My First Story

My First Story
Pria Asing



Asyik melamun zoie sampai tidak sadar bahwa Sean kini sudah berdiri di hadapan nya.


Sean mendekat kan wajahnya ke wajah zoie, dan tiba - tiba mengecup bibir zoie.


"Heiii.... Apa yang kau lamunkan??? " tanya Sean.


Zoie reflek langsung mendorong Sean sedikit keras.


"Mengapa kau mencium ku" tanya zoie dengan tatapan menyalang, lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.


Sean terkekeh


"Maaf aku tidak tahan untuk tidak menciummu" jawab Sean lalu berjalan menuju sofa.


Sedangkan zoie mencebik.


"Bisa kau jelaskan.. mengapa aku bisa sampai ada disini" tanya zoie ketus


Sean Duduk di sofa kemudian berdiri lagi lalu berjalan membuka horden kamarnya dan kembali duduk di sofa.


"Apa kau tidak bisa mengingat nya, bahkan kita menghabiskan malam indah bersama" kata Sean.


Zoie mendongakan kepalanya mata nya langsung tertuju ke dinding kaca kamar Sean.


Dia bisa melihat dengan jelas pemandangan kota dari ranjang tempatnya duduk saat ini.


Sedang kan Sean masi berdiri disana, memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celana.


Lalu zoie kembali menatap Sean.


"Benarkah?" tanya zoie dengan mimik wajah yang sulit dijelaskan.


"Hmmn" jawab Sean singkat lalu menyenderkan tubuhnya ke dinding kaca.


Zoie terdiam, dia kembali bertanya - tanya dalam hatinya.


"Jika memang benar kami sudah melakukan nya, kenapa aku tidak merasakan apa-apa".


Zoie bingung.. ingin memastikan kepada Sean tapi dia gengsi, karena dia sedikit tidak percaya dengan Sean. Dia sangat yakin bahwa tidak ada yang terjadi diantara mereka.


Sedangkan Sean masi terus memperhatikan zoie, mimik wajah zoie yang berubah - berubah membuat Sean merasa gemas.


" Jangan memasang wajah seperti itu" tiba - tiba Sean bersuara membuyarkan lamunan zoie.


"Jika ada yang ingin kau ketahui, tanya kan saja pada ku" timpal sean


Tiba-tiba zoie berdiri dia menghampiri Sean.


"Apapun yang terjadi diantar kita malam ini, mari kita lupakan saja... toh juga kita tidak saling mengenal.." kata zoie akhirnya


Dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan melupakan hal ini.


Sean mendelik.. dia tidak percaya dengan tindakan zoie, padahal dia sengaja mengatakan itu agar zoie meminta pertanggungjawaban darinya.


"Apa kau tak ingin aku bertanggung jawab atasmu" tanya Sean.


"Tidak" jawab zoie tersenyum.


"Tapi kau akan rugi!!"


"Tidak masalah, aku bisa mengatasi".


"Bagaimana jika kau hamil?".


Ingin sekali rasanya zoie tertawa, dia tidak habis pikir mengapa Sean harus berbohong.


"Aku tidak akan hamil, percaya lah" jawab zoie


"Bagaimana bisa kau tau?" tanya Sean.


"Ya tentu saja aku tau, karena kita tidak pernah melakukan nya, jadi sudah dipastikan aku tidak akan hamil" jawab zoie


Sean terdiam,, dia tersenyum kikuk, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Zoie meraih tangan Sean, menggenggam nya dengan erat, dia tersenyum tatapan nya sejajar dengan Sean.


Sedangkan Sean yang ditatap seperti itu, mendadak kikuk, jantung nya berdegub kencang.


"Terimakasih,... aku benar - benar berterimakasih kepadamu, karena kau tidak melakukan nya padaku, aku sangat percaya kau pria yang sangat baik, padahal kau punya peluang besar tetapi kau tidak mau melakukan nya, aku berdoa semoga Tuhan selalu melindungimu" ucap zoie tersenyum dengan sangat manis.


Sean membisu dia sedikit bingung, karena zoie mendadak berbicara dengan sangat lembut, dan Sean juga tidak begitu mendengar apa yang dikatakan oleh zoie, matanya hanya fokus ke bibir zoie yang bergerak ketika berbicara. Ingin sekali rasanya dia ******* dan mengunyah bibir itu, tapi dia takut gadis itu akan marah.


"Tuan" zoie mengusap lembut lengan sean, dan seketika kesadaran Sean kembali.


Sean berdehem, menetralkan degub jantung nya.


"Kenapa" tanya nya


"Aku ingin pulang.. karena sore ini aku harus kerja" jelas zoie.


"Tunggu lah sebentar, asisten ku sedang dalam perjalan kesini membawakan mu baju ganti" ucap Sean.


Tadi pagi setelah bangun, Sean langsung memerintahkan dimas mencari baju ganti untuk zoie.


Zoie tersenyum.. "tapi kurasa itu tidak perlu tuan, aku harus pulang sekarang juga.. aku sedang terburu".


"Baik lah.. aku akan mengantar mu".


"Aku naik taxi saja".


" Ku antar atau kau tidak bisa keluar sama sekali dari sini" ancam Sean.


Zoie mengernyit, kedua alisnya saling bertautan.


Sean tersenyum "Tidak.. jika itu untukmu.. ayoo" Sean menarik lembut tangan zoie mereka keluar dari dalam kamar.


Sean menuntun zoie keruang tamu, mendudukan nya disofa.


"Tunggu disini sebentar, aku akan mengambil tasmu diruang kerjaku" ucapnya


Zoie mengangguk... lalu duduk diatas sofa.


Zoie memperhatikan apartemen mewah Sean, dia berdecak kagum melihatnya.


"Padahal dia laki-laki tetapi apartemen nya jauh lebih rapi dari apartemen ku" Zoie terkikik sendiri, tetapi matanya masih terus berkeliling memperhatikan setiap sudut apartemen Sean.


Sean datang dengan membawa tas zoie.


"Ini tasmu" sean memberikannya pada zoie


"Terimakasih"


"Apa kau tidak ingin mengecek nya terlebih dahulu? " tanya Sean


"Tidak.. aku percaya padamu.. bisa kita pergi sekarang"


Sean mengangguk "Ayookk" ajaknya dan zoie pun mengekor Sean dari belakang.


Sean membuka pintu, bertepatan dengan dimas yang juga hendak masuk.


"Tuan" sapa dimas.


Sean berdehem


"Saya sudah membawa baju nona". ucap dimas lalu menyerahkan dua paper bag kepada sean.


Zoie menatap dimas dan Sean bergantian lalu tersenyum, " Terimakasi ucapnya"


"Handle pekerjaan ku hari ini, karena seharian penuh aku tidak akan kekantor"


"Baik tuan" jawab dimas.


Zoie hanya diam memperhatikan interaksi kedua pria tersebut. "Siapa lelaki ini, kenapa dia harus punya asisten segala, dan dia juga tinggal di apartemen mahal, apa dia seorang bos" tanya dalam hati.


Karena sampe saat ini zoie masi belum mengetahui siapa Sean, bahkan nama saja mereka berdua masi belum saling mengetahui.


Sean, dimas dan zoie kini berada didalam lift, tak ada pembicaraan diantar mereka, mereka sama - sama terdiam sibuk dengan pikirannya masing - masing.


Ting....


Pintu lift terbuka, Sean berjalan terlebih dahulu dia langsung menuju ketempat mobilnya terparkir.


Sean berhenti didepan sebuah mobil sport berwarna Kuning.


Dia membukakan pintu dan menyuruh zoie untuk masuk.


Zoie menurut saja, dia tidak bertanya apapun.


Sean menutup pintu, lalu berlari ke sisi sebelah.


Sedangkan dimas sudah berlalu dengan mobilnya sendiri.


Sean menghidupkan mobilnya "Dimana alamatmu". tanyanya kepada zoie.


"Apartement A.. di jalan Xx" jawabanya.


"Apa kau tinggal sendiri? tanya Sean lagi.


" Hmmn" jawab zoie singkat.


Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Tidak banyak pembicaraan yang terjadi diantara mereka ntah kenapa pagi ini Sean begitu canggung terhadap zoie.


Padahal tadi malam Sean begitu banyak berbicara.


"Kenapa kau tertarik denganku?" tanya zoie memecah keheningan diantar mereka.


"Apa harus memiliki alasan untuk tertarik dengan seseorang" tanya sean "aku tidak memiliki alasan apapun, aku hanya mengikuti hatiku" jawab Sean.


"Apa hanya karena alasan tertarik Hingga kau sampe membawaku tidur di apartemen mu?".


"Kau pingsan didepan ku nona, tidak mungkin aku minggalkanmu disana kan?.


"Bisa saja" jawab zoie


"Aku tidak rela jika ada pria lain yang menyentuh mu". ucap Sean.


" Kau tau apa yang menjadi alasanku pergi ke club malam itu.... aku sedang patah hati tuan" tekan zoie.


"Aku tau,, bahkan aku melihat jelas kekasihmu sedang bercumbu dengan wanita lain disana"


Hi readers...


Terimakasih sudah mampir di karya ku


Mohon maaf jika banyak typo


Mohon dukungannya yah


Like, comment, dan hadiah tentunya


Salam sehat


Love


Author loie ❤❤❤