
Minggu pagi Aku benar-benar kesal dengan Momy Deya yang menyuruh ku dandan setelah sholat subuh, bagaimana tidak? rasa kantuk yang sudah Aku rasakan karena semalam kurang tidur justru malah di suruh bermake-up, karena dia bilang Marion akan menjemput ku pukul 6 pagi namun sudah satu jam Lebih pria itu tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali padahal Aku sudah menunggu nya di teras depan rumah.
"Kalau bukan karena Omah gayung dan Opah cangkul sudah ku pastikan Aku ingin kabur saja dari rumah ini, menyebalkan," gerutu ku sambil menghentakkan kaki mondar-mandir di depan Momy Deya, Dedy Angga dan Ka Bray yang ikut menemani ku menunggu.
"Berani kau kabur dari rumah?" tanya Dedy menatap ku dengan tatapan tajam.
"Dedy, Aku masih mengantuk dan Aku ingin kabur karena ingin tidur dengan aman," jawab ku sambil menguap.
"Salah sendiri, mengapa begadang," ucap Ka Bray menatap ku dengan geleng-geleng kepala.
"Bodo amat, Aku mau tidur saja Mom, kalau dia datang katakan pada nya kalau Aku tidak berselera," jawab ku tanpa sedikitpun memperdulikan perkataan Ka Bray.
"Cery Lorenza Irlambang!" teriak Momy Deya sambil memegang tangan ku membuat Aku menutup mata karena suara cempreng Momy Deya membuat telinga ku hampir saja pecah karena saking kerasnya.
"Mom Come on, Aku sudah mengantuk," ucap ku dengan penuh harap.
"Maaf Aku terlambat," Suara seseorang yang baru keluar dari mobil nya membuat Momy Deya langsung saja menoleh, namun hal itu justru malah membuat Aku mendengus kesal karena rencana ku untuk rebahan di kasur demi menghindari kencan menyebalkan itu gagal total.
"Kau itu bagaimana sih? Lihat ini sudah jam berapa? Beraninya membuat Adik ku terlalu lama menunggu!" Ka Bray memarahi Mario sambil menarik kerah kemeja pria itu membuat Aku tersenyum senang.
"Maaf Aku tidak bermaksud," jawab Mario dengan ketakutan membuat Aku tersenyum senang melihat raut ketakutan Mario.
"Brayen, kau tidak boleh seperti itu Marion kan sudah minta maaf," ucap Momy Deya langsung menarik tangan ka Bray menjauh dari Mario.
"Momy, biarkan Aku memberi pelajaran sedikit pada nya," sungut Ka Bray dengan kesal.
"Sudahlah, tidak ada baik nya Kalian bertengkar, Na Mario kau boleh membawa Putri ku pergi dari sini," ucap Momy Deya tersenyum malu-malu ke arah Mario sambil menggandeng tangan ku agar mau ikut bersama pria tersebut.
"Sayang, siapa yang mengizinkan nya membawa Cery ku? Setelah apa yang di perbuat oleh nya?" Dedy yang merasa kesal langsung saja menarik tangan ku.
"Kau yang mengizinkan nya, kau itu lupa yah? semalam kau yang mengizinkan nya," jawab Momy dengan bersungut-sungut karena merasa kesal.
"Ya tapi kan..."
"Sudah sana kalian pergi kami mengizinkan nya," Momy langsung saja memotong ucapan Dedy dan menarik tangan Dedy dan Ka Bray masuk ke dalam membuat Aku memaki Momy dengan kesal karena wanita itu benar-benar tidak memahami apa yang Aku rasakan hanya karena dirinya juga menyukai Marion.
Mario langsung saja tersenyum senang dengan sigap pria itu langsung saja membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Aku untuk ikut dengan nya.
"Aku duduk di belakang saja," ucap ku sambil hendak membuka pintu belakang.
"Tidak ada kata penolakan, kau duduklah di depan karena Aku bukan supir mu," jawab Mario dengan penuh peringatan, membuat Aku merasa kesal langsung saja masuk ke dalam mobil pria tersebut.
"Bagus, mari kita bersenang-senang cantik," ucap Mario setelah duduk di bangku kemudi, membuat Aku hanya memalingkan wajah ke arah samping.
Mobil Mario kini sudah berjalan meninggalkan pelataran rumah ku, sepanjang perjalanan Aku memilih untuk diam sambil menatap ke samping jendela karena merasa tidak ingin menoleh ke arah Mario sama sekali.
"Kenapa kau terus menatap ke arah jendela? Apa yang kau lihat mending kau menatap ke arah sini ada pangeran tampan." Tanya Mario setelah sedari tadi diam.
"Apa kau marah dengan ku? karena Aku terlambat menjemput mu?" tanya nya untuk kedua kalinya karena Aku masih diam saja tanpa sedikitpun ingin menoleh atau berbicara.
"Sudah tahu nanya?" gerutu ku namun hanya dalam hati karena tidak ingin menunjukkan ketidak sukaan ku.
"Kenapa kau mau di jodohkan dengan ku?" jawabku pada akhirnya dengan bertanya balik karena merasa penasaran dengan pria tersebut, kenapa tidak mengenali ku.
"Tentu saja karena kau cantik, jadi tidak perlu di pertanyakan lagi," jawab Mario sambil memegang daguku.
Siiiiiiiit !
Marion yang terkejut langsung mengerem mendadak karena merasa aneh dengan ucapan ku itu.
"Apa yang kau lakukan? Mario Holsen! kau membuat kening ku benjol!" pekik ku sambil memegang kepala karena kejedot tiba-tiba.
"Tidak mungkin? Cery adalah Si Tompel mata empat itu? Jelas-jelas Si Tompel itu terlihat lebih dewasa, sementara Cery, dia terlihat sangat manja dan cempreng," gumam Marion yang terdengar oleh ku sambil geleng-geleng kepala.
"Mario Holsen, kau mendengar ku tidak?" tanyaku dengan sangat begitu kesal berpura-pura tidak mendengar gumaman pria itu.
"Maaf Sayang, Aku tadi hanya terkejut dengan tatapan mu yang mendadak itu yang langsung saja menusuk ke jantung hatiku," jawab Mario mulai mengeluarkan kata-kata buaya nya.
"Dasar buaya darat," umpat ku langsung saja memalingkan wajah.
"Apa kau bilang?" tanya Mario memastikan kembali apa yang Aku ucapkan.
"Aku tidak sengaja melihat buaya darat tadi di sana, jalankan saja mobilnya Aku sudah lapar," Jawab ku yang tidak ingin berlama-lama dengan obrolan yang tidak penting itu karena merasa sudah pengap dengan situasi tersebut.
Mario yang biasanya menjadi paling pintar kini benar-benar menjadi bodoh saat dekat dengan ku, pria itu mengangguk saja dengan kening yang heran. Sepanjang perjalanan Aku berpikir keras agar perjodohan ini di batalkan, karena Aku tidak mau dengan pria playboy seperti Mario karena sejak hari itu Aku mulai mencari tahu tentang Mario.
Kini Aku sudah berada di restoran karena Aku merasa sangat begitu lapar jadi Aku memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu agar tidak membuat lambung ku kumat.
"Benarkah? kau ingin sarapan sebanyak itu?" tanya Mario saat melihat banyaknya hidangan di meja makan.
"Bukan Aku saja, tapi kita," jawab ku sambil tersenyum tipis.
"Kita? Tapi Aku tidak makan sebanyak itu, kau ingin mengerjai Ku? Haaah!" ucap Mario dengan nada meninggi menatap ku dengan tatapan tajam.
"Baru segitu saja kau sudah membentak ku, kau memang tipikal pria yang tidak pantas menjadi calon suami ku dan kau pria playboy yang bodoh," umpat ku memaki Mario dengan sangat begitu kesal.
"Kau mau kemana? " tanya Mario sambil mencengkram pergelangan tangan ku.
"Tuan Mario, apa yang anda lakukan pada Nona kami?" tanya pengawal pribadi yang di tugaskan untuk mengawasi kami saat melihat Aku meringis kesakitan.
"Tidak, Aku hanya membujuk nya untuk makan, benarka Sayang?" Mario menjelaskan sambil merangkul pundak ku membuat Aku memaki pria itu namun karena perut ku yang ingin di isi membuat Aku harus berpura-pura.
"Iya, Aku tadi cuma merasa kesal saja karena isi meja nya terlalu Penuh, jadi membuat Aku bingung, dari pada makanan ini mubazir mending kalian ikut sarapan pagi," ucap ku panjang lebar sambil tersenyum seringai.
Tanpa menunggu jawaban Marion Aku menyuruh seluruh pengawal pribadi yang menjaga ku itu untuk sarapan pagi, meskipun Mario sedari tadi merasa kesal karena terganggu oleh pengawal tersebut yang berjumlah ada 10 orang, entah mengapa Dedy menyuruh anak buah nya sebanyak itu untuk mengawal ku tapi, Aku tidak mempermasalahkan hal itu.
"Kau sengaja yah ingin menguras dompet ku?" tanya Mario setelah selesai makan, lebih tepatnya kami sudah berada di dalam mobil.
"Ah kenyangan nya," ucap ku bersendawa dengan sangat begitu kenyang tanpa sedikitpun memperdulikan perkataan Mario.
"Cery Lorenza Irlambang, kau mendengar ku tidak?" sentak Mario dengan kesal membuat Aku merasa terkejut karena Aku tidak pernah di sentak seperti itu apa lagi yang menyentak ku seorang pria.
"Baru segitu saja kau sudah pelit, tapi sok-soan ingin mengajak ku jalan, apa ini kelakuan buaya yang tidak ingin modal?" Sarkas ku menatap Mario dengan tatapan tajam.
"Sayang bukan begitu, maaf Aku cuma kesal karena Aku pikir kau tidak mendengar ucapan ku." Mario berkata sambil mengelus kepala ku, membuat Aku merasa muak dengan nya, karena sudah berani menyentuh kepala ku, ingin rasanya Aku marah dan menghempas tangan nya, namun Aku urungkan sebelum puas mengerjai pria itu agar bisa mencari alasan untuk membatalkan perjodohan ini.
"Baiklah Aku tidak marah, lebih baik kita shoping-shoping, seperti nya Aku butuh referensi otak agar pikiran ku tenang," jawab ku langsung saja menyingkirkan tangan Mario dan kembali menatap ke arah samping jendela.
BERSAMBUNG