
Pagi Menyapa Matahari masih tampak malu-malu untuk memancarkan sinar nya, Devan mengerjapkan matanya perlahan saat merasa berisik dengan suara dering telepon yang terus-menerus berbunyi entah sudah berapa kali telepon nya berdering.
Pria itu memegang kepalanya yang terasa pusing sambil meraba-raba kasur untuk mencari Hpnya, namun hasilnya nihil karena pria itu tidak menemukan keberadaan Hpnya.
Dengan malas dan memegang kepalanya pria itu akhirnya memutuskan untuk duduk dan membuka matanya perlahan, setelah Duduk Devan menengok ke kanan dan kiri memperhatikan seluruh ruangan, dimana Dirinya berada dan betapa terkejutnya saat melihat pakaian nya tidak di kancing.
"Aaaaakhh!" Devan berteriak keras membuat Cery yang tidur di sofa langsung terlonjak kaget dan terjatuh.
"Aduuuuuh! kakek untuk apa pagi-pagi sekali berteriak keras, kan cucu kesayangan Kakek jadi kaget!" pekik Cery sambil berceloteh panjang lebar, berusaha untuk bangun dengan mata yang setengah mengantuk.
"Siput, untuk apa kau di kamar ku!" tanya Devan dengan nada meninggi karena merasa kaget dan terkejut saat melihat supir pribadi nya berada di dalam kamar nya.
"My Bos, kenapa kau ada di kamar ku?" Cery bukan nya menjawab justru malah balik bertanya karena belum sepenuhnya ingat.
"Kamar mu? Lihat ini, ini itu kamar ku, kau telah memperkosaku iya kan?" Jelas Devan panjang lebar sambil menuduh Cery.
Gadis itu menengok ke kanan dan kiri mencari kebenaran tentang apa yang di katakan pria tersebut, lalu segera berdiri dan tersenyum simpul.
"Katakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa berada di dalam kamar ku? Apa benar kau sudah memperkosa ku sampai bajuku juga sudah kau ganti?" tanya Devan dengan beruntun menyudutkan gadis itu ke tembok.
"What memperkosa mu? Tidak salah dengar? Bukan kah seorang wanita yang biasanya di perkosa kau justru malah bilang Aku memperkosa mu, ha-ha-ha!" ucap Cery merasa tidak habis pikir gadis itu terkekeh sendiri.
"Apa kau ingin Aku memperkosa mu?" lanjut nya lagi sambil meraba-raba dada bidang Devan yang kebetulan pakaian nya belum di kancing.
"Apa yang kau lakukan?" sentak Devan dengan tatapan tajam pria itu langsung menepis tangan Cery.
"Ih, kau bilang Aku memperkosa mu, tapi baru di pegang sedikit saja sudah tegang dan marah," goda Cery tanpa sedikitpun merasa takut.
"Katakan pada ku, apa yang terjadi semalam? jika tidak, Aku akan mencekik leher mu ini!" ucap Devan yang merasa kesal langsung menyudutkan Cery kembali ke tembok sambil memegang leher Gadis tersebut.
"Lepaskan dulu tangan nya, My Bos, My Love, Yayang Dedev, kau tidak asik deh," jawab Cery yang tidak henti-hentinya menggoda Bos nya itu meskipun tubuh nya sudah gemetar.
"Katakan dengan jujur dan detail apa yang terjadi semalam? Setelah Aku pergi Ke Club Malam?" ucap Devan dengan penuh peringatan sambil melepas tangan nya yang memegang leher Cery.
"Baik Aku akan jujur meskipun jujur itu terkadang memalukan." Ucap Cery sambil menghela nafas panjang berusaha mengingat kejadian semalam.
Cery pun menceritakan semua kejadian semalam, di mana Bos nya minum hingga mabuk dan bercerita panjang lebar bahkan sampai menangis, hingga dirinya tidak tega meninggalkan pria tersebut.
"Benarkah Aku sampai menangis?" tanya Devan merasa tidak percaya dengan apa yang di ceritakan Cery.
"Tentu saja benar masa Aku berbohong, suer bahkan kau juga menyanyi dengan sangat begitu menghayati," Jawab Cery sambil mengangkat dua jari bahwa dirinya tidaklah berbohong.
"Menyanyi? Memang apa yang Aku nyanyikan?" tanya Devan sambil mengerutkan keningnya heran meskipun sebenarnya kepalanya masih terasa sakit dan Pusing tapi karena pria itu merasa penasaran berusaha untuk tidak memperdulikan rasa pusingnya.
"Lagu apa yah? Sebentar Aku ingat-ingat dulu." ucap Cery sambil berpikir keras karena merasa sedikit lupa.
"Dasar lemot, berpikir saja lambat sekali!" gerutu Devan sambil menghela nafas panjang karena merasa sangat begitu kesal dengan gadis di hadapannya itu yang terlalu banyak berfikir.
"Seperti ini lirik lagunya," ucap Cery setelah merasa mengingat sesuatu.
"Korbankan diri dalam ilusi, Hilangkan rindu yang membelenggu....
Pada malam kutitipkan salam Untuk dirimu yang aku sayang...
Semoga cinta kita 'kan abadi Sampai mati ku akan menanti...." Cery menyanyi kan lirik lagu Rembulan Malam di bagian reff nya saja, dengan suara yang cukup cempreng, lagu yang seharusnya sedih justru malah membuat kacau dan hancur bahkan Devan pun sampai harus menutup telinga nya.
"My Bos, kau mendengar Aku menyanyikan lagu nya tidak? Kenapa kau malah menutup telinga mu, bukan kah lagu nya sangat menghayati?" tanya Cery dengan beruntun sambil menatap Bos nya dengan tatapan kesal.
"Suara mu sangatlah berisik, seperti beo, sudah jelek, hampir saja membuat telinga ku rusak!" jawab Devan menatap Cery dengan tatapan tajam.
"Tapi kan lagu nya..."
"Keluar lah dari kamar ku, Aku sudah mengerti," usir Devan tidak membiarkan Cery berbicara.
"Baiklah Aku keluar, tapi My Bos, apa kau tidak berpikir kalau kau sudah memperkosa ku?" tanya Cery dengan tersenyum tipis.
"Tidak, karena Aku yakin, kaulah yang lebih mesum dari pada Aku, sudah sana keluar sebelum Aku melaporkan mu ke kantor polisi atas tuduhan pelecehan," jawab Devan sambil mendorong gadis itu menuju ke arah pintu.
"Tapi Aku tidak melecehkan mu?" tanya Cery dengan terkejut.
"Keluar sebelum kau menyesal!" perintah Devan dengan penuh peringatan, Membuat gadis itu bersungut-sungut berjalan menuju ke arah pintu keluar.
"Sebagai hukumannya kau harus membuat sarapan pagi untuk ku, Aku ingin di buatkan Inkigayo Sandwich, dan pesankan Aku obat penghilang mabuk!" lanjut nya lagi karena tiba-tiba perutnya terasa lapar.
"Tapi Aku..."
"Ini bukan sebuah pertanyaan mau atau tidak nya, yang harus kau lakukan cukup diam dan kerjakan!" potong Devan dengan cepat saat merasa Cery hendak protes, lalu langsung menarik tangan gadis itu untuk keluar dari kamar nya dan menutup nya dengan keras.
"Dasar pria menyebalkan! Main menyuruh orang seenaknya, tidak tahu apa? kalau Aku tidak pandai dalam urusan dapur!" gerutu Cery dengan sangat begitu kesal.
Dengan terpaksa gadis itu pun membuat apa yang di inginkan Bos nya itu, meskipun Membuat pelayan justru malah menjadi tambah kesal, karena dapur yang seharusnya tidak berantakan kini menjadi berantakan, akibat nya karena Cery yang tidak ingin di bantu oleh pelayan dan tidak juga mau di kasih tahu seperti apa cara membuat Inkigayo Sandwich.
Berulang kali gadis itu gagal karena merasa rasa nya cukup tidak enak dan gosong, hingga ke yang lima kali nya Inkigayo Sandwich buatan Cery sudah berada di atas meja makan.
"Selamat menikmati Inkigayo Sandwich, buatan ku Yayang Dedev, istri tercinta mu sudah membuat nya dengan susah payah, semoga rasanya enak," ucap Cery dengan mengelap keringat nya saat melihat Bos nya sudah duduk di bangku meja makan.
"Kenapa? Aku merasa sangat begitu ragu dengan rasanya yah?" jawab Devan sambil memandang aneh makanan di piringnya itu.
"Dan ingat jangan memanggilku dengan sebutan itu, menggelikan," lanjut nya lagi dengan penuh peringatan.
"Menggelikan apa menyenangkan?" goda Cery tanpa sedikitpun merasa takut.
"Siput, Jangan coba memancing kemarahan ku!" sentak Devan dengan tatapan tajam karena merasa sangat begitu kesal dengan sikap gadis di hadapannya itu yang sangat begitu genit menurut nya.
"Baiklah, jangan menghina sebelum mencoba nya, mungkin terlihat tidak enak, tapi sebenarnya sudah sangat begitu enak sekali, kau kan belum mencobanya," jawab Cery pada akhirnya karena tidak ingin membahas tentang perasaan nya, dan berusaha untuk positif dengan makanan buatannya sendiri itu yang tadi tidak di cicipi rasanya, meskipun sebenarnya merasa ragu juga.
Devan akhir menurut meskipun sebenarnya merasa ragu, cuma karena sedang lapar dengan terpaksa pria itu memakan nya, betapa terkejutnya saat sesuap makanan itu sudah masuk ke dalam mulutnya.
BERSAMBUNG