
Mulut ini terdiam terpaku tidak bisa berucap saat melihat wajah pria yang akhir-akhir ini mengganggu hari-hari ku, siapa lagi? hanya satu nama yang selalu Aku sebut yaitu My Bos, Bos galak yang hari itu meninggalkan ku dengan banyaknya kerjaan kini sedang berdiri di hadapan ku dengan tersenyum manis bahkan mulut nya yang suka berkata ketus kini bisa berkata lembut.
"Devan, kau itu menyebalkan sekali, Aku belum selesai berbicara, tapi kau malah berdiri di kedai Eskrim, untuk apa coba?" suara seorang wanita kini membuyarkan lamunanku.
"Aku ingin membelikan Eskrim untuk Pretty, dia nitip Eskrim pada ku tadi," Jawab nya terdengar sangat begitu ketus seperti biasa.
"Tapi, kenapa kau yang membeli sendiri? Ada Wiliam kan bisa dia yang membeli nya," jelas wanita itu sambil menunjuk ke arah Wiliam yang berdiri tidak jauh dari tempat kami berdiri.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya para pengawal yang menjaga ku, hal itu sontak membuat Aku menoleh terkejut.
"Ih, Kalian ini membuat Aku kaget tahu!" Aku memegang dada sambil tersenyum kecut karena menjadi pusat perhatian orang-orang di sana, karena melihat Aku yang di kawal oleh pengawal yang berderet-deret itu.
"Ah Tuan, terima kasih atas pertolongan tadi,kalau begitu, saya permisi, dan untuk tadi saya minta maaf sudah menabrak anda." kata ku karena merasa tidak nyaman dengan situasi.
"Mmm tunggu!" panggil Bos Devan menghentikan langkah ku, hal itu membuat jantung ini berdebar kencang merasa bingung apakah Bos Devan mengenali ku atau tidak?
"Iya ada apa?" tanyaku berganti mode suara tanpa sedikitpun menatap ke arah wajah pria tersebut.
"Ponsel mu jatuh, Nona," Jawab nya sambil memberikan benda pipih itu ke arah ku.
"Oh iya, sekali lagi terima kasih," kata ku langsung saja mengambil benda pipih tersebut dan bergegas menjauh dari tempat tersebut, namun sebelum itu Aku kembali berbalik arah melihat siapa wanita tersebut, karena Merasa penasaran Aku akhirnya memutuskan untuk menguping terlebih dahulu.
Aku berdiri dari arah mobil ku menatap dari kejauhan ke-tiga orang tersebut yang berdiri di depan kedai Eskrim itu.
"Tidak cukup puas jawaban ku tadi? sudah ku katakan jika kau ingin menerima ku kau juga harus menerima Sanum dan tidak ada kata Cinta di antara kita," ucap Bos Devan menatap wanita itu dengan penuh peringatan.
"Tapi kata tante Novita, Sanum itu bukan anak mu," ucap wanita itu dengan percaya dirinya.
"Devan, Aku mencintai mu, Kedua orang tua kita sudah sama-sama setuju untuk Perjodohan ini, Aku yakin bisa mengobati luka hati mu, tapi untuk Sanum Aku akan mencoba nya," lanjut nya lagi sambil memegang dada bidang Bos Devan.
"Wanita dewasa dan berkelas seperti Angelina saja dia mundur, apa lagi kau, Aku tidak yakin kau mampu melakukan tugas itu dan jangan pikir Aku mau tunduk pada mu, karena seberusaha apa pun kau meracuni Mama ku, Aku akan berusaha untuk menggagalkan rencana mu," Bos Devan berkata sambil menepis tangan wanita tersebut langsung masuk ke dalam kedai Eskrim.
"Oh berarti nasib kita sama, sama-sama di jodohkan," gumam ku dalam hati sambil tersenyum senang.
"Nona, apa yang anda lakukan? Kenapa tidak masuk-masuk?" tanya pengawal yang sedari tadi diam mengawasi gerak-gerik ku.
"Ih Kalian mengganggu saja tahu, Aku ini sedang melakukan misi tapi karena ulah kalian misi ku gagal," sungut ku langsung saja masuk ke dalam mobil.
"Misi apa Nona? Apa misi kejahatan? Siapa tahu kami bisa membantu?" tanya kedua pengawal itu yang sudah dekat dengan ku karena keduanya sudah memahami sikap ku sejak dulu karena mereka yang selalu menjadi bodyguard ku selama ini.
"Kepo deh, sudah sana," jawab ku sambil membuang muka ke sembarang arah karena merasa tidak nyaman dengan tatapan keduanya.
"Nona, sebagai seorang yang selalu menjaga anda, kami merasa prihatin dengan apa yang menimpa anda," ucap kedua nya menatap ku dengan iba.
"Prihatin? Bukan kah Kalian seharusnya senang? Melihat nona nakal seperti ku ini di sakiti?" tanyaku dengan mimik wajah sedramatis mungkin.
"Mana mungkin begitu, kami tahu Nona sangat mengagumi pembalap itu kan? Jadi kami merasa iba dengan anda karena anda tersakiti, tadi kalau Nona tidak menghalangi sudah dapat kami pastikan wajah tampannya sudah babak belur," ucap keduanya dengan ekspresi mengepalkan tangannya geram.
"Aaah sudahlah, Jojo, Jodi, kalau merasa iba dengan ku, katakan saja pada Dedy ku, apa yang terjadi tadi, bila perlu di tambahin juga boleh biar ada bumbu dramatis nya," Jawab ku menatap Keduanya dengan penuh peringatan.
"Baiklah kami menurut Nona," Jawab keduanya mengangguk mengiyakan.
"Tidak, Aku cuma kepo saja, sudahlah kalian ini hanya katakan pada Dedy tentang kejadian tadi saja," jawab ku dengan malas karena merasa terintimidasi oleh keduanya.
"Jangan ngomong apa-apa lagi, aku tidak ingin di ganggu, bangunkan aku jika sudah sampai rumah," lanjut ku lagi saat mereka berdua hendak berbicara.
Sepanjang perjalanan Aku memutuskan untuk memejamkan mata karena merasa mengantuk dan tidak ingin terlalu lama memikirkan kejadian tadi karena merasa malas dan kesal.
******
"Dedy-Dedy!" panggil ku setelah sudah sampai di rumah.
Ku telusuri rumah dengan wajah sedramatis mungkin mencari dimana ketiga orang itu berada.
Ternyata mereka bertiga sedang berada di ruang keluarga melihat kedatangan ku tentu membuat mereka segera berjalan mendekat dengan raut wajah heran.
"Cery, kenapa teriak-teriak? dan kenapa kau menangis?" Tanya Momy dengan heran.
"Dedy, Aku tidak mau di jodohkan dengan Mario, dia pria playboy dan pemain wanita, Aku tidak mau Ded," Aku menangis sesenggukan di peluk Dedy supaya perjodohan itu bisa di batalkan.
"Pasti ini akal-akalan kau saja," jawab Momy dengan tidak percaya.
"Momy, kau tidak mengerti perasaan ku, jika kau tidak yakin kau bisa bertanya pada pengawal yang mengawasi ku apa yang di lakukan nya." Setelah mengatakan itu Aku langsung lari ke kamar dan bersiap untuk kembali ke rumah kakek karena hanya rumah itulah yang paling aman dari terkaman Opah cangkul dan Omah gayung yang tentunya akan mengolok-olok ku.
Setelah beberapa saat kemudian Aku sudah membawa tas rangsel untuk pergi membuat ke-tiga orang yang sedang terbengong-bengong duduk di sofa semakin merasa heran.
"Mau kemana kau?" tanya Dedy dengan suara meninggi.
"Tentu saja mau ke rumah kakek, Dedy Aku sudah berusaha untuk menuruti keinginan kedua orang tua Dedy, tapi Aku mohon jangan jodohkan Aku dengan Mario Holsen, jika Dedy ingin Dedy bisa memilih pria yang lebih baik dari Mario," jelas ku panjang lebar membuat Dedy langsung saja memeluk ku.
"Amazing, putri Dedy sekarang sudah bisa berpikir dewasa, kau memang Cery ku gadis yang pemberani dan tidak mudah untuk di tindas, Dedy mendukung mu," ucap Dedy sambil mengelus kepala ku.
"Ya sudah kalau begitu, Aku ke rumah kakek ya Ded, nanti Dedy katakan saja pada kedua orang tua Dedy itu," jawab ku dengan tersenyum senang karena perkataan Dedy seperti sebuah angin segar bagi ku.
"Kau terlalu banyak berbaur dengan Kakek tua itu, jadi membuat ku merasa kau itu aneh," ucap Ka Bray sambil memegang kening ku.
"Ih, mending Aku aneh dari pada kau mister GAY terong makan terong," cibir ku pada ka Bray yang langsung mendapat sorotan tajam dari pria tersebut.
"Cery Lorenza Irlambang!" teriak Ka Bray dengan sangat begitu marah.
"Momy, Dedy, Cery pergi dulu Good By!" teriak ku langsung saja berlari keluar dari rumah tersebut karena melihat aura menyeramkan dari ka Bray yang mengejar ku itu.
Aku segera masuk ke dalam mobil dengan sangat terburu-buru karena merasa tidak aman.
"Cepetan pa jalankan mobil nya," ucap ku pada supir pribadi Dedy membuat supir itu menuruti nya meskipun merasa heran dan aneh.
"Cery Lorenza Irlambang, kau tidak boleh pergi!" teriak Ka Bray dengan tersulut emosi.
"Good By ka Bray, sampai ketemu Minggu depan," ucap ku sambil melambaikan tangan karena merasa aman dari paksaan ka Bray yang tentunya akan ikut memaksa ku karena ka Bray lah yang akan kena imbasnya jika Aku tidak menurut.
BERSAMBUNG