My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Hampir Ketahuan



"Tuan, apakah Anda mengenal mereka?" tanya salah satu dari mereka karena merasa heran dengan raut wajah Tuan nya yang terlihat sangat terkejut.


"Keluarlah kalian, biarkan mereka berdua berbicara," tanpa menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting Brayen langsung menyuruh anak buahnya untuk keluar dari ruangan nya.


"Baiklah, kalau mereka berbuat masalah, langsung beritahu kami," jawab mereka serempak karena tidak ingin membantah, meskipun merasa sangat begitu penasaran tapi, mereka tahu jika tuan Brayen tidak suka di bantah.


"Emang enak di usir," ledek Wiliam menjulurkan lidahnya merasa sangat begitu menang.


Sementara para pria itu keluar dengan sangat begitu kesal dan bersungut-sungut, jika tidak karena melihat situasi mungkin mereka akan menghajar William hingga kapok, tapi mereka urungkan karena tidak ingin kena semprot oleh Tuan Brayen. Sementara Devan lebih memilih untuk diam saja tanpa sedikitpun memperdulikan kekonyolan Asisten nya itu.


"Duduklah," Brayen mempersilahkan keduanya untuk duduk.


"Bro, Aku tidak menyangka kalau kau bisa sesukses ini," Tanpa rasa malu sedikitpun William langsung saja memeluk Brayen karena merasa sangat begitu senang bertemu sahabat lamanya.


"Kau tidak berubah, selalu malu-malu in, dan Aku ngga nyangka sekian purnama pertemuan kita di awali dengan cara seperti ini," jawab Brayen panjang lebar sambil menepuk pundak Wiliam.


"Hanya dia saja? Aku tidak di anggap?" tanya Devan dengan tatapan mata terlihat menyedihkan.


"Tentu saja di anggap, kita itu besti, yang selalu lengket," jawab Brayen langsung memeluk Devan.


"Dan konyol juga bukan," timpal Wiliam ikut kembali memeluk Keduanya, mereka bertiga berpelukan melepas rindu satu sama lain.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Brayen setelah mempersilahkan keduanya untuk duduk.


"Ya seperti yang kau lihat, kenapa kau setelah pulang dari luar negeri nomernya tidak pernah aktif?" jawab Devan sambil bertanya balik, karena mengingat sahabatnya itu yang memutuskan untuk tinggal di Indonesia setelah lulus kuliah, karena Brayen memang kuliah di universitas yang sama dengan Devan dan Wiliam, mereka bersahabat dengan baik selama 4 tahun lama nya, meskipun Devan tidak pernah mengenal siapa keluarga Brayen.


"Ponselku kecemplung WC, saat BAB alhasil semua data-datanya hilang," jawab Brayen sambil cengengesan, mengingat kejadian dirinya yang tidak pernah mau lepas dari ponselnya saat bermain game hingga di bawa ke toilet dan terjatuh.


"Buset Kau itu memang manusia yang ngga mau lepas dari game, bagaimana mungkin? Pria seperti mu pantas untuk di perjuangan?" balas Wiliam dengan tersenyum mengejek, sambil geleng-geleng kepala mengingat sifat Brayen yang tidak mau lepas dari ponselnya.


"Cih, kau jangan membahas tentang perjuangan, Karena wanita yang seharusnya Aku perjuangkan memang tidak layak untuk di perjuangkan." Brayen berdecih jika harus mengingat tentang wanita.


"Sudah jangan berdebat, lupakan tentang wanita, semua hanya masa lalu, yang terpenting masa sekarang," ucap Devan dengan bijak berusaha untuk melerai keduanya.


"Oya, bagaimana kabar keluarga mu? Tante Novita dan Om Jonatan, sama Adik mu yang seperti musuh itu?" tanya Brayen berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ceritanya panjang intinya sekarang hanya ada Aku, Mama dan Sepupu ku Pretty saja, dua tahun terakhir ini setelah setahun kami memutuskan tinggal di Indonesia, kami mengalami kecelakaan," jawab Devan panjang lebar dengan sendu air mata nya jatuh secara tiba-tiba.


"Oh Sorry Aku ngga tahu, kalau hidup mu, sekelam itu." Brayen merasa bersalah langsung memeluk Devan dengan iba.


"Lupakan yang ini, kita bisa bicarakan ini lain waktu," ucap Wiliam berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, karena takut jika Bos nya akan semakin terpuruk.


"Oh iya, Apa tujuan Kalian kemari? Sampai-sampai menerobos masuk tanpa izin?" tanya Brayen berusaha untuk bersikap berwibawa.


"Aku CEO dari perusahaan F CORE, Aku ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaan mu, kemarin Direktur Caw yang datang kemari, tapi kau menolak nya dengan alasan katanya Aku yang harus datang langsung," jelas Devan panjang lebar sambil menyodorkan sebuah Map yang berisi perjanjian kerja sama.


"Oh, Kemarin Aku tidak tertarik sama sekali, karena menurutku penawaran nya cukup tidak fantastis, apa lagi penjelasan nya kurang memuaskan," jawab Brayen sambil mengingat Direktur Caw yang menemui nya kemarin.


Devan menghela nafas panjang berusaha untuk tenang, kini pria itu menjelaskan panjang lebar dengan sangat begitu detail ketiganya akhirnya sibuk membahas tentang pekerjaan dengan profesional dan melupakan tentang teman dan sahabat karena bagi mereka pekerjaan adalah pekerjaan.


Sementara di dalam sibuk membahas urusan pekerjaan, di luar gedung sedang resah dengan penyusup yang masuk tadi Masih heboh.


Cery yang sedari tadi menunggu di depan Parkiran mobil sambil berdoa, berharap perusahaan itu bukan perusahaan Dedy nya, kini harapan nya hancur seketika saat melihat, kedua orang yang tidak asing bagi nya.


Benar saja baru saja Cery berbalik badan untuk menghindar, keduanya tiba-tiba langsung saja menghampiri Cery, membuat Cery langsung saja hendak lari namun naas keduanya memegang tangan nya.


"Nona Cery, kan?" tanya keduanya menatap Cery dengan intens.


"CK... Ketahuan deh," Cery berdecak sambil cemberut karena merasa ketahuan.


"Kalian kenapa mengenali ku?" lanjut nya lagi saat tersadar dengan penampilan nya.


"Tentu saja karena kami, kan pernah mengikuti anda Nona," jawab Keduanya dengan tersenyum tipis.


"Ih Kalian menyebalkan deh, untuk apa Kalian berada di sini?" sungut nya sambil bertanya karena merasa sangat begitu penasaran.


"Seharusnya kami yang nanya, untuk apa Nona di sini? Karena setahuku Nona sekarang tinggal di rumah kakek Nona?" Keduanya balik bertanya sambil menyelidik karena merasa heran dengan penampilan nona nya itu.


"Tentu saja, ini perusahaan tuan Angga, memang nya Anda tidak tahu? seluk beluk keluarga anda sendiri?" jawab keduanya dengan heran karena melihat keterkejutan dari Nona nya itu.


Cery langsung menarik tangan keduanya untuk bersembunyi di balik mobil karena merasa ada langkah kaki mendekat.


"Jojo, Jodi, dimana Kalian!" terdengar suara Angga yang memanggil Keduanya membuat Cery menjadi tegang sendiri.


"Nona, kenapa anda berubah menjadi seperti ini? Dari pakaian yang anda kenakan, anda seperti seorang supir?" bisik keduanya bertanya pada nona nya itu.


"Aku sedang menjalankan Misi ku," jawab Cery ikut berbisik.


"Misi apa Nona? Kami ikut kepo?" tanya keduanya menatap Cery dengan heran.


"Misi mengejar cinta," jawab Cery sambil cengengesan.


"Cieee Nona punya pacar?" Tanya Jodi sambil menggoda Nona nya itu, membuat Cery hanya menanggapi nya dengan cengengesan.


"Oh iya Nona, nanti malam anda katanya, di suruh menghadiri kencan bersama Pria pilihan Nyonya besar, sebagai pengganti Mario katanya," jelas Jojo yang mengingat pesan dari tuan nya tadi karena Nomer Cery yang tidak bisa di hubungi.


"Kau merusak mood ku saja," sungut Cery dengan kesal.


"Iya Jo mengganggu mood Nona yang lagi happy aja," timpal Jodi ikut bersungut-sungut.


"Pung-pung ingat kan" jawab Jodi sambil tersenyum kecut.


"Sudah sana kalian pergi, Aku tidak mau di jodohkan dengan siapapun, karena Aku punya pilihan ku sendiri, dasar Omah Gayung beraninya hanya menyerang dari belakang," umpat Cery dengan kesal langsung mengusir keduanya karena merasa sangat begitu marah.


"Baiklah Nona, kalau begitu jaga diri Anda baik-baik," pamit keduanya sambil berdiri dari duduknya karena mereka tadi berjongkok.


"Eh tunggu!" panggil Cery saat mengingat sesuatu.


"Apa Nona? Apa anda berubah pikiran?" tanya Jojo dengan antusias karena pria itu tidak ingin kena amuk oleh Tuan Abimanyu.


"Jangan beritahu Dedy Angga, kalau Kalian bertemu dengan ku, dan jangan katakan padanya tentang misi ku ini," ucap Cery dengan penuh peringatan di setiap kata-kata nya.


"Tapi Nona..."


"Jika kalian Masih ingin bertahan hidup maka tutup mulut, ambil ini" potong Cery dengan cepat saat keduanya hendak berbicara, sambil menyodorkan beberapa uang berwarna merah.


"Jodi, Jojo!" Terdengar suara Angga yang masih mencari kedua anak buah nya itu.


"Kalian sudah menemukan mereka berdua?" tanya nya pada teman seprofesi nya.


"Tadi sih mereka pamit karena ada penyusup, sampai sekarang hilang di telan bumi begitu Tuan," jawab mereka dengan bingung.


Jojo dan Jodi pun menurut dengan apa yang di katakan Nona nya keduanya langsung muncul di balik mobil, sementara Cery masih bersembunyi.


"Maaf Tuan, kami tadi habis mencari penyusup, tapi kami denger mereka kabur," ucap Keduanya dengan berpura-pura kecapaian.


"Kalian ini, benar-benar bodoh, mana ada penyusup nya di sini, penyusup nya masuk ke dalam perusahaan, masa mencari nya di parkiran mobil," Angga geleng-geleng kepala merasa tidak habis pikir dengan kedua anak buah nya itu.


"Hehehe, siapa tahu aja mereka mau mencuri mobil," Jawab Keduanya sambil tertawa kecil karena merasa sangat begitu bodoh mencari alasan yang tidak masuk akal.


"Aku, cuma mau kalian usahakan hubungi Cery, katakan pada nya, nanti Malam dia harus datang, paham!" Ucap Angga mengalihkan pembicaraan karena mengingat tujuan utamanya mencari mereka berdua hanya untuk putrinya itu.


"Siap Tuan!" jawab Keduanya serempak tanpa sedikitpun ingin menjelaskan.


Setelah melihat punggung Dedy nya yang sudah menjauh, Cery menghela nafas panjang berusaha untuk tenang, pikirannya benar-benar kacau sendiri, ingin rasanya dia menangis karena merasa ingin kembali kecil saja, karena merasa sekarang hidup nya harus di tekan dengan Sebuah perjodohan.


Baru saja gadis itu merasa sedang merasa sedih Dane kesal sebuah tepukan seseorang membuat jantung nya berdetak lebih kencang.


"Aku tidak bermaksud untuk lari dari perjodohan, Aku cuma ingin menikah dengan pilihan ku sendiri," ucap Cery dengan gemetar takut jika kedua anak buah Dedy nya mengadu.


BERSAMBUNG