
Setelah malam yg sangat sulit bagi oliv, bahkan tak pernah terbesit didalam pikirannya akan jadi seperti ini. Semalaman oliv berdiam diri saja sambil menangis dalam diam. Tak menyangka bahwa sikap mamanya akan begitu menyakitkan, mengusirnya, tidak memberi restu. Disaat ini dia dalam titik terendah hidupnya, membutuhkan dukungan dari orang terdekat, tapi malah didorong kedalam jurang.
Juna yg melihat kekasihnya dalam situasi seperti ini sangat khawatir, terlebih dirinya sedang mengandung anak juna. Diumur kehamilan yg seharusnya sangat bahagia, sangat manja, dan mungkin ngidam. Tapi sikap keluarganya ini sungguh keterlaluan, mungkin butuh waktu untuk menerima semua ini.
"Sayang, kamu nggak laper apa nangis terus ?" juna memeluk olivia sambil berbisik menawarkan makan.
"......." Tapi hanya gelengan kepala yg didapat juna.
"Kamu jangan gini dong, ibu hamil harus makan ya." juna masih berusaha merayu olivia.
"......."
"Kalo kamu sedih gini, nanti anak kita lebih sedih." akhirnya olivia menoleh pada juna, menatapnya kosong.
"Minum susu aja ya." merasa mendapatkan respon juna tidak menyia-nyiakan kesempatan agar ada sesuatu yg masuk kedalam perut olivia.
"Iya." jawab oliv lemah.
Juna langsung bangkit segera ke dapur, segera membuatkan susu. Sebelum olivia berubah pikiran. Saat juna ke dapur, olivia merasakan tubuhnya lemas, akhirnya dia segera beristirahat diranjang. Karna sedari tadi hanyak duduk didekat jendela.
"Sayang." juna melihat olivia sudah tiduran diranjang dalam keadaan melamun langsung mendatangi dan menyodorkan susunya. Olivia menerima dan langsung menghabiskannya. Juna yg melihat itu tersenyum lalu mencium kening oliv.
"Istirahat ya sayang. Aku ke dapur dulu." juna beranjak keluar. Olivia akhirnya merasakan matanya pedih karna menangis dalam waktu yg lama.
Setelah kembali dari dapur, juna masuk ke kamar dan melihat olivia sudah tertidur. Karna ibu hamil satu ini sangat keras kepala, juna khawatir dengan oliv dan calon anak mereka. Akhirnya dia menelfon jean meminta solusi agar oliv tetap mendapatkan nutrisi.
"Kita bakal hadapin ini semua bareng ya, kamu harus kuat sayang. Anak papi juga harus kuat ya." juna mengelus perut olivia dan menciumnya. Menatapnya lekat, ada bekas air mata dipipi oliv, matanya sangat sembab, dan wajahnya yg pucat.
Pagi-pagi sekali bobby sudah datang ke apartmen juna. Karna mendapat kabar darinya semalam dan kondisi kesehatan olivia dari jean. Bobby masuk ke kamar juna mendapati oliv dengan tangannya yg diinfus, dan juna yg duduk disebelah ranjang.
"Eh, baru dateng bang ?" juna menoleh ketika mendengar suara kamar dibuka.
"Iya, gimana kondisi kalian ?" bobby terlihat khawatir melihat juna yg sepertinya tidak tidur semalaman, dan kondisi olivia yg terbaring lemah.
"Gua nggak papa, tapi oliv sangat terpukul. Semalaman dia nangis, dan jean akhirnya memasukkan nutrisi lewat infus." juna menjelaskan kondisi mereka setelah kejadian kemarin saat mereka meminta restu pada orang tua oliv.
"Terus rencana lu selanjutnya apa ?" bobby menanyakan langkah selanjutnya pada juna. Karna khawatir dengan mereka setelah kejadian ini.
"Gua bakal nikahin oliv secepetnya." jawab juna.
"Bagus lah, lebih cepet lebih baik. Terus keluarga oliv gimana ?"
"Lu mau berharap apa bang ?" pertanyaan juna ini hanya dijawab bobby dengan bahunya yg diangkat tanda tidak tau.
"Tapi papa oliv ngrestuin kita, mungkin papanya marah tapi oliv masih anak kesayangannya."
"Baguslah, dengan gitu lu masih bisa jalan." bobby menepuh bahu juna.
Setelah itu bobby dan juna keruang kerja untuk membicarakan pekerjaan mereka dan mengurus pendaftaran pernikahan juna dan oliv.
Sekitar pukul 10 pagi, infus ditangan oliv sudah dilepas. Tidak berselang lama, dia bangun dan merasa tubuhnya lebih baik dan segar. Tapi kepalanya terasa sedikit berat, mungkin karna sudah menangis semalaman. Karna tidak menemukan juna dikamar, olivia bangun dan bergegas mandi.
Selesai dengan ritual mandinya, ponsel olivia berdering. Ada panggilan masuk.
"Iya, halo kak gadis."
"Iya kak, inget kok."
"Gimana ya kak sebenernya masih kurang kak."
"Boleh kak, kalo ketemu dicafe apartmen kak juna aja gimana ? Soalnya lagi nggak enak badan kak."
"Oh, oke kak aku siap-siap dulu."
Setelah panggilan olivia dan gadis terputus, olivia segera siap-siap untuk menemuinya. Membiacarakan masalah ganti rugi agar oliv bisa membantu juna menyelesaikan masalah ini.
Dia sadar setelah ini pasti akan banyak masalah yg akan mereka hadapi, dengan selesainya masalah ini setidaknya olivia merasa lega bisa membantu juna meskipun sedikit.
"Sayang, mau kemana ? Kamu kan barusan enakan." juna masuk kekamar menemukan olivia sedang bersiap-siap.
"Mau beli apa ? Biar aku aja yg beliin." juna menawarkan agar dirinya saja yg turun kebawah sedangkan olivia istirahat.
"Nggak usah kak, biar aku beli sendiri aja ya."
"Tapi, kamu...." kata-kata juna belum selesai, olivia sudah menghampiri juna dan memeluk lengan juna meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Okeee, tapi jangan terlalu lama ya." olivia tersenyum dan memberikan hormat pada juna.
"Siap kapten." jawaban olivia ini membuat juna bisa melihat kekasihnya yg ceria lagi. Berbeda dengan kekasihnya yg semalam.
"Maafin aku ya kak." batin olivia.
Setelah mengantongi ijin dari juna, olivia langsung turun kebawah. Tapi gadis tiba-tiba merubah tempat janjian mereka di cafe dalam mall yg berada disebelah apartmen juna. Olivia sampai duluan, dan menunggu gadis sekitar setengah jam.
"Sorry, gua telat." gadis yg baru datang langsung duduk dihadapan oliv.
"Nggak papa kak." olivia sambil meminum pesanannya.
"Nggak mau pesen dulu kak ?" olivia menawarkan.
"Nanti aja." gadis meletakkan tasnya di meja dan mengeluarkan laptop miliknya.
Gadis yg baru datang langsung sibuk mengutak-atik laptopnya, lalu memutar agar menghadap oliv.
"Berita ini bener ?" olivia membaca dengan seksama berita yg diberitahukan gadis pada oliv.
"Kak ?" Olivia terkejut bagaimana media sudah mengetahui berita dirinya yg sedang hamil anak juna.
"Lu bisa jelasin apa ke gua ? Bahkan masalah ganti rugi aja belom selese ini udah ada masalah baru lagi." Gadis langsung memaki-maki olivia.
"Ini emang salahku kak." sambil menundukkan kepala olivia menahan agar tidak menangis lagi.
"Semua emang salah lu, semenjak juna kenal lu ada aja masalah yg terjadi." gadis masih terus menyalahkan olivia.
"Aku tau kak. Apa ada cara menyelesaikan masalah ini kak ?" olivia tiba-tiba merasakan kepalanya pusing tidak bisa memikirkan solusi untuk masalah ini.
"Lu tuh emang biang masalah, kalo lu pergi pasti semua masalah juna ikut pergi juga." gadis masih menghakimi olivia dengan kata-katanya.
"......" olivia hanya diam, sambil memikirkan kata-kata gadis.
"Apa bener aku pembawa masalah ? Mama juga ngomong gitu, sekarang akhirnya juna juga harus nanggung ini. Kalo aku pergi apa juna bakalan lepas dari masalah ini ? Apa papa dan mama juna akan memaafkanku ?" batin olivia. Tiba-tiba air matanya menetes. Gadis yg melihat hal itu tersenyum miring merasa kata-katanya mulai bereaksi pada oliv.
"Jadi gimana ? Masalah ganti rugi mau lu apain ? Terus masalah ini juga bakal lu pertanggungjawabin gimana ?" gadis mendesak olivia sambil menyalahkan olivia.
"Aku..."
"Aku hanya ada 300jt untuk masalah ganti rugi, untuk masalah ini aku belum tau kak." lanjut oliv.
"Apa lu cuma mikirin diri lu sendiri ? Keberadaan lu disini bisa bikin posisi juna semakin terpojok. Lu jangan egois, lu harus mikirin posisi juna, kondisi kontraknya banyak dibatalkan sepihak. Lalu ada skandal begini gua yakin karirnya bakalan tamat." dengan wajah pasti gadis menyakinkan olivia agar pergi, karna memang itu tujuannya.
"Dan untuk ganti rugi itu masih kurang dari yg diminta. Apa lu mau kerja sama Alex ? Dengan kondisi skandal lu bareng juna, gua yakin pasti alex juga mempertimbangkan lu buat kerja sama dia." lanjut gadis sambil mengeluarkan kata-kata yg pedas.
"Iya kak gadis bener, ini semua salahku. Bahkan aku juga nggak tau lagi harus nyari uang dimana." olivia putus asa sambil menangis.
"Hmm gua bisa ngasih lu pinjeman buat ganti rugi." olivia yg mendengar kata-kata gadis langsung mengangkat kepalanya.
"Beneran kak ?" olivia memandang gadis dengan pandangan berbinar.
"Iya tapi ada syaratnya." gadis mengajukan syarat atas semua bantuan yg nanti akan dia keluarkan untuk olivia.
"Syarat apa kak ?"
"Tinggalin juna, dan tinggalin kota ini. Selebihnya biar gua yg beresin." syarat yg diajukan gadis ini tidaklah mudah. Dia harus pergi meninggalkan juna. Tapi bagaimana dengan nasib anaknya. Tidak mungkin dia membesarkan anaknya tanpa juna. Jika dia tetap disini dia malah membuat karir juna hancur. Merasa sangat serba salah. Belum lagi kondisi keluarganya yg tidak memberi restu. Semakin membuat oliv berfikir bahwa untuk menikah dengan juna pasti sulit. Disatu sisi ada anaknya, disisi lain ada juna.
"Tuhan, apa yg harus aku pilih ? Aku mencintai mereka berdua." Batin oliv sambil menangis.
******************