
"Sadarlah dari tidur mu itu." ucap Bos Devan menyiram wajah ku dengan segelas air.
"Wiliam, kemari!" teriak nya membuat Wiliam entah mengapa tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan.
"My Bos, kau kejam sekali pada ku, seharusnya Kalau tidak mau tidak usah menyiram wajah ku." ucap ku menatap nya dengan tatapan tajam.
"Kau beraninya, memelototi ku. Sudah tahu aku kejam, bahkan aku bisa melakukan hal kejam dari itu!" Bos Devan merasa tidak terima dengan ucapan ku kini mendekat ke arah ku.
Bos Devan tiba-tiba mencengkam tangan ku membuat aku yang di cengkraman tangan nya langsung saja memuntir tangan nya, membuat Bos Devan berada di dekapan ku.
"Aku memang menyukai mu, kau tampan dan gagah perkasa, tapi sikap mu sungguh buruk, Aku paling tidak suka dengan penindasan terhadap wanita, karena bagi ku itu sudah melanggar hukum, meskipun sebenarnya Aku sendiri juga suka memukul." ucap ku panjang lebar sambil menatap Bos Devan dengan tatapan tajam.
"Aaaaaw, sakit ! kau gila yah? Ingin membuat tangan ku patah!" teriak Bos Devan tepat di telinga ku membuat aku mendorong nya, karena merasa gendang telinga ku mau pecah.
"Aaaaw, sakit! Kau beraninya mendorongku, setelah membuat tangan ku hendak patah!" pekik Bos Devan sambil meringis kesakitan.
"My Bos maaf, aku tidak bermaksud." Aku yang melihat Bos Devan kesakitan kini berusaha untuk mendekat karena merasa bersalah.
"Menyingkir, aku tidak butuh maaf mu!" bentak nya sambil menyingkirkan tangan ku yang memegang tangan nya.
"My Bos, kau jangan galak-galak, nanti cepet tua, Aku hanya ingin mengobati tangan mu." Aku tidak memperdulikan perkataan nya langsung saja menarik tangan nya untuk duduk di sofa.
"Wiliam, kenapa? kau malah diam saja dari tadi, usir wanita bar-bar ini dari ruangan ku!" panggil nya pada Wiliam dengan sangat begitu kesal.
Wiliam yang sedari tadi diam saja kini mendekat ke arah ku, pria itu langsung saja berjalan menarik tangan ku.
"Sebentar, Wilona, kau tidak boleh menarik tangan ku dengan kasar, Aku mau mengobati tangan nya yang keseleo." kata ku sambil melepas tangan Wiliam yang memegang tangan ku.
Sontak Bos Devan menatap ku dengan tatapan tajam karena merasa sangat begitu kesal dengan sikap ku.
"Diam, My Bos tidak boleh berbicara!" ucap ku saat Bos Devan hendak berbicara.
Aku segera berjalan dan duduk di samping nya, memegang tangannya dan langsung melipat lengan kemeja nya, hendak mengurut nya menggunakan minyak kayu putih yang aku bawa di saku baju ku.
"Kau beraninya, menyentuh ku, dasar Mesum!" pria itu menatap ku dengan tatapan tajam karena aku sudah lancang menyentuh nya tanpa izin.
"Aku mesum? Tidak salah?" tanya ku menatap pria di hadapan ku dengan tidak habis pikir.
"My Bos, kau jangan salah paham, diam sebentar saja, jangan membuat konsentrasi ku buyar." lanjut ku lagi saat pria itu terlihat sangat begitu menyeramkan.
Aku lebih memilih untuk memalingkan wajah ku karena tidak tahan untuk menatap wajah nya terlalu lama.
"Tahan sebentar yah, ingat jangan menjerit." ucap ku memberi aba-aba.
"Aaaaaw, sakit sialan!" Bos Devan berteriak keras, langsung saja mendorong ku hingga aku jatuh ke lantai.
Namun aku yang jatuh ke lantai bukan nya menjerit kesakitan, tapi justru malah salah fokus pada Wiliam yang tertawa terbahak-bahak.
"Wiliam, apa yang kau tertawakan?' Bentak Bos Devan membuat pria itu berhenti tertawa.
"Maaf Bos, aku hanya terhibur saja melihat kemesraan kalian berdua." jawab Wiliam Masih menahan tawanya.
Sementara Aku berusaha untuk berdiri sambil memegang pantat ku yang terasa sakit.
"Wiliam, kau ingin mati yah?" Bos Devan tampak menatap Wiliam dengan sangat begitu marah dan kesal.
"Tidak, aku masih ingin hidup Bos." jawab Wiliam dengan ketakutan.
"My Bos, jangan marah-marah nanti cepet tua loh." ucap ku berusaha untuk menenangkan.
"Lagian kan tangan nya sudah lebih baik kan?" lanjut ku lagi sambil hendak memegang tangan nya kembali.
"Wiliam, usir wanita bar-bar ini dari ruangan ku, pecat dia sekarang juga!" perintah nya pada Wiliam, sambil menepis tangan ku.
"Kau tidak dengar? Bos Devan ngomong apa? Kau itu di bilangin tidak mengerti-mengerti, jangan membuat masalah!" ucap Wiliam dengan sangat begitu tegas, setelah kami sudah berada di luar ruangan.
"Maaf, aku tidak bermaksud, tadi terbawa suasana. Please jangan pecat aku Wilona." Aku berusaha untuk membujuk karena tidak ada pilihan lain selain membujuk pria di hadapan ku itu.
"Baiklah aku maafkan, tapi kau sebaiknya jangan menemui Bos terlebih dahulu, kau bisa kembali bekerja sesuai perintah Bu Aida." putus Wiliam pada akhirnya.
"Oya, berhenti memanggil ku Wilona, paham." lanjut nya lagi dengan penuh peringatan.
"Tapi Wil.." ucapan ku menggantung saat melihat pria itu sudah pergi begitu saja.
Kini Aku sedang mengepel lantai teras depan, karena Bu Aida menyuruh ku, meskipun Aku sedari tadi merasa sangat begitu kesal dan ingin sekali melempar pelan itu dengan kasar, karena aku merasa sangat begitu kesal, tentu karena setiap aku mengepel pasti ada aja yang lewat, terlebih aku tidak pernah mengerjakan pekerjaan seperti ini.
"Si-Si ingin hidup mandiri, banyak saja rintangan. Biasanya kau kan hidup enak, tinggal menyuruh-nyuruh pelayan, kini aku merasakan jadi pelayan, mungkin ini yah yang mereka rasakan? kesal dan jengkel karena suka di suruh-suruh seenaknya." Aku bergumam sendiri sambil mengingat wajah-wajah pelayan di rumah ku yang suka Aku perintah seenaknya.
Tiba-tiba saja Aku jadi keinget Ka Bray, Dedy dan Momy. perlakuan mereka dan kebersamaan kami saat di rumah, betapa beratnya Dedy melepaskan ku untuk hidup mandiri.
Aku yang sedang mengepel lantai sambil melamun,kini di kejutkan dengan kedatangan wanita cantik berpakaian mini dress berjalan dengan sangat begitu angkuh nya melewati Aku begitu saja.
"Sialan, bisa-bisanya dia menginjak lantai yang sudah aku pel." umpat ku dalam hati karena merasa sangat begitu kesal.
Bruuuuuughh
"Aaaaw, dasar air sialan!"
Baru saja mengumpat tiba-tiba sudah terdengar suara teriakan dari wanita itu, seketika aku terkejut dan langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat wanita itu kepleset dan melihat ember pelan ku sudah terlihat tumpah, mungkin karena wanita itu menendang nya.
"Makan nya jalan tuh lihat-lihat ke bawah, jangan jelalatan ke depan, kena karma kan." ucap ku sambil menahan tawa.
"Kau OG sialan, bisa-bisanya malah menyalahkan ku, kau nya saja yang tidak becus dalam bekerja!" bentak wanita itu menatap ku dengan sangat begitu marah.
"Loh ko aku sih? kan situ yang nendang ember nya? ya situlah yang salah." jawab ku merasa tidak terima.
"Bu Aida!" wanita itu tampak memangil Bu Aida dengan sangat begitu keras. Bu Aida yang di panggil kini langsung saja berjalan terburu-buru.
"Iya ada apa Nona?" tanya Bu Aida dengan heran.
"Lihat ini, semua badan ku sakit dan seluruh pakaian ku kotor karena ulah OG sialan ini, kau tahu kan siapa aku?" ucap wanita itu pada Bu Aida dengan penuh peringatan.
"Maaf, Nona, OG ini Masih baru jadi, belum paham soal ini, mohon di maklumi." jawab Bu Aida berusaha untuk menenangkan.
"Baiklah kalau begitu, pecat dia sekarang juga! OG tidak becus seperti dia tidak pantas untuk di pertahankan!" ucap wanita itu langsung saja berjalan keluar karena merasa sangat begitu malu dengan semua karyawan yang melihat.
"Apa yang kau tertawakan? Haaaah!" sentak Bu Aida saat melihat aku justru malah tertawa terbahak-bahak.
"Kau tahu? karena ulah mu membuat aku dalam masalah besar!" lanjut nya lagi sambil menatap ku dengan tatapan tajam.
"Aku tidak salah, dia yang salah, siapa suruh lewat tanpa permisi, udah gitu nggak lihat-lihat, ember segede itu di tendang." Aku menjawab dengan santai tanpa sedikitpun takut.
"Kau beraninya membela diri! setelah melakukan kesalahan, kau tahu apa akibatnya?" sentak Bu Aida dengan emosi.
"Kau tahu siapa dia? Dia itu adalah Calon Istri CEO kita!" lanjut nya lagi dengan penuh penekanan.
"Mau Calon istrinya CEO ke mau Calon istrinya jenderal, aku tidak takut, yang jelas dia yang salah dan tidak sopan sama sekali." jawab ku dengan acuh membuat Bu Aida emosi.
"Bereskan semua kekacauan yang terjadi, jika kau masih melawan rasakan akibatnya, jika kau harus di tendang dari perusahaan ini!" perintah Bu Aida tidak bisa di bantah.
Wanita itu menendang ember dengan kesal langsung saja berjalan pergi meninggalkan ku yang masih mematung.
"Hancur lah sudah, perasaan Ku yang harus kembali mengepel lantai untuk kedua kalinya"
BERSAMBUNG