My Heart'S Idol Fierce Boss

My Heart'S Idol Fierce Boss
Mengerjai Ka Bray



Aku segera memarkirkan motor Kakek asal sebelum ada yang melihat kedatangan ku, Setelah itu Aku segera berlari menuju ke arah belakang rumah kakek, Aku segera meletakkan kaca mata ku ke dalam tas, setelah itu Aku segera mencuci muka ku di air mengalir yang ada di belakang rumah Kakek.


Setelah merasa make up ku sudah hilang, Aku segera mengelap nya menggunakan handuk kecil yang selalu Aku bawa setiap hari di tas ku, setelah itu Aku segera melepas gelungan rambut ku, dan menyisirnya, Aku membiarkan rambut ku tergerai seperti saat di rumah.


Baru saja Aku menyelesaikan aktivitas ku, kudengar samar-samar suara Ka Bray.


"Motor nya ada Dedy, tapi orangnya ngga ada," ucap nya setengah berteriak .


"Kamu cari sampai ketemu, pasti dia belum jauh dari sini," jawab Dedy dengan yakin.


Setelah itu, Aku tidak mendengar suara lagi, Aku hanya mendengar langkah kaki semakin mendekat, hal itu membuat Aku segera bersembunyi di balik tanaman Kakek yang kebetulan lebat.


Ka Bray semakin mendekat ke arah ku, dan memanggil nama ku namun, tiba-tiba ide jahat terlintas di benakku, Aku segera mengambil hp ku dan menyalahkan senter, kebetulan rumah belakang Kakek memang lampu nya agak redup dan tidak terang membuat rencana ku kini sepertinya akan mulus.


Aku langsung berjalan dengan mengendap-endap menoleh ke arah Ka Bray yang semakin mendekat ke arah ku.


"Ce, kau dimana? Ayolah jangan main petak umpet!" teriak ka Bray yang semakin mendekat ke arah ku.


Aku yang sedang bersembunyi kini justru malah menghitung mundur.


Satu, dua, dalam hitungan ketiga Aku langsung menyalahkan senter di bawah dagu.


"Hi-hi-hi!" Aku tertawa cekikikan seperti kuntilanak membuat ka Bray langsung melompat kaget dan lari ketakutan membuat Aku mengejarnya.


"Kunti, jangan ganggu Aku!" pekik nya sambil berlari tersengal-sengal, namun Aku tidak memperdulikan ketakutan nya, masih tetep saja mengejarnya seperti kuntilanak sungguhan, tanpa Aku duga ka Bray yang lari ke arah semak-semak kesandung batu dan kejebur got membuat Aku, segera mendekat ke arah nya. Aku yang melihat ka Bray masuk ke dalam got tertawa terbahak-bahak merasa puas sudah mengerjai nya, membuat Ka Bray yang sedang menjerit ketakutan kini menoleh ke arah ku.


"Cery Lorenza Irlambang!" pekik nya membuat ku yang tersadar segera berlari dengan cepat karena merasa tidak aman.


"Jangan lari kau, adik kurang ajar, setelah membuat ku ketakutan!" Ka Bray berteriak memanggil ku namun Aku segera berlari ke arah rumah Kakek untuk mencari perlindungan seseorang, siapa lagi kalau bukan Dedy Angga.


Aku yang lari tanpa sadar menabrak mobil yang kebetulan terparkir di depan halaman rumah kakek yang sempit itu, membuat Aku terjatuh.


"Aaaaw, kening ku benjol!" pekik ku sambil memegang kening ku yang terasa sakit.


"Mau lari kemana kau? Dasar adik durhaka!" tanpa Aku sadari Ka Bray sudah memegang tangan ku membuat Aku terkejut di buat nya.


"Ampun, Ka Ampun, sumpah Aku tidak bermaksud," ucap ku berusaha untuk bernegosiasi dengan Ka Bray.


"Ka pikir Aku percaya, kamu sudah membuat Aku ketakutan setengah mati, dan membuat Aku kejebur got," ucap Ka Bray dengan tatapan tajamnya.


Ka Bray menjewer telinga ku dengan kerasnya membuat Aku menjerit kesakitan.


"Ada apa ini?" tanya Dedy yang baru saja keluar.


"Dedy, ka Bray menjewer telinga ku sampai merah, lihat ini," adu ku sambil berlari ke arah Dedy.


"Brayen, apa yang kau lakukan pada adik mu?" tanya Dedy menatap Ka Bray dengan tatapan tajam.


"Putri kesayangan mu itu, sudah mengerjai ku sampai Aku masuk ke dalam got, lihat ini," jawab Ka Bray dengan tatapan sebal.


"Ya ampun, cucu ku, apa yang terjadi?" pekik Omah Gayung yang baru saja keluar sifat rempong nya sudah dapat di pastikan akan memojokkan ku lagi.


"Pasti gadis rusuh ini yang membuat masalah, sudah seperti preman membuat onar lagi, cucu kesayangan ku kan jadi bau," lanjut nya lagi sambil menatap ku dengan tatapan mata sebal.


"Sudah-sudah jangan ribut, Bray kau bersihkan tubuh mu bau sekali!" Dedy yang tidak ingin terjadi keributan kini menyuruh Ka Bray untuk mandi, meskipun pria itu terlihat bersungut-sungut kepada ku tapi, Dia tidak berani melakukan sesuatu pada ku, karena Aku bersembunyi di belakang Dedy.


"Angga, kau selalu saja membela putri rusuh mu itu, kau seharusnya memarahi nya dong? dia itu anak gadis, jam segini baru pulang dan juga sudah membuat rusuh!" wanita tua itu terus saja mengompori Dedy membuat Aku merasa jengah di buatnya.


"Memang nya kenapa? Suka-suka Dedy dong, kalau iri bilang bos," jawab ku dengan santainya.


"Kau beraninya," wanita tua itu merasa geram dengan jawaban ku hendak menampar wajah ku namun Dedy berdiri di tengah-tengah kami.


"Cery, kau juga selalu saja rusuh ngga sopan seperti itu sama orang tua, bersihkan tubuh mu dulu sana, ini masih ada waktu untuk sholat magrib, kau pasti belum sholat kan!" tegas Dedy membuat wanita tua itu seakan merasa menang melihat Aku di omel olehnya.


Dengan bersungut-sungut Aku pun berjalan masuk melewati wanita tua itu yang sedang mengembangkan senyuman nya, karena merasa Aku kalah telak, Aku berjalan masuk begitu saja tanpa memperdulikan semua orang yang sedang duduk di sofa, di situ ada Momy, Kakek Anwar dan juga Opah Cangkul yang terlihat sedang berbincang hangat.


"Apa yang sedang mereka rencanakan untuk ku lagi? Apa masih tentang perjodohan? sampai-sampai mereka rela menunggu di sini," Aku terus menggerutu sambil bertanya-tanya heran karena, Aku tahu keluarga Dedy anti sekali berkunjung ke rumah Kakek, karena merasa rumah kakek itu sempit dan pengap menurut nya.


Aku yang melamun kini tersadar kalau waktu sholat magrib hampir saja habis, Aku segera bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi karena tidak ingin sampai waktu magrib habis.


Setelah sholat magrib Aku sekalian menunggu sholat isya, karena Aku terkadang merasa malas jika sudah rebahan, apa lagi waktu sholat isya yang panjang membuat Aku sering mengulur waktu, sehingga kadang Aku sampai ketiduran dan sholat isya nya tengah malam.


Beberapa saat kemudian adzan isya berkumandang, Aku segera sholat isya setelah mendengar komat, setelah sholat isya Aku berdoa dan berzikir.


Setelah selesai berzikir Aku ingin memutuskan untuk rebahan di kasur, namun ketukkan pintu yang cukup keras membuat Aku berdecak sebal, niat hati ingin langsung tidur tanpa makan malam, kini Aku urungkan, saat Momy Deya memanggil ku untuk makan malam bersama.


Ku lihat semua orang sudah berjajar rapi di sana, kursi makan yang biasanya cuma empat kini sudah menjadi banyak dan meja makan nya juga sudah menjadi panjang, entah apa yang di lakukan Kakek?


"Malam semuanya," sapa ku sambil tersenyum kikuk, ku lihat tatapan Ka Bray masih terlihat dendam ke arah ku mungkin karena masih merasa kesal.


"Cery, Ayo duduk sini," panggil Momy menepuk bangku di sebelah nya yang di samping kanan nya ada Ka Bray yang sedang menyunggingkan senyum jahatnya.


"Momy, Aku biasa duduk di bangku itu," tunjuk ku pada bangku yang di duduki oleh omah Gayung.


"Kau ingin mengusir ku?" tanya wanita tua itu merasa tidak terima dengan ucapan ku.


"Cery, duduk samping Momy mu dan Brayen, jangan banyak protes atau berbicara!" tegas Dedy membuat Aku duduk di bangku samping Ka Bray.


Suasana makan malam yang biasanya hangat anatara Aku dan Kakek Anwar yang sering banyak mengobrol, kini menjadi Susana makan mencekam dan hening hanya tatapan tajam yang menghunuskan ke arah ku sesekali, dan hanya terdengar suara sendok saja, hal itu cukup membuat ku merasa panas gerah di buatnya ingin sekali, rasanya Aku segera pergi dari suasana mengerikan itu.


Aku beranjak dari dudukku setelah selesai makan, Aku ingin memutuskan langsung ke kamar, namun sayangnya suara Opah Cangkul membuat ku kini mendengus sebal.


"Cery, jangan ke kamar dulu, Aku ingin berbicara pada mu!" suara tegas itu membuat Aku menurut saja tanpa sedikitpun membantah.


Kini Aku sudah duduk di ruang tamu, semuanya sudah berkumpul di sana sementara meja makan kini sedang di beresekan oleh pelayan, tentu saja pelayan yang ada di rumah Opah Cangkul yang di bawa kemari, rempong kan mereka? memang itulah yang Aku tidak suka dari keluarga Dedy.


"Cery Lorenza Irlambang," panggil pria tua itu dengan menyebutkan nama panjang ku.


"Hmmm," jawab ku dengan singkat merasa malas untuk bersuara.


"Jawab yang sopan, apa kau tidak punya mulut!" bentak pria itu merasa jengkel di buatnya.


"Iya tinggal tude poin saja, kenapa sih?" ketus ku dengan sebal membuat Omah Gayung memelototi ku namun Aku hanya memutar bola mata ku malas.


"Sebenarnya kau itu normal tidak sih? Sudah berapa puluh pria tampan pengusaha yang Aku jodohkan dengan mu, tapi apa yang kau lakukan? Kau menolak nya secara memalukan nama ku, dan yang terakhir kau sampai membuat pria itu marah besar hingga Aku hampir saja di tuntut atas ulah mu!" ucap Opah Cangkul panjang lebar menatap ku dengan tatapan tajam.


"Aku normal, tapi pria yang kau pilih tidak sesuai kriteria ku, bukan sudah Aku katakan? kalau Aku ingin memilih pilihan ku sendiri," jawab Ku dengan tegas tanpa sedikitpun merasa takut.


"Pria kacung kampret itu yang menjadi kriteria mu? Ce, kau itu cuma di manfaatkan oleh nya, sadarlah," kini bukan Opah Cangkul yang berbicara, melainkan Ka Bray yang bersuara, pria itu mulai menyudutkan ku dan menyalahkan Arga, karena dia tahu Aku sering bersama nya terlebih Arga sering Aku ajak ke rumah Kakek membuat dugaan nya semakin kuat.


"Kau selalu saja menyudutkan ku, kau yang seharusnya menikah tapi Aku yang selalu saja menjadi korban mu. seharusnya Opah itu bertanya saja pada cucu kesayangan Opah ini yang ternyata tidak normal terong makan terong," ucap ku panjang lebar membalikkan perkataan Ka Bray dengan tak kalah pedasnya.


"Cery Lorenza Irlambang, kau menguji kesabaran ku!" bentak Opah Cangkul yang merasa tidak terima dengan ucapan ku sambil menggebrak meja.


Namun yang terjadi selanjutnya adalah pria tua itu tersungkur di sofa sambil memegang dadanya membuat semua orang panik dan menghampiri pria tua itu.


"Papa!" pekik Dedy dengan khawatir.


"Opah !" Ka Bray juga berteriak.


BERSAMBUNG