My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 35



Seminggu sudah juna, yoyo, dan bobby berada di Bali. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka. Sampai terkadang olivia ngambek karna juna berangkat sangat pagi dan pulang larut malam. Dia tau juna tidur dikamarnya, hanya saja saat dia bangun dan akan tidur tidak menemukannya.


Siang ini, olivia memutuskan untuk ikut dee berjalan-jalan. Dia sangat bosan dirumah.


"Dee, kita mau kemana ?" olivia yg duduk dikursi penumpang itu memasang seatbelt sambil memakai kacamatanya.


"Beli baju mau nggak ?" dee menawarkan oliv untuk berbelanja.


"Kita liat nanti aja deh, yg penting sekarang kita pergi dari rumah. Gua bosen banget." dee tertawa melihat oliv yg kesal.


"Ibu hamil ini sensitif sekali." dee mencubit pipi sahabatnya itu.


"DEE!!!!" dee tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi lucu sahabatnya itu.


"Oke kita jalan sekarang ya."


Dijalan olivia mengirim pesan kepada juna. Memberikan kabar, berharap jika dia akan menyusul untuk makan siang bersama. Mungkin. Tidak ada salahnya dicoba.


To : Kak Juna


Kak, mau makan siang bareng nggak ?


Aku lagi pergi jalan-jalan bersama dee.


Tidak berselang lama, oliv mendapatkan balasan dari juna.


From : Kak Juna


Have fun, sayang.


Aku lagi meeting, kalo sempat aku akan meyusul buat makan siang bersama.


Love you..


Olivia melotot membaca pesan juna. Dan dia bertambah kesal dengan jawaban yg diterimanya.


"Ih, ngeselin banget." dee menoleh melihat sahabatnya uring-uringan sambil sedikit membanting ponselnya


dipangkuannya.


"Lah, elu kenapa liv ?"


"Kesel." jawab olivia jutek.


"Kesel kenapa ? Kak juna ?" dee menebaknya, lalu oliv menganggukan kepala.


"Yaudahlah, kan gua udah ngajakin jalan." dee mengusap lengan oliv.


Sepanjang perjalan olivia hanya diam saja. Sambil memandang ke arah luar jendela. Dia sangat kesal, juna jauh-jauh kesini apa hanya untuk bekerja saja. Bahkan mereka sudah lama tidak bertemu. Bukannya menghabiskan waktu berdua, malah sibuk sendiri. Karna terlalu lama kesal dan larut dengan pikirannya, olivia tertidur.


"Liv, ayo bangun. Udah sampe nih, masa gua gendong ?" dee mengguncang lengan olivia.


"Udah sampe ?" olivia melepas kacamatanya. Lalu mengikuti dee keluar.


"Dee, ini dimana ?"


"Dibutik langganan gua, liv. Gua butuh gaun."


"Gaun ? Buat apa ?"


"Ya kan gua kesini nggak bawa gaun liv, pengen aja beli. Siapa tau ada undangan party." dee tertawa sambil menjauhi olivia. Takut ketahuan kalau ternyata dia bersekongkol dengan juna.


"Aneh banget lu dee." oliv mengikuti dee dibelakangnya.


Pegawai dibutik itu sangat ramah menyapa dee dan olivia.


"Selamat siang. ada yg bisa kami bantu ?" tanya salah satu pegawai itu sopan saat olivia mulai melihat-lihat gaun yg ada disana.


"Hmm.. saya lihat-lihat dulu ya mba." olivia merasa risih karena diikuti pegawai itu.


"Oh ya, pilihkan gaun yg terbaik untuknya mba." dee tiba-tiba datang mengatakan sambil sibuk mencoba sepatu yg dipilihnya tadi.


"Lu apa-apaan sih dee, gua kan nggak bilang mau beli."


"Udah pilih aja. Gua coba gaun ini dulu ya." dee pergi ke fitting room meninggalkan oliv yg duduk di sofa yg berada ditengah butik itu.


Tiba-tiba ada seorang wanita cantik datang. Olivia melihatnya masuk sangat cantik dan anggun. Terlihat sangat berkelas. Tapi wajahnya sekilas mengingatkannya dengan juna. Wanita cantik itu tersenyum ramah pada olivia. Dia salah tingkah sambil melihat sekeliling, meyakinkan dirinya bahwa wanita itu tersenyum padanya.


"Hai, kau sedang memilih gaun juga ?" tanya wanita itu ramah saat menghampiri oliv.


"Ah.. tidak. Aku cuma menemani sahabatku saja."


"Kenalkan, namaku yuna." yuna mengulurkan tangannya pada oliv.


"Olivia." oliv menyambut jabat tangan yuna.


"Kau sangat cantik."


"Ah, tidak. Anda lebih cantik."


"Panggil saja yuna."


"Sepertinya tidak sopan jika memanggil nama."


"Baiklah, panggil aku kak yuna. Oke ?'


"Baiklah, kak yuna."


"Oke, oliv aku tinggal dulu sebentar ya."


Yuna berdiri agak jauh dari olivia, memilih gaun. Lalu dia mengambil foto olivia dan mengirimkannya pada juna.


To : Juna



Dia sangat manis..


Nice choice, jun.


Juna yg menerima pesan itu tersenyum. Sebenarnya dia sangat merindukan olivia. Hanya saja dia harus menyiapkan pernikahan mereka. Pernikahan sederhana. Tapi pernikahan ini adalah pernikahan yg diimpikan olivia.


"Tunggu kejutannya sayang." batin juna.


Bobby dan yoyo yg melihat sahabat mereka tersenyum sendiri merasa aneh. Dan ikut tertawa melihat orang yg kaku, jutek, dan cuek seperti juna menjadi pria kasmaran seperti ini. Ini adalah momen langkah. Jadi, yoyo yg memang suka mengambil foto atas kejadian apapun tidak mau menyia-nyiakan momen ini. Dia mengambil foto juna dan menunjukannya pada bobby. Lalu mereka semakin terkekeh.


**********


Meeting siang ini sebenarnya sudah seleasi, hanya saja juna tidak menyusul ataupun memberi kabar pada olivia. Dia malah sedang asik makan siang bersama kedua sahabatnya itu.


"Lu udah siap buat nanti malem ?" tanya yoyo sambil menyendokan makanan yg sudah dia pesan.


"Hahaha... siap nggak siap." jawab juna sambil tersenyum membayangkan bagaimana reaksi olivia nanti. Dia pasti sangat terkejut.


"Yuna udah dateng ?"


"Udah bang, tadi dia ngirim foto olivia lagi dibutik."


"Semuanya udah siap kan bang ?" yoyo memastikan lagi tentang persiapan pernikahan juna besok.


"Tenang aja, cuma kurang pengantinnya aja. Yg lain udah beres."


"Thanks bang, yo. Kalian udah mau bantu gua." yoyo menepuk tangan juna.


"Tenang aja, gua seneng liat lu seneng jun."


"Besok jangan nangis lu yo disana. Karna yg harusnya nangis terharu tuh oliv."


"Sialan lo bang." bobby tertawa terbahak-bahak.


**********


"Oliv." yuna menghampiri olivia yg sedang duduk sambil melamun disofa.


"Iya, kak ? Ada apa ?"


"Kamu coba gaun ini ya, kayaknya cocok deh sama kamu." yuna menyerahkan gaun yg tadi dipilihkannya khusus untuk calon adik iparnya ini. Sayangnya dia belum tau kalo yuna adalah kakak juna.


"Tidak udah kak, aku lagi nggak membutuhkan gaun."


"Jangan menolakku oliv." yuna membantu oliv untuk bangun dan mengepaskan gaun itu.


"Udah liv, coba aja." dee keluar fitting room menggunakan gaun yg sudah dia pilih berserta sepatunya.


"Baiklah." oliv pasrah.


Sudah 10 menit olivia berada di fitting room, dia tak kunjung keluar. Karna dee bolak-balik masuk sambil membawakan beberapa sepatu yg cocok dengan gaun oliv. Dan tentunya yg membuat olivia nyaman, karna dia sedang hamil.


"Oliv, apa masih lama ? Butuh bantuan ?" dee berteriak didepan tempat olivia fitting tadi.


"Nggak usah, ini udah selesai. Gua keluar sekarang."


Lalu, tirainya terbuka...


"Ya Tuhan liv, lu cantik banget." dee menutup mulutnya tidak percaya melihat sahabatnya ini memang sangat cantik.


"Sudah ku bilang kau cocok menggunakan gaun itu." Yuna menghapiri oliv, mengelus lengannya. Oliv hanya tersipu malu. Lalu, dia kembali ke sofa tempatnya menunggu tadi.


"Oliv, bisakah kamu berputar ?"


"Baiklah kak." saat olivia berputar, yuna mengambil foto olivia. Lalu mengeditnya menggunakan filter hitam dan putih dan mengirimnya pada juna.


Juna yg menerima pesan dari kakaknya itu langsung mengelurakan senyum merekahnya.


"Kamu emang sangat cantik sayang. Bahkan hanya terlihat punggungmu saja, aku bisa menebak bagaimana penampilanmu besok." batin juna.


Dia langsung menyimpan foto oliv tadi dan menjadikan wallpaper di handphonenya.


**********


Dee dan olivia akhirnya pulang setelah berdebat agak alot bersama yuna. Karna yuna memaksa olivia untuk menerima gaun yg dipilhnya tadi.


"Ambil lah oliv, anggap saja aku adalah kakakmu. Dan ini hadiah untukmu." yuna mengambil tangan oliv, menyerahkan paperbag yg berisi gaun tadi.


"Tapi.... kak"


"Aku tidak menerima penolakan oliv, ambil ya." yuna mengelus puncak kepala oliv, lalu berjalan meninggalkannya.


"Terima kasih kak." yuna melambaikan tangannya saat masuk ke mobil.


"Bagus banget kan gaunnya tadi ?"


"Bagus dee, tapi kan gua baru kenal sama kak yuna."


"Yaudah anggep aja rejeki ibu hamil yg lagi kesel." dee menarik tangan olivia ke parkiran sambil tersenyum. Dia bukan tidak tau. Hanya saja dia memang berada didalam rencana ini. Dan dia tau bahwa kak yuna adalah kakak perempuan juna.


**********