My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Hanya Bisa Pasrah



"Penyakit Darah tinggi ku, kumat, ambilkan obat ku di tas kecil itu," ucap Opah Cangkul dengan lemah, membuat Dedy dan semuanya merasa khawatir, dan bergegas mengambil apa yang di tunjuk pria tua itu.


Setelah mengambil obat di dalam tas, Dedy langsung memberikan obat itu dan memberikan segelas air putih.


"Biar Angga, panggilkan dokter?" ucap Dedy hendak mengambil hpnya, karena merasa khawatir.


"Tidak perlu, Aku sudah lebih baik, Aku hanya ingin berbicara dengan gadis nakal itu," jawab Opah Cangkul menunjuk ke arah ku yang sedang berdiri mematung.


"Cery, berbicara dengan baiklah, jangan membuat Opah mu, semakin parah," tutur Dedy menatap ku dengan penuh peringatan.


Dengan malas Aku kini duduk di samping pria tua itu yang sedang menyender di sofa.


Dia tampak menggenggam tangan ku dengan begitu lembut, melihat wajah nya yang pucat membuat, Aku merasa iba dengan nya, meskipun dia pengatur dan suka seenaknya, tapi sebenarnya dia sangat baik dan menyayangi ku, cuma caranya aja yang berbeda saat memperlakukan ku dengan Ka Bray.


"Cery, kau tahukan? saat Brayen memutuskan untuk tidak menikah, hatiku sangat kecewa, padahal Aku sangat menginginkan Cicit darinya, hanya kau lah harapan satu-satunya yang Aku punya, Aku tahu itu berat untuk mu tapi, Aku mohon kabulkan permintaan terakhir ku," ucap nya panjang lebar sambil menggenggam tangan ku.


"Opah, jangan berbicara seperti itu, Aku mohon, Opah pasti bisa bangkit," Pinta ku sambil berkaca-kaca air mata yang seharusnya tidak pernah menetes kini mengalir begitu saja.


"Aku, sudah tua renta, umur ku tidak ada yang tahu, jadi selama Aku masih sehat, jangan lah berbuat onar lagi, kabulkan permintaan ku, kali ini saja menikah lah. Opah sekarang akan menyerahkan pilihan jodoh mu pada Dedy mu, asal kau mau menikah," jelas nya panjang lebar dengan penuh harap membuat Dedy kini mengangguk menatap ku dengan wajah memelas.


Aku menghela nafas panjang, terlihat Omah Gayung tampak memelototi ku dan Momy Deya yang terlihat ikut menatap ku dengan penuh harapan, membuat Aku bisa apa? selain pasrah.


"Aku ikut saja apa mau kalian, Dedy, Carikan jodoh sesuai kriteria ku, Aku ingin menikah dengan pria yang seperti Dedy," putus ku pada akhirnya, membuat Dedy mengembangkan senyum nya, entah apa yang di pikirkan nya.


"Terima kasih Cery, kau selalu menjadi kebanggaan Dedy, Dedy janji akan mencarikan jodoh sesuai kriteria mu," janji Dedy sambil memeluk ku.


Tak terasa malam berjalan dengan cepat, setelah pembicaran itu, semua orang pulang ke rumah masing-masing, kini hanya Aku seorang diri yang sedang duduk di teras depan rumah kakek.


"Si, kau masih sedih? Karena tidak bisa bersatu dengan orang yang kau suka?" tanya Kakek Anwar yang tiba-tiba sudah duduk di samping ku.


"Maksud Kakek apa?" tanya ku menatap Kakek dengan penuh selidik.


"Kamu menyukai Arga kan? Makan nya kamu menolak semua pria yang Opah mu pilih," tebak kakek, membuat Aku tertawa terbahak-bahak, karena merasa tebakan Kakek salah.


"Kenapa tertawa? Iyakan?" tanya Kakek membuat Aku menghentikan tawa ku.


"Bukan, Aku dan Arga cuma sekedar temenan doang ngga ada apa-apa," Jawab ku dengan jujur.


"Lantas, apa yang membuat mu seperti ini?" selidik Kakek membuat Aku tersenyum tipis.


"Ada deh, ini cuma urusan anak muda," sahut ku sambil tercengir.


"Ya sudah sana tidur, besok kamu kerja kan?" perintah Kakek membuat Aku mengangguk mengiyakan.


"Ya sudah kek, Aku ke kamar dulu, kakek selamat tidur yah," ucap ku sambil mencium pipi kakek setelah itu langsung masuk ke dalam.


Aku langsung merebahkan tubuh ku di kasur setelah menggosok gigi dan berganti pakaian, ku pejamkan mata ku perlahan, namun sebelum itu, Aku teringat dengan HP ku dan ku lihat sudah ada pesan dari My Bos.


'Besok jemput pagi yah, jam 6 kau sudah harus sampai di rumah ku, tidak boleh telat,' isi pesan pertama.


'Besok juga jangan lupa yah, belikan buket bunga anggrek,' isi pesan ketiga membuat Aku mengerutkan kening ku heran, toko mana yang menjual bunga sepagi itu? pikir ku.


Aku hanya membalas dengan jawaban baik, tanpa sedikitpun protes, karena itu sudah sesuai perjanjian awal tanpa banyak protes atau mengeluh.


Aku menghela nafas panjang, kemudian Aku letakkan benda pipih itu di atas meja lalu, Aku segera memejamkan mata ku agar tidak kesiangan.


********


Pukul 5 Pagi, Aku mengerjapkan mataku dengan masih setengah mengantuk, namun karena kakek terus mondar-mandir ke kamar ku, dan memperingati ku untuk bangun sholat subuh, akhirnya Aku bangun dengan malas.


Aku memutuskan langsung saja mandi, agar rasa kantukku hilang, setelah mandi Aku langsung menjalankan ibadah subuh, setelah itu Aku bersiap untuk bekerja karena harus menjemput My Bos tepat waktu.


Pukul setengah enam, Aku baru keluar dari kamar, ku buka tudung saji, namun tidak ada sedikitpun makanan di sana, padahal, Aku ingat betul semalam makanan sisa masih cukup banyak.


"Si, kau lapar? Sepagi ini?" tanya Kakek yang tiba-tiba muncul membuat Aku memegang dada ku karena terkejut.


"Tidak, Aku mau berangkat pagi, jadi tadi kupikir ada makanan gitu,


untuk sarapan nanti," kataku sambil tercengir.


"Belum ada makanan, kakek juga belum masak, makanan semalam udah di bagikan ke tetangga, dari pada mubazir kan? ngga ada yang makan," jawab kakek panjang lebar.


"Ya sudah, kakek belikan nasi uduk dulu yah? Ke Po Mina, biasanya setelah subuh udah buka," imbuh nya sambil menunggu jawabanku.


"Ya deh ngga papa, tapi 3 bungkus ya kek," jawab ku setelah berpikir sejenak.


Dia mengangguk mengiyakan meskipun, Kakek merasa heran dengan yang ku katakan tapi, dia tidak ingin bertanya sama sekali.


Setelah melihat kakek keluar, Aku segera mencari bunga Anggrek di belakang rumah Kakek, untung nya, kakek menanam bunga itu, jadi Aku tidak pusing harus mencari toko bunga di pagi buta ini, yang pastinya akan membuat ku pusing sendiri.


Setelah merangkai bunga itu menjadi buket, kini Aku sudah bersiap untuk berangkat, dengan membawa buket dan 3 bungkus nasi.


"Aku berangkat dulu ya, kek," pamit ku sambil mencium punggung tangan pria pria tua itu.


"Iya hati-hati, ingat jangan membuat onar," ucap Kakek menasehati ku, membuat Aku hanya mengangguk mengiyakan.


Setelah pamit, Aku langsung tancap gas mengendarai motor ku. suasana jalanan kota pagi itu cukup rame, padahal biasanya ngga seramai ini tapi, pagi ini cukup padat, membuat Aku tidak bisa ngebut, bisa-bisa Aku telat dan kena omel lagi.


Aku berusaha menyelip kesan kemari, meskipun harus kena Omelan orang-orang para kendaraan lainnya yang merasa terganggu dengan ulah ku.


Dari yang berangkat gelap kini sudah terang benderang, matahari bahkan sudah tampak malu-malu muncul. Aku kini baru sampai kompleks perumahan My Bos dengan napas yang tersengal-sengal, karena macet membuat Aku harus, ngebut saat sudah masuk kompleks.


Saat Aku sudah sampai gerbang rumah My Bos, Aku langsung masuk ke dalam, karena pintu gerbang nya tidak di tutup, sepertinya memang sengaja, menunggu ku.


"Lihat ini sudah jam berapa? Beraninya kau membuat ku telat!" suara bariton itu membuat Aku yang sedang melepaskan helm ku langsung menatap pria itu yang sedang berkacak pinggang.


BERSAMBUNG