My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Menerobos Masuk



Kini Cery sudah berada di parkiran mobil setelah sudah siap dengan pakaian supir nya.


"Ih Wilona, kau itu misterius sekali? memangil ku tapi tidak mau menjelaskan untuk apa memanggil Ku," gerutu Cery dengan kesal karena sedari tadi Wiliam tidak menjawab pertanyaan nya.


"Kan kau sendiri yang bilang, kalau kau tidak akan menjawab pertanyaan ku, jadi Aku juga akan membalas mu," jawab Wiliam dengan tersenyum sinis.


"Tapi kan itu hanya karena tadi pagi kesal saja," jawab Cery sambil cengengesan.


"Lama sekali kalian, kalian pikir waktu ku banyak apa!" Devan yang sudah berdiri sejak tadi kini mengeluarkan unek-unek nya karena merasa sangat begitu kesal menunggu keduanya yang tidak kunjung datang, kini malah di kejutkan dengan perdebatan keduanya.


"My Bos, My Love, kau itu bisa tidak? sekali-kali tidak galak-galak, Aku lelah sekali dari tadi di marahin oleh Bu Aida, Aku di aniaya di suruh ini itu, bahkan Aku di suruh mengelap kaca, sampai tangan ku pegal sekali, tenggorokan ku juga haus ngga boleh istirahat minum," Adu Cery panjang lebar dengan penuh dramatis.


"Lalu, apa sedikit saja? kau itu ada kebaikan untuk ku?" lanjut nya dengan tersenyum tipis.


"Sudah sana setir mobilnya, Aku tidak butuh ocehan mu!" ketus Devan sambil melempar kunci mobil, membuat Cery sigap menangkap nya dengan cepat meskipun sambil bersungut-sungut.


Ketiga manusia kini sudah masuk ke dalam mobil, Devan memilih memakai headset dan mendengarkan musik dari pada harus mendengarkan ocehan Cery yang akan membuat nya pusing, begitu pula dengan Wiliam yang duduk di samping Cery.


"My Bos, kita mau kemana?" tanya Cery setelah melajukan mobilnya meninggal gerbang perusahaan.


"Wilona, kau mendengar ku tidak?" tanya Cery pada Wiliam yang biasanya akan menjawab dengan cepat kini tidak ada yang berbicara satu pun.


Merasa kesal karena di abaikan, gadis itu menoleh ke belakang dan ke samping, lalu menghela nafas panjang karena merasa sangat begitu kesal.


"Pantesan di tanya ngga menyahut, ternyata telinga nya pake headset," sungut Cery langsung mengambil headset di telinga Wiliam.


"Apa sih? Mengganggu saja!" ketus Wiliam setelah Cery mengambil headset nya.


"Kita mau kemana? Kau menyuruhku menyetir tapi tidak tahu tujuan utamanya, mau kita ini kesasar?" tanya Cery dengan sangat begitu kesal.


"Oh iya, bilang dong dari tadi," Wiliam menepuk jidatnya sendiri, lalu menyodorkan Hpnya menunjukan alamat Perusahaan.


"Kau yang salah Aku yang di salahkan," gerutu Cery dengan tidak terima.


"Ke sini," jawab Wiliam dengan singkat tanpa sedikitpun ingin menjawab perkataan Cery.


"Jangan menggangguku, atau protes, tugas mu hanya mengantar kami," lanjutnya lagi saat Cery hendak berbicara.


Cery akhir nya diam saja tanpa sedikitpun berbicara lagi, karena merasa kesal dengan pria di samping nya itu meskipun terus saja menggerutu tidak jelas.


Sepanjang perjalanan hening tidak ada yang berbicara satupun kini mobil sudah sampai di perantara gedung perusahaan.


Cery sudah turun dan menengok ke kanan dan kiri matanya tertuju pada sebuah nama LI CORP, dirinya berusaha untuk mengingat-ingat nama tersebut.


"LI CORP? Bukan kah nama perusahaan ini sama persis nama nya dengan nama Perusahaan Dedy?" gumam Cery dalam hati nya karena gadis itu tidak tahu di mana letak perusahaan Dedy nya, hanya tahu namanya saja, karena bagi Cery kekayaan Orang tua nya tidak terlalu penting bagi dirinya gadis itu juga tidak tertarik sama sekali dengan perusahaan apa lagi ingin tahu .


"Siput, buka pintu nya kau lemot sekali!" sentak Devan dengan kesal karena merasa Supir pribadi nya itu bukan nya membukakan pintu malah bengong.


"My Bos, Aku cuma terkagum-kagum saja dengan perusahaan itu," bohong Cery sambil membuka pintu mobil untuk Bosnya itu.


"Alah alasan saja kau!" ketus Devan sambil turun dari mobil nya.


"My Bos, kenapa kau kesini? Perusahaan siapa ini?" tanya Cery memastikan.


"Kau tunggu di sini saja, jangan membuat keributan atau membuat masalah," ucap Devan memperingati gadis tersebut tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan nya karena tahu kalau Supir pribadi nya itu sangat lah bar-bar.


"Memang nya? Aku se bahaya itu apa? My Bos Aku cuma bertanya tapi..."


"Sudah tutup mulutmu, jangan banyak bicara," potong Devan dengan cepat langsung saja berjalan menuju ke arah pintu masuk, diikuti oleh Wiliam dari belakang.


"Dasar menyebalkan, akan Aku buktikan, kalau suatu saat nanti kau akan menjadi milikku Bos," umpat Cery dengan kesal namun sambil senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Semoga saja, ini perusahaan LI CORP lain, bukan perusahaan Dedy?" gumam Cery dalam hati nya meskipun merasa sangat begitu ragu.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas resepsionis itu dengan tersenyum manis.


"Dimana ruangan wakil CEO?" tanya Wiliam Tude poin.


"Apa sudah membuat janji? Maaf biasanya Tuan Brayen hanya mau bertemu dengan orang yang sudah ada janji karena jadwalnya sangatlah padat," jelas wanita tersebut panjang lebar dengan sangat begitu ketakutan, karena melihat Eksepsi wajah Devan terlihat menatap nya dengan tatapan tajam.


"Mau ada janji atau tidak? Aku juga orang yang sibuk jadi kau tidak boleh menghalangi ku bertemu dengan nya!" ketus Devan dengan sangat begitu kesal, lalu pria itu langsung memegang tangan Wiliam untuk berlari seribu.


"Lari Wiliam!" Teriak Devan langsung menarik tangan Wiliam membuat Wiliam segera berlari dengan terbirit-birit.


"Kejar penyusup perusahaan!" teriak Resepsionis itu dengan panik membuat semua orang ikut mengejar Devan dan Wiliam.


"Dasar penyusup, ngga malu apa sama muka gantengnya," ucap wanita itu hendak menangkap keduanya namun pintu lift tiba-tiba terbuka membuat Devan langsung berlari ke arah lift, namun wanita itu memegang tangan Wiliam membuat Wiliam menjadi tarik-menarik antara keduanya, yang berada di tengah-tengah lift.


"Tendang saja kaki jenjangnya," bisik Devan di telinga Wiliam membuat Wiliam menurutinya.


"Aaaaaw!" suara teriakan wanita itu yang menjerit kesakitan karena kakinya di tendang oleh Wiliam dengan sangat begitu kerasnya, namun pria itu langsung saja masuk ke dalam lift.


"Nona anda baik-baik saja?" tanya satpam yang baru saja datang bersama para karyawan lainnya.


"Mereka masuk ke dalam," jawab wanita itu sambil nunjuk ke arah pintu Lift yang sudah di tertutup.


"Bos, kau itu gila, membuat ku jantungan saja!" ucap Wiliam yang sudah di dalam lift.


"Kau yang terlalu lemot, seperti siput, seharusnya kau tidak usah bertanya dulu ke perempuan itu ,langsung saja menerobos masuk, jadi ngga membuang-buang waktu," ucap Devan panjang lebar menatap William dengan kesal.


"Bos, Aku bertanya karena tidak tahu dimana letak ruangan Wakil CEO," jelas Wiliam mencoba untuk menenangkan Bos nya itu yang terlihat kesal.


"Oh iya, kenapa kau baru bilang sekarang? Dasar Bodoh," umpat Devan dengan kesal sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Terus bagaimana? kita ke lantai berapa?" tanya Wiliam dengan ragu karena merasa sudah terlalu lama di dalam lift.


"Telpon Direktur Caw sekarang juga, tanyakan padanya saja," perintah Devan saat mengingat tentang pria itu yang pernah berkunjung ke perusahaan tersebut.


Wiliam, langsung merogoh kantong celananya dan menelpon direktur Caw dan bertanya dimana ruangan yang akan mereka tuju.


Wiliam, segera memencet angka 20 setelah menutup panggilan nya, dan beberapa saat kemudian pintu lift sudah di buka, namun kedua nya di kejutkan dengan beberapa orang yang sudah menunggunya.


"Bos mereka seperti nya sudah tahu kalau kita masuk dengan paksa," bisik Wiliam di telinga Devan membuat Devan segara mengeratkan tangan nya menggenggam tangan Wiliam.


"Tenang dan rileks, kita terobos masuk anggap saja mereka hanya angin lalang," bisik Devan sambil tersenyum tipis, membuat Wiliam mengikuti nya.


"Hay Kalian, sudah menerobos masuk kalian juga tidak punya sopan santun," pekik semua nya saat di lewati begitu saja oleh Devan dan Wiliam.


Devan dan Wiliam sudah masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu sedikitpun karena beberapa orang mengejar nya.


"Maaf Tuan Brayen, mereka pencuri yang menerobos masuk, ke dalam," ucap beberapa orang yang bertugas untuk menjaga keamanan, dengan ketakutan, karena tahu jika Tuan Brayen tidak suka di ganggu, jika ada yang mengganggu nya maka mereka lah yang akan kena imbasnya.


"Kami ada perjanjian penting Tuan, saya membawa CEO dari perusahaan F CORE mana mungkin kami pencuri," ucap Wiliam dengan tidak terima sambil menepis tangan pria yang memegang tangan nya.


"Kalian lihat wajahnya baik-baik, pasti Kalian tidak asing kan? dengan wajahnya," sambung nya lagi sambil menunjuk Devan, membuat beberapa orang tersebut berpikir keras.


Brayen yang sedang duduk di bangku kerja nya kini berdiri karena merasa terusik dengan suara tersebut.


"Kalian ini bisa diam tidak? Mengganggu konsentrasi ku!" sentak Brayen dengan menggebrak meja karena merasa sangat begitu marah.


"Brayen, benarkah itu kau?" ucap Wiliam saat merasa tidak asing dengan wajah pria tersebut membuat Brayen menoleh.


"Devan, Wiliam," gumam Brayen merasa ikut terkejut.


BERSAMBUNG