
Acara pernikahan sudah selesai, mereka sedang beristirahat dikamar yg sudah disediakan oleh juna.
"Sayang, terima kasih." olivia berdiri didepan meja rias sambil melepas veil dan hiasan rambutnya.
"Yang paling penting adalah kebahagiaanmu sayang." juna memeluk olivia dari belakang, sambil menyandarkan kepalanya dibahu oliv.
"Kamu seneng nggak ?"
"Aku bersyukur." olivia mengecup pipi juna.
"Kenapa papamu nggak dateng sayang ?"
"Alasannya hampir sama kayak kenapa mamamu nggak dateng sayang." juna mengeratkan pelukan diperut olivia.
"Apa papa nggak setuju sama hubungan kita ?"
"Iya, lagian aku sengaja nggak kasih tau papa. Karna aku nggak mau semuanya berantakan."
"Berarti mama juga nggak tau sayang ?"
"Iya sayang, udah ya nggak usah dibahas." juna mulai menciumi bahu dan leher olivia.
"Terus, pertunganmu dengan kak gadis ?" olivia masih mencerca juna dengan berbagai pertanyaan.
"Aku akan tunangan sama dia." oliv menghentikan juna yg masih menciuminya, lalu menariknya agar mereka berhadapan.
"Maksudnya gimana ? Apa kamu rencananya punya dua istri, gitu ?" olivia mulai marah.
"Tentu saja." juna menarik olivia ingin mencium istrinya itu yg sangat lucu karna cemburu, dia ingin selalu menggoda olivia.
"Pergi." olivia mendorong juna.
"Kenapa marah ? Kamu kan tetap istri pertama dengan hak yg lebih besar. Tanpa restu dari kamu aku nggak bisa dong nikahin gadis"
"Apa maksdumu kak ?" olivia memunggungi juna.
"Hahaha..... tenanglah sayang." juna berusaha memutar olivia agar menghadapnya, karna istrinya itu mulai memunggunginya.
"Kita harus sembunyikan pernikahan kita untuk sementara sayang."
"Apa lagi maumu kak ?" olivia meninggalkan juna dan segera keluar ke balkon kamar mereka yg menghadap dengan laut.
"Dengerin dulu." juna menarik olivia untuk duduk di kursi.
"...."olivia diam saja, tetapi tetap mengikuti kemauan juna.
"Sayang, kamu sekarang sedang mengandung anakku. Aku nggak mau terjadi sesuatu denganmu dan anak kita. Kakek menemukan kejanggalan dengan masalah perjodohanku dan gadis."
"...." olivia masih diam sambil menunggu penjelasan juna selanjutnya.
"Aku tau semuanya, tentang kenapa kamu pergi. Dan masalah ganti rugi itu, aku tau semuanya ulah gadis dan alex kan ?" juna menggenggam tangan oliv berharap istrinya itu mengaku.
"Kamu tau dari mana ?"
"Sudahlah sayang, jangan ada yg ditutupi lagi."
"Bang bob udah cerita semua, dee juga. Lagian aku juga udah mencari tau semuanya. Informasi dari orang utusan kakek juga."
"Terus rencana kali ini apa ?" olivia mulai mengerti kemana arah pembicaraannya dengan juna.
"Aku bakalan tetep tunangan dengan gadis, untuk mengetahui kemana rencana lawan kita. Ini juga untuk melindungi kalian berdua." juna mengelus perut olivia.
"Pernikahan kita kan sah dimata hukum, emang yakin mereka nggak bakal tau ?" olivia khawatir tentang rencana juna.
"Tenanglah sayang, semua sudah diatur oleh kakek."
"Tapi aku tetep khawatir, kalo semuanya nggak berhasil gimana ?"
"Buat sementara, setelah kita kembali. Kamu akan kembali tinggal di apartmenku yg lain, tapi masih disatu gedung yg sama. Aku sudah menyiapkan semuanya."
"Kenapa nggak tinggal diapartmenku aja ?" tanya olivia.
"Sebentar lagi kita segera memilliki bayi, kita butuh ruangan yg cukup besar. Biar gadis terkecoh, tapi aku tetap bisa mengawasi dan menjagamu." juna merapikan anak rambut olivia yg tertiup angin.
"Oke, aku mau tanya satu lagi ?"
"Apa ?"
"Kalian benar-benar hanya bertunangan aja kan ? Kamu nggak bener-bener mau nikahin kak gadis juga kan ?' olivia masi khawatir tentang candaan juna tadi.
"Enggak sayang, hanya ada satu pernikahan dalam hidupku." olivia tersenyum, lalu juna mencium bibir olivia dan menggendongnya untuk masuk ke kamar. Juna berencana untuk melakukan malam pertamanya bersama olivia, meskipun ini bukan pertama kalinya tapi hari ini mereka melakukannya dalam ikatan sah sebagai suami dan istri.
**********
Alex berfikir keras tentang siapa dalang dibalik semua perlindungan untuk olivia. Dia tau bahwa juna juga berada disana. Tapi dia tidak tau detail lagi tentang yg terjadi diantara mereka. Karna dari semua laporan tentang apa saja yg dilakukan juna hanyalah bekerja.
Sedangkan gadis, setiap hari masih menelfon alex menanyakan perkembangan juna. Dia tau juna disana, dan sangat tau disana ada olivia juga. Di otaknya sudah terfikirkan banyak kemungkinan terburuk tentang bertemunya juna dan oliv.
"Halo, lex."
"Hmm, belum ada kabar." alex menjawab sebelum pertanyaan yg biasanya gadis lontarkan keluar dari mulutnya.
"Gimana sih, nanti bisa berantakan rencana kita. Udah susah-susah bikin mereka menjauh juga." gadis masih mengomel.
"Lu bisa tenang dikit nggak sih ? Gua juga lagi usahain." alex juga mulai kesal.
"Iya.. iya.. kenapa ikutan marah sih. Gua kan cuma takut, soalnya tunangan aja belom masa udah gagal."
"Apa yg ada diotakmu cuma juna aja ?" alex mencibir.
"Terus mau siapa lagi emangnya ? Elu ? Cih ogah banget." lalu telfon dimatikan oleh alex, gadis melihat tingkah alex yg seperti itu semakin kesal hingga membanting ponselnya ke lantai.
Setelah panggilan gadis ditutup, alex berusaha menghubungi anak buahnya lagi. Memastikan bahwa dia tidak terlewatkan satu kejadian pun antara juna dan olivia.
Alex sudah mengecek vila tempat olivia tinggal sampai resort yg sedang diurus juna juga tidak terjadi apa-apa. Semuanya sangat rapi. Alex semakin marah, tidak mau kalah dengan juna. Apalagi sampai olivia direbut juna. Karna alex sangat tahu, olivia sebenarnya adalah kelemahan terbesar juna.
Malam harinya, juna dan olivia sedang makan malam bersama sahabat dan keluarga untuk merayakan pernikahan mereka. Hanya saja sedari tadi olivia tidak melihat kemana papanya pergi. Setaunya papanya masih disana.
"Sayang, papa bilang nggak kalo mau pergi atau gimana ?" olivia bertanya pada juna yg sedang menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Mungkin masih dikamar sayang."
"Boleh nggak aku kesana ?" olivia meminta ijin pada juna untuk menjemput papanya.
"Boleh dong, aku temenin ya."
"Nggak usah sayang, kamu temenin yg lain aja ya." olivia mengelus lengan suaminya itu agar membiarkannya ke kamar papanya sendiri.
"Baiklah, kalo ada apa-apa kamu harus langsung telfon aku ya."
"Iya.. iya.."olivia mengecup pipi juna, lalu berlalu meninggalkan juna.
"Loh oliv mau kemana sayang ?" mama juna menanyakan karna melihat menantunya itu seperti terburu-buru.
"Ke kamar papanya."
"Oh.. yaudah mama panggil kakek sama nenek dulu ya."
Olivia berjalan menuju kamar papanya setelah bertanya di meja resepsonis, sambil menikmati pemandangan laut yg indah. Dan tempat ini sangat tenang, meskipun gaya bangunannya modern tapi tetap ada sentuhan tradisional khas bali didalamnya.
Saat akan berbelok ke arah kamar papanya, olivia bertemu dengan seseorang yg sangat familiar untuknya.
"Oh, jadi anak yg bikin malu keluarga juga ada disini. Kamu yg bikin suami saya harus jauh-jauh kesini demi bertemu kamu ?" kata-kata tuduhan mama oliv ini keluar begitu saja. Sepertinya memang mamanya belum tau kenapa papanya datang kesini.
"Mama.... Oliv.." belum selesai olivia menjelaskan, mamanya sudah mengangkat tangan memberi tanda untuk berhenti berbicara.
"Saya nggak mau denger penjelasan kamu lagi, apa kamu disini disewa seseorang ? Iya hah ?" dada olivia rasanya seperti ditusuk jarum, kenapa mamanya berkata seperti itu. Bahkan sebelum tau bahwa ini adalah hari yg spesial untuknya.
"Mama kok gitu ngomongnya, oliv nggak pernah kayak gitu ma."
"Alah nggak usah alasan, kamu pulang-pulang dalam kondisi hamil. Sekarang disini pun sendirian, dimana cowok yg kemarin kamu bawa pulang hah ? Paling dia udah tau semua kejelekan kamu." air mata olivia menetes tanpa bisa dibendung lagi. Lalu, mamanya itu maju ke arah oliv yg otomatis membuat oliv mundur karna takut. Dan benar saja ternyata mamanya mencoba mengelus pipinya, dan berakhir dengan menjambak rambut oliv.
"Ah.. sakit ma." Seperti memang bukan perlakuan ibu kandung terhadap anaknya.
"Kamu tuh ya udah bikin malu kelurga, karna masalah kamu saya harus sering bertengkar dengan suami saya. Kamu emang pembawa sial. Sama kayak anak yg ada dikandungan kamu, bahkan belum lahir sudah banyak membawa masalah untuk orang lain." lalu olivia didorong sampai terbentur tembok.
"Sakit ma, maafin oliv ma." oliv terisak sambil memeluk perutnya.
"Ini terakhir kali saya lihat kamu, dan jangan pernah meminta bantuan apapun lagi dari suami saya." mama olivia masi belum puas dengan memaki dan menyakiti fisiknya, kata-kata akhirnya pun dengan diiringi tangannya yg diarahkan untuk menampar olivia. Tapi tiba-tiba ada yg menahan tangan itu.
"Sudah cukup, jangan pernah menyakiti menantu saya." mama juna yg sedari tadi melihat perlakuan besannya itu dirasa sudah sangat kelewatan.
"Apa begini perlakuan seorang ibu pada anaknya ?" pergelangan tangan mama olivia masi digenggam oleh mama juna. Sedangkan mama olivia masi mematung melihat wanita yg sepertinya seumuran dengannya sedang membela anak yg dari tadi ia maki-maki.
"Kamu nggak papa sayang ?" mama juna menanyakan kondisi menantunya yg sedang menangis itu. Hanya anggukan yg diberikan olivia. Lalu, pergelangan tangan mama olivia dihempaskan begitu saja oleh mama juna.
"Kamu siapa, buat apa kamu bela anak ini ?" mulut mama olivia masin saja mengatakan kata-kata yg tak enak didengar, membuat mama juna tidak bisa bersikap sopan.
"Anak yg buat anda memalukan ini adalah menantu saya, menantu keluarga archer." mama juna langsung menarik tangan olivia untuk menjauhi wanita yg selama ini dipanggil mama olehnya.
**********