
Daniel menusukkan pisau tajam itu berkali-kali sampai Chia memuntahkan banyak darah dari bibir merahnya. Daniel merasa sangat senang sekarang, ia merasa seperti orang terberuntung di dunia karena bisa membunuh manusia seperti Chia, ruangan pun menjadi hening tidak adalagi Teriakkan minta maaf yang di lontarkan oleh Chia.
Tetapi..
Ruangan yang hening itu kini kembali terisi dengan suara-suara patahan tulang. Ya,Daniel mematahkan tulang di tubuh Chia satu-persatu ia juga tidak berhenti menembakkan peluru ke kepala Chia. Darah mengalir dimana-mana tapi mata tajam Daniel tidak memperdulikan itu ia hanya ingin wanita sialan itu menderita bahkan di akhir kematiannya.
"Heh.. bahkan mati seperti ini masih terlalu mulia untukmu" Daniel meludahi mayat yang sudah tidak berbentuk itu lalu tersenyum miring dan meninggalkan jasad yang sudah hancur itu disana.
Daniel keluar dari rumah besar itu lalu memerintahkan Bodyguardnya untuk membakar rumah tersebut sampai benar-benar hangus, bahkan Daniel tidak ingin melihat satu rumput saja dari rumah itu. Rumah ****** dengan seorang pendosa.
"Jangan sisakan apapun atau aku akan membunuhmu" suara dingin yang begitu menusuk telinga itu membuat para bodyguard Daniel merinding.
Daniel melangkah pergi membiarkan para bodyguardnya menyelesaikan tugas mereka untuk membakar rumah itu, ia memilih untuk pergi menenangkan diri di mansion lamanya.
Mansion yang tidak diketahui oleh siapapun,bahkan ibunya.
Dengan mobil sportnya Daniel bisa sampai di mansion itu hanya dalam kurung waktu 30 menit. Tetapi ia tidak langsung turun dia Diam sebentar di dalam mobil sambil melihat mansion besar tetapi tidak ada pencahayaan di dalamnya, bukan karena apa..Daniel hanya tidak menyukai hal-hal terang.
Ia menyukai gelap karena mereka adalah teman setia Daniel.
Daniel diam selama 15 menit sambil melihat mansion itu,menikmati kilasan-kilasan yang melintas di kepalanya,masa lalu yang tidak biasa.
Dan akhirnya dia turun dari mobilnya, berjalan ke arah mansion dengan tenang tetapi matanya menatap dingin pintu mansion tersebut. Sampai di depan pintu ia menatap handle pintunya sebentar lalu mengelusnya dengan mata terpejam lalu membukanya.
Kenangan panis dan pahit itu langsung masuk kedalam kepalanya. Awal mula kebahagiaan dan kehancuran untuk dirinya.
Daniel melangkah masuk,walapun tanpa penerangan ia tetap bisa berjalan disana meskipun gelap karena dia sudah hafal dengan letak ruangannya. Daniel menaikki tangga lalu masuk ke salah satu ruangan. tidak ada yang bisa di lihat diruangan itu karena semuanya gelap.
Blam.
Daniel menutup pintu ruangan tersebut lalu dia duduk di belakang pintu tersebut dan mulai memejamkan matanya lagi.
"Lagi-lagi aku kehilangan seseorang"
"Aku rasa tuhan merangkai takdirku dengan Mood yang buruk" Daniel tertawa sumbang.
"Pria dengan takdir buruk sepertiku mana mungkin bersanding dengan dewi sepertimu nai?"
"Tapi aku tidak pernah bisa melepaskanmu"
"Aku yang tidak memiliki emosi,dan jiwa ini..selalu menginginkanmu"
"Aku selalu haus tentangmu,tentang tubuh maupun hatimu juga rupamu.. aku selalu haus akan itu"
"Jadi jangan pernah pergi dariku..atau aku akan mati" Rasa menyesal itu kembali menghantui hatinya,setetes demi setetes air mata turun dari matanya yang terpejam. Dan lagi-lagi hanya gelap yang menjadi saksi Daniel menangis.
Gelap dan hening adalah sahabat setianya,hanya mereka berdua saksi kesakitan maupun penderitaan yang Daniel alami. Bagi Daniel mereka sudah lebih dari cukup untuk menampung segala kesedihan Daniel. Suara yang tidak pernah Daniel suarakan kepada orang lain selalu ia suarakan kepada gelap.
Gelap dan Hening mengerti betapa rapuhnya Daniel. Mau sadis seperti apapun dia tetaplah seorang manusia.
Terkadang Daniel berpikir kenapa dia di takdirkan menjadi manusia? Manusia yang selalu terikat dengan permainan hati,manusia yang selalu terpikat dengan tahta, manusia yang selalu terpikat dengan kasta. Kenapa ia di ciptakan sebagai manusia kalau takdirnya selalu menyedihkan.
dan Daniel juga sadar semua orang penting di hidupnya pergi karena ulah dirinya sendiri Bukan siapa-siapa tetapi itu karena ulah dirinya sendiri.
Dengan kedua tangannya ia melukai orang-orang yang sangat penting di hidupnya. Bahkan otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Benar-benar tidak berguna memasang otak di tempurung kepalanya.
Dan andai saja.. tangan sialan itu tidak melukai Naila.. ia akan segera menjadi Ayah.
Air mata Daniel kembali turun dengan derasnya.. ia mulai memukul dadanya sendiri untuk mengurangi rasa sesak itu. Ia melupakan kenyataan bahwa ia juga kehilangan anaknya. Dan bahkan wanitanya koma. Betapa bajingannya dirimu Daniel.
Kamu benar-benar pantas mendapatkan itu semua Daniel,sudah cukup jangan tanyakan lagi kepada tuhan kenapa kamu mendapatkan takdir yang buruk,itu karena Perbuatanmu sendiri. Kenapa kamu masih menanyakan itu?Dasar bodoh.
--
Bersambung.