
"Tidak di sangka dunia itu sempet sekali," ucap wanita itu sambil tersenyum tipis menatap ke arah Devan, lalu duduk di hadapan pria tersebut.
"Kalian saling mengenal?" tanya Tuan Dirga dengan penasaran karena merasa tatapan keduanya terlihat berbeda.
"Tentu saja iya," jawab Wanita itu dengan cepat.
"Tentu saja tidak, karena saya tidak pernah mengenal wanita munafik seperti nya," balas Devan dengan ketus tanpa sedikitpun menatap wajah wanita tersebut.
"Oh iya, Sorry mungkin tuan lupa, hanya saya saja yang mengingat nya, kalau begitu kita kenalan kembali agar bisa tahu nama masing-masing, Aku Arneta," jawab wanita itu sambil tersenyum kecut lalu mengulurkan tangannya.
"Devan Agastya Maheswara," jawab Devan tanpa sedikitpun ingin menjabat uluran tangan wanita tersebut, membuat wanita itu mendengus kesal.
Melihat kecanggungan antara keduanya, membuat Tuan Dirga merasa tidak enak hati kini pria itu berdehem untuk mencairkan suasana.
"Bagaimana? apa Tuan Devan setuju dengan model nya?" tanya Tuan Dirga pada akhirnya karena merasa suasananya mencengkam di meja tersebut.
"Cukup meragukan," jawab Devan dengan singkat.
"Apa yang membuat anda meragukan saya? Apa karena masa lalu?" tanya Arneta dengan berpura-pura.
"Jika bisa ganti modelnya saja Tuan, kalau begitu saya ke sana dulu, permisi," pamit Devan, langsung beranjak dari tempat duduk nya tanpa sedikitpun ingin menjawab pertanyaan wanita tersebut, Karena merasa malas dan sesak jika harus berurusan dengan mantan kekasih nya lagi.
Devan melenggang pergi meninggalkan tempat duduk tersebut, tanpa sedikitpun memperdulikan panggilan Tuan Dirga, membuat pria itu mengerutkan keningnya heran, sementara Arneta mengepalkan tangannya geram karena merasa di abaikan.
"Lihat saja nanti, apa yang akan Aku lakukan, akan ku pastikan kau akan menjadi milikku kembali," gumam nya sambil beranjak dari tempat duduk nya, meninggalkan Tuan Dirga yang sedang kebingungan.
"Ada hubungan apa mereka? aneh!" gerutu Tuan Dirga dengan kesal, sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sementara Devan kini sudah berada di tempat acara, lalu menyalami beberapa orang yang dikenal nya, sambil menengok ke kanan dan kiri, mencari supir pribadi nya yang belum kunjung datang, padahal sudah setengah jam gadis itu pamit namun belum ada batang hidungnya sama sekali.
"Dasar Siput, lemot, ke toilet saja lama sekali, apa dia menginap di sana? Atau dia kesasar?" gerutu nya bertanya-tanya dalam hati nya sambil sesekali menyalami orang-orang yang menyapa nya.
Sementara di dalam toilet seorang gadis sedang terlihat kesal sambil menelpon.
"Sudah ku katakan Dedy, Aku sibuk, malam ini Aku tidak bisa, mengertilah," jelas nya panjang lebar sambil berusaha untuk sabar.
"Pokoknya Aku tidak bisa, besok malam deh, iya Si janji," putus nya pada akhirnya, langsung mematikan panggilan sepihak, karena di seberang telepon terus saja memaksa nya untuk hadir di acara kencan buta untuk pertemuannya dengan pria pilihan kedua, Opah dan Omah nya sebagai pengganti Mario.
"Bener-bener menyebalkan! Awas saja, kalau pria nya seperti kemarin!" umpat nya dengan kesal setelah itu langsung keluar dari toilet.
Cery berjalan menuju ke arah di mana bos nya berada, namun yang di lihat kursi yang tadi di duduki bos nya sudah kosong kini berganti orang lain.
"Kemana My Bos?" ucap nya sambil menengok ke kanan dan ke kiri, namun justru malah membuat diri nya kesal karena banyak nya orang berjalan lalu lalang.
"Minggir! Kalian ini menghalangi jalan ku deh," ketus nya langsung menyingkirkan orang-orang yang berada di depan nya.
"Hey, punya mata tidak bisa lihat apa? Orang lagi berdiri main menerobos saja!" sentak kedua pasangan yang merasa terganggu dengan perlakuan Cery.
Cery tidak menggubris perkataan kedua pasangan tersebut, gadis itu berjalan begitu saja karena merasa khawatir dengan bos nya itu.
Langkah kaki nya berhenti pada sosok yang tidak asing baginya, di situ terlihat bahwa Wanita itu sedang menangis sesenggukan memeluk Bos nya itu, tentu menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana.
"Devan Aku mencintai mu kau tahu kan ? Kalau cinta ku hanya untuk mu, Aku menyesal telah meninggalkan mu," itu lah kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu, kata-kata yang seperti waktu itu, Cery Dengar di kantor.
Devan entah mengapa diam saja membeku, tidak menolak pelukan wanita tersebut, bahkan pria itu seperti menikmatinya.
Cery yang melihat hal itu mengepalkan tangannya geram, karena merasa perasaan nya tidak enak, takut Bos nya itu hanya sedang di kelabui saja.
"Kau OG Bar-bar Kurang ajar! Beraninya kau mendorong ku!" sentak wanita itu menatap Cery dengan tatapan tajam, langsung saja berusaha untuk berdiri.
"Dan untuk apa kau berada di sini? Mengganggu urusan orang?" lanjut nya lagi sambil masih menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
"Aku bukan hanya sekedar OG, Aku adalah supir pribadi nya, Aku juga adalah pelindung nya, Aku bisa serba guna, jadi kau jangan pernah, mendekati nya, jika kau tidak ingin berurusan dengan ku!" ucap Cery panjang lebar dengan penuh peringatan.
"Dengarkan semuanya baik-baik, apa ada orang jelek seperti dia adalah seorang supir pribadi? bukan kah dia itu hanya cocok jadi tukang kebersihan? jelek dan culun, benarkan apa yang Aku katakan!" ucap Arneta panjang lebar dengan tersenyum sinis menghina Cery habis-habisan.
"Dan apakah? seorang mantan pacar yang sudah meninggalkan pacarnya demi pria lain? tiba-tiba minta balikan dengan menangis dan memeluk tanpa rasa malu, apakah itu juga tidak di sebut seorang Jal*ng!" balas Cery dengan tak kalah pedasnya membuat Arneta kini berubah menjadi marah.
"Kau berani bermain-main dengan ku!" sentak Arneta hendak menampar Cery namun gadis itu menepis nya.
"Jangan karena Aku adalah gadis culun, kau bisa seenaknya melukai ku, jika kebanyakan gadis culun itu di tindas, tapi di sinilah gadis Culun itu yang akan menjadi penindasan!" ucap Cery dengan aura membunuh nya memuntir tangan Arneta dengan marah.
"Aaaaw! Sialan kau hampir saja membuat tangan ku patah!" pekik Arneta sambil meringis kesakitan.
"Aku akan membalas perbuatan mu!" lanjut nya lagi sambil mendorong Cery yang hendak mendekat ke arah Bos nya itu yang sedang mematung, membuat gadis itu tersungkur jatuh ke lantai.
"Kau beraninya! Ingin bermain-main dengan ku, Aku kali ini tidak akan tinggal diam! tadinya Aku sudah memaafkan mu, tapi karena kau yang mulai duluan, membuat Aku merasa sudah tidak bisa sabar lagi," ucap Cery panjang lebar langsung saja berdiri dan berjalan mendekati wanita tersebut.
"Akhirnya, Aku bisa menarik rambut mu," lanjut nya lagi saat melihat Arneta hendak lari dan berhasil menjambak rambut nya.
"Lepaskan Aku, sialan!" pekik Arneta sambil meringis kesakitan, berusaha untuk lepas dari tangan Cery hingga wanita itu berhasil menendang kaki Cery, membuat Cery melepaskan tangan nya.
"Kau pikir Aku takut dengan mu, haaah! tendangan mu tidak berguna sedikit pun," ucap Cery sambil tersenyum seringai membuat Arneta kini berubah menjadi ketakutan.
Gadis itu langsung saja berjalan mendekat ke arah Arneta mendorong nya hingga membuat wanita itu terduduk di lantai.
"Apa kekuatan mu hanya segitu? Hahaha ternyata Jal*ng seperti mu bisa ketakutan juga!" cibir Cery sambil tertawa terbahak-bahak, tawa yang sangat begitu menggelikan dan menyeramkan, wanita itu baru melihat sisi membunuh dari seorang gadis Culun dan jelek seperti Cery bisa terlihat sangat begitu kejam.
"Aku bukan Jal*Ng, sialan!" Arneta akhir nya berusaha untuk mendorong Cery, karena merasa dirinya tidak aman dan hendak kabur karena merasa malu dan takut jika wanita itu benar-benar, melukai nya.
Namun dugaan Arneta Salah dirinya kalah cepat dengan Cery, gadis itu lebih sigap menangkap tangan nya, dan berhasil mencakar wajahnya hingga berdarah.
hal itu membuat Arneta marah dan terjadi aksi saling menjambak rambut satu sama lain, dan saling memaki.
"Kau yang jal*Ng, aku bukan Jal*Ng, kau hanya gadis jelek dan bar-bar yang tidak pantas untuk Devan,"
"Aku bukan Jal*ng, Kau yang jal*ng dan tidak tahu malu,"
Keduanya saling melontarkan kata-kata umpatan satu sama lain, kejadian itu cukup membuat suasana pesta menjadi kacau, terlebih meja makan yang tadinya rapi kini menjadi berantakan, akibat ulah Cery yang sangat begitu marah.
Arneta benar-benar kalah wanita itu sudah berada di kungkungan Cery, Membuat Devan tidak menyangka kalau Supir pribadi nya itu bakal se bar-bar itu, dengan penuh kesabaran Devan langsung menarik tangan Cery dan menggendong nya layak nya karung beras karena merasa sangat begitu malu dengan apa yang terjadi.
"Lepaskan Aku, My Bos, biarkan saja Aku menghabis wanita Jal*ng itu!" Cery berusaha berusaha untuk minta di turunkan, namun pria itu tidak menggubris sama sekali dan berjalan menuju ke arah parkiran mobil, lalu langsung menyuruh Cery masuk ke dalam mobil nya.
"My Bos, kenapa kau tidak ingin Aku menghabis wanita itu?" tanya Cery setelah melihat Bos galak nya itu diam saja tanpa sedikitpun berbicara.
"Karena Aku tidak ingin kau di penjara, dia bukan wanita biasa dia adalah ular kau, mengerti!" jelas Devan panjang lebar dengan Penuh peringatan.
"Jalankan mobil nya sekarang juga!" lanjut nya lagi dengan nada meninggi membuat Cery mengurungkan niatnya untuk berbicara karena merasa hawa dingin sudah terasa.
Cery langsung saja mengendarai mobil nya meskipun masih banyak pertanyaan yang masih mengganjal di pikirkan nya namun niat nya di urungkan karena tidak ingin membuat Bos nya semakin marah.
BERSAMBUNG