My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 25



Olivia kembali ke apartmen juna setelah bertemu alex. Saat olivia masuk, apartmennya sangat gelap, dia meraba dinding mencari saklar lampu.


"Dari mana liv ?" Suara berat khas seorang pria terdengar, dan waktu menyala bobby sudah melipat tangannya didepan dada sambil menyandar didinding dekat jendela.


"Eh kak, tadi keluar sebentar cari angin." olivia mencari alasan, karna tidak ingin bobby terlibat untuk masalah ganti rugi.


"Harus pulang semalam ini buat cari angin aja ? Harus pake baju serapi itu juga ?" tanya bobby sambil mengamati oliv dari atas sampai bawah.


"...." olivia memikirkan jawaban atas pertanyaan bobby.


"Ibu hamil, jangan sering keluar sendiri ataupun pergi malam-malam sendiri." bobby menghampiri lalu memeluk pundak olivia, menyuruhnya agar segera duduk.


"I..iya kak." olivia tidak ada jawaban lain selain mendengarkan kata-kata bobby.


"Kamu udah makan ?"


"Sudah kak." olivia berbohong agar bisa segera melarikan dari pertanyaan bobby selanjutnya.


"Emm... kak, aku balik ke apartmenku dulu sebentar ya, mau ambil beberapa baju sama keperluan lain." dia benar-benar butuh waktu untuk menelfon sahabatnya dee. Hanya dengan alasan ini saja dia bisa sendirian.


"Mau aku temenin ?" bobby menawarkan bantuan.


"Nggak perlu kak, aku bisa kok. Nanti kalo emang butuh bantuan aku bakalan telfon kakak." Jawaban olivia sengaja dikatakan agar bobby membiarkan benar-benar sendiri.


Setelah minum sebentar di dapur, olivia langsung menuju ke apartmennya. Bobby memperhatikan gerak-gerik olivia yg aneh. Telfon dari yoyo tadi memang membuatnya curiga, apa yg sedang direncanakan oliv.


Olivia buru-buru menuju lift dan memperhatikan kanan-kirinya memastikan bahwa dia tidak diikuti oleh orang yg diutus juna ataupun bobby.


"Halo dee" olivia langsung menelfon dee saat sudah masuk ke apartmennya.


"Lu tuh kemana aja sih, ilang gitu aja nggak ada kabar. Lu baik-baik aja kan ?" Dee membanjiri olivia dengan banyak pertanyaan.


"Baik dee, gua bener-bener kekurangan privasi sekarang. Apalagi setelah juna ngurung gua di apartmennya."


"APA?!?! NGAPAIN DIA NGURUNG LU DISANA, LU KAN ADA APARTMEN SENDIRI." oliv langsung refleks menjauhkan ponsel dari telinganya, kalau enggak bisa tuli kali itu telinga denger suara sahabatnya.


"Baru denger gua dikurung aja dia heboh gini, gimana dia denger kalo gua hamil anak juna, langsung terbang kesini kali tuh anak." batin oliv.


"Oke dee, jadi lu mau heboh gini terus ? Nggak mau dengerin cerita lengkap gua aja ?"


"Iya iya gua dengerin." Dee pasrah saja daripada malah sahabatnya ini gagal curhat.


"Janji ya, kalo gua ceritain atau kasih tau sesuatu lu nggak bakal teriak-teriak ?" olivia memastikan ini agar sahabatnya tidak menghebohkan orang disekitarnya, atau bahkan membuat oliv tuli dengan teriakannya.


"OKEEE!!!!" sudah tidak sabar dee mendengar apa yg sedang terjadi dengan sahabatnya itu.


"Jadi gini dee, sebenernya gua lagi ngandung anak juna." olivia meceritakan ini dengan suara yg semakin lama semakin kecil.


"Apaan sih nggak denger." protes dee.


"Gua hamil dee."


"OLIVIAAAAA!!!!!" benar dugaan oliv, sahabatnya itu akan heboh.


"Ssssstttt.....Deee.....Gua matiin nih telfon." ancam olivia.


"Lu seriusan hamil anaknya juna, kok bisa sih liv ?" akhirnya dee menurukan nada bicaranya, setelah bolak-balik mengatur nafasnya.


"Iya, jadi...." olivia menceritakan semua yg terjadi diantara dia sampai malam kejadian saat juna datang dan marah di bar.


"Juna udah tau belom kalo lu hamil anak dia ?" dee mulai pusing dengan masalah temannya itu.


"Belom sih, waktunya nggak tepat dee. Terlalu banyak masalah sekarang. Gosip pun sudah banyak yg simpang siur." nada suara olivia lesu.


"Tapi lu sama anak lu sehat kan ?"


"Sehat dee"


"Baguslah, lalu uang sebanyak itu untuk membantu juna ?" tanya dee membahas pesan yg dikirim temannya tadi.


"Iya, tapi masih kurang dee." suara olivia semakin lesu.


"Kurang berapa ? Dia minta ganti rugi berapa sih ?" Dee memastikan nominal yg dibutuhkan sahabatnya itu agar bisa membantunya.


"500 juta dee.." Olivia sudah menunduk frustasi darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu.


"........" Dee diam saja.


"Dee...." panggil oliv.


"Dia minta syarat sama gua." Dee yg sedang melamun ketika mendengar kata-kata oliv.


"Jadi asisten pemilik bar itu atau menjadi karyawan dibar." olivia mengusap wajahnya kasar.


"Gila apa dia nggak tau lu hamil ? Tapi ini aneh liv." dee mulai curiga dengan pemilik bar itu.


"Nggak ada yg tau gua hamil kecuali lu sama kak bobby."


"Aneh sih tapi gua udah milih buat bantu juna." lanjut oliv.


"Terus lu maunya gimana ?" dee kembali menanyakan keputusan oliv.


"Nah, itu tujuan gua telfon lu. Buat minta pendapat."


"Gua bantu ngumpulin duit aja, gua nggak bisa liat lu kerja disana. Lu lagi hamil ya, gua nggak mau ponakan gua kenapa-napa." olivia terharu mendengar sahabatnya ini sangat memperdulikannya.


"Ngumpulin uang gimana ?" tanya oliv lagi sedikit ragu.


"Pinjem papa mungkin." jawab dee enteng.


"Lu gila apa, jangan bawa orang tua kita." tiba-tiba bel berbunyi, olivia langsung menutup telfon dee ketika mengintip ternyata yg didepan apartemennya adalah juna.


Olivia sedikit mengulur waktu dengan mengambil acak beberapa baju yg dia letakkan di sofa. Setelah itu baru membuka pintu.


"Sayang, kenapa lama banget." protes juna sambil memeluk kekasihnya itu.


"Iya, maaf ya sayang tadi dikamar sibuk beresin nggak kedengeran." olivia beralasan sambil memeluk kekasihnya itu, rasanya sangat hangat dan nyaman. Masalah yg tadi rasanya menguap begitu saja.


"Harusnya kamu bilang dong kalo mau beresin kamar, nanti orang suruhan yg biasanya membereskan rumah bisa aku suruh beresin apartmen kamu juga." juna memeluk pundak oliv sambil mengajaknya masuk kedalam.


"Iya, terserah kamu aja." olivia pasrah saja dengan solusi yg diberikan juna.


"Udah selese ?" juna mengamati sekelilingnya tidak ada yg berubah dikamar oliv, tidak seperti orang yg sedang beres-beres.


"Apa ada yg lagi oliv sembunyikan?" batin juna.


"Udah kok sayang, yuk." olivia menenteng satu tas sedang berisikan bajunya, lalu juna menggantikannya membawa tas itu. Membuat hati olivia hangat karna merasa diperhatikan.


***************


Keesokan paginya, oliv mengirimkan pesan pada dee meminta maaf karna semalam memutuskan telfonnya secara sepihak, dan ketika dee menelfonnya lagi oliv tidak menjawab malah merejectnya. Beberapa saat kemudian ponsel oliv berdering, lalu masuk pesan balasan dee.


From : Dee


Liv, gua cuma bisa bantu sekitar 50-100juta aja.


Lebih dari itu gua butuh waktu agak lama.


Setelah membaca pesan dee, olivia memikirkan bagaimana cara mendapatkan sisa uangnya. Dia tidak tau harus meminjam pada siapa. Atau dia harus benar-benar bekerja pada alex. Alasan apa yg dia pakai untuk keluar dari sini, membuat kepala oliv pening. Tiba-tiba terdengar suara panggilan masuk.


"Halo kak ."


"Iya kak, ini lagi aku kumpulin."


"Aku ingat kok kak, nanti aku kabarin ya kalo emang butuh bantuan."


"Makasih sebelumnya kak."


Setelah panggilan telfon itu mati, olivia kembali melamun memikirkan apakah dia harus menerima bantuan dari gadis. Iya, yg menelfon tadi adalah gadis. Berpura-pura perhatian, tapi sebenarnya dia memiliki maksud lain. Yaitu memastikan olivia kesulitan mengumpulkan uangnya, dan dia akan dengan senang hati menawarkan bantuan dengan imbalan yg setimpal.


"Sayang." juna memeluk pinggang oliv yg sedang berdiri dibalkon kamarnya.


"Sudah bangun." Olivia mengelus pipi juna sayang yg berada disamping wajahnya. Tapi tiba-tiba saat juna akan mencium bibir olivia dari samping, perut olivia rasanya sangat mual. Entah kenapa pagi itu dia merasa sangat mual dengan aroma tubuh juna yg biasanya membuat dia tenang.


"Hueeek." olivia melepaskan pelukan juna langsung berlari menuju kamar mandi, memuntahkan isi perutnya.


"Ada apa sayang ? Perutmu sakit lagi ? Apa mau aku panggilkan jean ?" suara juna panik melihat kekasihnya yg beberapa hari lalu sudah baik-baik saja mendadak sakit lagi. Padahal makan pun sudah tepat waktu.


"Apa mungki dia hamil ?" batin juna. Karena selama ini mereka berhubungan tidak pernah memakai pengaman. Memikirkan ini membuat senyum juna merekah.


"Sayang, kapan terakhir kamu datang bulan ?" tanya juna yg membuat olivia yg sedang membasuh mulutnya di wastafel jadi terhenti.


"Haa ? Apa maksud pertanyaanmu ?" olivia pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan juna. Padahal dia tau pasti, bahwa juna mulai curiga denga kondisinya.


"Aku lupa sayang." lanjut olivia. Tetapi juna tidak mau keraguannya salah, langsung memakai sweaternya dan keluar.


"Mau kemana ?" tanya olivia yg melihat kekasihnya tiba-tiba bersiap untuk keluar rumah.


"Kamu tunggu disini, aku mau memastikan sesuatu." olivia hanya pasrah dengan apa yg akan terjadi nanti.


***************