My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Gaji Pertama



"Jadi kamu? biang masalahnya?" tanya wanita paruh baya itu langsung tude poin.


Aku menghela nafas panjang, Aku tidak boleh lemah kali ini Aku harus kembali menjadi pemberani.


"Iya, Tapi Aku tidak sengaja, melakukan nya," jawab ku dengan penuh kejujuran.


"Tante, Devan sudah sadar," ucapan wanita itu membuat wanita paruh baya itu, mengurungkan niatnya untuk memarahi ku, membuat Aku segera menoleh ke arah ranjang My Bos.


Kulihat pria itu mengerjapkan matanya perlahan, Aku juga kini sudah berdiri tidak jauh dari ranjang nya karena Aku juga masih sangat begitu khawatir.


"Permisi sebentar, sepertinya pasien sudah tidak membutuhkan oksigen lagi," ucap seorang perawat dengan ramah membuat ku mundur beberapa langkah.


Kini My Bos terlihat menatap kami satu persatu, pria itu seperti nya sedang berusaha untuk mengingat sesuatu.


"Devan sayang, apa yang terjadi pada mu?" ucap wanita paruh baya itu sambil memeluk My Bos dengan berderai air mata.


"Aku, baik-baik saja, Mah," jawab My Bos dengan pelan.


"Baik-baik saja apanya? Kau hampir meregang nyawa, karena alergi, kan sudah Mama katakan jangan makan sembarangan tapi selalu saja susah di atur!" omel wanita paruh baya itu seperti sedang memarahi anak kecil.


"Sudah lah, Aku pusing mendengar ocehan Mama, Aku sudah dewasa jadi Aku bisa mengurus diriku sendiri!" ketus My Bos sambil mengibaskan tangannya, seakan sedang mengusir, terkesan tidak sopan banget sama orang tua.


"Ck..Dasar anak laknat, tidak ada akhlak di khawatirkan malah begitu!" gerutu wanita paruh baya itu sambil berdecak kesal.


"Ya sudahlah Tante, kita pulang saja, Devan cepat sembuh yah, nanti Aku datang lagi," ucap wanita yang ku ketahui adalah ibu Sanum, wanita itu berusaha untuk menenangkan wanita paruh baya itu.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pulang, sebelum pulang wanita paruh baya itu menatap ke arah ku, hendak berbicara namun suara My Bos membuat nya mengurungkan niatnya.


"Jangan berbicara padanya, biar Aku saja yang akan menuntut nya!" ucap My Bos, yang membuat Aku jadi gemetar.


Kedua orang itu kini sudah keluar dari ruangan itu, kini hanya tersisa Aku, Wiliam dan My Bos saja.


Aku merasa tidak aman dan hendak keluar namun suara dari My Bos membuat ku kembali berbalik badan.


"Jangan pernah kabur dari ku, setelah membuat masalah dengan ku, jangan harap bisa lepas begitu saja!" ucap My Bos sambil tersenyum tipis.


Aku segera berjalan mendekat ke arah ranjang nya, sementara Wiliam dari tadi diam saja seperti patung entah apa yang di pikirkan nya sedari tadi, padahal biasa nya pria itu akan banyak bicara padaku.


"My Bos, Aku mohon jangan penjarakan Aku, Aku akan melakukan apapun asal kau tidak memenjarakan ku," Aku menangis air mata yang seharusnya tidak keluar, kini keluar begitu saja, Aku tidak tahu harus bagaimana lagi? selain memohon padanya, karena Aku tidak ingin membuat Kakek kecewa yang kedua kalinya, terlebih pasti keluarga Dedy akan semakin semena-mena terhadap ku.


"Benarkah? apapun yang Aku inginkan kau ingin melakukan nya?" tanya My Bos sambil menatap ku dengan senyum sinis nya.


"Iya, apapun akan Aku turuti, asalkan kau tidak menuntut ku," jawab ku sambil mengangguk meyakinkan.


"Karena kau sudah membuat ku masuk rumah sakit, kau harus merawat ku hingga sembuh, dan kau juga harus menurut dengan perintah ku tanpa banyak bicara?" ucap My Bos panjang lebar setelah sedari tadi berpikir keras.


"Maksudnya? Aku menjadi pelayan mu gitu? Tanya ku memastikan .


"Iya, Kau harus stand by untuk Bos, tidak ada kata lelah, jika Bos menyuruh mu biasa nya kau sedikit banyak cincong, sekarang kau cukup patuh dan diam saja," kali ini bukan My Bos yang menjawab tapi Wiliam, kedua pria itu seperti nya sudah, punya pikiran kuat, niat banget sepertinya ingin menjadikan ku robot nya.


Aku hanya mengangguk saja dari pada harus kena masalah, meskipun Aku sedikit berat dengan syarat itu tapi Aku tidak ada pilihan lain. Jujur Aku bekerja sebagai supir pribadi dan OG juga sudah seperti pelayan, tapi jika dijadikan pelayan full seperti nya cukup membuat ku sangat repot, itu yang membuat ku sangat berat, tapi lagi-lagi Aku teringat tekad ku yang ingin mendapatkan hati My Bos membuat Aku tidak memusingkan hal itu lagi kini Aku kembali tersenyum seperti biasanya.


*********


Tak terasa waktu bergulir cepat kini Aku sudah bekerja di perusahaan F CORE selama sebulan, dan selama itu juga setelah syarat yang Aku setujui tiga minggu yang lalu, hari-hari ku semakin sibuk saja, Aku bener-bener menjadi robot yang tak kenal lelah, My Bos selalu saja menyuruhku sesuka hati nya, setelah pria itu sudah keluar dari rumah sakit.


Namun di tengah kesibukan nya Aku bekerja di perusahaan F CORE, Aku juga tetep saja harus menghadiri acara perjodohan konyol itu berulang kali, meskipun yang ku lakukan sama yaitu mengerjai mereka, tentu dengan bantuan Arga sahabat ku. Meskipun hal itu berimbas pada Opah Cangkul dan Omah Gayung yang harus menerima hinaan dan cacian dari kedua orang tua para pria itu, yang merasa tidak terima, namun Aku tidak peduli dengan semua itu karena setelah itu Aku selalu saja kabur dan berlindung pada Kakek Anwar.


Siang itu Aku berjalan dengan antusias untuk mencari Arga sahabat ku itu, karena Aku ingin mentraktir nya, berhubung hari ini Aku gajian pertama, jadi Aku ingin merayakan nya, terlebih gaji yang Aku dapat juga cukup lumayan besar. My Bos walaupun galak tapi dia tetep saja memberiku gaji sesuai perjanjian awal, bahkan dia juga menambahkan tips juga, suatu kebahagiaan besar bagiku meskipun pekerjaan nya sangat begitu berat, tapi tidak terlalu merugikan diri ku.


"Arga, Kamu ngapain bersihkan kaki dia? Mau-mau nya jadi babu dia," Aku menarik tangan Arga yang terlihat sedang membersihkan kaki seorang wanita.


"Tidak, harus menjadi babu nya juga kan?" jawab ku sambil mengangkat wajah Arga agar tidak menjadi penakut.


"Kamu itu, selalu saja menjadi pahlawan kesiangan, ikut campur urusan orang saja, kau pikir kau sudah paling hebat!" sentak wanita itu merasa tidak terima dengan perlakuan ku.


Aku langsung menarik tangan Arga tanpa memperdulikan perkataan wanita itu karena tidak ingin mencari masalah.


"Hey, kau sopan sekali? Aku belum selesai berbicara!" teriak wanita itu namun Aku sama sekali tidak peduli dan terus saja berjalan meninggalkan tempat itu.


Kini tak terasa Aku sudah berjalan ke arah sebuah restoran besar yang berada di samping perusahaan, Restoran itu terlihat cukup rame, ada banyak orang kalangan atas yang terlihat memasuki restoran itu.


"Si, kau mau makan di sini? Aku tidak mampu untuk makan di sini, yang ada seluruh gajih ku habis semua hanya karena makan di sini," ucap Arga sambil memundurkan langkahnya saat sudah berdiri di depan pintu masuk.


"Tenang, Aku traktir, kau lupa kalau Aku ini sultan? anggap saja sebagai tanda terima kasih ku karena kau sudah menjadi teman baik Ku," ucap ku panjang lebar berusaha untuk membujuk, Akhirnya dengan ragu Arga pun menuruti keinginan ku.


Kini Aku dan Arga sudah masuk ke dalam, Aku memutuskan untuk duduk di bangku paling pojok, seorang pelayan yang baru datang segera memberikan buku menu, Aku pun tanpa ragu langsung memesan apa yang Aku inginkan dan setelah itu Aku menyodorkan nya pada Arga untuk memilih sendiri apa yang di inginkan nya.


Kulihat Arga tampak ragu, tapi Aku berusaha untuk meyakinkan nya membuat pria itu menurut dan pesan apa yang di inginkan nya.


"Ga untuk mu," ucap ku sambil memberikan sebuah amplop.


"Apa ini?" tanya Arga dengan bingung.


"Buat usaha, ini gaji pertama ku, Aku ingin memberikan nya pada mu," jelas ku panjang lebar sambil tersenyum tipis.


"Si, ini gajih mu, ini hak mu, kau berhak atas apa yang kau terima," tolak Arga sambil menggeleng dengan cepat.


"Buat modal usaha, nanti kalau usahanya Udah lancar Kamu bisa balikin, Aku ngga mau kamu itu menjadi tukang Suruh-suruh terlebih suka di perlakukan seenaknya," jelas ku panjang lebar dengan penuh harap, membuat pria itu menitihkan air mata nya.


"Terima kasih, kau adalah teman terbaik ku, Aku janji akan membuka usaha sesuai yang kau inginkan, setelah usaha ku lancar Aku akan secepatnya mengembalikan uang Mu," janji Arga dengan yakin.


"Gitu dong jangan pesimis, Aku yakin kamu bisa," ucap ku sambil mengangguk mengiyakan sambil ikut tersenyum.


Di sela obrolan ku bersama Arga, seorang pelayan datang membawakan pesanan kami, Aku dan Arga akhirnya makan terlebih dahulu sebelum membahas tentang usah apa yang ingin di jalani nya nanti.


Setelah makan Aku dan Arga akhirnya memutuskan untuk kembali ke perusahaan, karena waktu ternyata berjalan dengan cepat, jam istirahat telah habis, membuat ku dan Arga tidak jadi membicarakan tentang usaha yang kami rencanakan.


Kini Aku bekerja sebagai seorang OG, Aku di suruh membersihkan lantai 2, Aku sudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, jadi berbagai macam sindiran pedas dari Bu Aida atau Sila sudah biasa bagiku, bahkan sekarang skill kerja ku sudah lihay, Aku jadi wanita serba bisa meskipun dalam urusan memasak masih belum becus.


Setelah Membersihkan lantai 2, ternyata waktu berjalan dengan cepat pukul 5 sore Aku sudah di panggil untuk pulang, tumben banget? biasa nya juga malam tapi Aku tidak ingin terlalu banyak bertanya sesuai perjanjian ku waktu itu yang tidak ingin terlalu banyak bicara.


Sepanjang perjalanan, Aku menyetir dengan hening, rasan nya Aku bener-bener menjadi supir seorang Es yang dingin, padahal biasanya Aku selalu saja bawel dan banyak bicara, terlebih Aku sebenarnya masih penasaran dengan ibunya Sanum yang waktu itu sering saja memperhatikan nya.


"Ibunya Sanum itu, istrinya My Bos? Aku merasa ganjal dengan hal ini?" ucap ku berusaha untuk memberanikan diri.


"Dia adik sepupu ku," jawab nya dengan datar membuat Aku merasa terbang tinggi mendapatkan harapan kembali.


"Diam dan jangan kepo lagi," lanjut nya dengan penuh peringatan membuat Aku mendengus sebal, karena pria itu tahu saja kalau Aku ingin bertanya lagi.


Setelah beberapa saat kemudian, kini mobil sudah berada di perataran rumah My Bos, setelah pintu gerbang dibuka. Setelah mematikan mesin mobil, Aku segera membukakan pintu mobil untuk My Bos, setelah itu Aku pamit pulang, namun sebelum menaiki motor ku Aku sedikit menggoda pria itu.


"My Bos, Calon istri mu pulang dulu, besok kembali lagi dengan penuh semangat," goda ku sambil mencium tangan nya, membuat pria itu melotot sempurna, namun Aku segera lari dengan cepat menuju ke arah motor ku, sebelum tancap gas Aku juga mengedipkan sebelah mataku menggoda.


"Dasar, gila!" umpat nya sambil berjalan masuk ke dalam, membuat Aku segera mengendarai motor dengan tersenyum senang.


Aku pulang mengendarai motor sambil bersenandung riya, di tengah rasa lelah ku setidaknya ada My Bos yang selalu membuat ku semangat empat lima, meskipun selalu galak pada ku tapi Aku tidak peduli dengan hal itu.


Tak terasa selama perjalanan Aku bersenandung riya, kini motor ku sudah sampai di perataran rumah Kakek, namun Aku tertegun saat melihat dua mobil mewah terparkir di sana, Aku sudah tidak asing lagi dengan mobil itu.


BERSAMBUNG