My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Pulang Ke Rumah



Kini Aku sudah keluar dari ruangan Bos Devan dengan sangat begitu lesu, entah sudah berapa lama, Aku berada di ruangan tersebut yang jelas sejak kejadian menimpa tadi siang Bos Devan tidak kembali ke ruangan nya.


Aku segera masuk ke dalam lift untuk menuju lantai dasar, betapa terkejutnya Aku dan ternyata sudah sepi tidak ada satu orang pun yang berada di tempat tersebut.


Aku Akhirnya memutuskan untuk langsung saja berjalan untuk berganti pakaian dan mengambil tas ku, yang Aku titipkan di ruangan para OG dan bergegas untuk pulang dan baru Aku sadari ternyata hari sudah berganti malam.


"Nona baru pulang? jam segini?" tanya satpam penjaga yang berada di parkiran mobil.


"Bapa, melihat Bos Devan tidak?" tanyaku memastikan karena Aku hanya melihat mobil nya saja.


"Dia menitipkan mobilnya kepada saya, Tuan Devan sudah pulang bersama tuan Wiliam, ini kuncinya," jelas satpam itu panjang lebar sambil memberikan kunci mobil kepada ku.


"Terima kasih, Pa," pamit ku sebelum Aku menaiki mobil, meskipun dalam hati Aku memakai dan mengumpat kesal Bos ku itu, bagaimana tidak kesal? karena setelah Aku di suruh membereskan ruangan nya, dia juga meminta ku bertanggung jawab atas berkas yang Aku rusak untung nya Aku pandai dalam hal Copy paste meskipun memerlukan waktu yang cukup lama.


Sepanjang perjalanan Aku terus mengumpat hingga sampai di perantara rumah Bos Devan, Aku juga terus mengumpat karena berulang kali kesandung, terlebih Aku juga kesal dengan satpam penjaga yang tidak langsung membukakan pintu gerbang, saat Aku telakson berulang kali, hingga membuat Aku harus turun dan memencet Bel berulang kali.


"Hari yang paling buruk!" umpat ku setelah meninggalkan rumah Bos Devan yang tampak sudah sepi.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Aku yang kesal masih mengumpat dengan apa yang terjadi hari ini, namun tiba-tiba Aku justru malah di kejutkan dengan mobil yang berada di depan rumah Kakek.


"Mobil Dedy? untuk apa Dedy kemari?" dalam hati Aku bertanya-tanya.


Dengan panik Aku segera memarkirkan motor dan segera melepas kaca mata dan gelungan rambut ku membiarkan rambut ku tergerai, mengelap apa yang ada di wajah ku.


"Si, kau ternyata ada di sini." tepukan seseorang bersama suara sontak membuat jantung ku hampir saja melompat dari tempat nya.


"Astaghfirullah hal adzim, kakek, mengagetkanku saja." ucap ku sambil memegang dada saat menoleh ternyata itu Kakek Anwar.


"Habis nya Kakek melihat motor sudah terparkir di depan rumah, tapi orang nya nggak ada, malah bersembunyi di sini," jelas Kakek panjang lebar.


"Kek, untuk apa Dedy kemari?" tanyaku memastikan tanpa sedikitpun memperdulikan perkataan Kakek.


"Dedy mu? tentu saja ingin menjemput mu, Ayo masuk," ajak Kakek tanpa sedikitpun ingin menjelaskan.


"Kakek tidak cerita ke Dedy kan?" tanyaku memastikan lagi.


"Tidak," jawab Kakek dengan singkat langsung saja menarik tangan ku untuk masuk ke dalam.


"Putri Momy, dari mana saja? Jam segini baru pulang." Baru sampai di depan pintu Aku sudah di sambung oleh pelukan Momy Deya.


"Momy, kenapa tidak memberitahuku? kalau mau berkunjung ke sini?" tanyaku berusaha untuk tenang.


"Memang nya kalau memberitahu, kau akan mengangkat panggilan? di telpon berulang kali saja kau susah sekali." bukan Momy yang menjawab tapi Dedy yang menjawab sambil menatap ku dengan intens.


"Iya Ce, apa sih? yang kau kerjakan sampai jam segini baru pulang?" tanya Ka Bray ikut menimpali.


"Ya bekerja," Jawab ku berusaha untuk menutupi kegugupan ku.


"Tapi, Apa yang kau kerjakan? Tahukah kami sangat begitu kesepian setiap hari tanpa ada celotehan mu." ucap Ketiganya berbarengan langsung saja memeluk ku dengan erat.


"Momy,Dedy, Ka Bray, Kalian ini membuat ku sedih tahu, Aku kan baru 4 hari di sini." jawab ku sambil mengeratkan pelukan ketiganya dengan air mata yang membasahi wajah ku.


"Pulang yah, kami tidak akan posesif lagi, sungguh," ucap ke-tiga nya dengan Penuh harap.


"Hanya 2 hari saja yah, tapi nanti hari Senin Aku kemari lagi," pintaku pada ketiga nya.


"Kenapa? Apa yang kau sembunyikan?" tanya Ka Bray dengan menyelidik.


"Apa nama perusahaan nya?" tanya Dedy menatap ku dengan tatapan menyelidik.


"Aku bau asem, Aku mandi dulu," jawab ku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tangan mu kenapa?" tanya Dedy memegang tangan ku saat Aku hendak melangkah masuk, hal itu sontak membuat Aku tegang dan bingung dengan apa yang harus Aku katakan.


"Itu tidak Papa Dedy ini hanya luka kecil," jawab ku langsung saja melangkah masuk karena tidak ingin terlalu di pertanyakan.


********


Kini Aku sudah berada di dalam mobil setelah tadi Dedy mencecar ku untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, namun Aku hanya mengatakan bahwa tangan ku karena kecerobohan ku yang tidak hati-hati, ya meskipun hal itu justru malah membuat Dedy semakin khawatir dan tidak ingin mengizinkan ku kembali ke rumah Kakek tapi Aku mencoba untuk meyakinkan.


Selama perjalanan Aku memilih untuk diam sementara ke-tiga nya justru malah berceloteh panjang lebar bagaimana sepi nya rumah tanpa kehadiran ku hingga kadang Momy yang bermain dengan para pelayan, tapi Aku hanya menjadi pendengar yang baik saja tanpa sedikitpun ikut menimpali.


Tak terasa mobil sudah berada di pelataran rumah, Aku segera turun terlebih dahulu dan memandangi rumah yang sudah 4 hari ini Aku tinggalan, Ada rasa rindu yang teramat dalam pada rumah tersebut.


"Ayo masuk, jangan di pandangi saja kau pasti lelah," ajak Ketiga nya membuat Aku menurut.


Duaaar....


"Astaghfirullah hal adzim," Aku terkejut dengan apa yang Aku lihat karena setelah Aku berada di depan pintu masuk tiba-tiba ada balon yang meletus di iringi taburan.


"Selamat datang kembali, Nona Cery." Sambut para pelayan yang sudah berjajar rapi menyambut kedatangan ku.


"Hay Kalian-kalian, membuat ku terkejut tahu, untung nya jantungku ngga copot, Kalau sampai copot Kalian mau tanggung jawab?" Aku menatap mereka dengan sorot mata tajam.


"Maat, kami hanya menjalankan perintah," semuanya kini menunduk ketakutan.


"Ha-ha-ha Aku becanda, bagaimana? Apa Kalian merindukan ku," Aku tergelak sambil menatap mereka dengan menyelidik.


"Tentu," jawab semua nya dengan singkat.


"Pasti pura-pura, justru malah senangkan tidak di kerjain lagi?" goda ku pada mereka semua.


"Sudah Cery, kau malah menghambat waktu, ini sudah malam kau istirahat saja, bermain dengan mereka nya besok saja," ucap Dedy yang mengerti jika Aku mengobrol dengan pelayan tidak ada habis nya.


Aku menurut saja berjalan menuju ke arah tangga di mana kamar ku berada.


"Besok saja, nanti Cery Syok jangan terburu-buru," kudengar Dedy dan Momy sedang berbisik-bisik.


"Tapi Dedy, bukan kah lebih cepat lebih baik," ka Bray juga ikut menimpali dengan berbisik.


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanyaku dengan heran.


"Tidak ada, besok saja ini sudah malam, selamat istirahat," jawab Dedy mengelus rambut ku dan langsung saja bergegas menarik tangan keduanya yang terlihat mematung.


Aku tidak memperdulikan hal itu langsung saja membuka pintu dan menatap seluruh ruangan kamar ku yang terlihat sangat begitu rapi seperti biasanya.


"Ah Tedi, Aku merindukan mu, bagaimana? Apa kau selama Aku tinggal tidak membuat masalah?" tanyaku pada boneka beruang besar yang Aku beri nama Tedi.


"Tentu saja Aku membuat masalah dan merasa kesepian," ucap ku menirukan suara anak kecil.


Aku terkekeh sendiri dan langsung memeluk boneka itu dengan penuh kerinduan tanpa berganti pakaian rasa kantuk tiba-tiba sudah mendera.


BERSAMBUNG