My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 24



Didalam mobil olivia diam saja. Sejak dia keluar sendiri, bobby merasa ada yg merubah suasana hatinya. Saat lampu merah, bobby mengirim pesan pada utusannya untuk mencari tahu apa yg terjadi dengan olivia dan juna. Dia curiga pasti ada yg terjadi.


"Apa semua masalah ini salahku kak ?" olivia membuka pembicaraan.


"Nggak, nggak perlu dipikirin juga." bobby tetap memandangi jalanan.


"Juna kayak gini karna aku."


"Ini masalah sepele." jawab bobby enteng.


Setelah melalui lampu merah mereka berjalan lagi menuju apartmen juna, ponsel bobby berbunyi dia mendapatkan pesan. Lalu, dia menepikan mobilnya.


"Ada apa kak ?" tanya olivia heran, tiba-tiba bobby berhenti di sebuah minimarket.


"Aku harus membeli sesuatu, kamu haus ?" tawar bobby.


"Bisa belikan aku es krim kak ?"


"Baiklah." Sebenarnya bobby ingin melakukan panggilan kepada utusannya setelah membaca pesannya tadi.


"Halo."


"Apa yg terjadi ?" tanya bobby.


Bobby terdiam agak lama mendengarkan penjelasan utusannya itu. Mengatakan semua yg dia tahu. Apa yg terjadi dengan juna, dan pada olivia. Hanya dalam waktu setengah jam semua informasi ini diterima oleh bobby. Bobby tau semenjak mendengar pembicaraan olivia dan gadis diapartmen tempo hari, dan kecurigaannya benar. Hanya saja tentang foto yg diberikan gadis kepada olivia belum diketahui bobby.


"Awasi gadis dan alex, lalu laporkan semuanya padaku." perintah bobby.


"Dan jangan lupa apapun yg dilakukan mereka dan siapa yg mereka temui laporkan padaku."


"Siapkan orang untuk menjaga olivia secara diam-diam. Jangan sampai dia tahu semuanya." setelah memberikan perintah, telfonnya diputus.


'Rencana apa lagi yg akan dilakukan gadis, masih saja belum puas memisahkan juna dengan olivia.' batin bobby.


************


Setelah kembali, olivia mengurung diri dikamarnya. Dia memikirkan dia harus membayar ganti rugi dengan apa. Apa tabungannya akan cukup ?


"Sayang." olivia mencium aroma tubuh juna yg memeluknya.


"Akhirnya kamu pulang." olivia mengeratkan pelukannya.


"Ada apa ?" juna mengelus rambut olivia sayang.


"Hmm.. Enggak, cuma kangen aja." olivia bergelayut manja membuat juna tersenyum gemas melihat tingkah kekasihnya ini.


"Beberapa hari ini aku harus pergi sayang. Menyelesaikan kontrak kerja sebelumnya. Dan beberapa masalah lainnya diluar kota. Kamu nggak papa aku tinggal ?"


"Aku baik-baik aja kok sayang, aku bisa jaga diri." olivia kembali memeluk juna.


"Jangan lakukan hal yg membahayakanmu, dan bang bobby bakalan nemenin kamu selama aku pergi." juna mengecup kening olivia.


"Sudah makan ?" olivia menggeleng.


"Baiklah, kamu mau makan apa ?"


"Aku ingin sesuatu yg pedas dan asam." juna bingung makan malam apa yg pedas dan asam.


"Yaudah kamu pilih aja."


"Makanan korea ya, aku ingin kimchi dan ramyeon."


"Tapi kamu baru sembuh sayang." juna mengkhawatirkan kondisi olivia karena makanan yg dia inginkan ini bisa mengganggu kondisi lambungnya lagi.


"Aku baik-baik saja." oliv menepuk tangan juna menenangkan. Akhirnya juna memesankan.


Bobby tadi pergi sebentar saat olivia berdiam diri didalam kamar. Menyelesaikan beberapa masalah.


"Jun, gua beli buah-buahan." bobby menunjukkan kantong belanjaannya.


"Banyak banget bang."


"Untuk olivia, dia harus banyak makan buah."


"Tapi kenapa ada mangga muda banyak banget ?" juna merasa aneh.


"Aku tidak bisa membedakan mangga yg sudah matang dan mentah heheh." bobby beralasan, padahal memang membelinya untuk berjaga-jaga ketika olivia menginginkannya. Biasanya orang yg sedang hamil selalu menginginkan mangga muda.


"Makasi kak, aku memang sedang menginginkan sesuatu yg asam." olivia memberesekan kantong belanjaan itu ke dapur.


"Apa lambungnya akan baik- baik aja jika dia makan itu bang." juna menanyakan kondisi oliv pada bobby, karna dia mendengarkan penjelasan jean lebih lengkap.


"Dia baik-baik aja, tenanglah." bobby menepuk pundak juna.


"Besok gua harus pergi, menyelesaikan sisa kerjasama dengan beberapa brand, dan ada beberapa masalah. Bisa nggak lu jaga olivia buat gua ?" Tanya juna yg hanya diangguki oleh bobby.


"Nggak masalah, urusan kantor bisa dihandle lewat sini."


"Lu emang paling bisa gua andalin bang." juna menepuk pundak bobby, lalu berjalan menuju dapur menyusul olivia.


Didapur. juna melihat olivia sedang mengupas beberapa buah. Juna senang melihat olivia diapartmennya, menggunakan kaosnya yg kebesaran, sedang sibuk didapurnya, juna ingin rasanya segera menjadikan olivia istrinya.


"Sibuk ?" juna memeluk punggung olivia, dan menghirup aroma tubuhnya.


"Hmm, enggak. Coba kamu makan ini." olivia menyuapi juna mangga muda saat menyandarkan kepalanya dipundak oliv.


"SAYANG!!! Buah apa ini.. Hueek" Juna berlari ke kamar mandi, memuntahkan mangga yg sangat asam tadi, rasanya bahkan tidak layak untuk dikonsumsi. Bobby dan olivia yg melihat itu hanya tertawa.


Suara bel berbunyi, bobby membukakan pintu dan menerima makanan yg dipesan juna tadi. Lalu ke dapur memberikan pada olivia. Setelah menghidangkan makanannya, olivia hanya makan sesuap dan menyuruh juna yg menghabiskannya. Dia lebih memilih memakan mangga mudanya tadi.


"Bahkan ponakan uncle juga bersekongkol mengerjai papinya." Batin bobby sambil tertawa melihat penderitaan juna yg mau tidak mau menuruti kemauan olivia tadi.


******************


Suara musik terdengar sangat keras dengan lampu warna-warni yg berkedip-kedip, dilengkapi dengan aroma alkohol dan banyak gadis dengan pakaian minim bersama lelaki hidung belang. Ya, malam ini olivia ditemani gadis bertemu dengan Alex di bar miliknya. Awalnya olivia duduk disofa dekat dengan dance floor, lalu gadis mengajaknya masuk ke dalam sebuah ruangan VVIP.


"Ke ruangan alex, bukannya lu pengen bantuin juna ?" olivia hanya menurutinya saja.


"Oh, namanya alex" batin oliv. Setelah tiba diruangan alex, olivia mengirimkan pesan pada sahabatnya.


To : Dee


Dee, sorry banget gua baru hubungin lu.


Gua bener-bener lagi butuh bantuan lu, kira-kira lu ada tabungan banyak nggak ?


Juna lagi ada masalah dan pengen banget bantu dia, soalnya ini semua emang ada hubungannya sama gua. Nanti gua ceritain lengkapnya, sekarang gua mau nego dulu.


Sebenarnya jika olivia mau meminta bantuan pada bobby pasti akan dibantu dengan senang hati. Hanya saja dia tidak enak, karna bobby sudah banyak menolongnya. Setelah juna pergi keluar kota tadi pagi, olivia di apartmen sendirian. Karna bobby harus ke kantornya untuk menyelesaikan masalah disana.


"Oh, ini yg namanya olivia." Terdengar suara pria yg menyapanya dari arah pintu. Ketika olivia melihat, dia merasa tidak asing dengan wajahnya.


"Kenalin, ini Alex" Gadis berjalan ke arah alex dan memperkenalkan pada olivia.


"Oh iya, olivia." olivia menyambut tangan alex. Dia menahan tangan olivia lama, sambil tersenyum penuh arti. Olivia merasa risih mencoba menarik tangannya, tapi semakin ditahan. Saat ditarik lagi olivia malah masuk ke dalam pelukan alex. Gadis tidak tinggal diam, langsung secara diam-diam mengambil foto mereka.


"Maaf." Alex melepaskan pelukannya.


"Iya, nggak papa." olivia merapikan bajunya untuk menutupi rasa tidak nyaman.


"Jadi, ada perlu apa kesini ?" alex bertanya pada gadis, yg sedang tersenyum setelah mengirimkan foto olivia yg sedang berpelukan dengan alex. Dengan wajah olivia saja yg terlihat, agar juna salah paham dan meninggalkannya.


"Ah, ya.. Jadi, olivia ini cewek yg malam itu juna bela hingga dia merusak properti bar anda." nada bicara gadis seolah-olah memang tidak mengenal alex. Alex yg tersenyum, menyilangkan tangannya didada sambil bersandar.


"Oh, jadi dia." Alex berpura-pura tidak mengenal oliv. Padahal ini semua adalah rencananya.


"Maaf atas kejadian malam itu." kata olivia tulus.


"Apa dengan kata maaf semua barang-barang yg rusak bakalan balik utuh lagi." tawa alex mengejek.


"......." olivia hanya diam.


"Seharusnya memang ada ganti rugi untuk semua ini selain kata maaf." lanjut alex sambil memperhatikan reaksi oliv.


"Baiklah, aku yg akan mengganti rugi. Sebutkan saja berapa yg harus aku ganti." Olivia melihat hapenya, berharap dee segera membalas pesannya.


"Bagus, memang awalnya masalah ini adalah ulahmu." kata-kata alex semakin tajam merendahkan olivia.


Tiba-tiba handphone olivia bergetar, ada pesan masuk.


From : Dee


Gua nggak punya banyak tabungan, liv.


Tapi aku bisa menjual atau menggadaikan surat mobilku, jika ini memang sangat mendesak.


Olivia langsung membalas pesan itu.


To : Dee


Berapa kira-kira yg bisa kita dapetin ?


Apa nggak papa mobil lu gua gadaiin dulu ?


Gadis dan alex saling memandang, memberikan kode untuk melanjutkan drama mereka. Suara deheman alex membuyarkan lamunan oliv.


"Jadi berapa total ganti ruginya ?" tanya olivia.


"500 juta."jawab alex singkat.


"Apa separah itu kerusakannya ?" olivia terkejut dengan nominal yg disebutkan oleh alex. Berbeda dengan alex yg dengan santai memperhatikan sikap olivia.


"Aku hanya punya sekitar 300 juta."


"Kalo gitu bisa dibayar dengan dirimu."


"Apa maksudmu ?" olivia terkejut dengan jawaban alex.


"Bayar dengan tenagamu atau dengan dirimu."


"Tenaga ?" tanya olivia yg merasa jawaban alex mulai kurangajar.


"Kau bisa bekerja disini."


"Atau menjadi asisten pribadiku" lanjut alex.


"Aku juga asisten juna, bagaimana bisa aku bekerja menjadi asisten dua orang sekaligus." memang benar sampai sekarang olivia memang adalah asisten juna, hanya saja juna sudah menahannya di apartmen semenjak dia menjadi kekasihnya dan semenjak ada masalah ini.


"Jadi kau mau aku membawa masalah ini ke meja hijau aja ? Semua keputusan ada ditanganmu."


"Jangan, bisakah kau berikan aku sedikit waktu untuk berfikir?" olivia meminta kompensasi untuk mengulur waktu agar bisa mengumpulkan uang.


"Hanya 3 hari." Alex berdiri dan bersiap meninggalkan ruangan.


"Terima kasih."


Gadis yg melihat ini sudah menduga akan seperti ini, tapi dia lega karna olivia sudah masuk dalam perangkapnya dan alex.


"Kak, terima kasih sudah membantuku. Aku pamit." Olivia beranjak pergi meninggalkan gadis yg masih duduk didalam ruangan itu.


"Sama-sama" gadis tersenyum licik.


Setelah olivia keluar ruangan itu, ternyata ada yoyo yg melihat olivia menundukkan kepala seperti orang yg sedang kebingungan.


"Sedang apa olivia disini ? Aneh. Itu bukannya ruangan VVIP, ada urusan apa dia disana." batin yoyo. Lalu yoyo mengambil ponselnya, dan menghubungi bobby.


********************