
Malam ini juna mabuk lagi, dengan sempoyongan pulang ke apartemen olivia. Olivia membukakan pintu dan menangkap juna yg sempoyongan agar tidak terjatuh.
"Awas kak." Olivia menahan badan juna yg berat. Sedangkan juna menyandarkan kepalanya dipundak olivia.
"Aku nggak papa sayang." juna tersenyum sambil mengelus pipi olivia. Mereka berdua dalam posisi ini cukup lama, karna hanya ketika mabuk olivia berani menatap sayang juna dan menerima semua perlakuan manisnya.
Olivia menuntun juna masuk, khawatir ada yg melihat posisi mereka. Mengingat juna tetaplah penyanyi terkenal.
"Aku ambilkan minum dulu kak." Olivia mencoba melepaskan diri ke arah dapur untuk mengambilkan juna minum.
"Eh mau kemana, kamu temenin aku aja ya." juna menahan pergelangan tangan olivia manja.
"Bentar aja kok sayang, ya ? "bujuk olivia, sambil mengelus pipi juna sayang. Hanya dimomen seperti ini olivia juga berani memanggil juna dengan panggilan sayang, ketika juna sadar jangankan memanggil sayang menatap langsung matanya saja olivia tidak berani.
"Nih, minum dulu ya. Biar mendingan." sambil menyodorkan gelas, dan membantu juna untuk minum.
Malam itu cukup lama juna bergelayut manja pada olivia, entah hari ini ada apa dengannya. Karna sekarang juna sedang tiduran dipaha olivia dan meminta olivia mengelus rambutnya. Sangat manja seperti seorang anak kecil. Olivia merasa lucu melihat tingkah juna, bahkan dia sangat senang juna bersikap seperti ini.
Tiba - tiba juna menarik wajah olivia yg sedang sedikit menunduk memperhatikan wajah juna. Lalu sebuah ciuman mendarat di bibir olivia. Dia sangat terkejut juna akan menciumnya dengan posisi seperti ini.
Saat olivia berusaha menarik badannya untuk mundur, juna malah bangkit untuk duduk dan menahan tengkuk olivia. Menciumnya dalam. Menikmati bibir yg sekarang membuatnya selalu teringat setiap malam sebelum tidur.
Olivia sedikit mendesah pelan saat ciuman panas mereka, membuat juna semakin bersemangat. Aksinya pun sudah turun ke dada oliv, memijatnya dengan lembut dan sayang. Membuat pemiliknya semakin mendesah nikmat.
"Kak... sudah cukup." olivia tidak tahan lagi dengan sentuhan juna. Dia mulai gila dengan sentuhan - sentuhan itu, gila karna tak bisa melepaskannya.
"Kenapa ? Apa kamu nggak suka ?" juna masih terus mencium dan memanjakan bagian tubuhnya yg sensitif itu. Sekarang juna sedang menciumi leher olivia, dia semakin tidak bisa menahan aksi juna ini akhirnya mendesah sambil menjambak rambut juna.
"Cukup kak, ah...." kata oliv terbata sambil menahan nafas.
Juna bangkit menggiring olivia memasuki kamarnya, olivia sempat mencoba menjauhkan diri tapi juna menahan pinggang dan tengkuknya.
Olivia didorong juna ke tempat tidur. Lalu, menindihnya dan kembali menciumnya. Tangannya ditahan keatas, juna mulai membuka pakaian olivia. Sambil terus mencium bibir oliv dengan rakus. Satu per satu kancing piyamanya dibuka. Melepaskan pengait bra yg dipakai, sampai - sampai bagian tubuh oliv yg atas sudah tidak tertutupi sehelai benang pun.
Juna menghentikan kegiatannya tadi secara tiba - tiba membuat oliv bingung. Juna bangkit lalu menyelimuti oliv, dan meninggalkannya keluar kamar. Juna duduk disofa menunggu respon olivia.
Hampir 15 menit juna menunggu olivia yg tak kunjung keluar, lalu olivia dengan menundukan kepala keluar. Dia bingung kenapa juna yg tiba-tiba sangat bernafsu lalu mendadak berhenti. Apa ada yg salah dengan olivia.
"Kenapa lama sekali ?" tanya juna. Olivia masih menunduk.
"Duduk sini, ngapain berdiri aja ? Kayaknya km mau ngomong sesuatu." Juna menepuk sofa disebelahnya.
Deg... Perasaan olivia mendadak tidak enak. Entah kenapa dia merasa juna seperti orang yg tidak mabuk. Terlihat baik-baik saja. Olivia semakin khawatir, karna tadi dia sempat memanggil juna dengan panggilan sayang. Takut juna mengingatnya dan marah.
"Sini." juna masih membujuk olivia agar duduk disebelahnya dengan kata-kata yg lembut.
"Eng... aku mau ke dapur dulu ambil minum. Kakak mau minum juga ?" olivia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kakak ? Tadi kayaknya aku nggak denger kamu panggil aku itu, mungkin kamu inget panggilan yg lain." Juna diam-diam menggoda oliv tanpa disadarinya.
"Tuhan.... bener kan dugaanku, dia inget tadi manggil dia apa. Sebenernya dia mabuk apa enggak sih ?" olivia bertanya dalam hati, merutuki kebodohan mulut yg mengkhianatinya.
Setelah itu olivia memberanikan diri untuk duduk mendekat disebelah juna.
"Iya kak, ada apa ?" olivia bertanya dengan takut.
"Mungkin kamu yg mau menyampaikan sesuatu liv ?" tanya juna.
"Sesuatu apa ya kak ?" merasa hawa disekitarnya menjadi lebih dingin dari sebelumnya olivia mengelus tengkuknya.
"Bisa jelasin kedua foto ini ?" Juna menunjukkan 2 foto dari ponselnya.
"Ini.... kenapa foto ini bisa ada di kamu ?" olivia terbata melihat foto mantannya dengan seorang wanita yg mirip dengan olivia. Tangan olivia bergetar, takut harus memulai dari mana.
"Sebenernya dari tadi kakak mabuk beneran ? atau pura-pura ?" tanya olivia lagi.
"Harusnya km jawab dulu pertanyaan aku, bukan menjawab dengan pertanyaan yg lain." ungkap juna serius sambil mencondongkan badannya kedepan dan menyandarkan tangan dipahanya.
"Bahkan selama kami bersama, kami nggak pernah melakukan hal itu." olivia semakin menunduk sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku tau." jawab juna singkat. Membuat olivia otomatis menolehkan kepalanya karna terkejut.
"Ha ? Bagaimana kamu bisa tau kak ? Aku nggak pernah cerita tentang ini." olivia tidak percaya dari mana laki-laki ini yg awalnya marah lalu berubah menjadi santai saja dan berkata bahwa mengetahuinya.
"Hahaha kalo gitu km jelasin foto yg satunya lagi." juna menyodorkan foto lainnya. Olivia melotot melihat foto itu, karna disana adalah foto bekas keganasan juna malam itu dilehernya.
"Oh ya, liat juga tanggal fotonya diambil." juna melanjutkan. Olivia menelan salivanya karna tiba-tiba merasa tenggorokannya haus.
"........" olivia masih diam saja.
"Gimana ? Kenapa diem aja ?" Juna memaksa olivia membuka semua yg ditutupinya.
"Kak... Aku.... nggak tau harus jelasin gimana." karna bingung olivia berdiri mencoba kabur dari juna dengan beralasan mau mengambil minum. Padahal air digelasnya masi ada setengah.
Juna menarik olivia mendekat, lalu mengecup bibirnya singkat.
"Apa itu ulahku ?" tanya juna, yg dijawab dengan tubuh olivia yg menegang.
"....."
"Perlu aku ulangi lagi ?" goda juna yg direspon oliv dengan melotot.
"Kak... Apa maksudmu ? Ulangi apa?" olivia menggaruk kepalanya yg tidak gatal.
"Baiklah akan aku ulangi." Juna sudah mendekatkan bibirnya untuk mencoba mencium olivia, tapi olivia mendorong juna sampai dia tersandar disofa.
"Hahaha apa kamu malu ? Kenapa nggak ngomong jujur. Kalo memang semua adalah ulahku aku siap bertanggungjawab." juna mengelus rambut olivia meyakinkan agar semuanya diceritakan, padahal sebenarnya juna tau semuanya. Siapa lagi yg mengatakan kalo buka detektif bobby.
"Tapi kak, kenapa km harus bertanggungjawab ? Itu kan cuma kissmark." olivia dengan polosnya mengatakan hal seperti ini.
"Nggak terjadi apa-apa diantara kita ? Wah lehermu hampir penuh dengan tanda merah itu. Mungkin benar malam itu tidak terjadi apa-apa, bagaimana kalo kita buat semuanya terjadi malam ini." juna mulai menunjukkan wajah mesumnya.
"Kak, kamu tau semuanya ? Siapa yg mengatakan ini semua ? Kak bobby?" pertanyaan olivia langsung datang bersamaan karna dia mencoba mencerna ini semua. Tidak menanggapi kemesuman juna.
"Aku yg pertama buat kamu kan ?" Juna menggenggam tangan olivia agar pertanyaannya kali ini dijawab.
"Hmmm..... I..iya kak." Lama tak dijawab akhirnya juna tersenyum seneng mendengarnya.
"Pagi itu kamu kemana ? Kenapa langsung pergi, harusnya aku yg marah. Malah kamu yg meninggalkanku karna malam itu." juna sedikit kesal mengingat kejadian itu.
"Aku takut kak.. Aku takut kakak semakin marah melihat kita tidur bersama, karna posisi malam itu kamu nggak sadar kan. Bahkan nggak nyadari kamulah yg pertama buat aku. Kamu juga salah paham pada ditya mengenai foto itu, aku takut kamu semakin menuduhku." Mata olivia mulai mendung karna air mata suda memenuhi matanya.
"Kenapa harus takut ? Kamu kira aku nggak lihat darah kamu diranjang akibat ulahku ? Aku tau aku marah karna menuduh tanpa memahami dan bertanya. Tapi hal seperti ini harusnya kamu nggak sembunyiin dari aku. Apa malam itu aku sangat kasar liv ? Apa kamu merasakan sakit ?" Juna merasa bersalah bertanya. Dia khawatir menyakiti cewek yg sudah memenuhi hati dan pikirannya ini. Lalu menyandarkan kepala oliv ke dadanya.
"Maaf kak, seharusnya ini nggak terjadi."
"Apa setiap aku datang saat mabuk kesini kita melakukannya ?" juna bertanya karna setiap mabuk dia datang ke apartemen olivia dan bangun dengan kondisi bertelanjang dada.
"I..iya kak hampir setiap kakak mabuk dan datang kesini." olivia terbata menjawabnya. Tapi berbeda dengan juna, dia tersenyum mendengarnya, berharap jika memang diijinkan akan segera ada juna kecil yg bisa mengikat dirinya dan oliv selamanya.
"Kenapa nggak bilang aja ? Kamu lebih suka saat aku mabuk ? Iya ? Karna kamu bisa memanggilku sayang ? Bahkan memperlakukanku dengan sayang juga. Apa saat aku sadar nggak pengen memperlakukanku dengan sayang ?"
"Tapi kak... aku takut kakak nggak suka. Eh, tunggu kak apa hari ini kamu berpura-pura mabuk ?"
"Hahaha tentu saja, sayang." juna menggoda oliv dengan memanggil sayang olivia.
"KAAAAK!!!!!" olivia menutup wajahnya malu.
"Mulai sekarang panggil aku sayang ya, baby." juna membuka tangan olivia yg menutup wajahnya itu. Sangat menggemaskan. Tapi oliv menyetujui panggilan itu.
**************