My First Story

My First Story
Bab 32



Hari berlalu,


Kini kehamilan zoie sudah berada di penghujung bulan, memasuki usia kandungan 9 bulan, membuat zoie mengalami sedikit kesulitan dalam bergerak.


Beruntung nya zoie memiliki suami seperti sean, yang selalu siaga membantu zoie dalam hal apapun.


"Kamu tidak ke kantor sayang"


"Tidaek sayang.. mulai hari ini aku sudlgambil libur kerja sampai nanti anak kita lahir".


"Truss urusan perusahaan gimana?"


"Ada dimas, dan papa juga akan menggantikan aku sementara waktu"


"Kasihan papa sayang, papa kan uda tua, koq masi disuru ngantor sih".


"Ini justru papa yang suru honey, dia mau aku 24 jam dampingi kamu untuk menyambut cucu pertamanya ini". sean mengelus lembut perut buncit zoie dan sesekali menciuminya.


"Sayang"


"Hmmn"


"Mandi yukk". ajak zoie kepada sean.


Sean mengangguk dan membantu zoie untuk bangun dari kasur, lalu menuntun nya hingga masuk kedalam kamar mandi.


Mereka pun mandi bersama, sean membantu zoie untuk menggosok punggung milik zoie, dan daerah lain yang tidak bisa dijangkau oleh tangan zoie. perutnya yang membesar membuatnya kesulitan untuk membersihkan dirinya.


Selepas mandi mereka pun turun untuk sarapan bersama dengan orang tua sean.


Di sela-sela sarapan mereka, mama sean pun menanyakan keadaan zoie.


"Bagaimana sayang, sudah ada tanda-tanda yang kamu rasakan?".


"Belum ma, sejauh ini belum ada rasa sakit yang berlebihan ma" jawab zoie.


"Sayang kenapa kita gak secar aja sih" celetuk sean.


Mendengar omongan sean, membuat mama sean menjadi berang.


"Kamu tu yah, harusnya kalau jadi suami kamu dukung kemauan istri kamu".


"Loh.. bukan gitu ma, sean bukan tidak ingin mendukung keinginan zu, sean hanya tidak mau zu merasakan sakit sampe berjam-jam, sean gak tega aja ma".


"Mama justru dukung zu untuk lahiran normal, biar kamu tau bagaimana perjuangan seorang ibu ketika melahirkan anaknya".


"Biar kamu sadar, biar gak Lawan-lawan mama lagi" kata mama sean dengan nada yang ketus.


"Apaan seh".


Zoie terseyum, dan meraih tangan sean lalu di genggamnya.


"Gak apa-apa sayang, aku hanya ingin merasakan bagaimana sakitnya perjuangan untuk menjadi seorang ibu, kau gak perlu kwatir sayang".


"Baiklah" jawab sean lemas dengan mengerucut kan bibirnya.


"Sudah...Sudah... Yang paling terpenting itu sekarang adalah kesehatan menantu dan calon cucu papa, mau proses lahiran nya bagaimanapun tetap sama-sama berjuang untk menjadi seorang ibu. " potong papa sean secara tiba-tiba.


Dan sean pun pasrah dengan keinginan istrinya.


✧・゚: *✧・゚:*


Saat ini zoie dan sean sedang duduk santai di ruang keluarga mereka, sehabis makan malam tadi zoie merasa perutnya begah karena kekenyangan.


Zoie sebenarnya sedari tadi merasa perutnya tidak nyaman, dia terus bergerak gelisah disofa hingga sedikit mengganggu sean.


"Sayang are you ok" tanya sean.


"Hmmn.. aku hanya sedang mencari posisi nyaman saja".


Sean tersenyum, lalu bangkit dari duduknya dan berjongkok di hadapan zoie.


"Kita kekamar aja yah, biar kamu bisa baring dengan nyaman disana".


"Boleh deh".


Sean pun membantu zoie untuk berdiri, dan menuntun nya berjalan.


Katika hendak menaiki tangga, Tiba-tiba zoie merasa ingin buang air kecil.


"Sayang aku pengen pipis".


"Iya sayang, nanti dikamar mandi kamar kita aja pipisnya".


Baru saja menaiki 2 gundukan tangga, tiba-tiba cari bening membanjir celana zoie. Sean menjadi panik.


"Sayang kamu pipis yah"


"Enggak" jawab zoie dengan cepat, dengan wajah yang memerah dia menggeleng dengan keras.


"Tapi koq malah jadi keluar terus yah se".


Zoie pun menjadi ikut panik, melihat air yang terus keluar membanjiri celananya.


"Sayang, aku rasa ini sudah waktunya".


"Maksud kamu apa" tanya sean bingung


"Sepertinya aku akan melahirkan sayang".


"Hah".


Sean sangat terkejut mendengar perkataan zoie. dengan sigap sean membawa zoie kembali duduk ke sofa, dan memanggil keras mamanya. Sean duduk berjongkok di hadapan zoie menggenggam tangan zoie.


"Kamu tunggu disini sebentar yah, aku panggil mama dulu habis ini kita langsung kerumah sakit".


Setelah memanggil mamanya dan membawa segela perlengkapan mereka pun langsung meluncur kerumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, zoie pun langsung diperiksa oleh dokter kandunganya, yang sudah dihubungi oleh Sean sebelumnya agar mereka standby dirumah sakit.


Docter langsung mengecek jalan lahir, dan ternyata zoie sudah bukaan 6. Untuk mempercepat bukaan dokter menyarankan zoie untuk tidur menyamping kesebelah kiri.


Tak butuh waktu lama, sekitar 2 jam berikutnya setelah melewati gelombang kontraksi yang begitu luar biasa. Sean begitu setia menemani istrinya


Hingga Akhirnya tangisan seorang bayi laki-laki begitu menggema di ruang bersalin itu. Sean tersenyum lebar dia langsung menciumi seluruh wajah zoie.


"Thank you baby, thank you, I love you.. I love you"


Dengan nafas yang terengah-engah zoie hanya terseyum merespon setiap ungkapan cinta Sean untuknya.


Joanvin Andreas nama yang diberikan oleh Sean untuk anak laki-laki nya.