My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Masa Lalu Devan part 2



Truk itu langsung menabrak mobil tersebut hingga menyebabkan mobil itu terbalik, kemacetan lalu lintas malam itu terjadi, orang-orang yang melihat kejadian itu segera berlari untuk menolong orang yang berada di mobil tersebut.


Sementara di dalam mobil, Devan berusaha untuk membuka matanya melihat sosok adik nya sudah berlumuran darah.


"Loli," Bibir Devan hanya berucap tanpa suara detik berikutnya pria itu sudah tidak sadarkan diri.


******


Rumah Sakit


Devan sudah terbangun dari pingsan nya, yang di lihat pertama kali nya adalah tembok berwarna putih dan selang oksigen yang menempel di hidung nya dengan kepalanya yang sudah di perban.


"Devan, kau sudah sadar?" tanya seorang pria dengan raut wajah yang terlihat bersedih.


"Wiliam apa yang terjadi?" tanya Devan setelah melepas selang oksigen yang menempel di hidung nya.


"Devan, yang sabar yah, Lolita dan Om Jonatan sudah tiada," ucap Pretty yang baru saja datang sambil menangis.


"Tidak mungkin, Baru saja kami bercengkrama dengan nya Papa dan Lolita pasti masih ada," ucap Devan merasa tidak terima.


"Wiliam, Pretty pasti hanya becanda kan? Dia hanya mengelabui ku kan?" lanjut nya lagi sambil menggoyangkan tubuh Wiliam yang masih bergeming tanpa sedikitpun berbicara.


Ya kedua orang itu memang tidak bisa di selamatkan sebelum di bawa ke rumah sakit sudah meninggal, sementara Novita selamat, begitu juga dengan Devan meskipun wanita itu mengalami koma.


Akhirnya dengan terpaksa, Pretty dan Wiliam langsung saja mengajak Devan ke ruangan dimana Lolita dan Papa nya berada, pria itu di dorong menggunakan kursi roda karena terus memaksa untuk melihat dan tidak percaya, padahal tubuh nya masih sangat lemah.


Hati Devan tampak menahan diri untuk tenang sebisa mungkin berusaha untuk positif.


Devan tampak gemetar saat membuka penutup yang menurut nya adalah adik dan Papa nya hatinya terasa sesak saat melihat wajah kedua nya sudah pucat pasi tak bernyawa lagi.


"Loli, bangun, Kakak janji akan menjadi Kakak yang baik dan ngga akan usil lagi, kau jangan bercanda, kau sudah berjanji kan akan merayakan malam tahun baru bersama dan melihat ku ke pelaminan, kau bilang Akan menjadi pagar ayu ku, mana buktinya?" Devan berceloteh panjang lebar berharap ini hanyalah mimpi tapi semuanya nyata dan benar apa adanya, adiknya sudah tidak bernyawa lagi.


Pria itu berjalan mendekat ke arah ranjang satunya memegang tangan papa nya itu.


"Papa, bangun, Devan janji akan menjadi anak yang penurut dan membantu papa di perusahaan, tapi Papa bangun, papa bilang ingin cucu, bangun Devan akan mengabulkan nya," ucap nya lagi dengan berderai air mata.


"Loli, Papa, tidaaak!" teriak Devan histeris terduduk lemas dia meraung-raung tidak terima dengan kenyataan yang ada.


"Aku sudah membunuh mereka, Aku manusia yang Jahat, seharusnya Aku tidak Menyetir, Aku menyesal!" Devan terus saja histeris.


Andai boleh memilih Devan tidak akan menyetir? Karena skill menyetir nya memang tidak terlalu lihai, andai tahu akan terjadi seperti ini pria itu mungkin akan mendengar nasehat Papa nya itu, namun takdir berkata lain, semua penyesalan Devan tidak akan mengembalikan keadaan kedua orang yang di sayangi nya, sudah tiada meskipun Devan selalu bertengkar dengan keduanya tapi Devan sangat begitu menyayangi keduanya.


"Devan, kau jangan seperti itu, biarkan Loli dan Om pergi ikhlaskan kepergian mereka, masih ada Aku dan juga Wiliam yang akan selalu ada di samping mu, Aku juga pernah merasakan berada di posisi mu meskipun nasib kita berbeda, kau di tinggalkan mereka untuk berpulang, sementara Aku di tinggalkan karena mereka menikah masing-masing," tutur Pretty panjang lebar berusaha untuk menangkan.


Pretty adalah adik sepupu Devan sejak kecil gadis itu tinggal bersama kedua orang tua Devan, karena kedua orang tua pretty yang sudah bercerai tanpa mau mengasuh nya dan meninggalkan gadis itu bersama Novita kakak dari ibu nya, orang tua Devan.


"Jangan samakan Aku dengan mu, kau masih bisa bertemu dengan mereka sementara Aku, tidak mereka pergi untuk selamanya," sentak Devan dengan histeris membuat Pretty dan Wiliam akhir Nya menyuruh dokter untuk memberikan obat penenang.


Wiliam dan Pretty merasa prihatin melihat apa yang terjadi dengan Devan, gadis itu berharap sepupu nya itu bisa bangkit dengan kehadiran Arneta kekasihnya, namun nyatanya Arneta datang ke situ setelah seminggu kemudian Devan berada di rumah sakit, itu juga karena paksaan dari Pretty.


"Devan, Aku turut berdukacita yah, atas apa yang menimpa mu," ucap Gadis itu sambil tersenyum tipis.


Devan yang tampak sedang melamun kini segera berdiri dan langsung saja memeluk kekasih pujaan nya itu.


"Neta, kau kemana saja? Aku sangat membutuhkan mu, tapi kenapa kau baru datang hari ini?" tanya pria itu dengan beruntun masih memeluk wanita nya itu.


"Devan Sorry, abisnya Aku sibuk dengan urusan pernikahan ku, kau yang tabah yah, sepertinya Aku terlalu banyak membohongi mu dan Aku juga sudah lelah dengan semua aturan yang kau lakukan," jelas wanita itu mengeluarkan unek-unek nya sambil melepaskan pelukan Devan.


"Apa maksud mu?" tanya Devan dengan heran.


"Aku akan menikah Minggu depan, dan selama ini sebenarnya Aku sudah lelah dengan semua peraturan mu, Aku ingin hidup bahagia dengan kehidupan yang normal dan ngga di Kekang tentu nya, dan yang jelas pria itu lebih segala-galanya dari mu," jelas Arneta panjang lebar dengan tidak punya perasaan.


"Empat tahun kita bersama, kau dengan mudahnya berkata seperti itu? Neta, Aku kurang apa? semua yang kau inginkan Aku berikan, Mobil, fasilitas mewah Aku berikan, sampai Aku harus meyakinkan, Papa ku dan bertengkar dengan nya demi kau, tapi kau malah membalas nya dengan, penghianatan seperti ini? kau becanda kan, kau tidak serius kan?" ucap Devan panjang lebar berusaha untuk tenang.


"Aku serius, dan ku harap kau bisa datang di pernikahan ku, kalau tidak datang juga tidak masalah, karena acaranya juga di adakan di stasiun televisi," ucap Arneta sambil menyodorkan undangan pernikahan nya tanpa dosa sedikitpun.


Devan mengambil undangan tersebut dan membaca nya di situ tertulis nama "Arneta Malika & Robi prabu Panduwinata" Devan tahu siapa dia? dia adalah anak konglomerat pemilik salah satu stasiun televisi yang cukup kaya.


"Neta Aku mohon, jangan tinggalkan Aku, Aku cuma punya kamu, Mama ku koma dan kamu adalah orang yang sangat berarti dalam hidup ku, masa selama empat tahun? kau tidak punya perasaan dan rasa empati dengan ku, Aku janji akan lebih sukses dari dia, asalkan kau mau bertahan bersama ku," janji Devan dengan penuh harap air mata nya sudah tidak bisa di bendung lagi.


"Cih, bertahan dengan mu? Sory Aku ngga minat dengan pria depresi seperti mu, lihat kau lusuh jelek tidak menarik sama sekali," Wanita itu berdecih berkata dengan Kejam nya lalu setelah itu langsung pergi begitu saja.


Devan terus memohon dan meraung-raung histeris, namun Arneta tidak sedikitpun memperdulikan teriakan dari Devan sama sekali. Hingga hari demi hari dimana pernikahan Arneta berlangsung Devan semakin gila di buatnya, saat tidak sengaja melihat acara di televisi yang menayangkan pernikahan Arneta berlangsung dengan sangat begitu mewahnya. Sakit tapi tak berdarah itu yang Devan rasakan saat itu wanita yang berjanji tidak akan pernah meninggalkan nya justru malah memilih pria lain di saat dirinya terpuruk dan butuh support dan dukungan.


"Aku benci cinta, Aku bersumpah Akan membuat mu menyesal dengan apa yang sudah kau perbuat dan di saat itulah Aku akan membuang mu, layaknya sampah seperti apa yang kau lakukan padaku!" teriak Devan sambil melempar remot ke arah Tv membuat Tv itu pecah begitu saja.


"Dan kami berjanji akan membantu mu untuk bangkit dari keterpurukan," ucap Pretty dan juga Wiliam dengan yakin.


Perlu waktu Dua bulan untuk Devan sembuh dan berobat di rumah sakit, karena mental dan fisik nya yang terganggu, tentu dengan bantuan Wiliam dan juga Pretty yang selalu menemani pria itu selama di rumah sakit, begitu pula dengan Novita yang akhirnya sadar dari koma nya, hal itu membuat Devan semakin berusaha untuk bangkit dari keterpurukan nya.


Pria itu kembali mencari investasi dan membangun kembali perusahaan Papa nya yang nyaris bangkrut, dan sikapnya terhadap wanita kini berubah menjadi galak dan bermulut pedas dan beranggapan semua wanita sama saja matre dan murahan, hanya dengan dua orang yang di sayangi nya saja dia akan berkata lembut, yaitu Pretty dan Mama nya.


Dalam waktu dua tahun Devan akhir nya bisa membuktikan pada dunia, kalau dia mampu berdiri sendiri dari nol dan membangun usaha nya di mana-mana, Kini perusahaan F CORE, sudah terkenal dengan jajaran perusahaan yang berpengaruh di Indonesia, dan pria itu juga memutuskan untuk membeli sebuah rumah mewah yang cukup elit, karena merasa rumah orang tua nya akan membuat dirinya kembali terpuruk, meskipun harus tinggal seorang diri bersama pelayan karena Novita dan Pretty yang tidak mau pindah.


Devan yang dulu ceria kini sudah tidak ada lagi, sekarang sudah menjadi pria galak, tanpa senyum sedikit pun dan suka seenaknya sendiri, dan terkenal dengan mulut pedasnya, meskipun Wiliam selalu berusaha bersikap usil namun nyatanya justru malah pria itu sering kena imbasnya dan berakhir dengan hukuman, karena merasa Devan adalah hidup nya sejak kecil hingga beranjak Dewasa, karena Devan lah sahabat yang selalu membantu nya saat sedang kesusahan, meskipun sering di tindas dan suka di perintah seenaknya tapi tidak pernah di hiraukan oleh pria tersebut.


Flashback Off


BERSAMBUNG


.