
Pagi Harinya
Aku kini menuruni anak tangga dengan penampilan yang masih acak adul, dengan mata masih mengantuk, karena tadi Momy menyuruh ku untuk sarapan karena jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Namun tubuh ini entah mengapa terasa malas dan mata ini enggan untuk bangun, ya seperti biasa setelah sholat subuh Aku langsung kembali tidur itu sudah hal biasa yang Aku lakukan karena Dedy selama ini tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
"Ya ampun, apa ini kelakuan anak gadis? Jam segini baru bangun!" Aku yang baru duduk dan masih menahan kantuk tiba-tiba langsung membuka mata lebar-lebar dan menoleh ke arah sumber suara yang cukup nyaring itu.
Ku lihat seorang wanita setengah abad itu menatap ku dengan sorot mata tajam, membuat Aku yang di tatapan tajam kini tak kalah menatap nya dengan tajam.
"Memang nya kenapa? Kalau Aku bangun siang? Bukan nya Aku ini seorang ratu yang selalu di manja?" tanyaku dengan beruntun namun lebih tepatnya bukan sebuah pertanyaan yang harus di jawab melainkan jawaban sengit dan ketus yang Aku tunjukkan.
Aku dengan santai nya mengambil piring dan makanan tanpa sedikitpun memperdulikan kekesalan wanita tersebut.
"Kau beraninya! Tidak punya sopan santun sedikit pun, di mana etika mu?" wanita itu kini merebut makanan yang hendak Aku makan.
"Terus? Aku harus bersikap seperti apa? Oma gayung," tanya ku dengan sangat begitu kesal.
"Kau beraninya memanggil ku dengan sebutan itu! Aku ini Omah mu panggil Aku Omah Ratih!" sentak nya dengan tersulut emosi hendak menampar ku.
"Mah, sudah jangan berdebat dengan nya, kau sudah tua, nanti darah tinggi mu kumat," ucap Opah Abimanyu langsung memegang tangan istrinya itu yang hendak menampar ku.
"Lihat istri mu, Opah cangkul, didik dan ajari dia sebelum mengatakan kalau Aku tidak punya etika!" Aku menatap Opah Abimanyu sambil menunjuk wajah Omah Ratih dengan sengit.
"Cery, Opah ingin berbicara serius dengan mu setelah kau sarapan, jangan menjawab atau membangkang!" ucap Opah Abimanyu dengan tegas tanpa sedikitpun memperdulikan perkataan ku.
Pria itu kini menarik istrinya untuk ke ruang tamu sementara Dedy, Momy, KA Bray, hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku tanpa sedikitpun ingin berbicara.
Opah Abimanyu dan Omah Ratih, dia adalah kedua orang tua Dedy, tapi sikap dan perlakuan nya sangat begitu menjengkelkan sekali, terlebih sejak dulu memang tidak pernah menyukai keberadaan ku entah apa salah ku? Yang Aku tahu hanya karena Aku cucu perempuan yang tidak akan membawa nama baik keluarga dan hanya akan merepotkan, terlebih sikap ku yang suka membuat onar membuat mereka semakin tidak menyukai ku.
Mereka berdua hanya memiliki satu orang Anak yaitu Dedy Angga saja, jadi hanya Aku dan Ka Bray lah cucunya, tapi sebagai cucu perempuan satu-satunya, seharusnya Aku lebih di sayangi tapi justru mereka malah membeda-bedakan antara Aku dan Ka Bray, membuat Aku merasa kesal dengan sikap mereka berdua yang suka tidak memperdulikan perasaan ku Itu. Mengapa Aku selalu memanggil nya dengan panggilan Opah cangkul dan Omah gayung? karena Aku merasa mereka berdua seperti hantu Kakek cangkul dan Nenek gayung yang suka muncul tiba-tiba dan seperti horor. Ya begitulah hubungan ku dengan kedua orang tua Dedy yang tidak pernah Akhur karena terkadang mereka duluan yang mulai memancing kekesalan ku.
Setelah menghabiskan makanan ku, kini Aku sudah duduk di sofa ruang tamu ku tatap muka keduanya dengan tatapan heran sementara Omah Ratih menatap ku dengan sengit.
"Apa yang ingin Opah cangkul katakan? Cepetan tude poin saja," ucap ku sambil mengunyah permen karet.
"Kalau ngomong..."
"Mah, sudah jangan membuat suasana menjadi panas." Opah Abimanyu memotong ucapan Omah Ratih yang hendak memarahi ku, membuat Aku tersenyum senang sambil menggelembungkan permen karet membuat balon di mulut ku.
Ku lihat Omah Ratih berdecak kesal, sementara Dedy Angga, Momy dan Ka Bray menatap ku dengan tatapan tajam namun Aku hanya memalingkan wajah saja.
"Ekheem-ekhem!" Opah Abimanyu berdehem untuk memulai pembicaraan saat merasa suasana ruangan itu berubah mencengkam.
"Cery, kau tahu kan peraturan turun temurun dari keluar Opah?" tanya Opah Abimanyu menatap ku dengan lekat.
"Peraturan yang mana?" tanya ku sambil mengerutkan kening heran.
Ku lihat Opah Abimanyu menghela nafas panjang berusaha untuk sabar menghadapi ku.
"Usia mu sudah 21 tahun jadi sebelum kau berusia 25 tahun kau harus usahakan sudah ada Calon mu dan Opah sudah memutuskan untuk menjodohkan mu dengan pilihan Opah," jelasnya panjang lebar membuat Aku sontak langsung berdiri.
Pyaaar...
Dedy membanting fas bunga yang berada di meja lalu menatap ku dengan tatapan tajam.
"Cery Lorenza Irlambang, kau tidak boleh seperti itu dia orang tua Dedy, kau harus menghargai nya!" bentak Dedy menatap ku dengan tatapan tajam.
"Menghargai? Bagaimana Aku bisa menghargai, Dedy? kalau mereka tidak adil memperlakukan ku selama ini? Aku di suruh di jodohkan tapi, Ka Bray dia memutuskan untuk tidak menikah. Mereka diam tidak menuntut sama sekali, apa Aku tidak sakit hati? jika terus di beda-beda kan. padahal Aku ini sama cucu mereka!" ucap ku panjang lebar mengeluarkan unek-unek yang Aku tahan selama ini dengan air mata yang membasahi wajah ku.
"Tapi, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu, Dedy tidak habis pikir bisa memiliki putri seperti mu!" bentak Dedy menatap ku dengan tatapan tajam.
"Dedy, malu punya anak seperti ku? Bahkan Dedy juga membentak ku hanya karena Aku berbicara seperti itu, padahal Aku cuma ingin membela diri." ucap ku dengan berderai air mata.
"Cery, Dedy minta maaf, Dedy tidak bermaksud berbicara seperti itu." ucap Dedy hendak memegang tangan ku namun Aku menepis nya dan langsung saja berjalan menuju ke arah kamar.
"Lihat anak kesayangan mu itu, tidak punya sopan santun sedikit pun! dan kau justru malah meminta maaf kepada nya? seharusnya kau minta maaf pada papa mu, karena merasa sudah salah mendidik nya menjadi anak pembangkang." begitu ucapan Omah Ratih yang Aku dengar sebelum Aku menaiki anak tangga.
Aku meringkuk di atas ranjang, menangis sejadi-jadinya padahal selama ini Aku tidak pernah menangis atau kepancing emosi, mungkin karena sudah tidak tahan lagi dengan apa yang mereka lakukan, tapi yang membuat Aku sedih karena Dedy membentak ku, pria yang selalu menyayangi ku dan menjaga ku, dia tidak pernah membuat Aku menangis sejak kecil dan dia juga Akan selalu berusaha agar Aku tidak pernah menangis, namun hari ini Aku melihat Amarah terpancar di wajahnya membuat hati ini entah mengapa tiba-tiba menjadi sesak.
Ya mungkin yang Aku katakan memang salah, tapi menurut ku Apa yang mereka lakukan sudah sangat begitu keterlaluan.
"Cery, Are you okay?" tanya Momy Deya yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar ku.
"Apa Momy juga sama seperti Dedy? Akan memarahi ku, dan malu punya putri seperti ku? jika iya mending Momy keluar dari kamar ku," usir ku langsung saja membelakangi wanita yang melahirkan ku itu tanpa sedikitpun ingin menoleh.
"Hay sayang, mana mungkin Momy seperti itu, Momy hanya ingin Cery bahagia," jawab Momy Deya sambil memeluk ku dari belakang.
"Bahagia seperti apa?" tanya ku masih sesenggukan.
"Bahagia bersama orang yang benar-benar tulus mencintai mu, Apa Cery tidak ingin di sayang dan di manja oleh orang yang spesial? berdiri di pelaminan bersama pangeran impian mu." jelas Momy panjang lebar dengan suara yang cukup lembut.
"Kalau pilihan Opah, tidak sesuai kriteria ku bagaimana?" tanyaku mulai tertarik dengan ucapan Momy.
"Apa pun keputusan mu jika itu tidak sesuai keinginan mu, Momy akan selalu mendukung mu, jadi Momy mohon kau turuti saja apa yang di inginkan kedua orang tua Dedy mu, walau bagaimanapun mereka juga Opah dan Omah mu, Please Momy mohon," ucap Momy panjang lebar sambil membalikkan tubuh ku dan menatap ku dengan penuh harap.
Ku tatapan wajah Momy Deya dengan sangat begitu sendu dan ku peluk wanita itu dengan sangat begitu erat, air mataku tidak hentinya membanjiri wajah ku karena Aku merasa beruntung memiliki Momy yang selalu pengertian dan memahami ku, meskipun kadang kami sering berdebat karena berebut Kasih sayang Dedy.
"Momy, Aku beruntung memiliki mu, Terima kasih sudah menjadi Momy yang terbaik untuk ku," ucap ku di pelukan Momy sambil Masih menangis.
"Bagaimana? Apa kau setuju untuk menemui pria pilihan Opah mu? Jika iya, nanti malam keluarga dari calon mempelai pria nya akan langsung ke sini untuk pengenalan," jelas Momy panjang lebar sambil melepaskan pelukan ku.
"Terserah, Aku menurut saja, tapi jika tidak sesuai, Momy harus janji untuk selalu membela ku," Jawab ku berusaha untuk meyakinkan.
"Iya, ini baru anak Momy," ucap Momy dengan sangat begitu senang.
"Ya sudah kalau begitu, kau istirahat saja di kamar, jangan keluar dari kamar, agar tidak terjadi keributan, Momy keluar dulu yah," lanjut nya lagi sambil mengelus kepala Ku setelah itu segera berjalan menuju ke arah pintu. sementara Aku hanya mengangguk saja tanpa sedikitpun berbicara, karena merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi tadi.
BERSAMBUNG