menyelamatkan hidupnya tadi malam. Persetan dengan sikap arogan pria itu. Setelah mengucap terima kasih toh ia juga akan pergi.


“Tuan Bryan sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Ada yang bisa saya bantu nona?” Aleysia melepaskan tangannya yang hampir menyentuh daun pintu. Ia memutar tubuh dan mendapati Belinda, maid dengan senyum indah itu tersenyum ramah padanya.


“ Tidak ada.. “ Aleysia menggeleng kaku lalu melangkah menuju kamarnya. Ia tidak mungkin mengatakan pada maid itu jika ia ingin menemui Bryan saat ini juga hanya untuk mengucapkan sepatah kata Terima kasih.


“pukul berapa sekarang?” Aleysia menghentikan langkah, kembali menatap Belinda dengan rasa ingin tahu


“Pukul 12 siang nona” Aleysia membulatkan mata, rasa tidak percaya pada ucapan Belinda. Mana mungkin ia bangun tidur sesiang ini. Apa karena semalam ia tak dapat tidur hingga akhirnya bangun kesiangan? Atau mungkin fasilitas di rumah ini sangat menunjang kehidupannya hingga membuatnya tidur lebih nyeyak dari biasanya. Ah bisa jadi begitu!


Bunyi suara yang cukup berisik dilantai satu membawa Aleysia menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti di depan pintu kolam renang yang terbuka.


Gadis itu melotot dengan dahi yang berkerut. Pemandangan yang berada di depan matanya itu membuatnya begitu terkejut.


Puluhan pria dengan pakaian seragam putih ala petugas kebersihan sedang berada di sekitar kolam. Dengan alat-alat canggih yang Aleysia sendiri tidak tahu namanya apa. Mereka menguras air kolam itu sambil habis. Hanya menyisakan lantai keramik berwarna biru sebagai dasar kolam.


Aleysia tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya pada seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu berpakaian sedikit berbeda dengan para pria lain yang ia lihat. Tubuhnya yang tinggi serta berisi itu sungguh kontras dengan wajahnya yang sedikit sangar. Mungkin ia adalah ketua dari puluhan pekerja ini pikir Aleysia.


“Kami di perintahkan oleh tuan Bryan untuk membersihkan kolam ini. Menguras air kolam sampai habis dan membersihkan keseluruhan isi kolam. Serta memastikan tidak ada bakteri yang berbahaya yang menempel pada kolam dan air kolam ini. “ jawab Pria itu panjang lebar dan membuat mulut Aleysia membulat tidak percaya.


“Apa Bryan sering memerintahkan kalian untuk menguras dan membersihkan kolam renang ini?”


“Tentu saja Nona. Setiap kali tuan selesai berenang, kami pasti akan langsung mendapat perintah untuk segera membersihkan kolam renang ini. Agar jika tuan akan memakai kolam renang ini lagi, semuanya sudah steril dan siap untuk digunakan” tambah pria itu lagi dan Aleysia tertegun membayangkan banyaknya uang Bryan yang ia hamburkan hanya untuk menguras kolam renang ini setiap kali pria itu selesai berenang. Bagaimana jika pria itu mendadak ingin berenang setiap hari. Apa ia juga akan selalu meminta petugas kebersihan untuk menguras dan membersihkannya lagi?


“Sebenarnya beberapa hari yang lalu kami sudah membersihkan kolam ini. Tapi entah kenapa tuan Bryan ingin kami membersihkannya lagi sekarang, bahkan ia juga meminta menambah pasukan kebersihan dan memastikan tidak ada bakteri di kolam renang ini”


“Kolam ini sangat bersih, bahkan tuan hanya menggunakan kolam ini untuk dirinya pribadi, dan tidak membiarkan siapapun menggunakannya selain dirinya sendiri”


Aleysia tertegun. Jadi kolam renang ini area pribadi Bryan? Dan bodohnya ia tadi malam menceburkan diri untuk berenang dan hampir mati disini. Dan lihatlah sekarang, pria itu membayar begitu banyak pasukan kebersihan hanya untuk menguras dan memastikan tidak ada bakteri atau kotoran yang menempel di kolam renang ini. Apa tubuhnya begitu jorok hingga pria itu harus membersihkan kolam renang dengan segera. Ia bahkan tidak memiliki riwayat penyakit apalagi penyakit menular yang akan membahayakan hidup Bryan.


“ Anda siapa nona? Apa anda pelayan yang baru saja bekerja disini?”


Pria itu menelisik menatap Aleysia yang berbalut piaya tidur dengan wajah kusut dan rambut yang berantakan.


****


Bryan menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya, duduk memutar dengan dahi yang bertaut. Jas nya yang semenjak tadi ia sampirkan pada sandaran kursi membuat pria itu hanya menggunakan kemeja putih yang berhasil menampilkan otot-otot tubuhnya.


Entah sudah berapa jumlah kado, bingkisan serta kartu ucapan yang mendarat di meja kerjanya itu. Semua mengucapkan selamat atas pernikahannya. Bryan bergidik muak dengan apa yang dilihatnya diatas meja. Tak harusnya ia menerima semua kado dan ucapan selamat itu mengingat pernikahnya ini bukanlah pernikahan dalam arti kata sebenarnya. Hanya pernikahan hitam diatas putih saja.


Sudah berulang kali ia meminta para pegawai untuk membawa tumpukan kado dan ucapan selamat itu ke gudang. Tapi tetap saja beberapa pegawai tetap membawanya ke dalam ruangannya. Dengan berdalih itu permintaan sang pemberi bingkisan yang harus diantarkan khusus diatas meja Bryan.


Bryan menggertak meja dengan satu tangannya yang besar. Beberapa kado yang berjembul tinggi hampir menutupi wajahnya itu berjatuhan akibat pukulan keras. Untung saja meja itu dirancang khusus dengan bahan pilihan hingga tidak retak atau hancur oleh pukulan keras Bryan.


Apa ia pecat saja para pegawainya itu, yang begitu lancang menaruh kado diatas mejanya.


Sam memerintahkan para pegawai untuk mengangkat dan memindahkan kado-kado diatas meja Bryan dan meletakannya di dalam gudang. Para pegawai mengangguk paham dan dengan hati-hati membawa kado-kado itu untuk segera di pindahkan.


Sam yang semenjak tadi berdiri di ambang pintu menyadari ekspresi tidak bersahabat Bryan. Wajah Bryan nampak kusut dengan bawah mata yang sedikit membengkak.


Apa pria itu kurang istirahat? Apa yang mengganggu pikiran pria itu hingga berakhir lemas tak bersemangat. Padahal ia tahu, Bryan adalah pria yang gila kerja, meski menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bahkan tanpa tidur. Pria itu tetap bangun dengan tubuh segar di setiap harinya. Menjalani setiap pekerjaanya dengan penuh loyalitas.


“Renata sudah pulang dari liburannya di luar negeri. Mau ku hubungi dirinya untuk bertemu denganmu?”


Bryan menoleh menatap Sam dengan sebelah kening yang terangkat.


“sepertinya kau perlu melepas lelah Bryan”


Sam menyunggingkan senyum lebar dengan giginya yang rapi. Memberi isyarat kepada Bryan untuk mengikuti usulannya.


Bryan meletakan ke dua tangannya diatas meja dengan bertumpu pada sikunya. Ia Menumpang dagunya dan memejamkan matanya sejenak memikirkan kembali usul Sam yang mencuri perhatiannya.


Semenjak semalam pikirannya diliputi beban. Entah apa? Bryan sendiri tidak dapat memecahkannya. Pikirannya mendadak buntu. Meski ia sempat berpikir mungkin ini terjadi karena ia tidak melakukan pelepasan dengan para wanita yang kerap kali melayaninya di ranjang. Padahal tadi malam ia juga sempat melihat tubuh atas Aleysia dan itu cukup membangkitkan gairahnya.


“Hubungi wanita itu dengan segera. Katakan padanya aku ingin wanita itu ‘segera’” .


Bryan menekankan kata ‘segera’ pada Sam dan pria itu mengagguk dengan patuh dengan senyum yang terpatri di bibirnya.


Terima kasih sudah membaca. silakan like, comment dan beri vote agar author lebih semangat menulis novel ini.


salam hangat untuk kalian semua.😀