
"Kau kenapa?" tanya Wiliam yang sudah berada di ruangan Bos sekaligus sahabatnya itu, setelah tadi bergantian pakaian karena merasa sangat begitu penasaran.
Devan terlihat menyandarkan kepalanya di kursi kerja nya, pria itu tidak seperti biasanya membuat Wiliam tahu kalau Bos nya sedang tidak baik-baik saja.
Wiliam memang orang yang suka usil dan banyak becanda kepada Bos nya, karena suka menyuruh seenaknya, tapi pria itu juga selalu memahami apa yang Bos nya rasakan dan akan menjadi sahabat dan teman terbaik untuk Bos nya jika membutuhkan.
"Bos, Are you okay?" tanya Wiliam untuk kedua kalinya karena sedari tadi Devan hanya diam saja.
"Seperti yang kau pikirkan," Jawab Devan sambil menatap lurus ke depan.
"Neta lagi?" tebak Wiliam sambil tersenyum tipis.
"Kenapa? kau malah membahas tentang wanita itu," sungut Devan dengan sangat begitu kesal jika membahas tentang wanita masa lalunya.
"Ayolah Bos, Aku ini bukan peramal yang bisa tahu apa yang kau rasakan," bujuk Wiliam dengan mimik wajah sedramatis mungkin.
"Biasa, kenangan buruk itu selalu muncul terus, entah kenapa? di tambah, Mama terus saja mengenalkan ku pada wanita lain," jawab Devan sambil memegang kepalanya.
"Apa semuanya ini ada hubungan nya dengan Neta yang sudah menjanda?" tanya Wiliam dengan tersenyum tipis.
"Arneta ingat Arneta bukan Neta." Devan menekankan perkataan Wiliam entahlah setiap ada yang memanggil nya dengan nama belakang wanita itu merasa tidak terusik.
"Ha-ha-ha ternyata kau sensi sekali? jika Aku memanggil nya Neta," ucap Wiliam sambil tergelak karena merasa sangat begitu lucu dengan apa yang terjadi dengan Bos nya itu.
"Wiliam, kau semakin membuat kepala ku pusing!" sentak Devan dengan sangat begitu kesal. Pria itu berjalan menuju ke arah jendela, dan menyibakkan gorden, membuka kaca jendela yang terlihat pemandangan luar dari atas gedung perusahaan.
Devan yang biasanya marah atau memberi hukuman saat Wiliam iseng kini hanya diam saja setelah membentak pria itu tadi, membuat Wiliam tampak heran dengan Bos nya itu.
"Malam tahun baru sebentar lagi," ucap Devan tiba-tiba membuat Wiliam segera mendekat ke arah Bos nya itu.
"Bos, Malam tahun baru masih sebulan lagi? dan seharusnya hidup baru? Bos harus melupakan masa lalu yang ada, bangkit lah dari keterpurukan dan bila perlu menerima wanita yang di kenalkan Tante Novita, siapa tahu bisa membuat hati mu tentram," ucap Wiliam panjang lebar mencoba untuk meyakinkan Bos nya itu.
"Ck.. Tentram kau bilang? bagaimana bisa tentram? jika semua wanita yang di kenalkan Mama ku masuk ke kriteria wanita itu," jawab Devan dengan sangat begitu kesal.
Pergantian tahun selalu menjadi momen bagi setiap orang mengharapkan keinginan baru, yang belum sempat dicapai, pada tahun sebelumnya. Setiap orang berdoa dan berharap yang terbaik untuk masa yang akan datang.
Malam tahun baru selalu dirayakan penuh suka cita oleh masyarakat dunia. Beragam acara digelar di berbagai belahan dunia untuk merayakan tahun baru. Tak hanya itu, pergantian tahun baru juga kerap dijadikan momentum untuk memperbaiki diri, agar menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Namun berbeda dengan Devan setiap tahun baru bagi nya adalah kutukan, pria itu pasti akan selalu berada di rumah sakit seperti yang sudah-sudah, selama 2 tahun terakhir ini.
"Apa kau ingin balikan lagi dengan Neta?" tanya Wiliam lagi dengan tersenyum menggoda.
"Bukan karena dia tapi, aku hanya ingin sendiri, Apa itu salah? Wiliam, kau tahu betapa terpuruknya Aku waktu itu, perlu waktu bertahun-tahun untuk melupakan apa yang terjadi," Jawab Devan panjang lebar matanya menatap lurus ke depan, tiba-tuba pikiran buruknya terlintas kembali di otaknya.
"Aaaah sakit!" pekik Devan sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa di hantam batu.
"Apa perlu Aku panggilkan dokter?" tanya Wiliam dengan sangat begitu khawatir karena merasa sangat begitu bersalah.
"Antarkan Aku untuk duduk saja, Aku tidak butuh dokter," jawab Devan sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Kupikir dia sudah kembali normal? Ternyata Masih sering kepikiran?" gumam Wiliam sambil berjalan mencari obat untuk Devan, karena Devan hanya akan Lebih baik jika meminum obat nya.
FLASHBACK ON
Devan adalah pria sejuta pesona yang selalu tampil ceria, humoris, mudah tersenyum, penyayang dan setia pada pasangannya.
Cinta pertama nya jatuh pada sosok Arneta sosok wanita cantik dan baik hati dan setia bagi Devan, namun semuanya hanya kedok belaka nyatanya wanita itu dengan tega nya mengkhianati nya dan menikah dengan orang lain tepat di hari dirinya terpuruk karena kehilangan kedua orang yang di sayangi nya.
Hari itu tepatnya 2 tahun yang lalu terlihat keempat orang sedang berada di dalam mobil.
Di situ ada Devan yang duduk di kursi kemudi dan di samping nya ada Lolita adik Devan dan di belakang Novita dan Jonatan, kedua orang tua Devan, mereka berempat kini tampak bahagia karena setelah sekian lama tinggal di luar negeri akhirnya bisa menginjakkan kakinya lama di Indonesia dan hari ini sudah setahun mereka menetap di kota kelahiran nya.
"Macet Mah, pasti Arneta dan keluarga nya sudah sangat begitu resah menunggu kita!" umpat Devan dengan kesal karena dia merasa sudah telat dari acara janjian untuk merayakan malam tahun baru bersama keluarga Arneta calon istrinya itu.
"Santai aja lah masih ada waktu sedikit lagi, tenangkan pikiran mu, Papa ngga mau yah terjadi sesuatu," jawab Jonatan dengan santai namun penuh peringatan.
"Kalian ini bisa diam tidak? Aku akan ngebut nih!" sentak Devan menghentikan obrolan keduanya.
"Heh jangan ngebut lah, Aku ngga mau mati muda Ka," Ucap Lolita dengan ketakutan karena tahu seperti apa Kakak nya itu jika ngebut pasti bikin spot jantung.
"Ya Dev, Papa dan Mama mohon jangan ngebut!" seru Novita dan Jonatan bersamaan karena merasa panik.
"Ha-ha-ha Kalian ini sensitif sekali dengan ku, Aku perlu kejar waktu untuk sampai di sana jadi jangan berlebihan deh," Devan bukan nya menghentikan aksinya justru malah tertawa terbahak-bahak merasa sangat begitu senang dengan ketakutan ketiga nya.
"Devan, kau itu nakal sekali, jangan anggap lalu lintas itu main-main, Papa tahu skill menyetir mu tidak selihai Papa!" sentak Jonatan dengan mengejek.
"Kalau tahu begini tadi suruh Pa Ardi saja yang menyetir jangan, Ka Devan," gerut Lolita ikut tegang dengan apa yang di lakukan Kakak nya itu.
"Jiah Kau, punya Adik Laknat dan kurang ajar sekali kau, bisa-bisanya kau menghina kemampuan ku," Devan yang kesal menoyor kepala Lolita dengan kerasnya.
"Ih sakit tahu!" pekik Lolita langsung saja membalas perlakuan kakak nya dengan mencubit pinggang Devan dengan kerasnya.
"Aaaaaw! Sakit, kau ganas sekali dengan kakak tampan mu ini!" pekik Devan sontak mengaduh dan kembali membalas perlakuan adiknya itu dengan melempar bantal, keduanya justru malah saling membalas satu sama lain nya tanpa sadar bahwa mereka sedang berada di dalam mobil.
"Dasar kakak jahat, Aku tidak mau membantu mu lagi saat di hukum Papa!" umpat Lolita dengan kesal.
"Dasar Adik Laknat, Aku juga tidak sudi meminta bantuan pada mu," Jawab Devan tak kalah sengit nya.
Devan dan Adiknya memang seperti kucing dan tikus sebentar akhur sebentar berantem, namun sebenarnya keduanya saling menyayangi satu sama lain nya.
Novita dan Jonatan tampak menghela nafas panjang berusaha untuk sabar menghadapi kedua anak nya itu.
"Devan, Lolita, Ayolah jangan bertengkar di dalam mobil, kalian kan sudah sama-sama dewasa bukan anak kecil lagi, Mama dan Papa takut tahu!" ucap Novita dan Jonatan penuh peringatan.
"Dia duluan yang mulai!" tunjuk Devan menatap Lolita dengan kesal.
"Loh, kok Loli sih? Kan Ka Devan yang salah, hayoo siapa yang lagi kasmaran tadi!" jawab Lolita dengan tersenyum menggoda tanpa sedikitpun marah.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kau itu tidak asik," sungut Devan sambil memalingkan wajahnya karena merasa malu dengan adik nya itu yang sudah mulai jahil.
"Aku yang tidak asik? Atau Ka Devan yang sudah tidak sabaran ketemu dengan kekasih pujaan hati," goda lolita lagi dengan tersenyum Penuh arti.
"Berhenti menggombal deh, Aku sedang fokus menyetir," ucap Devan berusaha untuk biasa saja.
"Loli, sudah jangan usil, Mama merasa perasaan Mama tidak enak deh," ucap Novita berusaha untuk menghentikan Putrinya itu yang sedang mengganggu konsentrasi Devan.
"Aaaah Mama, sama saja seperti, kakak Jahat ini, tidak asik!" Lolita berkata sambil Memalingkan wajahnya ke arah lainnya.
"Terkadang situ yang salah, terkadang situ juga yang ngambek," sindir Devan membuat Lolita mendengus kesal.
"Kau yang menyebalkan!" Ucap Lolita sambil melempar bantal ke arah wajah Devan dengan sangat begitu kesal.
"Loli? Kau itu bagaimana sih? Hampir saja membuat nyawa kita hampir melayang!" pekik Devan karena merasa terkejut dengan apa yang adiknya lakukan sontak membuat dirinya hampir menabrak mobil yang ada di depan nya.
"Sory Aku tidak bermaksud," jawab Gadis cantik itu merasa bersalah.
"Jangan di ulangi lagi, ingat keisengan mu itu bisa membahayakan keselamatan kita dan orang lain juga," seru Jonatan masih memegang dadanya karena terkejut.
"Sudah sebentar lagi juga sampai, ini semua karena macet tadi, jadi sulit untuk sampai lebih cepat," ucap Devan berusaha untuk menenangkan.
"Devan, Awas di depan ada truk, sepertinya Remnya Blong!" pekik Jonatan yang melihat ke arah Devan sontak membuat Devan yang sedang menatap ke arah lain langsung menoleh dan berusaha untuk menghindar, namun naas truk itu lebih cepat dari Devan.
"Aaaaaah! Papa! Mama!"
Braaaaak...
BERSAMBUNG