
"Ketemu lagi Nona Arogan yang menendang ember, bagaimana? apa kaki mu sudah lebih baik? ops kupikir Kaki mu patah karena kena karma." ucap ku panjang lebar berjalan memutari wanita itu seperti petugas intimidasi.
"Kau beraninya berkata seperti itu! Kau belum tahu siapa Aku?" Wanita itu yang mendengar penuturan ku kini mendekat ke arah ku hendak menjambak rambut ku namun Aku dengan sigap langsung menepis tangan nya.
"Jangan kau pikir Aku lemah, kau bisa melakukan hal yang kau inginkan." ucap ku menatap tajam wanita di hadapan ku itu, berjalan mendekat ke arah Bos Devan.
"My Bos, siapa dia?" tanyaku menatap Bos Devan yang sedang mematung.
"Aku Calon istrinya, dan kau OG tidak sepantasnya bersikap seperti itu," jawab wanita itu menatap ku dengan sengit.
Tanpa memperdulikan ku yang mematung wanita itu kembali mendekat ke arah Bos Devan.
"Devan tahukah kau jika Aku sangat begitu tersiksa selama ini? Aku tahu kau masih mencintai ku kan? Bahkan sampai sekarang belum juga mempunyai pengganti ku?" tanya wanita itu dengan beruntun menatap Bos Devan yang diam mematung.
"Aku tahu Devan, bahkan kau juga menolak wanita yang selalu di kenalkan orang tua mu? Katakan pada ku kalau kau masih mencintai ku? Jika iya kita bisa bersama-sama lagi Aku sudah bercerai dengan suami ku, karena Aku sadar cinta ku hanya untuk mu," lanjut nya lagi berceloteh panjang lebar, sambil menggoyangkan tubuh Bos Devan yang seperti nya enggan untuk bertatap muka dengan wanita tersebut.
"Sudah basa-basi nya? Aku tidak butuh barang bekas seperti mu, karena bagi Devan Agastya Maheswara tidak ada kata cinta dalam kehidupan nya, dan berhentilah bersikap seolah kau adalah Calon Istri ku!" ucap Bos Devan sambil menyingkirkan tangan wanita tersebut yang memegang tangan nya.
"Devan Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan, Aku yakin kau masih mencintai ku, bahkan tubuh mu saja masih merespon apa yang Aku lakukan." Wanita itu tidak sedikitpun ingin pergi justru malah terus menerus memojokkan Bos Devan tanpa sedikitpun rasa malu.
"Berhenti membual dan pergilah dari ruangan ku sebelum Aku memanggil satpam untuk mengusir mu!" ucap Bos Devan dengan tersulut emosi.
"Siput, kemari!" panggil Bos Devan menatap ku karena merasa jengah dengan wanita di hadapan nya itu.
"Baiklah Bos Aku menurut." Jawabku sambil tersenyum seringai setelah Bos Devan berbisik di telinga ku.
"Ayo keluar dari ruangan Bos Devan sekarang juga!" ucap ku sambil menarik tangan wanita itu menuju ke arah pintu.
"Kau beraninya mengusir ku? Dasar OG sialan? kau pikir Aku takut dengan mu? Haaah!" Wanita itu bukan nya mau keluar justru malah hendak menarik rambut ku membuat Aku berusaha untuk menghindar.
"Aku juga tidak takut dengan mu!" jawabku tak kalah sengit nya.
"Aku Arneta, Calon Istri Bos mu, kalau Aku sudah menjadi istrinya tidak akan Aku biarkan kau bekerja di sini, OG sialan!" maki nya langsung saja menarik rambut ku.
"CK.. Calon istri? Jangan mimpi, Bos Devan tidak akan tertarik dengan wanita J*Lang dan murahan seperti mu, dia sudah bahagia bersama keluarga kecilnya, istrinya saja lebih cantik dari diri mu!" Aku berdecak menatap wanita itu dengan sangat begitu kesal berusaha untuk tenang meskipun rambut ku sudah berantakan.
"Ha-ha-ha Apa kau bilang? Istri keluarga? Kalau tidak tahu tentang kehidupan nya kau jangan sok tahu!" Wanita itu yang mendengar penuturan ku tertawa terbahak-bahak entah apa yang di tertawakan nya.
"Memang nya apa yang kau tahu? Aku hanya menebak-nebak saja," Kilah ku berusaha untuk menutupi rasa malu ku.
"Tentu saja Dia itu masih lajang dan kau tahu dia sangat begitu mencintai ku makan nya dia tidak mau menikah dengan orang lain selain Arneta seorang," jelas Wanita itu panjang lebar penuh percaya diri nya.
"Arneta, Stop membual! pergi dari hadapan ku sekarang juga!" kini Bos Devan yang sedari tadi diam akhirnya bersuara, pria itu menatap tajam wanita itu.
"Tidak mau, Aku tidak akan pergi sebelum kau mau balikan lagi dengan ku," ucap wanita itu dengan manja.
"Kau tidak tahu malu sekali, sudah selingkuh malah dengan percaya dirinya datang kembali!" Aku yang merasa jengah langsung saja mendorong wanita itu karena merasa Bos Devan tidak nyaman dengan perlakuan wanita tersebut.
Ku balas tarikan rambut wanita itu dengan sangat begitu kerasnya membuat wanita itu menjerit kesakitan, namun tiba-tiba wanita itu langsung saja menarik perban di tangan ku.
"Rasain emang enak, kau tidak bisa melawan ku!" jawab wanita itu sambil mendorong ku.
Aku segera berdiri dan berjalan menuju ke arah Bos Devan untuk melindungi pria itu.
"Kau pikir, Aku bakal mengizinkan mu untuk menggoda nya!" ucap ku berdiri di depan Bos Devan.
"Dan kau pikir Aku bakal menyerah begitu saja!" ucap Wanita itu menatap ku dengan tersenyum seringai.
"Pergi dari sini!" Aku mendorong wanita itu dengan kasar melempar sesuai yang bisa Aku lempar membuat wanita itu itu juga membalas nya entah apa yang Aku lempar yang jelas semua berkas yang ada di meja berserakan.
"Awas kau! Akan Aku balas, Aku pergi bukan karena menyerah dan kalah!" ucap wanita itu setelah merasa cukup lelah menghadapi ku karena merasa sangat begitu malu.
"Ha-ha-ha Akhirnya pergi juga." Aku tertawa terbahak-bahak sambil mengusap tangan.
"Dasar rusuh!" umpat Bos Devan menatap ku dengan tatapan tajam.
Aku justru malah membalikkan badan dan segera melihat penampilan ku di cermin yang Aku bawa di saku ku betapa berantakan nya Diri ku ini.
Dengan sigap Aku berlari ke toilet, yang ada di ruangan Bos Devan tanpa sedikitpun memperdulikan panggilan Bos Devan, karena Aku ingin kembali membenarkan penampilan ku agar tidak terlihat oleh Bos Devan.
"Kau beraninya! Setelah membuat ruangan ku berantakan, kaya kapal pecah malah lari begitu saja!" Ucap Bos Devan dengan nada meninggi sambil berkacak pinggang, setelah Aku keluar dari toilet.
"Maaf, Aku tadi kebelet pipis,"Jawab ku sambil cengengesan.
"My Bos, bisakah kau ikatkan perban di tangan ku, darah nya tidak mau berhenti terus keluar saja," lanjut ku lagi sebelum Bos Devan bersuara.
"Merepotkan!" umpat nya dengan kesal tapi langsung saja melakukan Apa yang Aku inginkan.
"Jadi, Sanum bukan anak mu, My Bos?" tanyaku memastikan.
"Anak ku atau bukan yang jelas sejak kecil sudah bersama ku," jawab Bos Devan dengan ketus.
"Bereskan semua ruangan ku, jangan harap kau bisa pulang sebelum ruangan ku kembali seperti semula!" lanjut nya lagi dengan penuh peringatan.
"Tapi, My Bos ini kan bukan salah ku ini salah wanita Jal*ng itu," ucap ku berusaha untuk menjelaskan.
"Tapi kau yang sudah membuat onar, Aku hanya menyuruh mu untuk mengusir nya bukan menyuruh mu untuk membuat ruangan ku berantakan!" ucap nya dengan tatapan tajam dan langsung saja berjalan menuju ke arah pintu.
"Ingat jika kau tidak mengerjakan nya jangan harap kau bisa keluar dari ruangan ini!" ucap nya lagi sebelum akhirnya membanting pintu untuk keluar.
"Ya ampun Si, nasib mu malang sekali, ini semua gara-gara wanita sialan itu!" Aku terduduk lemas terus saja mengumpat wanita itu dengan sangat begitu kesal.
"Tapi demi My Bos, Aku yakin bahwa Aku bisa melakukan hal ini, My Bos akan Aku buktikan bahwa kau bisa Aku taklukan." lanjut ku lagi dengan penuh semangat saat mengingat bahwa Bos ku itu masih lajang.
BERSAMBUNG