My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 36



Dee dan olivia sudah seharian diluar. Mereka sangat senang sekali karna jarang-jarang menghabiskan waktu sampai selarut ini. Setelah mobil dee memasuki halaman villa mereka, olivia turun. Hanya saja tiba-tiba dee ternyata lupa membeli sesuatu disupermarket, jadi dia menurunkan oliv dan kembali keluar.


"Kenapa gelap banget, apa dee lupa nyalain lampu ya." gerutu oliv sambil mencari kunci didalam tasnya.


Olivia melangkah maju memasuki rumah dengan hati-hati. Dia meraba tembok untuk mencari saklar lampu. Saat sudah menemukan, olivia coba menekan tapi lampu tidak juga menyala.


"Apa mati lampu ? Kayaknya tadi dijalan enggak deh."


Olivia masih mencoba melangkah maju dengan sangat berhati-hati, lalu tangannya ditarik oleh seseorang.


"AAAAAAA!!!!"


"SAPA ITU ???" teriak oliv, tangannya tiba-tiba disentuh oleh seseorang. Dan orang itu adalah yoyo.


"Heeeey, ini aku." lalu lampu menyala disekitar kolam renang.


"Ada apa ini ?" olivia melangkah maju ke arah kolam renang.


"Hai, sayang." juna berdiri didekat pintu yg membatasi ruang tengah denga balkon kolam renang.


"Kak, ada apa ini ?" Juna maju dan menggandeng tangan olivia, menuntunnya.


"Nih, bunga kesukaan kamu." seikat bunga lily kesukaan oliv.


"Maka...si" lampu lainnya menyala. Olivia menutup mulutnya tidak percaya. Karena lampu itu bertuliskan 'will you marry me olivia ?'


"Sayang." Juna sudah membungkuk sambil menyodorkan cincin kepada olivia.


"......."


"Kenapa diem aja ?" juna menyentuh tangan olivia untuk melihat kearahnya. Olivia langsung menangis tidak percaya dengan apa yg dilihatnya.


"Hey, jangan nangis dong sayang." juna berdiri dan memeluk kekasihnya itu. Mengelus rambutnya sayang, menenangkannya.


"Ayo dooong jawab." Suara dee dari belakang sambil tersenyum bahagia melihat ekspresi olivia.


"Iyaa ayo dong jawab." Yoyo dan bobby juga menyahuti agar olivia segera memberi jawaban pada juna.


"Sayang, kamu mau kan jadi istriku ?" Juna yg mengusap kepala olivia terkejut karna olivia menjawab dengan sebuah anggukan.


"Coba bilang dong."


"Iya sayang, aku mau." olivia semakin mengeratkan pelukannya pada juna.


"Terima kasih." Juna mencium kening olivia lama. Yoyo yg melihat ini ikut terharu karna memang dia sangat lemah dengan situasi seperti ini.


"Nanti kalian lanjutin sendiri, sekarang kita makan yuk." bobby bersuara karna sedari tadi mereka memang sibuk sampai lupa jika belum makan malam. Akhirnya lampu dirumah menyala.


"Pakai cincin ini. Kamu harus inget ya sayang cincin ini adalah janjiku dan ini adalah pengikat diantara kita." juna memasukkan cincin dengan permata berlian yg cantik dengan gaya yg simpel tapi elegan ke jari manis tangan kanan oliv, lalu mencium punggung tangan dan keningnya.


"Tentu saja." olivia mengecup singkat bibir juna.


"Baiklah ayo. Anak bayi ini masi butuh banyak nutrisi." juna mengelus perut olivia, lalu mereka tertawa bersama.


Saat dimeja makan, yoyo, bobby, dan dee sudah duduk. Makanan pun sudah tersaji dimeja.


"Jadi kalian kerjasama ?" tanya olivia, yg dibalas ringisan dee.


"Iya lah, demi membuat ibu hamil ini menangis terharu emang perlu banyak rencana. Ya kan kak ?" dee melirik bobby.


"Makasi ya. Kalian berhasil nih bikin ibu hamil menangis." juna menggenggam tangan olivia.


"Ini belum seberapa sayang ?"


"Maksudnya ?"


"Kita akan segera menikah sayang."


"Aku tau. Nanti kita atur lagi ya konsep pernikahannya."


"Besok kita menikah." Olivia menghentikan aktifitas makannya, dia melotot sambil menoleh ke arah juna yg masih santai melahap makanannya.


"Aku serius sayang." sebelum olivia menanyakan lagi, juna sudah memberikan kepastian tentang perkataannya.


"Kak juna bener." dee menambahi yg akhirnya membuat olivia tersedak makannya.


"Pelan-pelan dong sayang." juna mengusap punggung calon istrinya itu, sambil memberikan minum.


**********


Pagi ini, semua orang sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan olivia hanya tidur beberapa jam saja. Dia tidak menyangka bahwa semua ini sudah dipersiapkan oleh juna. Selama seminggu ini selain dia sibuk mengurusi resortnya, ternyata dia lebih sibuk menyiapkan lamaran yg baru semalam dan pagi ini adalah hari pernikahan mereka.


Tapi disisi lain olivia bersedih, bagaimana dia menikah tanpa kehadiran keluarganya satu pun. Terutama tanpa ditemanin papanya. Entahlah dia tak bisa membayangkannya. Olivia hanya bisa pasrah dengan apa yg akan terjadi nanti, dia hanya mengikuti takdir yg memang sudah digariskan untuknya.


Dan semua memang sudah benar-benar direncanakan. Bahkan gaun kemarin juga adalah salah satu rencana yg dibuat juna, bobby, yoyo, dan jangan lupakan dee juga andil dalam rencana ini.


"Ya Tuhan oliv, lu cantik banget." dee berdiri dibelakang oliv sambil memegang bahunya.


"...."


"Mungkin memang aura pengantin ya, ditambah lagi aura ibu hamil." dee mengelus punggung olivia.


"Lu kenapa ?" olivia tidak terlihat bahagia, dia melamun sambil melihat dirinya di kaca. Tatapannya kosong.


"...."


"Jangan sedih dong, ini kan hari yg ditunggu-tunggu semua cewek didunia ini. Gua yakin kak juna pasti ngewujudin pernikahan impian lu."


"Jangan mikirin yg macem-macem." lanjut dee sambil mencium pipi sahabatnya itu.


"Iya dee, makasih banyak ya udah bantuin juna."


"Iya liv, gua nggak mau lah elu sedih terus."


"Bentar lagi kak." teriak dee.


"Yaudah gua tunggu didepan ya, acaranya kan bentar lagi."


"Iya...." jawab olivia dan dee kompak, lalu mereka bersiap-siap denga cepat.


**********


Disebuah resort yg ternyata milik keluarga juna sudah disulap sesuai dengan konsep pernikahan impian olivia.


Semua hiasan yg ada disana serba putih, meja-meja yg ditata rapi dengan hiasan bunga lily yg diletakkan didalam vas, dengan kursi yg diberi pita dengan warna mint. Lalu, tempat mereka mengucap janji berada didekat sebuah tebing yg memang merupakan daya tarik yg ditawarkan oleh resort juna. Sepanjang jalan banyak taburan kelopak bunga mawar putih. Semuanya dengan konsep klasik sesuai dengan impian olivia.


Olivia sendiri menggunakan gaun empire waist berwarna putih dengan potongan pinggang yg sangat tinggi dan tepat dibawah dada. Bagian atasnya tertutup dengan lace yg tipis tapi tetap cantik dan juga membuat olivia nyaman karna memang desainnya sangan aman untuk perutnya. Rambut olivia dibiarkan tergerai yg diberi sentuhan ikal alami, dengan model kepangan rambut kecil yg cantik dibagian samping yg ditarik menuju belakang kepalanya. Dia menggunakan veil yg sederhana dengan aksen renda dipinggirnya. Ditambah beberapa hiasan rambut berbentuk bunga-bunga kecil yg diselipkan diantara kepangan rambutnya.


Tentu saja juna belum melihat calon pengantinnya ini. Mereka berada didalam ruangan yg berbeda. Juna merasa sangat gugup hingga mencoba melakukan pemanasan seperti kebiasaannya sebelum berolahraga.


"Gugup banget lu ? Mau nikah atau nggym ?" yoyo meledek juna karna sahabatnya itu sedang melakukan gerakan seperti lari-lari kecil ditempat.


"Diem aja lu, awas aja lu kalo nikah gua kerjain sampe nangis." Jawaban juna ini membuat yoyo tertawa terbahak-bahak.


"Gua tunggu jun. Jodoh aja belom ada tanda-tanda."


"Bukannya kapan itu lu dateng ke bar bareng ce..." yoyo melempar kaos kakinya pada bobby, karena memang disedang bersiap menggunakan kaos kaki dan sepatunya. Bobby ganti tertawa terbahak-bahak.


"Kok gua nggak tau ?" juna protes karna kedua sahabatnya itu asik membahas yg dia tidak tau.


"Lu terlalu sibuk dengan dunia lu jun."


"Sialan lu."


"Udah deh mau nikah, banyakin doa aja."


"Lu kira gua mau perang apa ?"


"Iyalah, ini gerbang awal....." Tok..Tok... yoyo belum menyelesaikan kata-kata terdengar suara pintu yg diketuk.


"Tuan muda, sudah waktunya." seorang pegawai utusan kakek juna memberikan kabar.


Ini semua merupakan salah satu rencana kakek juna, kakek juna itu memang sengaja mengutus juna ke Bali selain untuk urusan resort, juga karna kakeknya tau tentang keberadaan olivia. Selama olivia di bali dia dilindungi oleh orang utusan bobby dan orang utusan kakeknya. Juna baru tahu setelah dia merencanakan pernikahannya. Hanya kakek, nenek, mama, dan kakaknya saja yg tau tentang pernikahan ini. Sedangkan papanya masih menentang karna terhasut oleh papa gadis. Papa juna masi ingin menjodohkan mereka berdua.


Tentang pernikahan ini pun kakek juna menutupi dari anak buah alex yg selalu berada didekat olivia untuk mengintainya. Hari ini anak buah alex sudah dikecoh dengan pengantin dengan mobil yg lain. Dengan tempat yg jauh untuk mengulur waktu agar tidak sempat melacak tempat pernikahan juna yg sebenarnya. Semua sangat rapi hingga alex benar-benar tidak mengetahui tentang kabar ini.


Juna akhirnya menunggu di tempat mereka akan mengucap janji. Dia menghirup dan membuang nafasnya berulang kali untuk menenangkan diri.


Saat olivia keluar dari kamarnya, dia terkejut. Karena papanya sudah berdiri didepan dengan menggunakan jas hitam.


"Papa." papa oliv langsung memeluk anak gadisnya itu.


"Iya sayang, papa ada disini. Nggak akan papa biarkan anak kesayangan papa menikah tanpa papa." kening olivia dikecup papanya dan dia menangis, lalu memeluk papanya.


"Jangan menangis, bahkan pernikahanmu belum berlangsung sayang." air mata dipipi olivia dihapus papanya.


"Baiklah, ayo pa." Olivia memeluk lengan papanya.


Mereka berjalan ke arah dimana juna berdiri. Juna menatap kekasih yg sebentar lagi akan menjadi istrinya itu dengan kagum. Olivia sangat cantik, semakin cantik karena dia tersenyum bahagia sambil didampingi papanya.


"Juna, papa titipkan anak kesayangan papa ini. Setelah ini dia sepenuhnya tanggungjawab kamu, berserta dengan calon cucu papa. Jangan sampai buat mereka menangis." tangan olivia diserahkan pada juna oleh papanya. Juna menggenggam erat tangan olivia.


"Tanpa papa minta, juna akan jaga anak kesayangan papa ini." papa oliv hanya menganggukkan kepala, lalu juna menuntun olivia untuk duduk.


Proses pernikahan mereka berjalan lancar. Mereka pun saling memasangkan cincin pernikahan yg sekarang menjadi pengikat mereka seumur hidup. Lalu, juna diperbolehkan untuk membuka veil olivia dan menciumnya.


"Halo, nyonya archer." juna mencium bibir olivia dalam. Merasakan kebahagian yg akhirnya mereka dapatkan setelah sempat terpisah.


"Halo, suami." setelah ciuman mereka selesai, olivia memeluk juna erat.


"Terima kasih atas semuanya, sayang." olivia terisak dalam pelukan juna, dia sangat bahagia.


"Jangan nangis dihari bahagia ini sayang." juna menghapus air mata olivia, lalu menarik tangannya.


"Kenalin ini keluargaku, ada kakek, nenek, mama, dan yg satu ini pasti kamu sudah sempat ketemu." olivia memandang satu persatu keluarga juna, lalu terakhir dia terkejut melihat seorang wanita yg kemarin dia temui dibutik.


"Halo adik ipar." olivia menatap juna, tidak faham dengan semua ini.


"Ini kakakku satu-satunya." yuna maju dan memeluk olivia.


"Ya Tuhan, sayang. Kamu benar-benar menyiapkan semuanya."


"Sudah, jangan nangis dong." yuna memeluk olivia lagi dan mengelus punggung adik iparnya itu.


"Halo, sayang." mama juna maju bergantian memeluk olivia.


"Tante." panggil olivia.


"Kok tante sih oliv, panggil mama juga dong kayak juna." mama juna protes.


"Mama." mama juna menangkup wajah olivia, mengelus pipi menantunya itu. Sambil berkata "Selamat datang dikeluarga archer sayang."


Olivia berjalan maju untuk menghampiri nenek dan kakek juna.


"Selamat datang dikelurga archer ya olivia." nenek juna mencium pipi olivia.


"Nenek, terima kasih."


"Semoga kalian bahagia." kakek juna maju dan memeluk cucu menantunya itu.


"Terima kasih, kek."


Lalu mereka makan siang bersama, papa olivia juga bergabung dan mengobrol bersama keluarga juna yg lain. Memang tamu undangan hanya keluarga inti olivia dan juna, yg memang terlihat tidak lengkap. Tapi ini cukup untuk mereka. Ada juga sahabat juna yg lain, dan tentunya dee berserta keluarganya.


**********