
MALL
Kini Aku sudah berada di depan Mall pusat perbelanjaan, setelah sepanjang perjalanan hening tidak ada yang berbicara karena Aku merasa malas dengan Mario yang akan membuat darah ku naik.
"Silahkan Tuan Putri," ucap Mario setelah membukakan pintu mobil membuat Aku yang sedari tadi diam kini terheran-heran dengan tingkah pria tersebut.
"Kau aneh tadi memangil ku Sayang, sekarang memanggil ku tuan putri, apa mau mu?" kata ku sambil turun dari mobil dengan bersungut-sungut.
"Apa saja, terus kau mau nya di panggil Apa?" jawab Mario sambil mensejajarkan langkah nya dengan ku.
"Terserah deh," Jawab ku sambil mengangkat bahu tidak peduli.
"Come on, Cery, jangan menunjukkan sikap jutek mu itu, kalau Aku salah Aku minta maaf." Mario memegang tangan ku karena merasa Aku mendiamkan nya.
"Cery, ku dengar kau menyukaiku? Apakah itu benar?" lanjut nya lagi karena merasa Aku diam saja.
"Kata siapa? Opah dan Omah ku? Itu hanya omong kosong saja," kilah Ku tanpa sedikitpun menatap wajah Mario.
"Benar, ku dengar kau juga ingin menjadi seorang pembalap hanya ingin dekat dengan ku, bukan kah seharusnya perjodohan ini menguntungkan?" jelas Mario panjang lebar sambil mengikuti langkah ku yang berjalan masuk.
"Itu dulu sebelum Aku mengenal mu, tapi sekarang kan berbeda," jawab ku dengan santai meskipun dalam hati Aku memaki orang tua Dedy itu yang sudah dapat di pastikan menceritakan yang tidak-tidak.
"Memang nya kau mengenal ku dari segi mana?" tanya Mario sambil mengerutkan kening nya heran.
"Dari segi mata mu yang suka jelalatan Kemana-mana, dan Aku tipikal wanita yang tidak menyukai perselingkuhan," Jawab ku sambil menatap ke arah wanita **** yang sedari tadi di tatap oleh Mario.
"Cery, kau itu salah paham, tidak mungkin Aku seperti itu," Jawab Mario langsung saja menggandeng tangan ku.
"Ngapain pegang-pegang? Aku ngga mau di sentuh oleh pria seperti mu!" Ketus ku sambil berusaha melepaskan tangan pria itu yang memegang tangan ku.
"Tapi, Om Angga sudah mempercayakan mu pada ku, sebentar lagi kau akan menjadi milik ku," jawab Mario masih memegang tangan ku.
"Terserah deh, Aku no komen-komen," Aku menurut saja mengikuti permainan apa yang di mainkan pria tersebut.
"Nah, kalau begitu baru namanya Princess ku, yang paling cantik, apa lagi kalau tersenyum, terlihat sekali aura kecantikan nya," goda nya sambil tersenyum menatap ke arah ku.
"Oya? Bukan kah Aku ini membuat matamu sakit? Jelek dan mata empat dan yang lebih parahnya Aku ini bertompel." Aku berkata dengan menyindir mengingatkan pria itu atas apa yang di katakan nya tempo hari.
"Memang nya sebelumnya kita pernah bertemu? Atau Aku pernah membuat kesalahan? Perasaan Aku hanya mengatakan itu pada satu orang yang benar-benar menjengkelkan?" tanya nya dengan menyelidik membuat Aku sontak menjadi gelagapan sendiri.
"Itu Aku hanya menebak-nebak saja, sudahlah mending kau antarkan Aku membeli sesuai ke dalam," jawab ku berusaha mengalihkan pembicaraan karena merasa tidak ingin pria itu tahu bahwa Aku adalah Si Tompel mata empat itu.
"Baiklah kalau begitu." Mario menurut saja tanpa sedikitpun curiga membuat Aku menghela nafas panjang.
"Kau mau pilih yang mana?" tanya Mario saat kami sudah berada di toko perhiasan.
"Menurut mu yang bagus yang mana?" Aku menjawab dengan bertanya balik sambil memegang kalung yang sudah Aku pilih.
"Ini bagus Nona, tuan ini Kemarin juga membeli nya di sini tapi, tidak dengan anda, ternyata sudah ganti lagi," ucap pelayan toko tersebut sambil menunjukkan kalung yang berbentuk bunga.
"Bersama wanita lain siapa?" tanyaku dengan heran melirik ke arah Mario yang terlihat menatap tajam wanita tersebut.
"Tentu saja mantan pacar ku, kemarin Aku kan belum tahu kalau di jodohkan dengan wanita secantik diri mu," jawab Mario berusaha untuk meyakinkan.
"Lebih baik kita pindah toko lain saja, toko ini nggak berkualitas," lanjut nya lagi langsung saja menarik tangan ku meninggalkan toko tersebut.
"Kau ketakutan sekali? sampai-sampai langsung mengajak ku pindah ke toko lain? mencurigakan," umpat ku dengan kesal karena Mario menarik tangan ku dengan terburu-buru.
"Bagaimana? kalau di sini saja?" tanpa memperdulikan perkataan ku Mario menunjuk ke arah toko perhiasan lainnya.
"Ke Toko baju saja, Aku sudah tidak tertarik dengan perhiasan," ketus ku karena merasa sangat begitu kesal dengan gelagat aneh Mario.
"Come on Cery, kau mau pilih yang mana?" tanya nya saat sudah berada di toko baju.
"Kau tunggu di sana, Aku mau mencoba yang ini," jawab ku mengambil Dress asal sambil menunjuk ke arah bangku kosong Karena merasa malas jika harus berdebat.
"Baiklah," Mario menurut saja membuat Aku segera berjalan menuju ke ruangan ganti.
Beberapa menit kemudian Aku sudah berganti pakaian dan segera berjalan menuju ke arah di mana Mario berada.
"Bagaimana apakah ini.." perkataan ku menggantung saat melihat Mario berpelukan dengan seorang wanita.
"Cery, ini tidak seperti yang kau lihat," Mario langsung saja mendorong wanita tersebut saat melihat ku.
"Mario sakit!" pekik wanita itu dengan sangat begitu manja, saat di dorong tiba-tiba hingga terjatuh ke lantai.
"Stop! kau sudah keterlaluan!" ucap Mario memarahi wanita tersebut tanpa sedikitpun ingin membantu nya.
"Cery, tadi wanita itu, yang datang tiba-tiba memeluk ku, kau tahu kan Aku ini pria terhormat mana mungkin berbuat seperti itu," jelas Mario panjang lebar sambil menggenggam tangan ku.
"Mario, kau tega sekali pada ku, Aku ini.."
"Tutup mulut mu, Aku tidak mau balikan lagi dengan mu kita sudah berakhir kan? sudah ku katakan berulang kali kalau Aku sudah tidak mencintai mu," ucap Mario memotong ucapan wanita tersebut.
"Sudahlah, Aku ingin pindah ke Mall lain saja, pengap di sini yang ada Aku bisa stress beneran ngadepin tukang drama," jawab ku berusaha untuk menutupi kekesalan ku, karena Aku ingin melihat seberapa hebat nya pria itu berkilah agar cepat mendapatkan bukti-bukti untuk membatalkan perjodohan dengan pria itu.
"Cery, tunggu!" Mario langsung saja mengejar ku tanpa sedikitpun memperdulikan wanita itu yang memanggil nya.
"Come on Cery, Aku tidak bermaksud seperti itu," jawab Mario sambil memegang tangan ku.
"Come on-Come on, dasar buaya!" gerutu ku namun hanya dalam hati.
"Hmmmm," Jawab ku tanpa sedikitpun ingin berbicara.
"really? Kau tidak marah?" tanya nya dengan tatapan heran, namun Aku hanya mengangguk saja.
"Aku, ingin Eskrim yang ada di sebelah sana, di sini pengap," jawab ku sambil menunjuk ke arah kedai Eskrim karena merasa lelah berdebat dengan pria tersebut.
"Ternyata dia bisa di bodohi juga, sepertinya tidak sulit juga untuk menaklukkan hati nya meskipun gadis ini terlihat manja," gumam Mario yang terdengar oleh ku.
"Cih, sialan mengatai ku bodoh, lihat saja nanti apa yang akan terjadi jika kau ketahuan lagi," gumam ku dalam hati dengan sangat begitu kesal.
Kami kini berada di kedai Es kirim untuk sejenak hati ku yang panas sedari tadi bisa sedikit dingin dengan menikmati Eskrim.
"Kau tidak memesan Eskrim?" tanyaku pada Mario setelah menyadari pria itu diam saja.
"Cukup, melihat mu tersenyum senang, sudah membuat ku ikut menikmati nya," jawab Mario sambil tersenyum menggelikan membuat Aku sedikit bergidik sendiri.
"Kau kenapa?" tanya nya saat Aku terlihat bergidik.
"Kau tidak lihat? kalau Aku sedang menikmati Eskrim?" jawab ku berusaha untuk tenang dan biasa saja.
"Ah ya ampun, pakaian ku, dasar Eskrim menyebalkan," pekik ku saat Eskrim itu mengenai pakaian ku.
"Ya sudah kau bersihkan dulu pakaian mu, lihat mulut mu belepotan oleh Eskrim," ucap Mario sambil geleng-geleng kepala melihat ku yang seperti anak kecil.
"Baiklah Aku ke toilet dulu, tapi ada di sebelah mana yah?" tanyaku sambil celingukan kekanan dan kiri.
"Sebelah kiri," Jawab Mario Membuat Aku mengerti.
"Dasar gadis manja, makan Eskrim saja seperti anak kecil," umpat Mario sebelum Aku melangkah pergi .
"Dasar buaya darat, bermuka dua," balas ku sambil berjalan menuju ke arah toilet.
Kini Aku sudah selesai membersihkan wajah ku dan mengelap sedikit pakaian ku dengan air, namun noda coklat nya tidak hilang, membuat Aku berinisiatif untuk pulang saja, karena Aku merasa sudah malas dengan apa yang terjadi dan tidak ingin melanjutkan berbelanja atau semacamnya.
"Mario Holsen!" pekik ku dengan sangat begitu keras saat melihat Mario sedang berciuman dengan seorang wanita.
"Cery, kau sudah kembali!" Dengan sigap Mario menghentikan aktifitasnya langsung saja mendorong wanita tersebut.
"Kalau Aku tidak kembali, apa kau masih melanjutkan kelakuan bejad mu itu? Dasar buaya darat, tidak tahu malu, berciuman di tempat umum!" Aku langsung memukul Mario menggunakan Tas ku, sambil memaki nya karena merasa sangat begitu marah dan kesal.
"Cery, kau salah paham, hentikan!" Mario berusaha untuk merebut tas yang Aku gunakan untuk memukul nya.
"Yang pertama Aku berusaha Maklum, yang kedua Aku berusaha untuk tenang, dan Yang ketiga Aku berusaha untuk sabar, dan ini yang ke empat kau sudah keterlaluan, Aku membenci mu, Aku menyesel telah mengagumi mu!" ucap ku panjang lebar dengan menggebu-gebu.
"Stop! Memukuli nya, kau tidak ada hak untuk memukul kekasih ku, dasar gadis gila!" Wanita itu tiba-tiba langsung saja mendorong ku membuat Aku yang didorong tiba-tiba langsung saja tersungkur ke lantai.
"Beraninya kau mendorong Nona kami!" pengawal yang di suruh mengawasi ku kini mendekat karena merasa tidak terima melihat Aku di dorong.
"Sudah, Aku ingin pulang sebaiknya Kalian bawa Aku pulang saja, Karena Aku tidak ingin membuat keributan," ucap ku setelah sudah berdiri.
"Cery, kau tidak boleh pulang bersama mereka acara kencan nya belum selesai," ucap Mario berusaha untuk menghentikan langkah ku sambil memegang tangan ku.
Plaaaak...
Satu tamparan mendarat di pipi Mario, Aku sengaja ingin membuat pria itu malu.
"Tadinya Aku berharap meskipun kau sombong kau bisa di percaya tapi dari pagi hingga detik ini kita jalan bersama, kebohongan yang kau tunjukkan," ucap ku dengan sangat begitu marah.
"Dasar pria brengsek, kau tidak punya perasaan Aku tidak mau di jodohkan dengan pria munafik seperti mu, Aku ingin membatalkan perjodohan ini," lanjutkan lagi terus memaki pria tersebut langsung saja berjalan hendak keluar.
"Tidak bisa, kau tidak bisa membatalkan perjodohan secara sepihak, karena perjodohan ini sudah di sepakati bersama," jawab Mario berusaha untuk menghentikan langkah ku sambil memegang pipinya.
"Bodo Amat, karena kau sudah melanggar peraturan yang ada, Aku akan adukan ini pada Dedy dan jika kau tetep memaksa rasakan saja akibatnya," Ancam ku langsung saja berjalan keluar dengan sangat begitu kesal.
"Dasar Mario Holsen, pria modus kakap atas playboy sejati, tidak punya perasaan, jika tidak karena ingat hukum, sudah ku pastikan tadi sudah mencekik nya sampai mati," Aku memakai Mario dengan sangat begitu kesal sambil berjalan menghentakkan kaki tanpa sedikitpun melihat ke arah depan.
Bruuuuuughh!
"Aaaaaw! Ini semua gara-gara Mario Holsen, Aku jadi nabrak orang kan, sakit!" pekik ku saat terjatuh karena menabrak seseorang, sambil terus menyalahkan Mario Holsen.
"Pasti, kau salah satu korban Mario Holsen lagi," ucap seorang pria sambil mengulurkan tangannya untuk membantu ku berdiri.
"Terima kasih,"
"Kau tahu dari mana?" tanyaku setelah menerima uluran tangan nya.
"Tentu saja, karena Aku salah satu temannya," jawab pria itu dengan santai membuat Aku yang sedari tadi fokus memegang pantat ku sontak, langsung mendongakkan kepala karena merasa tidak asing dengan suara tersebut.
BERSAMBUNG