
Keesokan Harinya
"Pagi ku cerah ku matahari bersinar ku gendong tas jinjing ku di pundak."
Cery berjalan menuju meja makan sambil menyanyi, gadis itu tampak bersemangat sekali, membuat Kakek Anwar merasa heran dengan cucunya itu. Dia mengingat betul kejadian semalam yang membuat cucunya nya sedih dan marah, akibatnya karena gadis itu di marahi oleh kedua besannya, karena mengerjai pria yang akan di jodohkan dengan nya, bahkan menolak nya secara terang-terangan. Ya kemarin setelah dari rumah sakit Cery tiba-tiba dijemput paksa dan di suruh menghadiri acara kencan dengan salah seorang pria pilihan Opah Abimanyu dan Omah Ratih yang kedua kalinya. Hal itu justru malah membuat kedua nya menjadi kesal dan marah dengan cucunya itu, terlebih Cery justru malah memutuskan untuk pulang ke rumah Kakek Anwar, menyebabkan perang dingin itu terjadi dan kakek Anwar lah yang menjadi pelindung utama cucunya itu.
"Selamat pagi Kakek," sapa Cery langsung duduk di bangku samping Kakek nya itu, membuat kakek Anwar membuyarkan lamunan nya.
"Sudah tidak sedih lagi? Kakek pikir kau akan mengurung diri di kamar," tanya Kakek Anwar dengan heran.
"Tentu saja tidak, untuk apa Aku bersedih, kalau Aku bersedih terus, Omah Gayung pasti akan semakin menindas ku," Jawab Cery dengan sebal jika harus mengingat kejadian semalam.
"Walau bagaimana pun sikap nya dia tetaplah orang tua Dedy mu, jadi hargailah mereka," jawab Kakek Anwar berusaha untuk menasehati cucunya itu, membuat Cery hanya mengangguk saja tanpa sedikitpun berbicara karena merasa sangat begitu malas.
"Hari ini tumben sarapan di rumah? biasa nya bawa bekal?" tanya Kakek Anwar lagi dengan heran, saat melihat cucu nya itu sudah mengambil piring untuk makan.
"Pagi ini Aku berangkat santai, jadi masih ada waktu untuk sarapan," jawab Cery sambil mengambil lauk pauk meletakkan nya di atas piring nya, membuat Kakek Anwar mengagguk mengerti tanpa sedikitpun berbicara lagi karena tidak ingin berbicara saat sedang makan.
*****
"Si, kau membawa dua tempat untuk siapa?" tanya Kakek Anwar setelah mereka selesai makan .
"Kek, Aku ingin membawakan makanan untuk Bos ku, sebagai tanda terima kasih karena berkat dia, Aku tidak jadi masuk ke penjara, boleh ya kek? untuk makan siang," jelas Cery panjang lebar dengan penuh harap.
"Oh untuk Bos mu, Ayo silahkan bawa sesuka hati mu, Kakek juga ingin sekali berterima kasih pada nya," ucap Kakek Anwar mempersilahkan cucu nya itu.
"Terima kasih kek, sudah menjadi pelindung ku, Maaf kan cucu mu ini yang selalu saja membuat mu khawatir." Cery langsung memeluk kakek nya itu menumpahkan rasa sedih nya karena selain kedua orang tua nya Cery lebih terbuka dengan kakek nya.
"Iya, ingat jangan membuat masalah lagi, Aku ini sudah tua waktu nya Aku ini untuk istirahat," ucap Kakek Anwar memperingati cucunya itu ,karena mengingat kejadian kemarin di mana cucunya jadi berita utama.
"Iya-iya Si janji, kali ini tidak akan membuat masalah lagi." janji Cery sambil mengangguk mengiyakan.
Setelah beberapa saat kemudian setelah bercengkrama riya, Cery kini sudah berada di depan rumah, langsung menyalami Kakek nya dan pamit untuk berangkat.
"Dah Kakek Si, berangkat," teriak nya langsung saja melajukan motornya dengan cepat membuat, kakek Anwar hanya mengelus dada nya untuk sabar.
"Semoga hari ini dia tidak membuat masalah," gumam nya langsung kembali masuk ke dalam.
Sepanjang perjalanan Cery bersenandung riya menyelusuri jalan kota Jakarta pagi itu dengan sangat begitu senang, hari ini Cery tidak menjemput Bosnya, tentu hal itu membuat dirinya merasa santai dan tidak terlalu terburu-buru karena perjalanan nya tidak 2 kali lipat mengendarai motornya.
Setelah melewati jalan yang cukup padat pengendara, kini Cery sudah berada di parkiran, gadis itu memutuskan untuk lewat pintu belakang, karena mungkin berita kemarin masih jadi trending topik meskipun sudah di hapus dari TV, tapi Cery yakin semua karyawan pasti masih membicarakan dirinya.
Gadis itu membawa tentengan yang tadi di bawa nya, sambil indak-indik layaknya pencuri, namun tiba-tiba langkah nya terhenti saat ada seseorang memanggil nya.
"Si, kau kemana saja?" ucap Suara seseorang membuat Cery menoleh.
"Huuuh Arga, kau hampir membuat ku jantungan," ucap Cery sambil menghela nafas panjang karena merasa terkejut.
"Sudahlah, kita bicarakan di belakang taman saja," tanpa memperdulikan keterkejutan Cery, pemuda itu langsung menarik tangan Cery menuju taman belakang.
"Kau sebenarnya kemana saja menghilang dari kemarin?" tanya Arga setelah sudah berada di taman belakang.
"Kau pasti ingin mengintrogasi ku kan? Tidak perlu di tanyakan lagi, Aku ini tidak sepenuhnya OG, jadi Aku bisa juga jadi standby supir pribadi, mengantarkan My Bos, kemana pun dia mau," jelas Cery panjang lebar sambil mencebikan bibir nya kesal.
"Oh begitu," Arga hanya ber oho riya karena merasa cukup tahu saja.
"Hanya Oh? Kau tidak ingin tahu sesuatu gitu?" tanya Cery sambil cemberut.
"Aku sedang kesal dan bingung, bagaimana cara nya untuk menolak pria yang selalu di jodohkan dengan ku," jelas Cery sambil mengingat Opah dan Omah nya yang selalu saja memaksa nya untuk menikah.
"Memang nya kenapa? Apa ada masalah dengan pria itu?" selidik Arga dengan menaik turunkan alis nya.
Cery pun menceritakan tentang apa yang terjadi di dalam keluarganya hingga membuat gadis itu harus bersusah payah mencari cela dari pria pilihan Opah dan Omah nya, tanpa sedikitpun dikurangi.
"Mau kah kau membantu ku?" tanya Cery dengan tatapan penuh harap.
"Tentu saja, apa yang tidak, kau kan suka membantu ku, jadi Aku akan berusaha untuk membantu mu," jawab Arga mengangguk mengiyakan.
"Terima kasih-terima kasih, kau memang yang terbaik," ucap Cery dengan sangat begitu antusias memeluk tubuh Arga dengan sangat begitu eratnya.
"Woy, seneng sih seneng, tapi jangan kenceng-kenceng kek, bisa-bisa Aku mati sebelum membantu mu," pekik Arga saat Cery memeluknya dengan erat bahkan sampai sesak nafas.
"He-he-he, sory tidak bermaksud," ucap Cery sambil cengengesan langsung melepaskan pelukan nya, lalu kembali duduk dengan posisi normal, Arga pun hanya menanggapi nya dengan geleng-geleng kepala saja tanpa sedikitpun berbicara.
"Oya, kau membawa dua tempat makan untuk siapa? Untuk ku ?" tanya Arga saat menyadari apa yang di bawa gadis tersebut.
"GR, siapa juga yang ingin membawakan mu makanan? ini itu spesial untuk My Bos," jawab Cery sambil tersenyum tipis membayangkan wajah Bos nya itu.
"He-he-he sory, terlalu percaya diri," jawab Arga sambil menggaruk kepalanya karena merasa sangat begitu malu sendiri.
"Kupikir kau sudah menyerah," lanjut nya lagi berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tidak akan, karena tujuan utama ku menjadi supir pribadi sekaligus OG hanya demi dirinya," jawab Cery dengan penuh percaya diri nya.
"Really? Apakah dia mau dengan mu?" goda Arga sambil tersenyum tipis.
"Tentu saja iya, meskipun sekarang belum sih, masih usaha, tapi Aku yakin bahwa My Bos itu hanya pantas untuk ku," Jawab Cery mengangguk mengiyakan.
"Ya ampun kok ada yah, orang nggak sadar diri, sudah jelek mimpinya ketinggian pula," suara nyaring seseorang membuat Cery menoleh.
"Silikon, apa peduli mu?" pekik Cery langsung saja berdiri saat melihat siapa yang datang.
"Apa Silikon? hey dasar Si culun mata empat, beraninya kau mengganti nama ku," Sarkas wanita itu dengan tidak terima karena panggilan Cery.
"Memang apa yang salah? Bukan kah namamu itu Silikon, suka ikut campur urusan orang, he-he-he," jawab Cery sambil terkekeh merasa geli sendiri melihat ekspresi wajah Wanita itu yang terlihat marah.
"Nama ku Sila bukan Silikon, kau hanya gadis kriminal yang tidak tahu diri," Bentak Sila dengan nada meninggi.
"Aku tidak habis pikir, mengapa Tuan Devan, tidak membiarkan gadis jelek dan kriminal seperti mu itu mendekam di penjara saja, agar tidak mencoreng nama Perusahaan, kalau mendekam di penjara kan aman tentram dunia ini," lanjut nya lagi dengan tersenyum mengejek.
"Kau beraninya!"
Cery hendak menampar wajah wanita itu, namun tiba-tiba tangan nya langsung di tarik oleh Arga menjauh dari tempat tersenyum.
"Lepaskan! Kenapa kau malah menarik ku? Seharusnya biarkan saja Aku menjadi kriminal, agar dia kapok," gerutu Cery saat sudah berada di tempat lain.
"Iya Aku tahu kau kesal, tapi untuk apa? membuang-buang waktu mu untuk meladeni wanita itu, yang ada justru malah membuat kau semakin repot," jelas Arga panjang lebar berusaha untuk menenangkan gadis di hadapannya itu.
"Kita mulai kerja, lakukan pekerjaan dan misi mu itu dengan baik," lanjut nya lagi saat melihat Cery cemberut.
"Baiklah Aku menurut," jawab Cery berusaha untuk tersenyum paksa meskipun sebenarnya masih kesal.
BERSAMBUNG