My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Ketakutan Cery



POV Cery


"My Bos!"


Aku terpekik melihat My Bos kini sudah terjatuh di lantai, yang membuat ku panik saat melihat wajahnya sudah memerah dengan bercucuran keringat.


Aku langsung mendekat ke arah nya, kulihat dia belum sepenuhnya pingsan.


"My Bos, kau kenapa? Jangan membuat ku merasa bersalah?" tanya ku sambil berderai air mata, karena merasa tidak sanggup dengan apa yang Aku lihat.


"Aku alergi Seafood, panggil Wiliam, untuk mengantarkan Aku ke dokter," jawab nya dengan suara yang terdengar lemah, ku lihat dia terus saja memegang kepalanya.


Secepat kilat Aku berusaha untuk menghubungi Wiliam, namun sialan nya Wiliam sama sekali tidak mengangkat panggilan dari ku, Aku segera berlari ke depan untuk meminta bantuan pada wanita tadi, namun terlihat sepi, mungkin semua, orang sedang mencari makan karena ini sudah jam makan siang.


Kepanikan terus melanda ku, saat ku lihat My Bos sudah menutup mata nya, Aku langsung menghampiri nya kembali, kulihat dia masih berusaha untuk menyadarkan dirinya meskipun Aku lihat dia terlihat pusing.


Akhirnya dengan bingung, Aku berinisiatif untuk menggendong nya, karena Aku sudah tidak tega melihat nya.


Ku angkat tangan nya agar dia duduk, lalu ku sampirkan tangan nya di bahuku, ku dengar dia sedikit berusaha untuk sadar.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya nya dengan lemah.


"Naiklah ke punggung ku, stop, jangan banyak berbicara, Aku akan membawa mu ke rumah sakit terdekat," ucap ku dengan yakin sambil berusaha untuk mengangkat tubuh nya.


Pria itu berusaha untuk memberontak, namun karena Aku sudah berdiri akhirnya dia pun mengeratkan pegangannya di leher ku, Aku berlarian keluar menuju ke arah lift, Aku bahkan tidak merasa berat atau bagaimana pun, mungkin karena Aku sudah terbiasa mengangkat benda berat saat belajar ilmu bela diri bersama Kakek. Membuat tubuh ku menjadi kuat.


Setelah keluar dari lift Aku segera berlarian ke luar, kulihat ada beberapa karyawan yang melihat ku, namun ku trobosan saja karena Aku tidak ingin terlambat.


"Awas minggir, minggir!" teriak ku saat ada beberapa karyawan menghadang langkah ku.


"Hey, apa yang terjadi pada Tuan? Kau ingin melakukan apa? gadis Alien?" tanya salah satu di antara mereka menghadang langkah ku di depan pintu, membuat ku sedikit gemetar.


"Minggir, jika tidak Aku tendang milik mu!" ketus ku dengan kesal karena semakin mereka menghalangi jalan ku, maka semakin tipis harapan My Bos untuk cepat sampai di rumah sakit.


Mereka tidak mau minggir membuat ku semakin panik, apa lagi banyak karyawan mulai berdatangan pertanda jam istirahat sudah habis. dengan keberanian, Akhir nya ku tendang milik nya menggunakan kaki ku meskipun aga kesusahan dengan Aku menggendong My Bos.


"Hay, sialan, gadis Alien, awas kau, sudah membuat milik ku tidak berfungsi!" terik nya dengan keras namun, Aku segera lari ke arah parikiran motor dengan tergopoh-gopoh menggendong My Bos yang terlihat sudah tidak sadarkan diri.


Aku segera naik ke motor ku dan langsung tancap gas, untung nya pintu gerbang sedang di buka memudahkan ku langsung keluar tanpa kendala, meskipun dari arah belakang terus berteriak heboh mengejar ku.


Aku mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, karena Aku sudah sangat begitu panik, suasana jalanan kawasan ibukota kali ini cukup padat, tapi Aku tetep leluasa mengendarai dengan ngebut, Aku tidak peduli dengan orang yang merasa terganggu dengan ku, karena Aku mengendarai motor dengan ugal-ugalan, sehingga menyebabkan berisik telakson kendaraan lainnya.


Perjalanan yang seharusnya memakan waktu 30 menit kini menjadi 15 menit, Aku berteriak heboh saat Aku mengangkat motor ku hingga masuk ke lobby rumah sakit.


"Minggir, minggir, awas!" pekik ku dengan keras.


"Aaaah"


Braaak...


Suara teriakan ku di ikuti tubuh ku yang menabrak tembok membuat motor ku kini menindih tubuh ku, sementara My Bos entahlah sudah di mana.


"Kalau mengendarai motor yang bener, jangan ugal-ugalan, untungnya tidak ada korban jiwa," samar-samar ku dengar suara seorang pria, sambil mengangkat motor ku, Aku berusaha untuk mengembalikan kesadaran ku meskipun kepala ku sedikit keliyengan.


"Terima kasih, dokter, sory sudah membuat rumah sakit ini heboh," ucap ku sambil berusaha untuk membenarkan penampilan ku, lalu segera berdiri.


"Tuh, dia ada di ranjang dorong," jawab dokter itu sambil menunjuk ke arah ranjang dorong, membuat ku menghela nafas lega.


"Tolong dia Dok, dia sangat membutuhkan pertolongan sekarang," pinta ku dengan penuh harap, membuat dokter itu mengangguk mengiyakan.


"Bereskan kekacauan yang ada, kau juga harus ganti rugi, kalau begitu permisi, Aku akan segera menolong nya dengan segala usaha ku," ucap dokter itu panjang lebar sebelum berlalu ke arah UGD.


Aku pun akhirnya melakukan apa yang dokter itu suruh, ku taruh motor di parikiran, kulihat motor Kakek banyak yang lecet, pasti Aku akan kena marah juga olehnya, Diriku benar-benar merasa panik dalam waktu sekejap pikiran ku menjadi pusing sendiri, kenapa Aku selalu saja membuat onar berulang kali? Apa lagi My Bos kini sakit juga karena Aku, Aku merasa takut sendiri kini wajahku menjadi tegang, dengan tangan gemetar Aku memutuskan untuk menunggu di depan ruang UGD sambil terus berdoa.


Di saat Aku sedang ketakutan, tiba-tiba HP ku berdering, ku lihat Wiliam menelpon, dengan cepat Aku segera mengangkat panggilan itu.


"Si Tompel, apa yang sudah kau lakukan pada Bos Devan? Kau ingin membawanya kabur ke mana!" baru saja Aku mengangkat panggilan itu, suara Wiliam sudah terdengar menggelegar di sana.


"Wilona, tenangkan dirimu dan jangan banyak bertanya. datang lah ke rumah sakit Medika, Aku sedang berada di sini," jawab ku langsung tude poin, karena merasa takut sendirian.


Secepat kilat pria itu langsung mematikan panggilan sepihak membuat Aku hanya menghela nafas panjang, berusaha untuk sabar.


Aku terus saja mondar-mandir tidak jelas, karena bagiku ini pertama kalinya Aku menghadapi masalah sendirian, biasa nya di saat Aku membuat kesalahan atau masalah kedua orang tua dan kakak ku pasti akan ada di samping ku, tapi Aku kini sendiri, ternyata ketakutan yang selama ini, Dedy rasakan kini Aku rasakan, Dedy sangat takut jika Aku tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan luar, karena bagi nya lingkungan luar cukup kejam untuk ku.


Aku akhirnya menangis juga karena merasa, merindukan Dedy dan Momy, dan merasa hanya mereka lah tempat yang bisa membuat ku kuat, Aku menyesal tidak pernah mendengarkan perkataan Dedy yang melarang ku hidup mandiri, meskipun dengan sikap posesif nya kedua orang tua dan kakak ku, Aku merasa aman dan nyaman.


Namun di saat Aku sedang terisak sambil meringkuk di pojokan, ada seorang pria menepuk pundak ku, membuat Aku menoleh, dan merasa terkejut ternyata Wiliam sudah berdiri di sana, menandakan Aku sudah cukup lama menangis.


"Si Tompel, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau menangis?" tanya nya dengan beruntun membuat Aku hanya menunduk saja dengan merasa ketakutan.


"Katakan, padaku, jangan lemah seperti ini?" ucap Wiliam lagi sambil menggoyangkan tubuh ku, membuat Aku akhir nya segera berdiri dan berjalan menuju ke arah tempat duduk.


"Dia, Alergi Seafood, Aku tidak tahu kalau dia Alergi, Aku memberinya gulali cumi, dia sangat menyukai nya, tanpa Aku tahu dia Alergi," jawab Ku panjang lebar sambil menunduk.


"Apa? Alergi Siput?" pekik Wiliam dengan terkejut.


"Alergi Seafood, Bukan Siput," jawab ku membenarkan ucapan Wiliam.


"Sama saja, kau itu tidak memberi tahu diriku terlebih dahulu, selalu seenaknya saja bertindak, kalau begini siapa yang repot coba," gerutu Wiliam sambung menatap ku dengan tatapan tajam, Aku hanya diam saja, karena Aku merasa Aku salah, mulut yang biasanya banyak bicara kini terasa kelu.


Berselang beberapa menit kemudian, ruangan UGD sudah terbuka, menampakkan seorang dokter sudah keluar dari ruang itu, Aku dan Wiliam segera berjalan menghampiri dokter itu.


"Bagaimana, keadaan nya?" tanya Wiliam langsung tude poin.


"Alhamdulillah, untung nya cepat segera di bawa kemari, jadi cepat mendapatkan pertolongan pertama, Kalau terlambat sedikit bisa saja tidak bisa tertolong," terang dokter itu panjang lebar membuat ku menghela nafas lega, karena merasa tidak akan di salahkan lagi.


Setelah menjelaskan itu dokter segera membuka pintu lebar-lebar untuk memindahkan My Bos ke ruang rawat, Aku dan Wiliam hanya diam saja melihat seorang pria di atas ranjang dorong dengan beberapa alat medis di sana.


Wiliam dan Aku yang biasa nya sering adu mulut kini hanya diam saja, setelah beberapa lama menunggu di ruangan My Bos, canggung, panik dan tegang itu yang ku rasakan saat ini, terlebih sudah cukup lama Aku menunggu My Bos membuka matanya, namun sama sekali pria itu masih setia menutup matanya.


Hingga tiba-tiba ada dua orang wanita menerobos masuk, dengan raut wajah panik dan khawatir, melihat kedatangan dua wanita itu membuat Aku yang sedang duduk langsung reflek berdiri.


"Apa yang terjadi? Pada Devan Wiliam?" tanya seorang pria paruh baya yang Aku kenal itu adalah Mama dari My Bos dan satu wanita itu yang berdiri di samping nya adalah wanita yang ku ketahui adalah ibu Sanum.


Wiliam bukan nya menjawab justru malah menatap ke arah ku, membuat kedua nya ikut menatap ke arah Aku, seketika Aku menjadi gemetar di buatnya.


BERSAMBUNG