My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 23



Juna pagi ini bertemu dengan alex, si pemilik bar yg dihancurkan juna saat marah malam itu. Dia bertemu diruang VIP sebuah cafe.


"Silahkan duduk." alex dengan mengisyaratkan tangannya menyuruh juna duduk sambil menghisap rokoknya dan membuang asapnya ke wajah juna.


"Ada apa ?" Tanya juna sambil memalingkan wajahnya untuk menghindari asap rokok.


"Jangan terburu-buru. Apakah lu nggak rela meninggalkan cewek malam itu bahkan sesaat ?" alex mengeluarkan wajah merendahkan saat membahas oliv.


"Meninggalkan siapa maksud lu ?" tanya juna tenang.


"Cewek malam itu yg lu bela sampe bar gua berantakan hahaha.. Baru kali ini gua ngelihat seorang juna melindungi wanita." tawa mengejek alex membuat juna menahan amarahnya.


"Lalu masalah lu apa ? Ganti rugi atau yg lain ?" juna bertanya lagi.


"Dua-duanya."


"Masalah lain apa ?"


"Lepaskan cewek malam itu, aku akan anggap masalah kita semuanya impas." alex sebenarnya diam-diam menaruh hati pada olivia, apalagi tau tentang olivia karna kerjasamanya dengan gadis. Dan masalah terbesarnya adalah juna yg terlihat dekat dengan olivia. Alex selalu iri dengan apa yg dimiliki juna.


"Jangan mimpi!" juna menekan setiap kata itu dengan tenang menahan emosi.


"Atau lu pengennya gua melakukan hal yg sama kayak tempo hari ?" tanya alex sambil tersenyum licik.


Alex sebenarnya adalah teman juna saat SMA, tapi karna juna memang sudah menonjol karna kecerdasan otaknya sejak dulu ditambah bonus wajah yg tampan membuatnya iri. Dengan apapun yg dimiliki juna, hal kecil sampai urusan wanita. Dulu saat masih dibangku SMA, ada seorang cewek polos yg membuat juna tertarik. Mereka terlihat dekat dan akrab. Tentu saja ini membuat gadis tidak terima dan bersekongkol dengan alex untuk membuat juna dan cewek itu menjauh. Karna sudah sejak lama gadis dengan juna dekat tapi dia tidak pernah diperlakukannya seperti cewek itu. Sekarang pun kejadian itu terulang, hanya saja juna tidak mengetahui bahwa gadis juga merupakan salah satu otak dalam masalah ini. Alex lah yg menutupinya karna dia sangat sayang pada gadis seperti seorang kakak pada adiknya.


"Lu berani sentuh dia sehelai rambut aja, bisa gua pastikan bisnis lu ini tinggal kenangan." ancam juna.


"Hahahaha takuuut....." alex menjawab ancaman juna dengan nada mengejek.


"Gua serius." saat juna akan bangkit untuk keluar ruangan, tiba-tiba ada salah seorang wanita penghibur alex datang dan memeluk juna. Juna reflek mendorong wanita itu sampai terjatuh dipangkuan alex.


"Udah nggak tertarik sama yg seseksi ini ?" tanya alex sambil memeluk pinggang wanita itu.


"Gua nggak sama kayak lu yg suka model begini." juna menunjuk wanita itu dengan pandangan jijik. Saat akan melanjutkan langkahnya, alex memberi tanda pada wanita itu. Langsung saja wanita itu memeluk punggung juna mesra dan meninggalkan bekas ciuman membentuk bibirnya dikemeja juna.


Tanpa disadari juna, dia masuk ke perangkap alex dengan menggunakan wanita itu.


"MINGGIR LU SAMPAH!!!" juna dengan marah melepaskan tangan cewek itu dari pinggangnya dan mendorongnya mundur. Lalu melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.


"Selamat datang pada kekalahanmu juna." batin alex sambil menampilkan senyum liciknya, lalu bangkit dan meremas bokong cewek itu sebagai tanda dia puas dengan kerjanya.


****************


Sore harinya bobby datang ke apartmen juna untuk mengecek kondisi olivia. Karena juna menelfonnya untuk menjaga olivia sampai dia pulang. Tapi, ternyata apartmen itu kosong. Entah kemana olivia keluar. Bobby mengecek dikamar juna, kamar mandi, sampai ruangan kerja juna.


"Kamu dimana liv ?" bobby menghubungi olivia pada akhirnya.


"Keluar sebentar kak, aku ingin makan sesuatu."


"Kenapa tidak bilang padaku ? Aku bisa membelikannya tanpa kamu repot-repot keluar."


"Aku nggak papa kak, aku menyamarkan penampilanku." olivia tau bobby mencemaskannya, karna kondisi belum kondusif. Kalau bukan untuk membantu juna, olivia tidak akan keluar untuk bertemu gadis. Semua ini adalah permintaan gadis, bertemu dengannya diluar apartmen. Hanya saja olivia tidak menyadari hal itu.


"Oke, aku jemput." tegas bobby tidak bisa dibantah.


"Nanti kalo udah selesai, aku kabarin kak. Jangan lupa jemput ya." olivia memutus panggilannya. Karna takut ketahuan bobby dia memutar otak akhirnya mengiyakan saja. Sedangkan bobby hanya melihat ponselnya karna panggilan olivia langsung terputus.


"Hai." gadis datang dan langsung duduk dikursi depan olivia.


"Hai, kak."


"Lu nggak mau pesen sesuatu ? olivia menggeleng, karna tadi dia sudah makan diapartmen.


"Ada apa kak ?" olivia terlihat khawatir dengan kondisi masalah juna, kekasihnya itu belum menceritakan apapun padanya.


"Ini, lu lihat dulu." gadis menyerahkan sebuah amplop coklat yg cukup tebal.


"Apa ini kak ?" olivia ragu membuka amplop itu tapi tetap menerimanya.


"Lu buka makanya, jangan tanya mulu." gadis tidak sabar melihat ekspresi olivia melihat isi amplop itu.


"Siapa yg bersama kak juna ini kak ?" olivia bertanya sambil membolak balik tumpukan foto itu.


"Karna cewek ini, juna dilaporin ke polisi."


"APA ????"gerakan tangan oliv langsung terhenti, dan menatap gadis mencoba mencerna ini semua.


"Cewek ini adalah salah satu wanita kesayangan pemilik bar itu, saat juna sedang negosiasi ganti rugi ternyata juna malah bermesraan. Dan pemilik bar itu memergoki mereka. Lalu, pembicaraan mereka berujung pada tidak ada kesepakatan dan pertengkaran, akhirnga juna dilaporkan ke polisi."


"....." olivia hanya diam saja.


"Gua tau lu pasti susah percaya, lagi pula juna memang dikelilingi banyak wanita cantik. Tapi karna dia udah ada masalah malam saat membelamu itu, masalah itu menjadi semakin rumit." lanjut gadis.


'Apa semua ini salahku.' dalam hatinya olivia merasa bersalah. Seharusnya saat itu dia tidak datang ke bar dan menghancurkan semua ini. Tapi, itulah tujuan gadis membuat olivia meninggalkan juna sendiri tanpa sadar bahwa ini rencananya.


"Apa yg harus aku lakukan kak ?" nada lemah olivia akhirnya keluar dari mulutnya dengan susah payah sambil menunduk.


"Lu tau apa yg harus dilakukan." jawaban gadis ini membuat oliv gundah.


Olivia lama berfikir, gadis dengan santai meminum kopi yg dipesannya dan memakan cake yg dipesannya tadi.


"Misalkan aku pergi ninggalin kak juna, apa akan mengurangi masalahnya ? Atau aku harus pergi mengganti rugi ?" kata-kata olivia ini membuat gadis mengangkat bibirnya sedikit. Pertanyaan yg seperti inilah yg ditunggunya.


"Mungkin saja, tapi gua nggak bisa jamin." olivia semakin bimbang.


"Atau ganti rugi itu bisa membantu." lanjut gadis. Olivia memikirkannya lagi. Memang ini yg diinginkan gadis, olivia bertanggungjawab dengan mengganti rugi. Dengan begitu alex mendapatkan olivia, dan dia mendapatkan juna kembali.


"Akan ku pikirkan kak, kalo aku setuju apa kak gadis bisa membantuku bertemu pemilik bar itu ?"


"Tentu saja." senyum gadis tidak bisa ditahan. Tapi berbeda dengan olivia, dia sangat bingung sampai tidak menyadari perubahan sikap gadis.


"Baiklah, sampai disini aja. Gua masih ada urusan yg lain." gadis bangkit dari duduknya dan meninggalkan olivia yg masih memikirkan semuanya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi ada panggilan masuk.


"Sayang, kamu dimana ?" suara juna terdengar khawatir.


"Sayang ?" olivia masih melamun meskipun dia sudah mengangkat telfonnya.


"Ah.. iya kak."


"Kamu dimana ? Bobby bilang kamu keluar."


"Aku ingin makan cake kak, jadi aku pergi ke cafe biasanya."


"Kenapa kamu nggak bilang aja ? Aku bakal belikan."


"Nggak usah kak, lagian aku pengen keluar apartmen."


"Kamu baik-baik aja sayang ?" juna mulai curiga dengan sikap olivia.


"Baik kak. Jangan khawatir."


"Apa bang bobby akan menjemputmu ?"


"Iya sayang, aku sudah menghubunginya. Nanti pulang jam berapa ?"


"Mungkin agak malam, sayang. Kenapa ? Udah rindu ?


"Rindu bangeet..." jawab olivia manja, agar juna tidak curiga kalau suasana hatinya tidak baik.


"Tunggu ya sayang, love you."


"Love you too, kak" juna tertawa gemas mendengarnya, lalu menutup panggilannya.


Setelah itu olivia mengirimkan pesan pada bobby alamat cafe untuk menjemputnya. Dan membereskan foto-foto yg diberikan gadis padanya tadi.


"Kita harus gimana sayang ? Mami nggak bisa jauhin papi." olivia mengelus perutnya sambil menunggu kedatangan bobby.


***********************