My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Ternyata Marion Holsen Orangnya



Tak terasa waktu begitu cepat, setelah perdebatan sengit di pagi itu sejak siang hingga saat ini, Aku lebih memutuskan untuk diam di dalam kamar. kini Aku sudah di dandani dengan sangat begitu cantik oleh Momy Deya, wanita itu benar-benar bersemangat untuk mendandani Ku padahal acara makan malam nya hanya di rumah lantas Kenapa? harus repot-repot ber make-up dengan berlebihan.


"Sudah Momy Aku sudah cantik," sungut ku saat Momy masih saja memperhatikan penampilan ku.


"Sebentar lagi," jawab Momy sambil merapikan dress yang Aku kenakan.


"Momy, kenapa harus dandan seperti ini? Ini bukan diri ku?" tanyaku saat melihat wajah ku di cermin dengan make-up sangat begitu berlebihan.


"Sayang, kau itu harus biasakan tampil feminim, biar banyak yang tertarik dengan mu, dan kurangi kebiasaan buruk mu itu yang suka makan permen karet," celoteh Momy panjang lebar.


Aku hanya berdecak saja tanpa sedikitpun ingin berbicara, karena jika berbicara dengan Momy yang ada justru malah Aku yang kalah argumen dengan nya karena Momy lebih pandai berbicara.


Kini Momy menggandeng ku keluar dari kamar setelah mendapat kabar Kalau keluarga dari calon mempelai pria sudah datang.


"Ce, Kau cantik sekali, jika bukan karena kau adik ku sudah dapat ku pastikan akan mengurung mu di kamar, tanpa sedikitpun membiarkan pria lain memiliki mu," ucap Ka Bray sambil tersenyum menggoda ke arah ku.


"Jadi, kau jatuh cinta pada Adik mu sendiri? Jika iya apa kau mau melakukan sesuatu untuk ku?" tanyaku dengan beruntun tak kalah menggoda nya sambil mengedipkan sebelah mata.


"Apa?" tanya Ka Bray dengan heran, saat melihat gelagat aneh dari senyuman ku.


"Gantikan Aku menikah, bukan kah kau bisa membuat Aku tidak di miliki orang lain." bisik ku di telinga Ka Bray sambil tersenyum seringai.


Hal itu justru malah membuat raut wajah Ka Bray kini berubah menjadi masam.


"Ha-ha-ha, kau kenapa? Malah berubah seperti itu?" tanyaku sambil tertawa terbahak-bahak merasa lucu melihat Ekspresi wajah Ka Bray.


"Kau pikir Aku ini pria Apaan? terong makan terong? Dasar adik kurang ajar beraninya menertawakan ku!" ucap ka Bray dengan tidak terima.


"Nah itu mengaku sendiri tanpa Aku bilang, berarti memang benar ka Bray itu memang terong makan terong," Jawab ku sambil cengengesan.


"Kau itu, terlalu banyak dekat dengan kakek tua itu, makan nya otak mu itu kotor terus, mengatai ku yang tidak-tidak," sungut ka Bray langsung saja menoyor kepala ku.


"Ka Bray, kau jahat sekali membuat kepala adik mu benjol," pekik Ku sambil menunjukkan wajah menyedihkan .


"Salah sendiri macam-macam dengan ku." Ka Bray Bukan nya prihatin dengan ku justru malah tersenyum senang.


"Dedy, lihat putra mu, nakal," adu ku pada Dedy Angga yang sedari tadi diam saja.


"Sudah-sudah, kalian ini justru malah menghambat waktu tahu!" ucap Dedy sambil geleng-geleng kepala tanpa sedikitpun memperdulikan Aku yang sedang merajuk.


"Ka Bray, yang salah dia yang memulai duluan." ucap Ku sambil menunjuk ke arah Ka Bray yang masih menahan tawa.


"Sudah, ayo kita turun, Omah Ratih pasti sudah ngedumel," Ajak Momy Deya yang tidak ingin berlama-lama dan langsung saja menggandeng tangan ku menuruni anak tangga.


"Eh, kalian ini di suruh manggil keduanya malah nginep," omel Omah Ratih pada Dedy Angga dan Ka Bray saat kami baru sampai di ruang makan.


"Maaf Mah, biasa nunggu perempuan dandan, Mama kayak nggak pernah muda aja," jawab Dedy sambil tersenyum tipis.


Ku ratapi ruang makan yang begitu Penuh dengan hidangan dan ku lihat ada tiga orang yang sedang duduk di sana, sudah ku pastikan kalau dua orang itu adalah calon mertuaku dan satu yang hanya ku lihat dari samping adalah pria yang akan di jodohkan dengan ku. Hati ini seolah ingin lari saja dari kenyataan bahwa Aku tidak ingin di jodohkan dengan siapapun karena Aku hanya menginginkan Bos ku itu.


"Cery sayang, kenapa diam saja? Ayo mendekat ke sana." panggil Omah Ratih langsung saja menggandeng tangan ku menuju ke arah meja makan.


"Cih, hanya karena ada maunya kau menyayangiku, giliran setiap hari kau selalu saja mengusik ku," umpat ku dalam hati sambil menunjukkan wajah kesal.


"Jangan menunjukkan ketidak sukaan mu, ingat tersenyumlah jangan membuat dirimu malu sendiri," bisik nya saat menyadari perubahan wajah ku membuat Aku hanya menghela nafas saja.


"Ini Cery, cucu paling cantik yang saya miliki," ucap nya memperkenalkan ku pada keluarga pria tersebut.


"Wah cucu anda cantik juga, Nyonya," puji wanita itu menatap ku sambil tersenyum senang.


"Ayo bersikap baik lah, jangan mempermalukan diri mu," bisik Omah Ratih lagi saat Aku hanya diam saja, membuat Aku langsung saja berjalan mendekati kedua orang tersebut.


"Cery Lorenza Irlambang," ucap ku menyalami wanita tersebut.


"Maura Holsen, dan ini suami saya Petrik Holsen," jawab wanita itu menyambut uluran tangan ku sambil memperkenalkan suaminya.


Aku hanya menanggapi nya dengan berpura-pura tersenyum saja, sambil menyalami suami wanita tersebut.


Jantung ku tiba-tiba terasa berdetak lebih cepat dari biasanya saat pria itu meletakkan Hp nya. Entah mengapa perasan ku tiba-tiba menjadi tidak enak, takut jika yang Aku pikirkan benar adanya, Aku lebih memilih untuk menunduk saat pria itu berjalan menghampiri ku.


"Marion Holsen," ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.


Deg


Jantung ku tiba-tiba terasa berhenti saat melihat siapa yang berdiri di hadapan ku saat ini, yaitu pria yang empat hari yang lalu menghina ku habis-habisan dan mengatakan tidak ingin bertemu dengan ku lagi, namun kali ini pria itu menatap ku dengan tatapan tidak berkedip berbeda saat menatap ku 4 hari yang lalu.


"Are you okay?" tanya nya saat melihat ku diam saja.


"Cery Lorenza Irlambang," jawab ku sambil membuang muka, tanpa sedikitpun ingin menyambut uluran tangan nya dan langsung saja berjalan menuju ke arah bangku di mana semua nya sudah duduk.


"Baiklah, kau ternyata pemalu," ucap Marion saat Aku langsung duduk begitu saja.


"Ekheem-ekhem!" kini Opah Abimanyu berdiri saat melihat semuanya sudah berkumpul di meja makan.


"Cery, kau pindah posisi duduk, Aku ingin duduk di samping Brayen," ucap nya saat Aku duduk di sebelah nya, sambil menunjuk bangku di samping Momy Deya yang terlihat kosong, mungkin agar Aku bisa bertatap muka dengan Marion pikir nya.


Aku hanya menurut saja, sambil bersungut-sungut tanpa sedikitpun berbicara, karena merasa sangat begitu kesal.


"Silahkan, Nyonya Holsen dan Tuan Holsen di nikmati makanan nya, terutama kau Marion jangan sungkan, kali ini menantu ku yang memasakan khusus untuk kalian" ucap Omah Ratih sambil memuji Momy.


"Wah Terima kasih nyonya Deya, pasti rasa masakan nya enak sekali, kami jadi tidak sabaran ingin mencicipi nya," jawab Maura Holsen dengan antusias sementara Aku hanya menyimak saja.


"Panggil Deya saja tidak perlu nyonya," jawab Momy dengan malu-malu kucing, itulah Momy Deya yang selalu cerewet tapi kalau saat berkumpul Momy pasti akan menjadi Paling pendiam.


Sementara Maura Holsen hanya mengangguk saja tanpa sedikitpun berbicara karena merasa tidak enak hati.


Acara makan malam kini berjalan dengan hidmat tanpa sedikitpun ada yang berbicara. sementara Marion sepanjang makan terus saja curi-curi pandang ke arahku meskipun Aku selalu saja menanggapi nya dengan masam.


Mungkin jika Aku di jodohkan nya sebelum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, bisa saja Aku merasa beruntung di jodohkan dengan nya, tapi sekarang kondisi nya berbeda karena semenjak pertemuan di area balap mobil, Aku menjadi ilfil tidak tertarik sama sekali dengan nya.


"Bagaimana Marion? Apa kau menyukai Cery?" tanya Petrik Holsen pada putranya itu setelah kami selesai makan, lebih tepatnya sekarang kami berada di ruang tamu.


"Aku sangat menyukai nya Pah, dia cantik dan Aku juga ingin bisa kenal dekat dengan nya," jawab Mario dengan yakin sambil menatap ku dengan tersenyum tipis.


"Tapi Aku tidak.."


"Wah syukurlah kalau begitu, rencana perjodohan nya bisa di atur dengan baik," ucap Omah Ratih dengan antusias tanpa sedikitpun memperdulikan Aku yang hendak berbicara.


"Bagaimana? kalau, besok kami pergi berdua? agar bisa saling mengenal?" tawar Mario dengan sangat begitu antusias.


"Tidak boleh, saya tidak akan membiarkan putri saya ini, pergi bersama pria yang baru di kenalnya," jawab Dedy Angga dengan cepat.


"Angga, kau itu bagaimana sih? Marion itu Calon suaminya jadi apa salahnya mengajak nya keluar berdua, lagian kau itu punya pengawal pribadi jadi putri kesayangan mu aman," jelas Omah Ratih panjang lebar sambil menatap ku dengan sangat begitu kesal, sementara Opah Abimanyu berusaha untuk menenangkan sambil menggenggam tangan wanita itu.


Mungkin jika tidak ada keluarga Mario Omah Ratih sudah memaki ku habis-habisan dan mengatai Dedy terlalu berlebihan dan membuat Aku jadi pembangkang.


"Baiklah kalau begitu, saya izinkan," jawab Dedy dengan terpaksa.


Setelah obrolan itu Omah Ratih bercengkrama panjang lebar bersama Maura Holsen yang sangat begitu sama-sama cerewet nya, sementara yang lainnya hanya ikut menyimak sambil sesekali ikut menimpali dengan tertawa terbahak-bahak, entah apa yang lucu bagi ku obrolan nya sangatlah tidak penting sama sekali. Jika mereka tertawa dengan senang berbeda dengan ku yang justru malah merasa kesal dan malas, terlebih Mario yang terus saja menatap ku membuat Aku merasa tidak nyaman. Setelah merasa lelah akhirnya keluarga Mario pamit untuk pulang begitu pula dengan Omah Ratih dan Opah Abimanyu.


Rasanya diri ini merasa sangat begitu senang dan lega tatkala mereka semua sudah pergi dari rumah ini.


"Haaah menyebalkan!" gerutu ku setelah mengantar mereka ke depan.


"Kenapa?" tanya Momy Deya dengan heran.


"Intinya Aku merasa kesal, karena Aku tidak ingin di jodohkan dengan Marion," Jawab ku sambil cemberut.


"Marion itu pria tampan pembalap terkenal, kau itu sedang kesambet apa sih? bukan nya kau sangat begitu tergila-gila pada nya?" jawab Momy Deya sambil memegang kening ku.


"Ih Momy menyebalkan sekali," umpat ku langsung saja berjalan menuju ke arah tangga tanpa sedikitpun ingin menjelaskan.


BERSAMBUNG