
"Astaghfirullah hal adzim," Devan mengusap wajah nya setelah terbangun dari tidurnya, karena merasa kenangan masa lalu nya teringat kembali di otaknya.
"Kenapa Aku bisa tidur? Seharusnya ini kan jam kerja?" tanya nya pada diri sendiri.
Setelah itu Devan segera mencari segelas air minum yang berada di meja, lalu langsung meminumnya hingga tandas. Pria itu baru menyadari kalau dirinya berada di ruangan Istirahat nya langsung melihat jam di tangan nya yang ternyata sudah menunjukkan pukul satu siang, berarti kemungkinan dirinya sudah tertidur cukup lama.
Devan yang tidak ingin berlama-lama dengan pikiran nya akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.
Betapa terkejutnya saat melihat Asisten nya itu sedang duduk di kursi kerjanya dengan tumpukan berkas, namun terlihat santai.
"Wiliam, kau kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Devan dengan tatapan tajam.
"Ah, Bos sudah bangun?" bukan nya menjawab Wiliam malah bertanya balik karena merasa terkejut.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Apa keinginan mu? sampai membuat ku tidak sadarkan diri?" cecar Devan dengan penuh peringatan, hal itu membuat Wiliam menjadi gugup.
"Bos, Aku cuma memberikan obat penenang saja, apa itu salah?" jawab Wiliam dengan cengengesan.
"Jelas saja salah, karena Aku tidak butuh obat, justru obat itu malah membuat ku ingat semuanya," jawab Devan masih menatap Asisten nya Itu dengan tatapan tajam.
"Bos, Ayolah jangan hukum Aku," rajuk Wiliam berusaha untuk merayu karena merasa Bos nya sedang berada di mode penindasan.
"Wah-wah ternyata kau sedang berusaha untuk membujuk? kau pikir Aku bakal membebaskan mu dari hukuman," Devan berkata sambil berkacak pinggang layaknya seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.
"Bos, Aku cuma ingin kau istirahat saja kok, tadi Kau benar-benar terlihat sangat begitu memperihatinkan," jelas Wiliam sambil menutup mulutnya karena keceplosan.
"Apa kau bilang? Ulangi sekali lagi? Kau pikir Aku ini sedang kumat, apa!" Sentak Devan dengan sangat begitu marah hendak melempar map yang berada di meja.
"Memang benar kau itu sedang kumat tadi layaknya kucing manis sekarang kembali menjadi singa ngamuk," jawab Wiliam namun hanya dalam hati saja.
"Bos jangan melempar itu, karena itu adalah berkas penting, jadi sebaiknya kau urungkan niat mu untuk marah, karena ada hal yang lebih penting dari kemarahan mu," cegah Wiliam berusaha menjelaskan panjang lebar sambil tersenyum tipis.
"Apa? cepat katakan!" tanya Devan dengan heran, langsung mengurungkan niatnya itu.
"Ini tentang Perusahaan LI CORP, Direktur Caw yang mewakili perusahaan F Core, dia bilang, Tuan Angga tidak menerima kerja sama tanpa CEO nya langsung yang datang ke sana, katanya Wakil CEO nya langsung yang menolak hal ini," jelas Wiliam panjang lebar sambil membaca sebuah Map yang di pegang nya.
"Walaupun Kentungan yang di dapat sangat besar dan fantasi?" tanya Devan dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Iya, Bos turunkan Ego mu sedikit lah, menghadapi pemilik perusahaan yang sangat begitu arogan perlu sedikit kesabaran," jawab Wiliam berusaha untuk meyakinkan.
"Tanpa kerja sama itu juga, Perusahaan F CORE bisa maju kok, dasar Direktur Caw memang tidak becus dalam bekerja," jawab Devan dengan yakin sambil mengumpat.
"Tapi Bos, Ayolah, jangan bersikap seperti itu, tidak baik, setidaknya Direktur Caw sudah berusaha bekerja dengan baik selama ini, apa salahnya kau sendiri yang turun tangan," bujuk Wiliam berusaha untuk memperingati.
"Baiklah kalau itu mau mu, kita datang langsung ke sana dan ku pastikan kita pulang dengan tangan penuh kebanggaan, tidak seperti Direktur Caw yang selalu terlihat sombong namun sebenarnya dia lemah," jawab Devan dengan menyombongkan dirinya.
"Dih narsis sekali nih orang, bukannya dia sendiri? yang selalu sombong?" gumam William dalam hati nya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Bos nya itu.
"Sekarang Bos?" tanya Wiliam dengan heran, karena melihat Devan hendak berjalan menuju ke arah pintu.
"Sekarang lah masa tahun depan!" ketus Devan menatap Wiliam dengan tatapan tajam.
"Jam 2 ada pertemuan dengan Tuan Dirga, membahas tentang proyek pembangunan Supermarket, yang kemarin belum selesai," jelas Wiliam panjang lebar.
Devan menghela nafas panjang, langsung saja berjalan mendekat ke arah di mana Wiliam masih duduk di bangku kerja nya.
"Kenapa tidak Direktur Caw saja? Apa posisi dia sebagai direktur bener-bener tidak berguna? Kenapa Aku lagi- Aku lagi?" tanya Devan dengan beruntun karena merasa sangat begitu kesal.
Wiliam menelan ludah sendiri dia berpikir keras karena merasa dirinya bingung juga harus menjawab apa.
"Kan kau CEO nya, dia hanya perwakilan mu saja, jadi tidak bisa memutuskan sesuatu yang menurut nya benar, karena terkadang yang menurut nya benar,belum tentu menurut mu benar," jelas Wiliam panjang lebar membuat Devan kalah telak.
"Sudah sana, kau atur semua nya, jangan membuat ku semakin kesal!" usir Devan dengan sangat begitu ketus.
Wiliam pun menurutinya tanpa sedikitpun berbicara karena merasa malas jika harus berdebat lagi.
"Tunggu!" panggil Devan menghentikan langkah Wiliam.
"Apa?" tanya Wiliam dengan heran.
"Kau ajak Siput juga nanti, saat ke perusahaan LI CORP, karena Aku ingin dia bekerja dengan benar dan berguna," ucap Devan panjang lebar.
Wiliam hanya mengangguk saja tanpa sedikitpun berbicara lagi.
"Tunggu dulu!" panggil Devan lagi.
"Apa lagi?" Wiliam membalikan badannya lagi, sambil menghela nafas panjang karena merasa ingin segera keluar dari ruangan tersebut yang membuat dirinya panas sendiri.
"Jangan lupa tutup pintunya dan..."
"Dan selamat bekerja dengan baik," potong Wiliam dengan cepat langsung menutup pintu dengan keras, Karena merasa malas dengan ocehan Devan yang panjang kali lebar, namun berulang-ulang seperti yang sudah-sudah.
"Dasar Asisten laknat, awas saja nanti!" umpat nya dengan kesal, saat Wiliam menutup pintu dengan kerasnya, dan pria itu akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya.
Lain halnya dengan Cery yang sedang ngedumel sejak dari pagi, karena gadis itu merasa kesal dengan Bu Aida yang menyuruh nya ini dan itu kini gadis itu sedang mengelap kaca di lantai dua dengan di temani oleh Arga.
"Si Culun, lihat itu belum cukup mengkilap dan masih terlihat butek," ucap Bu Aida sambil berkacak pinggang karena melihat Cery yang terlihat tidak bersemangat.
"Kalau bukan, sedari tadi Aku sedang menjadi gadis yang sabar, sudah ku pastikan kain lap ini ku lepar ke wajah nya, agar tidak cerewet lagi," gumam Cery sambil memelototi Bu Aida dengan tatapan kesal.
"Apa? mau ngelawan?" ketus Bu Aida yang mengerti tatapan Cery.
"Tidak Bu, saya cuma ingin minum sebentar, saya haus sekali," jawab Cery berpura-pura kehausan.
"2 menit," jawab Bu Aida dengan singkat.
Cery hanya diam saja tanpa sedikitpun berbicara gadis itu berjalan sambil menghentakkan kakinya, sementara Arga terlihat justru menahan tawa.
"Apa yang kau lihat? Sudah sana kerjakan pekerjaan dengan baik, kau itu sama saja seperti teman mu itu, selalu saja merepotkan!" sentak Bu Aida membuat Arga diam saja.
"Si culun Mata Empat!" setengah jam kemudian terdengar teriakan dari bu Aida membuat Cery yang sedang tidur langsung terlonjak kaget.
"Bu Aiden, bisakah anda tidak usah teriak-teriak? telinga saya hampir saja mau pecah," ucap Cery panjang lebar tanpa memperdulikan kekesalan Bu Aida.
"Apa yang kau lakukan? Pekerjaan mu masih banyak, tapi kau malah enak-enakan tidur, kau pikir perusahaan bakal menggaji karyawan pemalas seperti mu, haaah!" sentak Bu Aida dengan nada meninggi.
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk seperti itu," jawab Cery sambil menunduk meskipun dalam hati ingin sekali melawan wanita di hadapannya itu.
Bu Aida pun berjalan menuju ke arah pintu keluar, membuat Cery mengikuti wanita tersebut meskipun mulutnya terus komat-kamit mengumpat wanita tersebut, hingga sampailah dirinya berada di lantai 3.
"Karena kau tidak bekerja dengan benar, bersihkan seluruh kaca lantai 3 sendirian, tanpa ada yang membantu sedikitpun!" perintah Bu Aida sambil melempar lap ke wajah Cery.
"Sialan, kenapa? malah dia yang melempar lap ke wajah ku sih?" umpat Cery dalam hati nya sambil menatap Bu Aida penuh dendam.
"Kenapa? Mau melawan? Semakin banyak melawan maka semakin banyak juga hukuman tambahan," tanya Bu Aida sambil tersenyum seringai.
"Dasar penindasan, kau pikir kau bisa menindas ku seenaknya," umpat Cery dalam hati nya sambil berjalan menuju ke arah pintu keluar.
"Mau kemana kau?" tanya Bu Aida memegang tangan Cery.
"Mau itu Bu anu.." Cery tidak melanjutkan ucapannya gadis itu hanya tersenyum kecut karena merasa tidak bisa kabur.
"Si, ternyata kau berada di sini?" suara Wiliam membuat Bu Aida langsung melepaskan tangan Cery yang di pegang nya.
"Wilona, ada apa kau mencari ku?" tanya Cery dengan tersenyum senang karena merasa mendapat pertolongan dari pria tersebut.
"Tuan Wiliam, namanya, kau itu bisa sopan santun sedikit tidak? Selalu saja mengganti nama orang," ketus Bu Aida dengan Penuh peringatan karena merasa sangat begitu kesal dengan gadis tersebut yang juga mengganti nama nya.
"Bu Aid.." Belum sempat Cery berkata mulutnya langsung saja di bungkam oleh wanita tersebut.
"Tuan Wiliam, Anda ada perlu apa?"tanya Bu Aida masih membungkam mulut Cery.
"Aku, hanya ingin mengajak Si, untuk mengantar Bos Devan," Jawab Wiliam dengan singkat.
"Aaaaw, sialan kau!" umpat Bu Aida saat kaki nya di injek dan tangan nya di gigit oleh Cery.
"Bu Aiden, anda dengar sendiri kan? Kalau saya di suruh mengantar Bos Devan, jadi kau kerjakan saja sendiri mengelap kaca nya," ucap Cery tanpa sedikitpun memperdulikan Bu Aida yang sedang menahan sakit karena ulahnya.
Detik berikutnya gadis itu melayangkan lap itu tepat mengenai wajah Bu Aida.
"Ya ampun, Aku ngga menyangka, kalau mimpi ku melempar Lap ke wajah nya menjadi kenyataan," gumam Cery sambil menutup mulutnya merasa tidak percaya dengan apa yang di perbuat nya.
"Si Culun, Mata Empat!" teriak Bu Aida dengan sangat begitu marah.
Namun bukan rasa takut yang ada, justru malah yang terdengar gelak tawa, kedua orang tersebut karena Wiliam juga ikut tertawa terbahak-bahak.
"Tuan Wiliam, anda juga, malah ikut menertawakan ku!" sentak Bu Aida merasa tidak terima dengan apa yang di lakukan keduanya.
"Maaf, Aku tidak bermaksud, tapi apa yang Aku tertawakan memang lucu," jawab Wiliam tanpa dosa sedikitpun.
"Dasar menyebalkan!" umpat Bu Aida langsung pergi begitu saja karena merasa malu dan tidak ingin terjadi sesuatu.
"Wilona, apa dia akan melaporkan kepada Bos Devan?" tanya Cery dengan sangat begitu ketakutan saat melihat punggung Bu Aida yang sudah menjauh.
"CK.. Berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab, dasar rusuh." Wiliam berdecak sambil geleng-geleng kepala tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan yang menurut nya tidak penting itu.
Cery hanya mengerutkan keningnya heran karena tidak mengerti dan langsung saja berjalan mengejar pria tersebut karena merasa butuh penjelasan.
BERSAMBUNG