
“Kembali kemari dan tandatangani kesepakatan kita. Atau aku akan melenyapkan nenekmu sekarang juga!”
Bryan meremas rahang Aleysia dengan kuat. Lalu mendorong tubuh Aleysia cukup keras pada daun pintu.
Aleysia meringis tertahan, air matanya hampir menetes jatuh ketika punggung badannya menyentuh pintu dengan cukup keras. Belum lagi rahangnya yang terasa begitu perih. Pria itu sungguh tempramental pikir Aleysia.
“kau ingin aku melenyapkan nenekmu?apa itu yang ingin kau inginkan?” Aleysia menggeleng takut. Pria itu selalu menggunakan ancaman.
“Dengar...!aku sudah memerintahkan orangku untuk menyebar undangan pernikahan tadi siang. Kau hanya akan membuatku malu jika menggagalkan pernikahan ini” Bryan berbicara dengan jarak yang hampir nihil Rahang pria itu mengeras, dengan pandangan tajam seperti pisau yang terhunus.
Dengan mata yang berpandangan, Aleysia dapat melihat wajah Bryan dengan begitu dekat. Bulu mata panjang menghiasi kelopak matanya. Hidung yang mancung dan bulu-bulu halus di sekitar dagunya membuat pria itu terlihat menawan. Ah kenapa ia memuji pria itu disaat seperti ini.
Bryan melepaskan cengkramannya pada rahang gadis itu. Ia membalikan tubuh lalu berjalan santai menuju sofa. Pria itu duduk menyandar sambil menyilangkan kaki dengan santainya. Ia bahkan seperti orang yang lupa jika beberapa menit yang lalu hampir membuat jantung Aleysia terlepas dari tubuhya karena ancaman dan sifat kasarnya.
“Duduklah!!” pria itu menepuk sofa yang yang berada disampingnya, lalu mengedarkan pandangannya pada Aleysia yang berdiri mematung di depan pintu.
Aleysia berjalan gontai menuju sofa yang tadi ia duduki. Lalu mengambil surat perjanjian yang tergeletak diatas dimeja.
Ia menarik nafas panjang, sebelum akhirnya melukiskan tandatangan pada kertas itu. Entahlah, ini mungkin bukan keputusan yang tepat. Tapi ia juga tidak memiliki pilihan lain selain menandatangani surat itu.
“Istirahatlah! Aku sudah memerintahkan pelayan untuk menyiapkan kamar untukmu. Kau harus menjaga stamina dan kesehatanmu untuk hari pernikahan nanti”
Aleysia mengangguk patuh lalu berjalan menuju pintu kamar Bryan.
“kamar untukku? Maksudmu aku akan memiliki kamar sendiri?” gadis itu menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Bryan yang masih tidak mengubah posisi duduknya.
“Apa kau ingin tidur denganku disini?” Bryan mendekat dengan mengedipkan sebelah matanya hingga membuat Aleysia menggeleng dan buru-buru melangkah keluar kamar.
Tepat di depan pintu seorang pelayan sudah menunggunya dengan tubuh setengah menunduk. Ia tersenyum manis ketika tubuh Aleysia hampir mendekatinya. Ia maid yang tadi mengantarnya menuju kamar Bryan.
“Mari saya antar ke kamar anda nona” pelayan itu berbicara lembut. Ia berjalan sedikit mendahului Aleysia untuk menuntun wanita itu menuju kamar.
“Silahkan beristirahat nona. Panggil saja saya jika anda perlu sesuatu” gadis itu tersenyum sembari tangannya membuka pintu kamar. Aleysia mengangguk lalu melangkahkan kakinya memasuki kamar yang sudah disiapkan untuknya.
Kamar dengan dinding berwarna hijau itu nampak segar. Sebuah kasur ukuran besar juga tersedia disana. Lengkap dengan sofa dan lemari pakaian. Memang tidak sebesar ukuran kamar Bryan. Tapi ini sudah sangat cukup bagi Aleysia. Ini sudah sangat mewah baginya. Aleysia melangkahkan kakinya menuju jendela kaca besar. Dari jendela kaca itu ia bisa melihat dengan jelas halaman rumah Bryan dengan pagar tinggi berwarna keemasan yang mengelilinginya.
Entah berapa banyak uang dikeluarkan pria itu untuk satu buah pagarnya. Aleysia tidak dapat menerka. Yang jelas pria itu sangat menikmati hartanya.
Merasa lelah berdiri, Aleysia berjalan menuju kasur. Ia merebahkan tubuhnya pada kasur empuk itu. Tubuh dan pikirannya sedang lelah. Banyak hal yang terjadi hingga menuntunnya berakhir ditempat ini. Benar kata Bryan ia memang harus istirahat. Ia akan menghadapi hari spesial. Sebuah pernikahan. Pernikahan, setiap gadis sepertinya pasti akan sangat bersemangat menunggu. Bersanding dengan pria yang dicintai, memakai gaun pengantin yang cantik, keluarga dan tamu yang bersuka cita. Itulah harapannya. Tapi, menikah dengan Bryan bukanlah pernikahan karena cinta. ia baru mengenal pria itu, pria arogan dan dingin. Keras kepala dan juga kasar. Entahlah apa ia akan mampu bertahan jika tidak boleh ada perceraian diantara mereka. Hidup bersama dengan sebuah ikatan bersama pria itu apakah ia sanggup.
Krukk...
Sial. Perut Aleysia berbunyi lagi. Sekarang perutnya bahkan terasa sakit. mungkin penyakit maagnya kambuh lagi sekarang.
Gadis itu melangkah keluar kamar, ia harus mencari dapur dan mendapatkan makanan. Pikirannya tiba-tiba saja terlintas tentang pelayan yang tadi mengantarnya. Mungkin ia bisa minta tolong pada gadis itu.
Kaki Aleysia berhenti di depan pintu kamar Bryan. Pikirannya tiba-tiba mengingat nama Itu.
Apa yang sedang pria itu lakukan sekarang? Aleysia bergumam dalam hati. Sifat pria itu sulit untuk ditebak, kadang ia bisa begitu kasar, mendadak dingin atau tiba-tiba saja terlihat begitu peduli.
Aleysia mendorong sedikit pintu kamar Bryan, ia hanya bermaksud sedikit mengintip ke dalam kamar pria itu. Rasa penasaran yang cukup besar membuat Aleysia sedikit mendorong pintu yang ternyata tak berkunci itu.
Dimana pria itu?? Gadis itu menyembulkan sebagian kepalanya lalu menoleh kesekeliling kamar. Pria itu tidak ada disana.
Krekkk...
Bryan keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit sebagian tubuhnya. Rambut basahnya yang berantakan nampak bercucuran air. Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar dada dan perut rata pria itu nampak jelas. Aleysia meneguk ludahnya, sungguh Pria itu terlihat menawan.
Krukk...
Perut Aleysia berbunyi lagi. Kali ini lebih keras. Buru-buru gadis itu menarik kepalanya dari balik pintu. Ia berjalan dengan langkah lebar untuk menuruni anak tangga, sungguh ia akan sangat malu jika pria itu mendapatinya sedang mengintip pria yang baru saja selesai mandi.
Aleysia menggelengkan kepalanya. Niatnya yang hanya penasaran dengan apa yang dilakukan pria itu malah memberikannya pemandangan yang berbeda. Pemandangan pria yang baru selesai mandi dengan tubuh yang menggoda. Ah gadis itu menepuk kepalanya. Ia bukan wanita mesum yang senang mengintip pria.
Aleysia menghentikan langkahnya setelah menuruni anak tangga. Ada banyak pintu dan lorong. Rumah itu terlalu besar jika hanya untuk mencari dimana letak dapur.
“ Ada yang bisa saya bantu nona?” Aleysia membalikan tubuh dan mendapati pelayan muda itu tersenyum padanya
“Aku sangat lapar. Bisa kau beritahu dimana dapur rumah ini. Aku bingung kemana harus berkeliling untuk menemukannya”
“Ikuti saya”
Aleysia berjalan mengekor di belakang pelayan itu. Hingga mereka berhenti di sebuah ruangan dengan peralatan masak dan meja makan.
“Anda ingin makan apa nona? Saya akan siapkan sekarang juga. “
“Apa saja, yang penting bisa cepat ku santap. Aku sangat lapar. “ Aleysia tersenyum malu dengan sebelah tangannya yang memegangi perut.
“Duduklah dulu. Saya akan segera siapkan” gadis itu kembali tersenyum lalu mulai mengambil bahan masakan dari dalam lemari es. Tanganya memotong sayuran dan bahan makanan lainnya dengan cepat. Gadis itu terlihat sangat cekatan dengan pekerjaannya.
“siapa namamu?”
“Belinda” Gadis itu menoleh sekilas dengan senyumnya yang tak pernah pudar.
“Apa kau sudah lama bekerja disini?” tanya Aleysia antusias
“sekitar lima tahun”
“Lima tahun?” Aleysia menoleh pada Belinda. Hampir tak percaya dengan ucapan gadis itu
“iya nona” Belinda menoleh sebentar pada Aleysia. Lalu kembali pada pekerjaanya
“Itu cukup lama. “
“Berapa usiamu Belinda?”
“25 tahun nona”
“Ah kau terlihat lebih muda dari usiamu. Kupikir kau seumuran denganku”
Belinda tersenyum manis menanggapi pujian Aleysia.
“Kenapa kau bisa tahan dengan majikan seperti Bryan. Dia itukan arogan, dingin dan juga .. kasar” Aleysia memelankan suaranya, ia beberapa kali melihat kearah pintu, takut jika pria itu muncul tiba-tiba.
“Tuan muda tidak seburuk yang anda pikirkan nona” Belinda membalikan tubuh lalu tersenyum manis pada Aleysia. Gadis itu merubah posisinya menatap Aleysia cukup lekat.
“Anda akan tahu semua sifatnya tuan, jika mengenalnya cukup lama”
Belinda tersenyum lagi. Ia berdiri cukup lama menatap Aleysia. Sedangkan Aleysia hanya mengangguk kikuk saat senyuman ramah Belinda membuatnya sedikit merinding. Gadis itu seperti memperlihatkan aura tidak suka saat ia membicarakan tentang sifat buruk tuannya itu.
“Ba..”
“Silahkan dinikmati nona”
Aleysia berhenti bicara saat piring berisi spaghetti itu diletakan dengan hati-hati oleh Belinda. Aroma wangi spaghetti yang baru matang membuat indera penciuman gadis itu teralihkan.
“Terima kasih” Aleysia mendongak. Lalu menatap kesekeliling ruangan, pelayan muda itu sudah tidak ada didapur.
Aleysia mengambil garpu dan mulai memasukan spagetti ke mulutnya. Ia berhenti mengunyah ketika merasakan spagetti itu terasa begitu nikmat di lidahnya. Ini spaggetti terenak yang pernah ia rasakan selama ini.
Belinda ternyata sangat pandai memasak. Tidak mudah bekerja dengan majikan seperti Bryan. Mungkin Bryan sengaja memperkerjakan Belinda karena ia pintar memasak.
***
Ehhmmmm.....
Aleysia merasakan tubuhnya sedikit kurang nyaman. Tubuh dan wajahnya sulit di gerakan. Dan wajahnya... Ia merasa wajahnya kaku dan terasa berat.
Akkh....
Aleysia menjerit nyaring. Ia membuka matanya dan mendapati tubuhnya yang masih terbaring dikasur.
Ia menoleh kesekeliling kamar, ada belasan wanita yang berdiri mengerubutinya. Semuanya memandanginya, apa yang terjadi?
“Tenanglah nona, ini hanya sedikit sakit” seorang gadis dengan rambut pendek sebahu menempelkan sebuah gel lengket pada kulit kakinya. Ia meratakan gel tersebut lalu menariknya dengan cepat.
Akhh....
Aleysia menjerit kedua kalinya saat rasa perih itu menyerbu kulit kakinya.
Gadis itu ingin menarik kakinya, hingga ia menyadari tubuhnya yang sekarang terikat dengan tali di pergelangan tangan dan kaki. Dan parahnya lagi, tubuhnya hanya berbalut handuk tipis yang menutupi dada sampai pada setengah pahanya.
“Santailah nona. Masker wajahmu akan retak jika kau banyak bergerak” gadis dengan rambut panjang kini menarik pelan kepala Aleysia untuk tetap berbaring.
Masker? Apa ini? Aleysia menatap para wanita yang sibuk dengan kegiatannya didepan tubuhnya.
Berapa lama ia tertidur? Dan bagaimana ia bisa tak sadar jika para wanita dihadapannya ini melakukan sesuatu pada tubuhnya. Bahkan mengikat dan melepas pakaiannya.
“Apa semua sudah selesai?”
Suara berat pria menghentikan kegiatan para wanita itu. Mereka berdiri dengan posisi tubuh yang sedikit menunduk.
Bryan, pria itu muncul dengan stelan jas putih dengan dasi kupu-kupu yang tergantung di lehernya.
Aleysia menarik tubuhnya, namun tertahan oleh ikatan pada kaki dan tangannya.
Pria itu mendekat pada Aleysia hingga gadis itu menjerit lagi.
“Mundur... tutup matamu! Jangan bepikir mesum!!
Hai para riders👋...
Terima kasih sudah membaca. Tolong like dan koment ya...😀