My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Bekerja Dengan Baik



RUMAH SAKIT


Setelah menghubungi polisi untuk mengurus kedua penjahat tersebut, kini Aku sudah berada di rumah sakit. Aku sedang menunggu Bos Devan yang belum kunjung sadar setelah di tangani Dokter dan Dokternya juga sudah membalut luka yang ada di bagian tangan ku.


Ku ratapi wajah tampan itu yang masih menutup matanya entah mengapa pria itu belum kunjung sadar padahal sudah setengah jam yang lalu Aku menunggu nya.


Aku lagi-lagi tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil Poto bersama di saat pria itu belum kunjung sadar sambil menunggu kedatangan Wiliam, sebagai penyembuh rasa sakit hati ini yang tidak bisa memiliki nya karena Aku tidak ingin menjadi pelakor.


"Si, bagaimana dengan Bos Devan?" pertanyaan Wiliam membuat Aku segera menghentikan aktivitas ku. Entah kapan pria itu sudah membuka pintu yang jelas tiba-tiba sudah berada di dalam.


"Masih belum sadar, entahlah Aku juga tidak mengerti, kata Dokter dia hanya syok saja karena melihat darah." tutur ku panjang lebar sambil mengangkat bahu tidak mengerti.


"Darah? Darah apa?" tanya Wiliam dengan bingung karena Aku tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Aku menghela nafas panjang, setelah itu menceritakan tentang apa yang terjadi, dari preman itu menghadang hingga pergelangan tangan ku tidak sengaja kena pisau dan pingsan nya Bos Devan.


"Ha-ha-ha jadi karena itu Bos Devan pingsan?" Wiliam yang mendengar penuturan ku tertawa terbahak-bahak merasa lucu dengan apa yang Aku cerita kan.


"Iya, Aku juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba dia pingsan, bahkan sampai sekarang belum kunjung sadar." jawabku ikut menahan tawa.


"Tapi Terima kasih loh, berkat keberanian mu, Bos Devan tidak kenapa-kenapa, kalau tidak ada kau mungkin Aku merasa bersalah karena tidak bisa melindungi nya." ucap Wiliam panjang lebar terlihat tulus.


"Wilona, kau kenapa justru malah merasa bersalah jika dia terluka? bukan kah itu bagus untuk mu? Karena dia sering sekali memarahi mu dan menindas mu seenaknya?" tanyaku dengan heran.


"Sebenarnya dia itu orang baik hanya karena suatu hal dia jadi begini, sudahlah intinya Aku hanya di tugaskan untuk menjaga dan melindungi nya, satu hal lagi jangan memanggilku dengan panggilan Wilona." ucap Wiliam mulai kembali ketus, membuat Aku hanya menghela nafas panjang untuk sabar menghadapi pria yang menyebalkan itu.


Setelah beberapa saat Aku dan Wiliam hanya mondar-mandir saja menunggu Bos Devan sadar akhirnya yang di tunggu mengerjapkan matanya perlahan.


"Bos, akhirnya sadar juga dari koma nya." celetuk Wiliam dengan antusias.


"Koma? Memang nya Aku koma berapa lama?" tanya nya terlihat bingung.


"My Bos, koma selama 50 menit lama sekali bukan?" jawab ku sambil menahan tawa.


"Siput, kau kurang ajar sekali menertawakan ku!" bentak Bos Devan merasa tidak terima dengan ucapan ku.


"Jangan marah-marah nanti darah tinggi nya kumat." jawabku dengan santai tanpa sedikitpun merasa takut.


"Wiliam, urus kepulangan Ku sekarang, Aku ingin kembali ke perusahaan." tanpa sedikitpun memperdulikan ku Bos Devan menatap ke arah William.


"My Bos, kau takut dengan darah yang ada di tangan ku yah?" tanya ku sambil menunjukan tangan ku yang sudah di balut perban.


"Tidak, Aku tidak takut, Aku pingsan bukan karena takut darah, Aku hanya pusing karena efek kau mendorong ku." kilahnya sambil memalingkan wajahnya seperti menghindari tatap ku.


"Bohong sekali, My Bos, ngga mau mengaku. Sekaran kau sudah tahu kan seperti apa kehebatan ku?" goda ku sambil mendekatkan wajah ku di hadapan wajah nya.


"Mencari kesempatan di dalam kesempitan, Aku ingin kembali ke perusahaan!" Bos Devan langsung menepis wajah ku, pria itu langsung saja turun dari ranjang nya tanpa sedikitpun ingin menjawab perkataan ku.


"Wiliam, urus kepulangan ku sekarang juga!" titahnya pada Wiliam yang hanya di jawab dengan anggukan kepala.


"Menyebalkan!" gerutu ku dengan kesal.


"Si, kau terlalu berani tanpa sedikitpun takut, bahwa kau dan dia itu siapa? Ha-ha-ha." ucap Wiliam sambil tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah ku yang terlihat kesal.


"Memang nya mencintai orang perlu melihat dari perbedaan di antara kami?" tanyaku dengan heran.


"Kalian ingin bekerja? apa ingin Aku kirim ke gurun pasir?" ucapan Bos Devan seketika membuat nyali kami menciut bahkan Wiliam yang tadinya ceria kini berubah menjadi pucat pasi.


"Tidak, Bos Aku akan mengurus kepulangan mu." jawab Wiliam mencoba mengalihkan pembicaraan dan langsung saja bergegas meninggalkan ruangan tersebut.


PERUSAHAAN F CORE


Kini kami sudah berada di depan perusahaan setelah sedari tadi berada di dalam mobil yang cukup mencengkam karena kemarahan Bos Devan, yang tidak suka Aku dan Wiliam terus saja bercanda, entah sejak kapan kami jadi lebih akrab terlebih tadi William juga duduk di bangku samping kemudi.


"Bekerjalah dengan benar, jangan hanya ucapan saja, Good Aku mendukung mu." ucap Wiliam sambil menepuk pundak ku.


"Terima kasih dukungan nya." jawab ku sambil mengedipkan sebelah mata seperti mengasih kode-kode.


"Lama kelamaan jika kau terus bersama nya, nanti kau ketuluran gila nya dengan dia." ucap Bos Devan langsung saja menarik tangan Wiliam untuk masuk ke dalam lift.


"Dasar menyebalkan, memang nya Aku sebahaya itu apa?" gerutu ku langsung saja berjalan ke arah belakang.


Aku kini sudah berganti pakaian OG untuk memulai pekerjaan, ku lihat jam ternyata sudah menunjukan pukul 11 siang pertanda Aku hanya bekerja sebentar sebelum waktu istirahat.


"Si, kau kemana saja? Dari kemarin ngga ada ku pikir sudah risen?" panggil Arga saat Aku sudah berada di tempat para OG.


"Biasa nasib supir pribadi ya begitulah, harus kesana-kemari, nanti pas jam Istirahat Aku cerita deh, sambil ada yang ingin Aku tanyakan." jawab ku sambil berbisik karena takut ketahuan Bu Aida mengobrol.


Arga pun hanya mengangguk mengerti karena merasa dirinya juga tidak aman.


Jam Istirahat sudah tiba, kini Aku dan Arga sedang berada di kantin.


Aku menceritakan tentang kejadian yang menimpaku hingga pingsan nya Bos Devan tanpa sedikitpun ada yang di tutupi, karena Aku memang sudah menceritakan semua kehidupan ku pada Arga karena, Aku merasa Arga adalah orang yang tepat untuk menyimpan rahasia.


"Kau memang hebat, Aku jadi ingin deh belajar ilmu bela diri dengan Kakek mu." puji Arga dengan ekspresi tidak percaya.


"Boleh, kapan-kapan Aku bisa mengenalkan mu pada Kakek ku." jawabku dengan santai.


"Serius?" tanya Arga dengan ekspresi wajah yang terkejut.


"Yups, ya sudah kalau begitu, kita kembali bekerja seperti nya jam istirahat sudah selesai." jawabku mengangguk mengiyakan, sambil beranjak dari tempat duduk setelah merasa cukup kenyang, bahkan saking asiknya mengobrol Aku lupa apa yang tadi ingin Aku tanyakan pada Arga tentang Bos Devan.


Jam Menunjukkan Pukul 2 siang, Aku kini sudah menghidangkan kopi dan Cemilan, karena tiba-tiba Bos Devan meminta kopi, meskipun orang lain yang di suruh tapi, Aku justru malah yang mengerjakan nya. kucium aroma kopi buatan ku yang sudah ku pastikan kali ini tidak gagal lagi karena Aku sudah belajar cara membuat kopi yang enak.


"Masuk!" suara dari balik pintu sudah terdengar saat Aku mengetuk pintu ruangan Bos Devan.


Aku segera membuka pintu tersebut dengan hati yang berdebar-debar seperti biasanya.


"Siang yang cerah, ku persembahkan kopi penuh cinta ini untukmu." ucap ku sambil tersenyum tipis meletakkan kopi di atas meja Bos Devan, yang sedang terlihat sibuk dengan pekerjaan nya.


"Kau yakin kalau kopi buatan mu enak? Tidak membuat ku keracunan lagi?" tanya Bos Devan menatap ku dengan tatapan tajam.


"Enak tentu nya, Aku sudah belajar dengan baik." jawabku dengan penuh percaya diri.


Dengan ragu Bos Devan mengambil secangkir kopi buatan ku dan menyeruput nya membuat jantung ini berdebar kencang bersiap untuk menerima semprotan.


"Bagaimana My Bos?" tanyaku memastikan setelah melihat ekspresi wajah pria di hadapan ku itu tidak bisa di artikan.


"Lumayan." jawab nya sambil kembali menyeruput kopi tersebut.


"Lumayan apa enak?" goda ku menatap pria itu dengan penuh selidik.


Belum sempat menjawab seorang wanita cantik memakai mini dress langsung saja memeluk Bos Devan tanpa rasa malu.


"Devan Aku merindukan mu, kenapa kau menghindari ku terus?" tanya Wanita itu masih memeluk Bos Devan.


Aku mengamati sosok wanita itu dari punggungnya dan cara berbicara nya seperti bukan wanita yang merupakan ibu dari Sanum membuat Aku merasa kesal dengan wanita tersebut.


"Seseorang yang tidak tahu malu memeluk suami orang, dengan penuh percaya dirinya, itu bisa di bilang pelakor, dan pelakor seperti mu tentu saja harus di hindari karena bisa saja merusak rumah tangga nya dan keluarga kecilnya bisa hancur." Sindir ku panjang lebar terdengar biasa saja namun jika yang mendengar nya pasti sangat menohok hati.


"Kau siapa beraninya berkata seperti itu?" wanita itu langsung saja melepaskan pelukan nya dari Bos Devan dan langsung menghadap ke arah ku.


"Kau." ucap kami berbarengan merasa sangat begitu terkejut.


BERSAMBUNG