
"Daniel"
Daniel menoleh,mendengar suara yang familiar di telinganya itu adalah suara seira mamanya. "sampai kapan kamu akan seperti ini Daniel?" Daniel hanya diam,dia tidak ingin bicara dengan siapapun.
"ikhlaskan saja dia cari yang lain" Seira mendekati Daniel lalu mengelus pelan punggung pria itu,Daniel menepis tangan Seira, "jangan memancing kemarahan saya" Seira hanya diam mendengarnya,sejak Naila meninggal Daniel selalu menggunakan bahasa formal dengannya,ia juga jadi sangat pendiam.
"Dani-"
"Jangan membuat saya marah,tolong keluar" Seira tidak melanjutkan omongannya,dia melihat Daniel dengan tatapan sayu,anaknya itu sudah berubah ia semakin terpuruk karena penyesalan.
Seira melangkah keluar dari kamar Daniel,sehingga tersisalah daniel sendiri di ruangan tersebut.
"aku tidak menyesal kamu pergi,tapi aku menyesal karena kamu pergi tanpaku" Daniel menatap foto Naila dengan tatapan rindu yang tidak bisa di artikan.
"nai,janji kita masih ada di jembatan itu,kamu bilang kamu akan tetap ada untukku meskipun aku bukanlah orang baik" air mata Daniel turun.
"niel,aku berharap aku bisa kabur dari kamu tapi saat aku pergi aku harap kamu menemukan kebahagiaan kamu,aku harap ada yang dapat merubah diri kamu" ucapan Naila saat mereka SMA berdengung di telinga Daniel.
"nai,aku sadar ternyata masa-masa paling indah itu memang hanya aku lalui jika ada kamu" Daniel memukul dadanya yang terasa sesak,ia merasa sudah tidak memiliki harapan lagi.
"maaf nai,maaf,aku tidak bisa bersama denganmu disana" Daniel memeluk foto tersebut. sunyi menjadi saksi bisu jatuhnya air mata seorang Daniel yang dikenal kejam,dingin,dan tak berperasaan.
"aku rindu denganmu nai"
"aku rindu,ini sudah ke 400 kalinya aku bilang rindu kepadamu,tidak bisakah kamu kembali?" Daniel semakin erat memeluk foto tersebut,air matanya turun semakin deras,ternyata sesakit ini rasa dari penyesalan.
Daniel menangis sambil memeluk foto Naila sampai tertidur, ia lelah menangis,lelah akan dirinya,lelah juga akan rasa penyesalan yang menggerogoti hatinya.
20 menit Daniel mengahabiskan waktunya untuk mandi,sekarang ia berjalan ke arah lemari mengambil setelan jas berwarna hitam dengan dasi berwarna biru,setelah selesai memakai bajunya ia mengambil jam tangannya.
Daniel berjalan ke pojok ruangan kamarnya,ia mengambil kotak yang berisi kertas-kertas bertuliskan surat untuk Naila,Daniel membawah kertas tersebut lalu pergi keluar dari rumahnya tanpa melakukan sarapan pagi.
jarvis terdiam sedih,tuannya itu masih saja melakukan hal itu semenjak Naila pergi,ia ikut sakit melihat tuannya yang megharapkan seseorang yang jelas tidak akan kembali.
Daniel memasukan kotak berisi surat itu bersamanya ke dalam mobil,lalu melaju ke pantai yang biasanya ia kunjungi.
2 jam perjalanan dia habiskan untuk sampai ke pantai tersebut,ia pun keluar dalam mobil mengambil kotak berisi surat tersebut lalu duduk di bibir pantai. menikmati indahnya pemandangan laut itu.
tangan Daniel mengambil kertas bertuliskan "dari Daniel,untuk Naila. tidak apa-apa aku akan baik saja,tolong jangan khawatir denganku dan hiduplah dengan baik disana nai,aku akan menyusul nanti. aku mencintaimu naila,tolong tunggu aku" Daniel melipat kertas tersebut menjadi bentuk pesawat lalu menerbangkan,ini kertas untuk keseribu kalinya.
Daniel melihat kertas tersebut dengan mata sayu,ia sangat berharap kertas pesawat tersebut terbang jauh dan menyampaikan pesannya kepada naila.
tangan Daniel kembali mengambil kertas dalam kotak tersebut yang bertuliskan
"dari Daniel,untuk Naila. aku akan selalu merindukanmu,selalu"
-up selanjutnya hari selasa ya-
pssttt,daniel di maapin ga?