My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 30



Beberapa hari ini, pekerjaan juna sangat banyak. Selain mengurus sisa pekerjaannya sebagai seorang penyanyi dan model, dia juga harus merampungkan urusan perusahaan milik keluarganya.


Pagi ini juna ada meeting penting dengan sebuah perusahaan yg sedang akan bekerjasama dengan perusahaanya yg bergerak dibidang pangan.


"Tuan, maaf sebelumnya ini kenapa keranjang baju kotor tuan kosong ya ? Apa tuan mengirimkannya ke laundry ?" tanya seorang asisten rumah tangga sambil memegang keranjang baju kotor.


"Bukannya ada, beberapa hari ini saya sudah bergonta-ganti baju." jawab juna yg juga kebingungan kemana semua bajunya pergi.


"Gua yg naroh di tempat laundry, kemaren beberapa baju basket lu ada sama gua juga." tiba-tiba bobby datang ikut membicarakan kemana hilangnya baju juna.


"HAHAHA kena lu jun, semua baju lu yg bau itu perginya jauh sampe ke Bali." batin bobby sambil mencoba menahan tawanya.


"Gitu ya, tapi yg diapartmen gua juga nggak ada ?" bobby hanya mengangkat bahu tanda tidak tau. Padahal semua ini adalah kerjaannya demi calon keponakannya.


"Oh ya hari ini lu ada meeting sama perusahaanya Bu Siska kan? Bareng yoyo ?" juna hanya menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba bel berbunyi, setelah dibuka ada laporan dari ART juna bahwa yg datang adalah gadis. Juna saling memandang dengan bobby, karena semenjak olivia pergi dari sisi juna tingkah gadis berubah sudah selayaknya seorang istri untuk juna.


"Pagi jun, eh ada bang bobby juga.. Yuk, sarapan dulu, nih aku bawain sarapan." gadis mengangkat rantang makanan yg dibawanya lalu menyiapkan semuanya dimeja makan.


"Jun, ini istri jadi-jadian lu mau ngracunin kita apa bawain sarapan segala ?" bobby berbisik pada juna dengan nada mengejek.


"Kalian nggak mau makan nih ?" gadis masih membujuk juna dan bobby agar segera duduk dan makan bersama.


"Lu harus disini temenin gua makan bang, biar kita keracunanya bareng aja." kata-kata juna ini membuat bobby menahan sikap mualnya melihat sikap gadis, terlebih makanan yg dibawanya itu. Karena belum terjamin kelayakannya.


Akhirnya mereka berdua duduk dimeja makan, dengan terpaksa memakan makanan yg dibawa gadis. Tapi anehnya, makanan yg dibawa gadis ini masih layak makan. Tidak seperti yg dibayangkannya.


"Eh, lu udah jago masak sekarang dis ? Seinget gua dulu kan lu cuma bisa masak air aja." lengan bobby langsung dicubit oleh gadis.


"Enak aja lu kalo ngomong."


"Jun, gimana masakan gua enak kan ? Nggak kalah sama yg direstoran ?" tanya gadis pada juna yg masih sibuk dengan aktifitas makannya. Sebenarnya dia tidak peduli bagaimana gadis bisa memasak makanan itu. Yg dia tau makanan buatan oliv adalah yg terenak.


"Hmm, lumayan" jawab juna singkat.


"Gua harap makanan enak yg gua beli ini sanggup bikin lu jatuh cinta sama gua, jun." batin gadis. Dia terinspirasi dengan sebuah pepatah yg mengatakan bahwa 'Jika ingin membuat seorang pria mencintaimu, mulailah dengan membuatnya kenyang. Karna dari perut yg kenyang akan lebih cepat sampai dihati.'


Mungkin kata-kata itu benar, hanya saja tetap saja cara gadis yg salah. Karna dia tidak membuatnya sendiri bagaimana bisa sampai kehati rasa makanan yg dibuat dengan cinta itu. Lagipula, olivia sudah maju satu langkah dalam hal ini.


"Gua udah selese, gua berangkat dulu." Juna berdiri akan beranjak dari meja makan untuk pergi kekantor, disusul dengan bobby.


"Lu ngapain ?" bobby melihat gadis ikut berjalan kedepan pintu, seakan-akan sedang mengantarkan suaminya yg sedang berangkat kerja.


"Mau nganter kalian kan."


"Nggak perlu." jawab juna jutek yg langsung keluar meninggalkan apartemennya.


"Mau cium tangan gua nggak ?" bobby menggoda gadis dengan menyodorkan tangannya.


"Nggak mau!!!" gadis marah langsung masuk kedalam apartmen.


Sikap gadis langsung berubah galak pada ART juna dengan menyuruh membersihkan meja makan bekas mereka, seperti dia adalah nyonya dirumah itu.


*******************


Olivia sedang berjalan pagi dengan mengenakan kaos yg sudah dipakai juna. Sambil mengelus perutnya gembira disekitar vila mereka. Sedangkan dee sedang sibuk dengan aktifitas gym yg merupakan fasilitas yg ada divila.


"Hmmm, kangen banget bau kak juna." olivia memeluk dirinya sendiri sambil duduk diayunan yg terletak didekat kolam renang vila.


"Udah balik ?" tanya dee yg membawakan jus buah dan sayur untuknya dan oliv.


"Udah nih, seger banget pagi ini." olivia merentangkan tangannya seolah ingin memeluk angin.


"Seger lah, orang pake baju kak juna." oliv hanya meringis dengan ejekan dee.


"Lu kok bisa dapet cepet sih, kan lu disini sama gua."


"Gua udah nyuruh orang malingin baju kak juna di apartemennya hahaha" olivia memukul lengan sahabatnya itu.


"Yg bener lu, nggak lucu nih kalo dipenjara gara-gara nyuri kaos gini."


"Tenang aja, yg nyuri kan istri sendiri nggak mungkin lah dipenjara."


"Sapa bilang gua yg dipenjara, kan elu yg nyuruh nyuri."


"Eh, enak aja lu. Pertama yg nyuruh kan elu." dee tidak mau disalahkan karna sudah susah payah mendapatkan baju juna.


"Hehehe iya juga."


"Ngidam yg gampang aja bisa nggak sih ?"


"Bawaan dia nih" olivia alibi sambil mengelus perutnya.


"Bentar lagi ngrepotin papi aja ya sayang." bisik dee pada perut oliv.


"Ngaco banget nih aunty."


"Jus apa hari ini ?" Oliv mengalihkan pembicaraan, karena dia tidak mau berharap lebih pada juna.


"Ini enak dee, nggak kerasa sayurnya."


"Bagus deh kalo lu suka, nanti tiap hari gua bikinin." olivia mengacungnya jempolnya tanda setuju.


Olivia dan dee tidak sadar bahwa aktifitas mereka ini sedang diamati oleh seseorang.


"Bos, saya sebentar lagi saya kirimkan laporan aktifitas yg dilakukan olivia dan temannya itu." kata seseorang berpakaian hitam dengan memakai topi itu. Dia sudah beberapa hari ini berada disekitar vila yg ditinggali olivia.


"Bagus, jangan sampai ada yg terlewat."


"Baik bos!!" lalu telfon dimatikan.


**********


Malam ini adalah malam dimana juna menceritakan semua pada keluarganya. Sebelum itu, juna sudah menceritakan hal ini pada mamanya. Karna hanya mamanya yg bisa dipercaya dan membantunya tentang masalahnya dengan oliv. Juna kembali kerumah orang tuanya siang ini


"Ma, gimana udah siap semua ?" sambil memeluk mamanya dengan sayang.


"Kamu tenang aja ya, mama akan bantu sebisa mama." juna mendengar kata-kata ibunya itu menjadi lebih tenang dan percaya diri bahwa masalahnya ini akan segera teratasi.


"Hari ini kamu nginap kan ? Udah lama banget kamu nggak pulang." tanya mamanya sambil membawa juna masuk.


"Iya ma. Lagian juna kangen masakan mama."


"Anak mama udah jadi calon papi, masa manja gini." yasmin menangkup pipi anaknya mengamati dengan pandangan sayang.


"Yaudah kamu istirahat dulu." juna mengangguk dan menuruti perintah ibunya.


Malam hari ini semua sudah berkumpul di rumah juna, ada kakek-neneknya, orang tua juna, dan kakak perempuan juna, Yuna Archer. Mereka hanya selisih usia 3 tahun. Tapi, ada tamu yg sepertinya tidak diundang disana.


"Bagaimana kabarmu tuan Archer ?" tanya basa-basi seorang pria yg ternyata adalah papa gadis.


"Baik." jawab kakek juna singkat.


"Begini, kedatangan kami kesini ingin membicarakan masalah anak-anak kita." lanjut tuan Priyo.


"Anak-anak kita ?" tanya mama juna yg merasa aneh.


"Iya jeng, juna dan gadis maksud suami saya." mama gadis ikut berbicara membantu suaminya.


"Jadi begini, tujuan kami datang untuk membicarakan pertunangan juna dengan gadis. Selain mereka sudah berteman sejak kecil. Hubungan ini bisa membawa dampak positif untuk kerjasama perusahaan kita." jelas tuan priyo.


"Begitu ya ?" tanya tuan Gio, papa juna sambil mengelus dagunya.


"Maaf sebelumnya, apakah rencana ini sudah diketahui oleh juna dan gadis ?" mama juna menanyakan pertanyaan itu, karna merasa juna tidak mengetahui hal ini.


"Gadis sudah tau kok tante, kayaknya juna juga tau kok." jawab gadis dengan percaya diri.


"GUA NGGAK TAU!!" jawab juna lantang sambil menuruni tangga, sontak membuat seisi ruang tamu menoleh kepadanya.


"Juna, jaga sikap kamu." papanya mengingatkan.


"Kek, juna udah punya calon sendiri. Dan itu bukan gadis." Jelas juna tanpa basa-basi. Sedangkan kakeknya masih diam saja tanpa respon.


"Duduk dulu sayang, ini bisa dibicarakan baik-baik." yasmin menarik tangan anaknya agar segera duduk dan tidak terpancing emosi.


"Jun, calon lu mana ? Perasaan gua nggak enak sama kedatangan keluarga gadis." bisik yuna pada adiknya itu.


"Masih gua simpen sampe dapet persetujuan dulu."


"Jadi bagaimana tuan Archer ?" tanya papa gadis pada kakek juna, tidak mau berlama-lama atas tawaran yg diberikannya.


"Juna, apa kamu bersedia bertunangan dengan gadis ?" tanya kakek santai sambil memandang wajah cucu kesayangannya itu.


"Maaf kek, juna nggak bersedia."


"Apa ada alasan ?"


"Alasannya bakalan juna jelasin saat hanya ada keluarga kita saja kek."


"JUNA!!! Yg sopan kamu!!" bentak papanya yg merasa sikap anaknya tidak sopan.


"Maafkan sikap juna tuan Priyo."


"Baiklah mungkin kalian bisa bicarakan sekeluarga dulu sebelum memberikan kami jawaban." papa gadis mengalah untuk melancarkan rencana selanjutnya.


"Tapi, pa..." gadis tidak setuju dengan papanya.


"Kamu tenang aja." papanya berbisik sambil menepuk punggung tangan gadis menenangkan anaknya itu.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi." pamit tuan priyo beserta anak dan istrinya.


"Semuanya gadis pamit dulu, Jun gua balik ya." semua menjawab gadis selain juna. Sambil mengantarkan mereka ke depan pintu.


**********************