My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Bisa kah kau Itu berbohong Sedikit?



"Si Tompel, kau baik-baik saja?" tanya Wiliam dengan sangat begitu heran melihat Cery yang ketakutan.


"Ya ampun, Wilona kau hampir membuat jantungku copot, tahu!" pekik Cery sambil memegang dadanya merasa lega kalau yang menepuk pundak nya adalah Wiliam.


"Siapa suruh melamun, kau bilang ingin di jodohkan? Apa karena kau itu tidak laku makan nya di jodohkan?" tanya Wiliam dengan tersenyum mengejek tanpa sedikitpun memperdulikan keterkejutan Cery.


"Kepo deh, sok tahu deh kau itu," sungut Cery tanpa sedikitpun ingin menjelaskan.


"Sudah sana buka pintu mobil nya, ngga tahu apa orang sedang lelah, malah berdebat tidak jelas," ketus Devan menatap Cery dengan tatapan tajam.


"Idih, My Bos kau itu galak sekali? Tidak ada manis-manisnya," goda Cery sambil tersenyum seringai.


"Buka pintunya, cepetan!" sentak Devan dengan kesal karena supir pribadi nya itu sengaja berlama-lama membuka pintu mobil nya.


Cery akhir menuruti nya meskipun dengan cemberut, padahal tadinya ingin sekali menggoda bos nya itu, walaupun cuma sebentar pandang-pandangan mata, seperti yang ada di film yang sering di tonton nya namun semuanya hanya mimpi saja bagi nya.


"Bos setelah ini kita pulang kan? Aku Lelah ingin istirahat?" tanya Cery mengutarakan isi pikiran nya karena merasa sangat begitu lelah.


"Wiliam, jadwal ku hari ini sudah selesai kan?" tanpa menjawab pertanyaan Cery, Devan bertanya dulu pada Asisten nya itu karena Wiliam yang selalu mengatur jadwal pekerjaan nya.


"Oya, Aku lupa Bos, Malam ini ada acara kolega bisnis, di acara ini sangat di sarankan kau datang karena ini kesempatan bagus, Bos," jelas Wiliam panjang lebar sambil melihat agenda kegiatan Bos nya itu.


"CK.. Kenapa mendadak? Memusingkan!" Devan berdecak menatap Wiliam dari kaca spion dengan tatapan tajam karena merasa sangat begitu kesal.


"Hehehe, tidak mendadak hanya saja Aku lupa memberi tahu mu," jawab Wiliam dengan cengengesan karena merasa sangat begitu lupa.


"Dasar, kau itu menyebalkan!" umpat Devan dengan kesal sambil menendang jok yang di duduki Wiliam.


"My Bos juga menyebalkan, kesal sendiri kan? bagaimana rasanya di perlakukan seperti itu, itu yang sekarang Aku rasakan di jatuhkan saat sudah berharap lebih," sahut Cery dengan menahan tawanya.


"Kau juga sama-sama bersekongkol dengan nya, jadi kalian berdua harus menemani ku tidak ada kata penolakan!" ucap Devan dengan penuh peringatan.


"Aku tidak mau lembur My Bos, Aku lelah, jadi Wiliam saja yang lembur," jawab Cery sambil menunjuk Wiliam.


"Aku harus pergi ke rumah sakit menemani ibuku, Ibu ku di sana sendiri, jadi kau saja yang menemani Bos," jawab Wiliam dengan jujur karena dirinya memang harus ke rumah Sakit karena ibunya sedang sakit.


"Siput, kau tidak mau lembur?" Tanya Devan menatap Cery di kaca spion dengan tatapan tajam.


"Kalau kau tidak ingin lembur, kau bisa mengundurkan diri," sambung nya lagi dengan tersenyum seringai karena tahu supir pribadi nya itu takut di pecat.


"Aku suka lembur, lembur membuat ku senang, lembur membuat ku happy," jawab Cery sambil berceloteh panjang lebar dan memaksakan untuk tersenyum meskipun sebenarnya hatinya merasa sangat begitu bimbang sendiri, bingung untuk mencari alasan apa yang harus di berikan kepada kedua orangtuanya untuk tidak datang ke kencan buta tersebut.


"Dasar gadis gila!" gumam Wiliam dalam hati nya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Cery yang menurut nya aneh.


Malam Harinya


Cery kini sudah berada di butik untuk berganti pakaian yang cocok, gadis itu sudah memakai Dress namun jalan nya yang seperti pria membuat Devan berdecak menatap supir pribadi nya dengan tatapan tajam.


"Ganti pakaian mu, kau tidak cocok menggunakan Dress, karena Dress ini terlalu mahal untuk mu," ucap Devan dengan tersenyum sinis.


"Memang nya harganya berapa?" tanya Cery dengan mengerutkan keningnya heran.


"10 juta, jadi kau tidak akan mampu untuk membeli nya" jawab Devan dengan tersenyum mengejek.


"Sebenarnya Aku mampu saja membeli nya, itu harga yang cukup murah bagi ku," gumam Cery dalam hati nya berusaha untuk menahan rasa kesal nya.


Gadis itu akhirnya hanya menurut saja kini sudah memakai stelan celana dan kemeja sesuai yang di inginkan Bos nya itu.


Devan melihat Supir pribadi nya itu, dari atas sampai bawah tidak ada yang berbeda sama sekali, hanya warna bibir nya saja yang berwarna merah itu yang membuat nya berbeda pikir nya.


"Mau berdandan seperti apa pun, kau itu jelek ya jelek," cibir Devan sambil tersenyum mengejek langsung saja berjalan keluar dari butik tersebut.


"My Bos, kau jujur sekali? Bisa kah kau itu berbohong sedikit? agar Aku senang," Ucap Cery ikut berjalan mensejajarkan langkah Bos nya itu dengan cemberut.


"Lebih baik jujur, meskipun jujur itu menyakitkan, dari pada berbohong namun akan ke cium juga bau nya," Jawab Devan dengan penuh penekanan, membuat Cery menelan ludah sendiri karena merasa dirinya tidak aman, Akhirnya memutuskan untuk diam saja.


Sepanjang perjalanan hening tidak ada yang berbicara baik Devan maupun Cery tenggelam dalam pikiran nya masing-masing, kini mobil sudah berhenti di depan sebuah hotel berbintang yang sudah terlihat ramai dengan orang-orang yang berdatangan menandakan kalau acara tersebut sangat begitu meriah.


Cery seperti biasanya langsung membukakan pintu untuk Bos nya itu, setelah itu gadis itu tidak lupa bercermin terlebih


dahulu, sebelum masuk ke dalam agar penampilan nya terlihat perfek menurut nya, namun hal itu justru malah membuat Devan jengah dan kesal.


"Mau dandan seperti apa pun, kau itu jelek tidak akan ada yang mau melirik mu, melihat dari kejauhan saja sudah membuat orang tidak berselera, jadi jangan kepedean," cibir Devan langsung saja berjalan masuk begitu saja melewati Cery yang masih sibuk bercermin.


"My Bos, kau itu kejam sekali mulut nya," sungut Cery sambil mengejar Bos nya itu.


Devan memilih untuk diam saja dari pada menggubris perkataan gadis tersebut yang akan membuat darah tinggi nya naik dan dirinya semakin pusing pikir nya.


Membuat gadis itu ikut diam akhirnya, sambil mengikuti Bos nya itu karena tidak ingin membuat Bos nya malu dengan dirinya yang mengoceh.


Devan sudah masuk ke dalam orang-orang lalu lalang berdatangan bersama pasangannya masing-masing membuat Cery berinisiatif untuk menggandeng tangan Bos nya itu.


"Apa yang kau lakukan? Singkirkan tangan mu dari tangan ku, jika kau masih ingin bekerja!" ketus Devan menatap Cery dengan penuh peringatan.


"My Bos, Aku cuma ingin terlihat romantis saja, masa kau galak begitu," ucap Cery terdengar manja namun pria itu tidak sedikitpun memperdulikan perkataan gadis tersebut.


"Selamat datang Tuan Devan, kita bertemu lagi!" sapa Tuan Dirga yang kebetulan berada di sana.


"Oh iya, Kebetulan sekali kita bertemu lagi di sini," Jawab Devan berusaha untuk biasa saja.


"Oh iya, kebetulan saya ingin memperkenalkan, model yang sudah saya pilih untuk menjadi brand ambassador untuk produk kita, apa Tuan Devan bersedia berkenalan sekarang," terang Tuan Dirga panjang lebar mengutarakan niatnya itu.


"Oh dengan senang hati," jawab Devan mengganggu mengiyakan.


Mereka pun berbincang-bincang hangat membahas tentang pekerjaan, hal itu tentu membuat Devan tidak terlalu bosan sendiri, karena ada teman bisnisnya, biasanya pria itu akan cepat bosan menghadiri acara-acara seperti itu karena menurut nya terlalu memusingkan karena harus banyak bosa basi dengan banyak nya orang, tapi karena ada nya Tuan Dirga yang pembawaan nya mudah mencari topik pembicaraan membuat dirinya merasa sangat begitu bersyukur karena berkat pria itu membuat dirinya tidak terlalu bosan.


"My Bos, Aku ke toilet dulu yah," bisik Cery yang sedari tadi setia menemani Bos nya itu sambil berdiri.


"Pergi saja sana, untuk apa lapor," ketus Devan menatap Cery dengan malas.


Cery yang mendapat jawaban seperti itu langsung pergi ke arah Toilet, sambil menggerutu sendiri karena merasa sangat begitu kesal dengan Bos nya itu, yang terlalu galak pada nya entah apa salah nya yang jelas hanya padanya Bos nya itu akan galak dan ketus.


Setelah kepergian supir pribadi nya, Devan masih berbincang-bincang hangat, Tuan Dirga segera melambaikan tangan pada seorang wanita yang baru saja datang membuat wanita itu segera berjalan dengan sangat begitu senang karena panggilan pria tersebut.


Devan kini sedang fokus dengan ponsel nya, pria itu belum menyadari keberadaan seorang wanita yang sedang menatap nya dengan tersenyum seringai.


"Tuan Devan ini, dia wanita yang tadi aku ceritakan," jelas Tuan Dirga membuat Devan menoleh.


Devan diam membisu tidak menyangka kalau wanita yang di maksud adalah wanita tersebut, wanita yang di bencinya wanita yang sudah menghancurkan hidup nya, dan wanita yang sudah membuat dirinya gila dan wanita yang akhir-akhir ini kembali mengganggu hari-hari nya dengan segala cara.


BERSAMBUNG