
Kehamilan olivia mulai membesar, juna sangat gemas melihat perut olivia yg mulai buncit. Setiap hari juna tidak pernah absen untuk mencium bahkan mengajak ngobrol calon anak mereka. Itu semua pemandangan yg selalu membuat olivia sangat bersyukur. Meskipun jalan yg ditempuhnya sangat berat untuk bisa bersama seperti ini. Atau mungkin perjuangannya juga belum selesai.
Drt.. Drt..
"Halo"
"Iya yo, jam berapa ?"
"Oke, nanti gua sama oliv usahain dateng."
Setelah menerima telfon, juna kembali ke dalam kamar. Melihat olivia sedang asik membaca buku tentang kehamilan.
"Sayang."
"Hmm.." jawab oliv sambil menoleh ke arah suaminya yg tiba-tiba datang dan memeluknya.
"Kenapa ?" tanya oliv.
"I love you." jawab juna lalu mencium bibir istrinya itu.
Olivia tersenyum dan membalas ciuman suaminya itu, lalu berbisik ditengah-tengah ciuman mereka "I love you too sayang."
"Kamu manja banget ih, perasaan aku yg lagi hamil." kata oliv yg masih dipeluk manja oleh juna. Memang semenjak olivia hamil, juna memang menjadi sangat manja melebihi oliv. Bahkan dia lebih sering menginginkan hal-hal yg aneh, terutama makanan.
"Aku nggak pengen jauh-jauh dari kamu." juna masih mencium-cium puncak kepala oliv.
"Kan aku emang nggak kemana-mana, dikurung dirumah gini sama kamu." kata oliv manja, sambil membuat gerakan memutar dengan jarinya di lengan kekar suaminya itu.
"Malahan kamu yg jadi males ke kantor." lanjut oliv. Padahal hal lain yg membuat juna malas pergi ke kantor adalah dia menghindari gadis yg masih saja gencar mencari cara untuk berdekatan dengannya.
"Kerjaan kan bisa dihandle dari rumah, kenapa harus ke kantor ?"
"Yaudah terserah kamu aja." oliv mengeratkan pelukannya.
"Sayang, boleh aku tanya sesuatu nggak ?" tanya juna sambil memainkan rambut istrinya.
"Ada apa ?"
"Waktu kamu pergi ninggalin aku ke Bali waktu itu, jadi aku pernah kehilangan sekeranjang baju kotor yg ada diapartmen." mendengar penjelasan juna itu membuat olivia tetawa geli dan semakin memeluk manja suaminya itu.
"Hahaha.... Bajunya kan pindah ke Bali ikut aku." jawab olivia sambil terkekeh geli.
"Jadi bener baju yg ada didalem tas di kamar kamu itu punya aku ?" tanya juna yg heran melihat wajah istrinya bahagia melihat dia kebingungan.
"Iya sayang."
"Jadi.... waktu itu ini si anak kecil ini kangen banget sama papinya. Terus aku nangis-nangis minta baju kamu ke dee." jelas oliv sambil mengelus-elus perutnya itu.
"Anak pintar." jawab juna yg sekarang sudah menciumi perut buncit olivia itu.
"Kenapa nggak suruh aku langsung dateng aja sih ?" lanjut juna kesal.
"Ketauan dong aku lagi dimana, kamu gimana sih ? Orang aku lagi jauhin kamu." jawab oliv sambil mencubit pipi suaminya itu.
"Jangan ulangin lagi ya sayang, kamu bisa cerita semua sama aku. Nanti kita cari jalan bareng-bareng." kata juna sambil mencium kening istrinya itu.
"Demi anak kecil ini juga, yg udah pinter jagain maminya." juna juga menciumi perut oliv.
"Iya papi." jawab oliv menirukan suara anak kecil sambil mengelus rambut juna. Mereka berdua terkekeh geli. Tidak menyangka sebentar lagi akan menjadi seorang orang tua.
"Oh iya, nanti malam ada acara surprise party untuk bang bobby. Kita dateng ya sayang." olivia mengangguk tanda setuju. Memang ini adalah acara pertama yg mereka datangi setelah resmi menikah. Lagipula mungkin hanya ada teman-teman mereka dan yg paling penting olivia akan nyaman disana.
**********
Malam harinya, olivia datang ke acara yg diadakan sahabat-sahabat juna untuk memberi kejutan pada bobby. Olivia cantik menggunakan slip dress dengan tali dibagian atasnya yg panjangnya hanya sebatas lutut dipadukan dengan jaket jeans oversize dan flatshoes. Sebelum akhirnya mengunakan baju ini sudah banyak drama juna yg sangat khawatir berlebihan dengan pakaian yg akan dipakai oliv. Lebih tepatnya dia posesif karna tidak mau membagi apapun tentang istrinya kepada orang lain. Bahkan dia adalah yg paling ribet tentang apa saja yg akan digunakan istrinya itu daripada oliv sendiri.
Selama kehamilan ini olivia memang terlihat lebih cuek, tapi semua ini berbanding terbalik dengan juna yg sangat pemilih dalam hal apapun. Apalagi ini menyangkut anak dan istrinya. Yuna dan mamanya sudah sangat terkejut dengan perubahan juna ini. Tapi tidak dengan olivia yg sudah sangat hafal dengan perubahan sikap suaminya itu.
Setibanya di bar tempat sahabat-sahabat juna merencanakan surprise party untuk bobby, olivia sudah diberikan banyak pesan oleh juna saat dimobil. Untuk tidak jauh-jauh darinya dan tidak dekat dengan cowok lain. Hanya seputar itu yg paling sering juna sebutkan.
Dee menyapa ketika melihat olivia masuk bersama juna.
"Liv," panggil dee yg mendatangi olivia lalu memeluk sahabatnya itu, memang sudah seminggu ini dee tidak bertemu oliv. Karna sekarang dia sudah bekerja diperusahan milik bobby. Selain itu karna juna yg selalu menempel pada olivia kemanapun olivia pergi.
"Dee." jawab oliv sambil membalas pelukan sahabatnya itu.
"Duduk yuk." olivia menoleh pada juna meminta ijin saat dee mengajaknya untuk duduk. Juna menyetujuinya dan membiarkan olivia duduk bersama dee. Sedangkan juna langsung menghampiri sahabat-sahabatnya itu.
"Lu baik-baik aja kan ?" tanya dee sambil mengelus-elus perut oliv.
"Baik dee. Gimana rasanya kerja bareng kak bobby ?"
"Ya... gitu. Dia kan cuek jadi mau berharap apa, mau bertemen sama kerja bareng juga nggak ada bedanya." jawab dee cuek.
"Bentar deh, emang lu maunya gimana ?" goda oliv, yg menangkap sepertinya ada sesuatu diantara sahabatnya itu dengan kak bobby.
"Yaudah.. yaudah.." oliv terkekeh geli melihat sikap malu dee.
Tidak berselang lama, bobby datang dan rencana surprise sahabatnya berhasil. Mereka sedang mengobrol bersama. Setelah itu yuna datang dan memberikan selamat pada bobby.
"Happy birthday bro." ucap yuna sambil mencium pipi kanan dan kiri bobby.
"Thanks." bobby memeluk yuna. Dee yg melihat itu mencoba mengalihkan pandangannya, oliv melihat gelagat sahabatnya itu yakin pasti dee memiliki perasaan lebih pada bobby.
"Hai, gua telat nggak ?" tiba-tiba suara gadis terdengar ketika bobby sedang mengobrol dengan yuna. Membuat semua yg ada disana terdiam dan saling melihat.
"Kalian jahat banget sih, ada party disini tapi gua nggak dikabarin." gerutu gadis.
"Bang, happy birthday ya." gadis mendatangi bobby dan mencium pipi kanan dan kiri bobby.
"Thanks." jawab bobby singkat. Lalu melihat ke arah olivia yg masih terkejut dengan kedatangan gadis.
Sebenarnya bukan hanya olivia yg terkejut, bahkan juna dan sahabat-sahabatnya itu juga terkejut bagaimana gadis tau. Bahkan mereka memang mengalihkan gadis tentang rencana kejutannya di esok hari.
"Sayang, kamu kok nggak ajak aku sih kesini." rengek gadis pada juna.
"..." juna hanya diam saja melihat sikap gadis.
"Kak yuna juga dateng ?" gadis mencoba menyapa calon kakak iparnya itu.
"Iya, kebetulan gua bisa jadi sekalian." jawab yuna mencoba ramah.
Gadis tau dibar itu sebenarnya ada kehadiran oliv juga. Hanya saja dia memang sengaja ingin menunjukan pada olivia jika diluar sana, orang-orang hanya tau hubungan dia dan juna yg bertunangan. Tidak dengan hubungan pernikahan mereka yg masih ditutupi.
"Bob, gila lu bikin party kayak gini gua nggak dikabarin." teriak sesorang yg datang lalu menghampiri bobby.
"Ngapain lu disini ?." tanya bobby singkat. Melihat kedatangan orang ini membuat bobby curiga. Ya, orang yg barusan datang adalah alex. Dia datang bahkan tidak mengucapkan selamat pada bobby.
"Jun, lu harus siap-siap musuh lu dateng barengan." bisik yoyo pada juna, membuat mereka saling berhadapan dan mengangguk.
Didalam pesta itu, gadis mencoba beramah tamah dengan beberapa teman juna yg dia kenal. Merasa seperti dialah yg menjadi tuan rumah. Yuna yg melihat hal itu langsung menghampiri adik iparnya itu, untuk memastikan bahwa semua ini tidak berpengaruh kepadanya.
"Liv, kamu baik-baik aja kan ?" tanya yuna yg sekarang sudah duduk disebelah oliv.
"Baik kak, kakak tenang aja ya." oliv menepuk punggung tangan yuna meyakinkan.
"Jangan khawatir ya, disini banyak yg jagain kalian." yuna memeluk olivia lalu berpamitan, "Kakak pamit dulu ya."
"Iya kak, hati-hati dijalan ya. Kabarin olivia kalo udah sampe." yuna menganggukan kepala lalu pergi berpamitan pada bobby dan yg lainnya.
"Liv, mau minum nggak ?" olivia menggeleng ketika dee menawarkan minuman.
"Yaudah, gua kesel banget nih gerah liat tuh cewek jadi-jadian deket-deket suami lu terus. Pengen gua jambak aja tuh rambut." dee tiba-tiba tersulut emosi melihat kelakuan gadis.
"Udah, lu kenapa yg marah sih ? Sabar dong." kata oliv menenangkan sahabatnya itu, padahal didalam hatinya dia sendiri sudah sangat cemburu. Tapi dia mencoba tenang.
"Bentar ya gua mau ambil minum, lu jangan kemana-mana tunggu gua disini." pesan dee lalu dia segera mengambil minum.
"Olivia." sapa alex yg tiba-tiba datang saat mengetahui dee meninggalkan olivia sendiri. Dia tersenyum miring.
"Eh, pak alex." jawab oliv kikuk.
"Boleh duduk ?" tanya alex sambil menunjuk kursi disebelah oliv.
"Oh, iya silahkan." jawab oliv.
"Lama nggak ketemu ya, kamu makin cantik aja."
"Makasi pak."
"Jangan panggil pak dong, panggil alex aja." kata alex sambil mencoba menyentuh tangan oliv tapi olivia menariknya secepat mungkin.
"O..oke.. alex."
"Gitu dong, biar keliatannya kita akrab." hanya senyum kaku yg bisa oliv keluarkan.
"Sepertinya kamu belum tau berita pernikahan gadis dengan juna yg sebentar lagi dilangsungkan ya." pancing alex untuk memancing respon oliv.
DEG....
"Oh ya, bagus dong." jawab oliv tenang.
"Mereka cocok banget kan, lagian gadis sekarang mengandung anak juna." lanjut alex, sambil menunjuk gadis yg menggandeng tangan juna mesra. Tapi juna hanya diam saja.
"Apa ? Ha... hamil ?" tanya oliv dengan suara bergetar.
**********