
Setelah melakukan pekerjaan nya bersama Arga kini jam istirahat sudah tiba, semua OG dan karyawan berdatangan ke kantin. Ada juga yang masih sibuk dengan beberapa tugasnya. Cery mengajak Arga untuk makan bersama, mereka sedang duduk di bangku ruang istirahat, meskipun sepanjang kerja tadi sempat terjadi perselisihan dengan teman yang lainnya, karena berita kemarin yang masih menjadi perbincangan.
"Makan bareng yuk," tawar Cery menyodorkan bekal yang di bawa nya.
"Ngga deh, nanti kamu nggak kenyang," tolak Arga menggeleng dengan cepat.
"Banyak kok, ada gulai cumi, udang saus padang, ikan gurame dan lain-lain," tutur Cery panjang lebar menunjukan tempat makan yang berisik makanan penuh, hal itu tentu membuat perut Arga menjadi keroncongan sendiri, Air liur nya hampir saja menetes.
"Yakin nih, nggak mau?" lanjut nya lagi dengan tersenyum tipis.
"Ngga mau nolak dong, tentu nya," jawab Arga sambil cengengesan langsung merebut tempat makan tersebut.
"Ih curang, tadi tidak mau?" sungut Cery sambil mencebikan bibir nya kesal.
"Tadi kan hanya becanda," jawab Arga sambil cengengesan.
"Mau makan pake sendok? apa tangan langsung?" lanjut nya lagi saat melihat hanya ada satu sendok makan.
"Tangan langsung saja," jawab Cery mengambil alih makanan yang dipegang Arga.
Mereka berdua makan satu tempat bersama, mungkin bagi yang melihat nya mereka seperti sepasang kekasih.
"Yang masak kamu? Ini enak sekali, Aku sampai nggak bisa berhenti makan nya?" tanya Arga sambil mengunyah makanan nya.
"Tentu saja tidak, mana mungkin? Aku bisa masak seenak ini, memegang bumbu dapur saja tidak pernah, karena bau bisa mengotori tangan ku," jawab Cery sambil cengengesan mengingat betapa malas nya dirinya.
"Lantas, ini siapa yang masak?" tanya Arga sambil mengerutkan keningnya heran.
"Tentu saja kakek ku, dia itu pandai dalam segala hal terutama urusan dapur, Aku bahkan seperti cucu laknat yang tidak pernah membantunya sama sekali, hanya makan kerja dan tidur," jelas Cery panjang lebar sambil masih cengengesan.
Cery pun menceritakan banyak hal tentang diri nya, bagaimana dirinya di Kekang oleh kedua orang tuanya, sikap nya yang bar-bar, manja dan pembuatan onar, hingga gadis itu memutuskan tinggal di rumah kakek nya, hal itu membuat Arga terkekeh geli mendengar penuturan Cery, yang menurut nya sangatlah aneh dan langka wanita seperti Cery itu.
"Aaaaa... Bruuuut"
Cery bersendawa di ikuti kentut yang cukup keras membuat obrolan mereka terhenti, padahal gadis itu baru makan beberapa suap saja.
"Ah lega nya," ucap Cery sambil mengibaskan tangan nya langsung berdiri.
"Si, kau jorok sekali!" pekik Arga langsung menutup hidung nya, merasa tidak habis pikir dengan gadis di hadapannya itu.
"Ah Sorry, Aku kelepasan," tutur Cery sambil cengengesan.
"Apa kentut Ku bau Ga?" tanya Cery sambil mengerutkan kening heran saat Arga menutup hidung nya.
"Tentu saja bau, memang nya apa?" jawab Arga sambil mendengus sebal dengan pertanyaan yang sudah ada jawab nya itu.
"Kata Dedy, kalau kentut bunyi itu tidak bau, justru malah wangi, bahkan Dedy sangat menyukai kentut ku," celoteh Cery panjang lebar membuat Arga geleng-geleng kepala mendengar penuturan gadis di hadapannya itu.
"Mana ada begitu? dimana-mana kentut itu bau lah, Dedy mu saja yang terlalu pandai berbohong," Jawab Arga dengan tidak habis pikir.
"Ngga, Dedy ku itu selalu saja jujur, dia bukan pembohong," jawab Cery dengan penuh peringatan menatap arga dengan tatapan marah dan kesal.
"Sudahlah, jangan bahas tentang kentut lagi, walau bagaimanapun itu memalukan," jawab Arga mengalihkan pembicaraan yang menurutnya tidak berfaedah itu, karena merasa tidak aman.
"Oh ya ampun, Aku lupa sesuatu Ga!" pekik Cery dengan panik saat melihat jam di tangan nya.
"Apa?" tanya Arga ikut heboh.
"Aku belum memberikan makanan ini pada My Bos, takut jika dia membeli makanan dari luar," jawab Cery langsung berlarian.
"Heh,tempat makan nya ngga di bawa?" panggil Arga membuat Cery langsung kembali.
"Oya, lupa, Aku sudah cantik belum?" tanya Cery sambil menunjukkan penampilan nya.
"Cuci tangan dulu, lap mulutnya, baru benar," jawab Arga sambil geleng-geleng kepala, membuat Cery tersenyum kecut langsung saja berjalan menuju ke arah toilet untuk mencuci tangan nya.
"Ya sudah kalau begitu, Aku pamit dulu yah," pamit nya sambil tersenyum tipis.
"Makanan nya bagaimana? Kau baru makan sedikit?" tanya Arga sambil menunjuk makanan yang masih tersisa banyak.
"Untuk kau saja, anggap saja tips," jawab Cery sambil melangkah meninggalkan tempat tersebut.
"Semoga berhasil!" teriak Arga membuat Cery hanya menanggapi nya dengan anggukan kepala.
Setelah mengatakan hal itu Arga langsung saja tersenyum dan langsung saja kembali melahap makanan nya, toh kapan dirinya makan enak seperti ini, pikir nya.
Sementara Cery berjalan dengan riang langsung masuk ke arah lift, tanpa sedikitpun memperdulikan perkataan karyawan yang membicarakan dirinya tentang berita kemarin yang masih menjadi perbincangan.
"Nona, di larang masuk, Tuan Devan sedang tidak ingin di ganggu," ucap seorang wanita cantik bertubuh tinggi menghalangi Cery yang hendak membuka pintu.
"Aku, di suruh mengantar makanan ini untuk Bos Devan," bohong Cery sambil menunjukkan tentengan yang di bawa nya.
"Benarkah? Aku tidak percaya, setahuku kau selalu saja membuat onar terlebih masalah kemarin," jawab Wanita itu dengan tatapan menyelidik.
"Dasar wanita menyebalkan sekali, Aku sudah berkata dengan lembut tapi malah tidak percaya," gerutu Cery langsung menendang kaki wanita itu dan masuk ke dalam ruangan Bos nya itu, tanpa sedikitpun memperdulikan wanita itu yang menjerit kesakitan.
"Sudah ku katakan, Aku tidak ingin di ganggu!" baru saja Cery membuka pintu suara Devan sudah terdengar ketus dan galak.
"My Bos, iya Aku tahu, kau tidak ingin di ganggu tapi, Aku membawakan makan siang untuk mu," jawab Cery terus berjalan menuju ke arah meja kerja Bos nya itu.
"Sipuuuut! Kau mau apa?" pekik Devan saat Cery menarik kursi duduk nya sehingga pria itu sudah menghadap ke arah Cery.
"Ingat, tidak ada yang Lebih penting dari makan siang, jadi Aku tidak akan membiarkan, My Bos ku ini, mengurung diri seperti ini," ucap Cery panjang lebar sambil tersenyum seringai.
"Mau apa kau?" tanya Devan dengan wajah panik karena melihat gelagat aneh gadis di hadapannya itu.
"Jangan panik dan seuzon begitu, Aku ke sini cuma ingin mengantarkan makanan, untuk mu," jawab Cery sambil membuka tentengan yang di bawanya.
"Buka mulut mu," lanjut nya lagi sambil menyodorkan sendok ke mulut Devan.
"Ngga, Aku tidak mau, yang ada nanti, Aku bisa sakit perut, makan masakan aneh seperti itu," tolak Devan menggeleng dengan cepat, karena tahu jika makanan yang di bawa gadis di hadapannya itu akan membuat dirinya tidak berselera.
"Aku pastikan kali ini enak, karena bukan Aku yang memasak nya," jawab Cery berusaha untuk membujuk.
"Kalau kau tidak buka mulut, maka Aku akan mencium mu," lanjut nya lagi sambil memanyunkan bibirnya, membuat Devan menjadi terpojok dan tegang karena ulah gadis di hadapannya itu.
Dengan terpaksa Devan pun membuka mulutnya karena tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya, hal itu membuat Cery tersenyum senang langsung menyuapi bos nya itu.
Satu suap sudah masuk ke mulut Devan membuat pria itu melotot sempurna.
"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Cery dengan tatapan menyelidik.
"Ini mah bukan enak lagi, tapi enak banget," jawab Devan langsung mengambil sendok yang di pegang Cery dan mengambil alih menyendok sendiri makanan tersebut, membuat Cery terheran-heran melihat bosnya seperti orang yang tidak pernah di beri makan.
"Ikan nya nggak di makan?" tanya Cery menunjuk ikan yang masih utuh.
"Aku tidak suka ikan," jawab Devan dengan singkat Masih melahap makanan nya, membuat Cery hanya mengangguk-angguk sambil melongo di buat nya.
"Ini apa yang kau masak? Aku tidak pernah makan, makan gulai seenak ini, selain gulai ayam?" tanya Devan setelah merasa cukup banyak makan.
"Itu gulai cumi, kakek ku yang masak, dia pandai sekali dalam urusan dapur, dan makanan seafood adalah makanan favorit ku, seperti udang saus padang," jawab Cery panjang lebar sambil menunjuk udang saus padang yang masih utuh, karena Devan hanya memakan gulai cumi saja.
"Apa Seafood? jadi ini Cumi?" pekik Devan dengan wajah panik, lalu tiba-tiba menjatuhkan sendok yang di pegang nya.
Bruuuuuugh
BERSAMBUNG