My Ex Boyfriend Is My Ceo

My Ex Boyfriend Is My Ceo
#25



"Apa yang ada di pikiranmu!?kenapa kau membiarkan lelaki seperti itu mencium bibirmu!?"


"Diam" Naila menekan kapas yang sudah di beri alkohol dimuka Nathan.


"ahh.. kau gila ya" Nathan melototkan matanya,lalu berdecak kesal.


Ya,saat ini mereka berada diruang tamu dan Naila sedang membersihkan Luka Nathan sedangkan Nathan mengomeli Naila dengan ocehan-ocehan bagaikan ayah ke anaknya.


Naila tidak menyangka,Disaat dia membutuhkan seseorang Nathan lah yang datang. Padahal Naila selalu menyusahkan Nathan dengan Dellia yang selalu meminta ini dan itu kepada Nathan. Tapi Nathan tetap menuruti kemauan Dellia,tak jarang Nathan menghidupi kami bagaikan keluarga.


"Nath,bagaimana kau bisa tahu aku didalam kedai?"


"Waktu itu,aku berlari mengejarmu dan tak sengaja melewati kedai yang sedang ada kerusuhan itu.


"Aku mendengar salah satu dari wanita yang diusir, berkata 'apa-apaan ini kenapa kami diusir?kami sudah membayar'.


"Aku melihat wanita itu kesal sambil menunjuk kaca transparan dari kedai tersebut,dan aku melihat punggungmu.


"Setelah itu aku menelepon tangan kiriku,setelah mereka sampai aku menerobos masuk"


Naila hanya diam menanggapi ucapan Nathan. Setelah itu Naila pergi meletakkan baskom berisi air yang sudah dicampuri Alkohol itu di dapur.


Ketika Naila pergi,Nathan melamun memikirkan sesuatu. Nathan merasa ia pernah bertemu dengan Laki-laki yang mencium Naila tadi. Tapi siapa?Nathan tidak bisa mengingatnya sama sekali,bahkan nama laki-laki itu.


Kepalanya pusing,mungkin dia terlalu banyak berpikir,lagian Nathan mana punya teman ataupun sahabat cabul seperti lelaki di kedai itu.


Nathan Rasa,berurusan dengan laki-laki cabul di kedai tersebut akan sulit,Melihat banyaknya orang yang mengepung kedai tadi. Hanya untuk mengurung Naila dan dia untuk berciuman disana.


Nathan mendongak ketika melihat Naila muncul dari arah dapur dan duduk di sebelahnya.


"Kau pasti bingung ya kan?" Naila tanpa sadar meletakkan kepalanya dipundak Nathan.


Nathan diam,menikmati ketika Naila luluh dengannya seperti ini.


"Pria yang di kedai itu adalah mantan Pacarku sewaktu aku duduk di bangku SMA.


"Namanya Daniel,dia adalah alasanku pergi ke London"


Nathan melihat air mata Naila jatuh dan dia merasa sangat marah,sampai rasanya ingin menghancurkan orang yang membuat Nailanya menangis.


"Nath,dia.. menyiksaku dulu.


"Dan sekarang aku mengandung anaknya"


Nathan membatu ketika mendengar pernyataan Naila bahwa dia hamil anak pria cabul itu,Rasa amarahnya terhadap Daniel semakin besar.


"Apa kau masih mau menerimaku?"


Nathan tanpa aba-aba langsung memeluk Naila erat. Nathan merasakan semua hal yang menyesakkan didada Naila,selama ini. Naila terlihat baik-baik saja bahkan ia masih bisa tersenyum setelah semua penderitaan yang dia alami. Rasanya Nathan cukup beruntung disini,ia mendapatkan sosok malaikat kuat yang bisa bertahan di banyaknya badai masalah yang diciptakan untuknya dari tuhan.


"Tentu saja,aku menerimamu Nai!apa yang kau katakan hah!?"


"Aku Nathan,tidak peduli sekalipun itu anak Mantanmu atau anak pria lain"


"Kita bisa merawatnya dan menjadikan aku Ayah dari anak itu"


Naila melepaskan pelukannya lalu mengusap jejak-jejak air matanya,ia menatap Nathan dalam. Naila merasa Nathan adalah laki-laki yang tidak cocok untuk dirinya,lihatlah.. dia tampan,dia baik,dia ceria dan humoris,pasti banyak wanita yang lebih baik dari dirinya yang mampu bersanding dengan Nathan.


"Nath,masih banyak wanita yang lebih baik dariku"


"Apa kau masih menolakku nai?"


"bukan-bukan begitu"


"Lalu apa!?"


"Tidak ada wanita lain selain kamu,yang cocok bersanding denganku"


Airmata Naila kembali keluar,dengan gerakkan cepat Naila kembali memeluk Nathan rasanya air matanya tidak pernah berhenti untuk mengalir.


Nathan dengan sabar mengelus punggung Naila,hatinya remuk melihat wanita yang ia sukai menangis seperti ini.


Sudah Nathan tetapkan,seberat apapun masalahnya nanti Nathan akan menghadapinya,bahkan jika Daniel anak president sekalipun.


Nathan tidak terima,wanita yang awalnya sangat ceria menjadi sedih karena ulah Pria cabul seperti Daniel.


"Nai..dengarkan aku"


"Sekarang kau istirahat,biar aku yang menjemput Dellia" Nathan melepas pelukan mereka,lalu mencium kening Naila.


Naila hanya diam,setelah itu dia pergi menuju kamar dan istirahat,ia menyerahkan Dellia kepada Nathan lagian tubuhnya benar-benar tidak baik sekarang.


-


Nathan pergi mengendarai mobilnya menuju sekolah Dellia,saat menyetir fokus Nathan mendadak terfokus pada spion mobilnya,karena dia melihat 4 pasang mobil hitam sedang mengikutinya.


Dengan ahli Nathan mengecoh mereka dan dalam 10 menit dia berhasil kabur dari mereka. Nathan sudah tahu ini ulah siapa?ini adalah ulah Daniel,Nathan sudah yakin.


Karena ia tidak punya musuh dalam dunia bisnis,sekalipun ada musuh pasti Langsung Nathan atasi disaat itu juga,dan para musuhnya tidak ada yang pernah menggunakan mobil dengan lambang Burung elang yang tertempel kecil di sebelah plat nomer mobil tersebut.


Nathan merasa dia pernah kenal dengan Daniel,ternyata Daniel adalah pemilik Arkanello's Group yang sudah mendunia itu,berbeda dari perusahaannya jelas.. perbedannya dengan perusahaan Nathan sangat jauh,tapi bukan berarti dia tidak bisa menang melawan Daniel.


Sangat sulit memang,tapi sekarang yang harus ia pioritaskan adalah Naila dan anak-anaknya,pertama-taman Nathan akan membawah pergi mereka ke negara lain dan menyembunyikan mereka di tempat pribadinya.


Soal sekolah Dellia atau kebutuhan Naila semua sudah tersedia disana,Hanya perlu mengajak mereka untuk pindah kesana dan Masalah ini akan sesuai dengan rencana yang ada di kepala Nathan.


Nathan berhenti didepan sekolah Dellia,didepan gerbang terdapat sosok anak perempuan berambut lurus dengan mata bulat yang sedang menatapnya dengan mata berbinar-binar gembira.


"Om!!!"


Nathan tersenyum lalu menggendong Dellia masuk kedalam mobil dan pulang.


Di perjalanan pulang Dellia tertidur sepertinya dia lelah karena sekolah apalagi sekolah Dellia memerlukan waktu yang lama karena dia masuk kesekolah bahasa asing,yang dimana menggunakan sistem 'Full-day'.


Awalnya Nathan tidak ingin Dellia masuk kesana,tetapi karena Naila bilang 'tidak apa-apa'Nathan hanya bisa menuruti ucapan Naila. Sebenarnya Nathan tau kenapa Dellia dimasukkan ke sekolah itu,itu karena biaya sekolah asing disitu terjangkau murah,sekolah tersebut berbeda dengan sekolah bahasa asing yang lain.


Oh iya,rencana Nathan mengajak mereka pindah,mungkin akan langsung ia bicarakan besok. Karena sudah tidak ada waktu lagi. Daniel sudah mengincarnya dan sudah menemukan identitasnya. Jika ia tidak cepat-cepat pindah. Maka cepat atau lambat Daniel pasti kembali menyiksa Naila.


Nathan tidak ingin ada yang merebut Naila darinya.


Setelah Nathan memberikan tempat tinggal untuk Naila dan Dellia di tempat Pribadinya,Nathan akan terbang ke New York untuk meminta bantuan paman Samith mengurus Daniel.


Jika Daniel punya senjata pamungkas,maka Nathan juga mempunyainya.


karena Nathan bukanlah selemah yang dia lihat.


Nathan bukanlah lawan yang gampang diremehkan,Mungkin yang patut dirayakan kekalahannya besok adalah Daniel sendiri.


--


Bersambung.


Hai. Boleh minta target like gak?:V


"Banyak maunya ente thor!"


"Maap:("