
warning!!ada banyak adegan kekerasan disini,bagi siapa yang berhati lemah. harap tidak membuka:V
Daniel memukul rahang Jarvis dengan keras. Saat ini emosinya sudah berada dipuncak,ia ingin membunuh Jarvis si berengsek. Ia tidak menyangka orang yang Daniel sangat percaya ternyata malah melakukan suatu yang buruk kepada wanita yang ia sayang.
"Berengsek kau!"
"T--u unggu tuan!"
Daniel memukul Jarvis bertubi-tubi tidak membiarkan bawahannya itu bicara. Saat ini Daniel tidak butuh omong kosong. Dia paling benci melihat Chia menangis,apalagi menangis karena dilecehkan oleh pria lain. Dan lucunya pria itu adalah bawahannya sendiri,bawahan yang sudah menemaninya beberapa tahun ini.
Setelah Jarvis tidak sadarkan diri dengan muka yang sudah hancur dipenuhi darah. Daniel beranjak dari tubuh Jarvis. Nafasnya ngos-ngosan tidak terkontrol. Emosinya tidak juga hilang. Daniel merasa sangat frustasi dengan semua ini. Ia ingin mengakhiri semuanya sesegera mungkin.
"jarvis!!" Terlihat sosok Akira yang berjalan dengan kakinya yang terseok-seok.
Akira menghampiri Jarvis. Lalu terjatuh tepat disebelah Jarvis ia tidak peduli dengan kakinya yang membentur marmer mahal rumah Daniel. Jarvis yang terkapar tidak berdaya lebih penting dimata Akira.
"tua-an apa yang anda lakukan?" Akira mengangkat kepala Jarvis lalu meletakkanya dipahanya lalu mengusap Darah yang keluar dari pelipis Jarvis.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" Daniel menendang muka Akira sampai hidungnya berdarah. Akira mengepalkan tangannya dengan erat ketika melihat wanita yang dibelakang Daniel tersenyum meremehkannya.
"Tuan.. kau boleh menyukai,kau boleh mencintai,tapi jangan sampai kau menjadi bodoh" Akira menatap Daniel dengan mata mengernyit lalu dia tertawa renyah.
"Berani sekali kau!" Daniel sekali lagi menendang muka Akira hingga pipi Akira membiru. Akira tetap tertawa. Karena ia merasa lucu. Ya,sangat lucu. Ia dan jarvis sudah lama berada disisi Daniel,tetapi Daniel lebih percaya dengan wanita yang baru ia temui itu. Miris.
Daniel terus menendang muka Akira sampai Akira berhenti tertawa. Nafas Daniel naik turun ia merasa ini sangat melelahkan. Daniel memanggil bodyguardnya yang lain lalu. Menyuruh para bodyguardnya untuk membereskan akira dan Jarvis.
Saat para Bodyguard Daniel mengangkat Akira dan Jarvis yang tak sadarkan diri. Tiba-tiba pintu terbuka.terlihat sosok Naila yang terkejut melihat dua orang tak sadarkan diri yang digotong oleh kedua bodyguard Daniel.
"Apa yang kau lakukan Daniel!?" Naila berjalan tergesa-gesa mendekati mereka.
"Memberi mereka pelajaran" Daniel menatap Naila tajam.
Naila menatap orang dibelakang Daniel yang kembali tersenyum meremehkannya. Dasar,wanita licik itu!!Naila akan membalasnya lihat saja nanti.
"Kau itu. iq mu. Hanya untuk pajangan ya?" Naila berkata dengan nada mengejek.
Daniel menatap Naila tajam. Tetapi Naila tidaklah takut,hanya sebuah tatapan tajam. Naila sudah sering mendapatkan tatapan seperti itu dari sosok yang sama.
"Kau benar-benar mendadak bodoh ya,tuan Arkanello yang terhormat" Naila maju selangkah mendekatkan dirinya ke Daniel. Lalu ia tersenyum miring.
"Hanya karena wanita licik seperti itu. Kau rela mengorbankan semuanya ya. Sepertinya matamu sudah tidak berfungsi sejak lama" Naila mendorong bahu kanan Daniel. Lalu membalikkan badannya pergi.
Saat hendak pergi tangan Naila dicekal oleh Daniel. Naila memberhentikan kakinya. dan Daniel dengan sigap menarik Naila sampai wanita itu menghadap ke Daniel.
"Mau kau mengatai aku bodoh atau apapun,ingatlah. Kamu masih tetap berada di genggamanku" Naila menatap Daniel dengan tajam.
"wanita itu!!dia dalang dari semua ini!,sadarlah! Sebelum dia semakin menjadi dan mempengaruhimu Tuan arkanello" Naila menunjuk ke arah Chia yang ketakutan karena ia menunjukknya tetapi Naila tahu. Itu hanyalah pura-pura.
" Apa maksudmu?kau ingin jadi sok pintar seperti mereka juga? Jangan mengajariku. Kamu belum cukup pintar untuk mengajariku"
"Satu hal lagi. Sebelum kamu memperingatiku. Bercerminlah terlebih dahulu. Siapa kau?sampai berani mengaturku" Daniel menghempaskan tangan Naila kasar lalu mendorong Naila sampai ia jatuh.
Daniel berbalik,berniat untuk kembali ke ruangannya. Daniel pusing dengan semua ini. Tapi cukup kalian ketahui saja,siapa yang mempermainkan Arkanello. Hukuman mutlak baginya untuk mati.
Naila menatap Daniel dengan pandangan Nanar sampai Daniel menghilang dibalik pintu ruangannya.
Tiba-tiba sebuah tangan menampar pipi Naila. Siapa lagi jika bukan tangan Chia. Tangan Chia mendarat mulus dipipi Naila.
"Bagaimana?sakit tidak di tampar?" Naila memandang Chia dengan pandangan geram. Saat Chia akan melayangkan tangannya untuk kedua kalinya. Naila menghentikannya. Lalu dengan pandangan sengit Naila membalas menampar Chia. Tidak tanggung-tanggung Naila bahkan membuat sudut bibir Chia mengeluarkan Darah.
"Kau tahu,yang mengajariku seperti ini. Adalah calon tunanganmu itu" bisik Naila ditelinga Chia.
Naila mengeratkan Cekikannya dileher Chia sampai Chia terbatuk-batuk. Mendengar Chia terbatuk-batuk Naila melempar Chia ke lantai lalu duduk diatas perut Chia.
"Jika kau membuat ulah seperti ini lagi. Aku akan membunuhmu" Ucap Naila dengan Nada dingin rendah.
"Siapa yang akan kau bunuh"
DEG—
Naila menoleh dengan tubuh gemetar,tubuhnya mendapat perubahan suhu derastis. Ini,suara ini. Ini suara Daniel.suara dingin layaknya mimpi buruk bagi Naila.
Daniel menarik tubuh Naila dari atas tubuh Chia dengan kasar. Lalu mendorong Naila masuk ke kamar utama milik Daniel.
Daniel mendorong Naila sampai jatuh terlentang lalu duduk diatasnya.
Plak—
Sebuah tamparan mendarat dipipi Naila lagi. Rasa panas mulai terasa dipipi Naila,sudut bibirnya mulai mengeluarkan Darah. Tapi Naila tidak menangis,ia malah menatap Daniel nanar.
Plak—
Lagi,rasa panas itu terasa 2x lipat lebih sakit dari tadi. Naila tetap memandang Daniel dengan tatapan Nanar.
Plak—
Tamparan terakhir yang terdengar sangat keras. Meninggalkan bekas lebam. Serta sudut bibir Naila yang sudah tidak berbentuk.
"Apa yang kau lakukan kepada Chia,hah!"
Daniel berdiri lalu menendang perut Naila dengan keras. Darah keluar dari mulut Naila. Meskipun disakiti seperti itu,Naila tidak mengeluarkan air mata. Ia hanya tetap memandang Daniel dengan nanar.
Lalu sebuah tendangan mendarat dikepala Naila,membuat Naila kehilangan kesadaran sepenuhnya. Kepalanya terasa berdenyut. Ia merasa sakit. Dan akhirnya menutup mata.
"Jalang sialan!jangan tidur!bangun!" Daniel menendang tubuh Naila dengan asal. Tetapi orang yang ia tendang itu tidak juga membuka matanya.
"Jalang sialan!" Daniel menggeret tubuh Naila dengan kasar. Lalu melemparkan tubuh yang penuh luka itu ke dalam bath up yang sudah diisi dengan air dingin.
Daniel menatap Naila dengan pandangan sinis. Tangannya terpaku pada tangan Naila,lalu daniel mengeluarkan pisau kecil yang selalu ia simpan di sakunya. Dan menyayat tangan Naila,dengan sayatan kecil-kecil yang pastinya akan terasa sakit.
"Nikmati hukumanmu!jalang" dengan sentakkan terakhir Daniel menarik rambut Naila kasar. Lalu memotong rambut panjang itu dengan kasar.
Setelah melakukan hal keji itu,Daniel meninggalkan Naila didalam sana. Lalu menguncinya.
Tanpa Daniel sadari,mata yang sedang tertutup itu,mengeluarkan air mata.
air bath up berubah warna menjadi merah darah,ketika darah keluar dari area sensitif milik Naila. dan juga tangan Naila yang disayat-sayat oleh Daniel. Naila mengalami pendarahan,tetapi tubuhnya sakit dan tidak bisa digerakkan. ia hanya ingin tidur sekarang.
ya tidur,hanya tidur.
---
Bersambung
jadi QnA kan?