
Dia melihat ada beberapa panggilan tak terjawab disana, dari asisten nya dan juga asisten sang ayah.
Sean menghubungi asisten nya terlebih dahulu.
Menyuruh mengantarkan beberapa pakaian untuknya ke apartemen zoie
"Se... aku bikinin roti sama kopi dulu yah, buat ngeganjal sebelum makanan kita sampe".
Sean tersenyum.
"Boleh.. Thank you honey". Sean mecium pipi zoie.
Sean memperhatikan cara jalan zoie yang berbeda. Dia mengernyit.
"Honey,, mengapa jalanmu seperti itu" tanya Sean.
Zoie menoleh dan menatap Sean tajam.
"Apa aku harus menjelaskan nya!!.. tentu saja ini karena ulahmu" jawab zoie kesal.
Sean tertawa, setelah paham maksud dari omongan zoie.
Dan zoie langsung berlalu kedapur meninggalkan Sean di ruang tamu.
"Honey... dimana kamu meletakan charger ponselmu, Ponsel ku sudah hampir kehabisan daya" jerit Sean dari sofa.
"Ada dikamar... dimeja riasku" jawab zoie
Sean mengambil charger dari kamar, dan mencharger ponsel nya didekat TV yang ada diruang tamu.
Tak berapa lama Zoie datang dengan 2 cup kopi, dan beberapa lembar roti lengkap dengan selai kacangnya.
Begitu mendaratkan bokongnya disofa, zoie langsung menyesap kopi nya dan meraih dua lembar roti sekaligus.
Zoie yang sudah sangat kelaparan tanpa drama dengan gengsi dia langsung melahap rotinya dengan gigitan besar.
"Heii... pelan -pelan saja sayang.. kau bisa tersendak jika cara makanmu begitu".
"Aku benar- benar sangat kelaparan sean...." ucap zoie dengan mulut yang terus mengunyah.
"Hmmn aku tau,, tapi kau bisa memakannya dengan pelan sayang". ucap Sean seraya membersihkan bibir zoie dengan jempolnya.
"Ohh.. ini semua karena mu,, kau menghabisi ku tanpa ampun".
Sean tertawa.
"Sorry sayang,.. kau terlalu lezat untuk ku abaikan"
Sean menarik tengkuk zoie, dan menjilat bibir zoie dari sisa selesai selai yang menempel.
Zoie mendorong dada Sean pelan.
"Seaannn" geram zoie.
Sean kembali tertawa.
"Makanlah.." ucap Sean, mengusap lembut kepala zoie.
Sean meraih kopinya dan lalu menyesap nya.
"Thank you honey aku sangat menyukai kopi buatan mu". ucapnya, menatap zoie dengan senyum yang sangat manis.
Zoie tersenyum " Thank you".
"Aku sangat menyukai Espresso dengan tambahan sedikit gula, jadi aku membuat kan hal yang sama denganmu". ucap Zoie
"Thank you,, ini sangat enak sayang, aku sangat menyukai nya" ucap Sean kembali.
"Baguslah jika kau menyukai nya".
"Hmm.. kedepanya kopi buatan mu, akan menjadi kopi favorit ku".
"Kau menggombal ku disiang bolong tuan".
Sean tertawa.
Tak berapa lama bel apartemen zoie berbunyi.
Ting nong Ting nong.
Zoie yang masih menikmati rotinya hendak berdiri untuk membuka pintu.
"Aku yang akan membuka pintunya, habiskan saja roti mu" kata Sean.
Zoie meletakkan rotinya diatas piring, lalu menarik tangan Sean yang sudah berdiri.
"Kau ingin membuka pintu dengan keadaan seperti ini??... yang benar saja". ucap zoie yang menyadarkan Sean, jika saat ini dia hanya memakai boxer ketatnya saja.
Sean terkekeh dan kembali duduk disofa.
"Baiklah" ucap nya.
Zoie berdiri dan berjalan kearah pintu.
Zoie membuka pintunya, melihat seorang pria dengan setelan rapi berdiri disana dengan menenteng paper bag ditangan nya.
"Rapi amat yah kurir makananya" batin zoie.
"Permisi nona.. saya dimas, asisten tuan Sean, saya mau mengantar pakaian beliau". ucap dimas.
"Oh..maaf.. gue kirain tadi kurir makanan".
"Mau masuk?? " tanya zoie.
"Masuk saja" Ucap Zoie lalu membuk pintunya lebih lebar dan mempersilahkan dimas masuk kedalam apartemen.
Setelah dimas masuk, zoie menutup pintu dan menghampiri Sean yang berada diruang tamu, dan disusul dimas yang mengekor dibelakang.
"Asisten kamu tuh yang datang, katanya bawa baju ganti buat kamu" kata zoie saat mendudukkan tubuhnya ke sofa.
Sean menoleh kebelakang, melihat dimas yang berdiri disana. Sean berdiri dan menghampiri dimas.
"Tuan.. ini pakaian Anda" ucap dimas.
Sean meraih paper bag itu dari tangan dimas.
"Hmmn... tunggu disini sebentar, aku akan memakai bajuku terlebih dahulu".
"Baik tuan". jawab dimas.
Sean berjalan menuju kamar, diakan memakai bajunya dikamar zoie.
Zoie yang duduk disofa tidak memperdulikan dua pria itu, dia sibuk mengecek ponselnya, menanyakan keberadaan sang kurir dan menghabiskan sisa roti dan meminum kopi nya.
Sean keluar dari kamar dengan pakaian casual nya yang sudah rapi, dan dia terlihat sangat gagah dan tampan pastinya.
"Gila keren sekali dia" batin zoie melihat penampilan sean yang sangat berbeda di matanya.
Sean menghampiri zoie, yang sedang melihat nya dengan tatapan yang terpana.
"Jangan menatap ku seperti itu sayang, aku tau aku memang sangat keren dan kau terlihat sangat terpesona denganku" ucap Sean dengan tersenyum nakal dan menautkan kedua alisnya.
Zoie mencebik
"Ciih.. narsis sekali dirimu"
"Hmmn...tapi aku akui kau memang sangat tampan" ucap zoie "aku yakin sangat banyak wanita yang tergila -gila denganmu".
Sean tertawa dan lalu mengacak rambut zoie.
"I'm yours honey.. don't worry aku hanya tergila- gila padamu".
"Apa kurir nya belum datang? " tanya Sean.
Zoie menggeleng "Sebentar lagi katanya, aku baru saja menanyakan nya".
Sedangkan dimas yang berdiri disana, sudah seperti kambing congek memperhatikan interaksi tuan dan calon nonanya.
Tak berapa lama, bel apartemen zoie berbunyi.
Melihat zoie yang akan bangkit, dimas menyela.
"Biar saya saja yang membuka pintu nya nona" ucap dimas.
"Oh.. ok baiklah.." jawab zoie dia langsung menuju dapur.
Makan siang sudah datang, zoie mempersiapkan nya dibantu oleh dimas.
Makanan sudah terhidang dimeja, zoie mengajak dimas untuk bergabung dengan mereka melahap makan siang yang sudah terlambat ini.
"Dimas..setelah ini kau boleh pergi".
" Baik tuan" jawab dimas mengangguk.
Zoie mendongakkan kepala nya melihat kearah Sean
"Kau mengusirnya? "
"Dia akan sangat mengganggu jika berada disini"
"Cihh" decih zoie.
Dimas hanya tersenyum dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh tuanya.
"Katakan kepada papa, aku akan menemui nya besok".
"Baik tuan".
Setelah makan siang mereka selesai dan dimas juga sudah pergi dari apartemen zoie.
Kini mereka berdua tengah bersantai diruang tamu, Sean duduk disofa, sedang zoie berbaring dipangkuan Sean.
Zoie menonton TV, dan Sean sibuk dengan ponselnya, tak banyak pembicaraan diantara mereka.
Karena badannya yang masi remuk, dan efek kekenyangan membuat zoie mengantuk, dan dia tertidur dipangkuan Sean.
Sean tidak menyadari itu, karena dia masi sibuk dengan ponselnya, mengecek beberapa kerjaan dan email yang masuk.
Selang sejam kemudian, Sean baru melihat kearah zoie yang sudah tertidur nyenyak dengan mulut sedikit terbuka.
Sean tersenyum, mengelus pipi zoie dengan lembut dan mencium dalam keningnya.
Setelah Sean meletakkan ponsel nya keatas meja,dia lalu mengangkat zoie masuk kekamar dan meletakkan nya perlahan diranjang.
Dia juga ikut merebahkan tubuhnya disana, menarik zoie masuk kedalam pelukan nya dan mereka tertidur bersama.
Terimakasih sudah sudi mampir
Mohon dukungannya
Like Comment dan hadiahnya jika berkenan
❤❤❤❤❤